Di Sini, Topeng Lebih Mahal dari Otak

Janggal, beberapa waktu belakangan mataku seperti mengalami penurunan fungsi. Dunia tampak samar. Kadang buram, kadang jernih. Kemarin aku yakin sekali melihat seekor kucing yang menggesekkan kepalanya ke kaki seseorang di mulut pintu kantor.

Rekan kerjaku menolak percaya, menuduhku berhalusinasi. Aku pun sebenarnya mulai ragu, tapi bayangan itu berulang. Untungnya, aku tak marah dengan seloroh mereka yang kuberi tahu bahwa di depan pintu kantor ada seekor kucing merundukkan kepala dan menggeseknya pada kaki orang.

Ajaibnya, kadang-kadang tanpa kusadari, tiba-tiba mataku mendadak pulih, seolah tak pernah ada masalah. Entahlah, faktor yang melatarinya belum sepenuhnya kupahami.

“Yu, santai saja! Halusinasi begitu memang sering mampir ke orang-orang keras kepala sepertimu. Sistem ini alergi pada jiwa yang tak bisa dijinakkan. Kau tahu? Sistem lebih suka memelihara kucing penurut ketimbang manusia merdeka,” begitu ungkap salah satu rekan kerjaku.

Seperti tiga hari lalu, misalnya. Aku hendak ke kamar kecil. Kebetulan karena struktur kantorku yang memang demikian, kamar kecil yang biasanya ada di belakang, justru ada di depan. Aku berpapasan dengan seorang pria berdasi, bertubuh semampai, dengan langkah mantap beralas sepatu pantofel, mengetuk lantai dengan irama percaya diri tak..tak..tak. Namun, nah… ini lagi… kepalanya ternyata babi.

Terus terang, jantungku serasa copot melihatnya. Apesnya, pria itu rupanya menuju tempat yang sama denganku (kamar kecil). Ah, sialan. Niatku untuk kencing sontak kubatalkan. Aku hanya membasuh wajah lalu melihat pantulan diriku di kaca. Di sanalah, bayangan ganjil itu kembali hadir, pria berkepala babi itu menyisir rambutnya yang sedikit mulai botak, seolah-olah ia manusia paling wajar di dunia. Pandanganku yang agak curiga rupanya menyinggungnya. Sebelum pergi, ia menoleh kepadaku dengan bermuka masam.

“Di sini, topeng lebih mahal dari otak.” Loh, aku tak bertanya apa-apa kepadanya. “Apa ia tersinggung?,” gumamku. Jujur saja aku tak bisa menerka maksudnya, bingung. Aku tercekat, tak tahu harus menanggapi apa.

Pria berkepala babi itu baru hitungan hari jadi pegawai kontrak di kantorku, sudah berani menasihatiku seolah dirinya juru bicara kantor. Ironisnya, aku tak tahu apakah ia memang tak paham maksud ucapannya, atau pura-pura bodoh demi cepat jadi pegawai tetap.

Kata-katanya terus menggelayut di kepalaku, namun artinya serupa kabut pekat yang tak bisa kutembus. Yang lebih mengganggu, aku terus membatin: Benarkah kepala babi itu hanyalah topeng yang  dipasang dan bisa dicopot kapan saja, atau justru itu wujud sejatinya? Aku tak mengerti sedikit pun maksud ucapannya.

“Kenapa harus begitu, Pak?” tanyaku, membuat hening ruang kerja bergeser jadi canggung. Ia duduk di samping kawanku, dengan wajah puas seperti penemu resep sukses hidup. “Apa sistem ini begitu rapuh, sampai-sampai kerja apa adanya dianggap ancaman?”.

Ia terkekeh. “Kau kira aku dulu tidak mencoba? Dulu waktu muda sepertimu, aku semangat. Kukira kalau rajin kerja, jujur, hasilnya bagus, pimpinan akan senang. Nyatanya, yang diingat bukan kerjamu, tapi apakah kau pandai menyenangkan hati atasan.”

Aku tentu saja menelan ludah. Ucapan itu mencabik pikiranku, seperti duri yang tak henti menusuk.

Ingatanku terlempar dua minggu lalu, saat aku ditegur bukan karena pekerjaanku keliru, walakin aku alpa hadir di sebuah acara seremonial pada hari Minggu, hari yang mestinya menjadi ruang bebas dari segala urusan kantor. Betapa aneh: yang dihitung bukan hasil kerja, tetapi kepatuhan pada ritual belaka.

Pria setengah botak berkepala babi itu menepuk pundakku. “Kalau kau mau sukses, belajar pakai topeng. Senyum kalau disuruh senyum, tepuk tangan kalau pimpinan bicara, ikut mengangguk meski kau tak setuju. Kalau tidak, kau akan disingkirkan.”

“Busyet,” gumamku.

***

Hari-hari berikutnya, kata-kata itu terus menghantui benakku. Perlahan aku menyadari, rekan-rekan kantorku pun menempuh jalan yang sama.

“Bajingan,” ketusku.

Kusaksikan, ada di antara mereka yang tak pernah lepas dari gawai, sibuk mengabadikan setiap kegiatan, lalu mengunggahnya ke media sosial, menandai nama pejabat, berharap mendapat lirikan dan tempat di hati mereka. Ada pula yang setiap pagi datang dengan sekotak kue, membagikannya seolah tanda kemurahan hati, padahal jelas maksudnya bukan semata berbagi. Lebih memuakkan lagi, ada yang rela merendahkan diri, bahkan mengemis, hanya demi diajak mengikuti kegiatan agar mendapat pundi-pundi rupiah, dengan cara menjatuhkan rekan kerjanya sendiri. Cuihhh..

Sementara aku sendiri? Aku hanya ingin bekerja benar. Tapi lambat laun, aku mulai merasa aneh sendiri. “Apa aku perlu ikut arus seperti yang mereka lakukan,” pikirku.

Tiba-tiba, di tengah lamunanku, mataku kembali menangkap seekor kucing yang sibuk menggesekkan kepalanya ke kaki seseorang di depan pintu kantor. Seketika aku tersadar, mungkin ini bukan sekadar delusi, namun pertanda kalau lingkungan kerjaku memang penuh dengan manusia menyerupai kucing yang lagi mengemis sepotong ikan dengan menggesekkan kepala ke kaki tuannya. Mereka bersembunyi di balik jeruji kemunafikan yang telah mereka bangun sendiri, bata demi bata, selama bertahun-tahun. Ah, sungguh menjijikkan.


“Emang menjadi karyawan itu dipaksa menjadi babi,” ucapku membatin.

Seperti salah satu rekan kerjaku, Malih. Setiap pagi, ia selalu masuk kantor dengan senyum selebar papan reklame. Giginya dipamerkan seakan-akan gaji UMR yang ia terima sudah cukup untuk membayar cicilan rumah, biaya sekolah anak, dan pulsa internet.

“Selamat pagi, Pak! Semoga Bapak tambah sukses,” sapanya pada atasan.

Di ruang rapat, Malih punya kebiasaan sederhana: mengangguk. Apa pun yang diucapkan bos, dari rencana penghematan listrik karena efisiensi anggaran yang membabi buta semua instansi pemerintahan, sampai wacana kerja lembur tanpa uang lembur, kepalanya bergoyang seperti sedang mendengarkan musik dangdut.

“Capaian bulan ini luar biasa!” kata bos. “Setuju sekali, Pak!” jawab Malih, walaupun yang ia dengar hanyalah kata “capaian” dan “luar biasa”.
Teman sekantor lainnya berbisik kepadanya, “kenapa kamu selalu ikut saja? Tidak bosan pura-pura?” Malih tersenyum tipis.

“Kalau jujur, aku yang dimasukkan daftar karyawan bermasalah. Kalau munafik, paling banter dapat penghargaan karyawan teladan”.

***

Seperti biasa, rapat evaluasi akhir bulan menjadi pementasan opera. Tatapan pimpinan seolah penuh karisma, tapi lebih mirip gaya motivator karbitan.

“Kita harus bekerja dengan hati, bukan dengan hitungan jam kerja. Ingat, perusahaan ini adalah rumah kita!”

Seketika Malih dan kawan-kawan serempak tepuk tangan. Dalam hati masing-masing bergumam, “Rumah siapa dulu? Rumah bos, cicilan kami saja sudah telat tiga bulan.”

Benar saja, seminggu kemudian, Malih diumumkan sebagai Karyawan Terbaik di bulan itu. Alasannya jelas: tidak pernah membantah, selalu tersenyum, dan rajin pura-pura paham.

Pria berkepala babi yang sedari tadi duduk di sampingku tengah menahan tawa yang mengendap, tapi cepat-cepat ia tahan. Ia kembali berbisik kepadaku, “di sini, topeng lebih mahal dari otak”.

Aku hanya mengangguk pelan mendengar kata itu untuk kedua kalinya, lalu buru-buru bergegas ke toilet. Di sana aku menertawakan absurditas ini bersama bayangan diriku di cermin. Namun pantulan itu mulai berkhianat: moncong babi muncul perlahan, telinga menjuntai, wajahku terdistorsi menjadi sesuatu yang tak ingin kuakui. Panik, tanganku meraba pipi sendiri, berharap semua itu ilusi semata.

Tapi ketika aku kembali ke ruang rapat, tak seorang pun menunjukkan keterkejutan. Mereka justru mengangguk, menepuk tangan, seakan-akan perubahan yang kualami adalah upacara yang sahih dalam adat-istiadat kantor.

“Selamat datang,” bisik pria berkepala babi yang kini terasa seperti cermin hidupku. “Kau akhirnya paham, Wahyu. Di sini, otak hanya akan menjerumuskanmu. Yang benar-benar kau butuhkan hanyalah topeng.”

Aku tidak tahu apakah harus menertawai atau meratapinya. Yang jelas, tanganku tiba-tiba bertepuk mengikuti irama tepukan rekan kerjaku, seperti ada sesuatu yang merampas kendali atas tubuhku.

Kredit gambar: https://chatgpt.com/s/m_68bd485cd5ac8191b1373d91fb451a16


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *