Seketika saya menyusuri lorong waktu, seiring proses pencarian saya, sekian lama seribu tanya dan andai. Dengan dekil saya menyembunyikan identitas saya sesungguhnya. Ya, saat berinteraksi sekian lama. Ada hal terjaga agar tidak gegabah, lantas hampir menyerah saat kata Uwa’ itu disinyalir oleh beberapa orang sebagai strata sosial (terbawah). Saya mulai menyadari untuk merendah, walau hendak membantah, tapi takut terbantai.
Seraya mengumpulkan data pada riset abal-abal, dan bukan secara akademik, agar semua berjalan apa adanya, tanpa gimik atau mengada-ada. Agar saya tidak menepuk dada. Tidak harus berlebihan, krasak-krusuk. Yah, kesederhanaan yang diajarkan seorang ibu, “Ampenumo pakabaji ri parangnu rupa tau. salamamakko intu, ri sesena pakabalemg-belengna lino surang rupa taua.”
Entah kenapa rasa minder kala itu, panggilan Tata’ tersudutkan bagai persona yang terendah. Tetapi tidak membuat saya surut untuk menjalaninya sebagai identitas. Tetapi sejalan dengan proses dan segala dinamika yang saya hadapi, dari sanak, keluarga, dan konfirmasi ke setiap jejak istilah dan kata. Saya menemukan jejak yang membahagiakan ketika kutemui kawan Rafli, seorang yang bergelut dalam dunia riset, dari sejarah, budaya, dan asal mula kata sebagai anak Bantaeng yang memilih jurusan sastra daerah di Universitas Hasanuddin.
Seakan ada titik terang memberi syarat riset sekian lama ini, dengan wawancara. Maka ditemukan jejak walau sejengkal informasi. Kata “Tata’” menurutnya sebagai bagian akronim dan pecahan dialek setiap daerah dari kata Petta, Etta, dan Tetta. Itu sama dan hanya menyesuaikan dialek saja. Saya terdiam sejenak sambil melempar jauh termenung ke simpang waktu, sekian lama saya mengalami proses yang memengaruhi secara psikis sebagai anak memanggil ayahnya “Tata’”.
Perburuanku semakin menjajal walau sedikit terjal, tidak ada kata terlambat, meski beberapa tetua satu persatu telah ke haribaan-Nya. Akan tetapi masih tersemat dan tersimpan jejak, yang bisa saya jadikan sumber informasi, sambil mengonfirmasi ke sanak keluarga yang lain. Sebagai bentuk riset agar tidak terjebak hanya pada istilah dan cerita saja (dongeng).
Ya, usia mengkhatamkan saya pada jalur leluhur yang punya kultur kuat hingga kini. Semakin kuat dan membuatku semangat empat lima menyusuri jejak tetua saya. Meski masih butuh referensi dan informasi lebih untuk menemukan benang merah pertautan garis keturunan/silsilah.
Empat tahun kalau tidak salah ingat dan menghitung. Karena kadang soal hitungan dan ingatan angka-angka saya paling terpuruk. Menyusuri di arah utara yang sekarang bernama Desa Pa’bumbungang, yang setahu saya sering disebut Kampung Sarrea’. Di sana kutemui beberapa tetua, salah satunya Tata Saleng. Di sanalah saya memulai pencarian sampai sekarang.
Alhasil silaturahmi itu sebagai penguat awal, sambil menyertakan sebuah giat membentuk taman baca, sebagai gerakan literasi bersama CEO Boetta Ilmoe Daeng Sulhan Yusuf, yang menamakan giat ini adalah berjudul sindikat literasi keluarga. Hehe.
Ya, di sebuah rumah panggung milik Irma, anak bungsu dari Tata’ Saleng. Percakapan, bincang di lego-lego dalam satu bulan, saya menemukan jejak awal leluhur itu. Dan sampailah pada tautan membuat sebuah grup WhatsApp. Hingga saat ini penghuni grup tersebut kian bertambah sanak dan sanad keluarga selama ini tidak tahu, menjadi tahu bahwa kita adalah serumpun dari kakek yang sama yaitu “Ma’dunda”.
Kembali ke panggilan Tata’ dan Uwa’. Asal muasal muncul panggilan ini pulalah yang membuat saya semakin penasaran mencarinya. Di sebuah laman tertera kata Uwa’. Panggilan “Uwa” dalam bahasa Sunda merupakan sebutan untuk paman atau kakak dari orang tua. Panggilan ini juga bisa digunakan untuk menyapa laki-laki yang lebih tua dari orang tua.
Sedangkan dalam perkembangan bahasa begitu kuat dan menyusuri semua wilayah. Seperti bahasa Indonesia tidak dibangun dari satu sumber bahasa saja, melainkan dari beberapa sumber. Salah satu sumber yang turut membangun Bahasa Indonesia adalah bahasa daerah. Bahasa dari begitu banyak suku bangsa yang bermukim di wilayah Indonesia turut mengambil bagian dalam memperkaya dan membangun kosakata dalam Bahasa Indonesia.
Suku Banten misalnya, turut memperkaya kosakata dalam bahasa Indonesia lewat beberapa kata khas dalam bahasa tradisional mereka. Salah satu kata yang berasal dari bahasa Banten adalah “Uwa”.
Kata “Uwa” merupakan kata yang berasal dari bahasa Banten dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “Uwak”. Dan pada akhirnya menyebar ke beberapa daerah, termasuk ayah saya (Tata’) yang memanggil ayahnya dengan panggilan “Uwa’”. Penyusuran belum berakhir meski beberapa sumber telah menerangkan. Seribu tanya, lalu mengajakku menuju ke Utara sebuah kampung bernama Pa’bumbungang, yang dulunya bernama Sarrea. Entah mengisyaratkan apa sehingga panggilan “Uwa’” itu mereka sepakati bersama.
Apakah mereka menyadur, atau latah saja? Atau apakah ada hubungan kekerabatan dari sumber nama itu berasal. Semua masih seribu tanya, hipotesa-hipotesa ini bukan untuk menegaskan semata dongeng saja. Maka saya merasa bahwa ini perlu pengumpulan data, riset untuk mendapat yang lebih valid tentang panggilan di sisi keluarga kami (rumpun).
Satu sisi orang dulu menamakan sesuatu, atau memberi julukan sesuai karakteristik, sosok, serta tempat di mana dia lahir, seiring penyesuaian adaptasi terhadap alam budaya, tradisi dengan segala bentuk simbol serta makna tersendiri. Mungkin juga seperti itu. Sebab bahasa dan kata bersumber dari beberapa unsur. Asal-usul bahasa dan kata diperkirakan dimulai dari kemampuan manusia untuk meniru bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh lingkungannya.
Namun, demikian asal usul bahasa atau sejarah bahasa tetap obscure dan studi tentang asal usul bahasa tidak sesemarak bidang-bidang kebahasaan yang lain. Mengapa? Jawabannya sederhana dan spekulatif. Sebab, tidak terdapat bukti ilmiah yang cukup untuk menyimpulkan kapan dan di mana sejatinya pertama kali bahasa digunakan oleh manusia, siapa yang memulai dan bagaimana pula memulainya.
Alih-alih menyimpulkan kapan bahasa pertama kali digunakan manusia, para ahli bahasa justru sepakat bahwa tidak seorang pun mengetahui secara persis asal usul bahasa. Ada yang mengatakan bahwa keberadaan bahasa dimulai sejak awal ada manusia. Dengan demikian, sejarah bahasa berlangsung sepanjang sejarah manusia. Ada sedikit informasi dari para peneliti sejarah bahasa yang menyimpulkan bahwa bahasa muncul pertama kali kurang lebih 3.000 SM. Itu pun dianggap kesimpulan yang spekulatif dan tanpa bukti yang kuat.
Sejauh perkembangan kata dan bahasa. Semua menjadi sumber pengetahuan yang menjadi interaksi sosial, manusia terjadi dengan komunikasi. Sampai pada penamaan, istilah semua berlangsung berabad seiring perkembangan zaman, budaya, dan sejarah. Tutur, dialek, sampai pada sebuah gagasan/idea yang menjadi tonggak keberadaan dan lahirnya sebuah bahasa/kata.
Akhirnya saya pulang ke rumah, melihat Tata’ yang semakin menua. Suaranya pelan menatap foto seorang Uwa’ bernama Baharu dengan ciri khas kopia/songkok hitam miring ke arah kanan sekian derajat. Bukan berarti ingin mengangkat harkat, tetapi bagian dari simbol makna dan pesan, seraya prinsip orang-orang dulu penuh petuah dan itu dilakukan. Bukan semata diucap saja. “Tappu kana sekalian,” mereka jadikan jimat sebagai manusia yang konsisten.
Empat tahun penjajakan. Seorang Om Rahman ternyata menghitung pencarian selama ini. Sesekali berkunjung ke mukimnya, atau di sebuah rumah sanak saudara dari rumpun Uwa’ kita bersua menyeruput kopi Pa’bumbungang yang nikmat, yang katanya dulu menjadi lumbung kopi yang terkenal di masanya. Itu menurut cerita dari beberapa Tata’ dan Uwa’ kami.
Secara tidak langsung, data dan riset itu meski tidak seperti peneliti yang teliti, tetapi tidak puriti biasanya mengalungkan dan mendaur hasil temuan. Hanya ditumpuk dan ditimpuki penemuan lain. Maka setidaknya saya merasakan betapa butuh penerjemah dan pemandu yang tidak asal untuk mendeteksi minimal, walau sumber mulai padam dan telah ditinggal pergi yang mumpuni untuk bentuk wawancara, diskusi lepas dengan silaturrahmi kala senjang saya berkunjung.
Saya terdiam seketika, pertanyaan asal usul membuat saya merasa semakin terbentur pada struktur saja. Tetapi berusaha untuk tidak ngawur. Bukan ubur-ubur asal istilah dipantunkan. Justru sebuah usaha hendak lebur di masa lampau bersama leluhur.
Tetiba seakan merasakan, bahwa sepertinya para Uwa’ sementara menyaksikan cucu, cicit, dan keturunannya lagi berusaha membentuk jalur silsilah dan istilah sekian puluh, bahkan mungkin ratusan tahun. Meski beberapa sumber masih bisa diolah kembali, sampai perhari ini sebagai data sementara. Sambil senyum bangga dan haru.
Sembari saya dan beberapa sanak keluarga, mencari penanda simbol dan istilah lain beberapa penamaan dan dialek setiap hamparan, kata nama dusun dan kampung hingga saat ini.
Seraya di tepi siang, penghujung menuju sore meminta sebuah harapan kepada meraka di rumpun Tata’ dan Uwa’. “Tanreja najule kapang, punna kurapang-rapangki, sierang pakkutannang, naki massing sipakainga’ sipasingarri bija, pammanakang. Nakuseeng todo erang rampena Tata’ surang Uwa’. Dasi nadasi lanrei nia’tra ngaseng sijilu kana, appsiama simpung, rannu surang pa’rikongang ri lo’lorang ceratta“.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply