Ingatan selalu menemukan caranya sendiri untuk pulang.
Sore itu aku duduk di sudut Caffee Raya Makassar Todopuli, memandangi lalu-lalang kendaraan seperti menonton arus waktu yang tak pernah mau berhenti. Cangkir kopi di hadapanku telah lama kehilangan panasnya, namun tanganku tetap menggenggamnya, seolah ada yang perlu kutahan agar tidak ikut mendingin.
Temanku dari Bantaeng datang menjemput—wajahnya riang, suaranya penuh cerita tentang kampung yang selalu memanggil dengan nada lembut.
Aku mengangguk, tersenyum secukupnya. Namun jauh di dalam kepalaku, ada sesuatu yang bergetar. Seperti senar gitar yang dipetik tanpa suara.
Perjalanan dimulai. Mobil meninggalkan Makassar perlahan, menelusuri jalan yang sudah terlalu akrab dengan sejarah batinku.
Ia berbicara ringan tentang rumah, tentang orang-orang yang menunggu, tentang sawah yang mulai menguning. Aku menyimak tanpa sepenuh hati, tapi pikiranku seperti burung yang sudah terbang lebih dulu, menyusuri jalanan lama yang menyimpan terlalu banyak jejak.
Jalanan itu seolah menggambarkan tawa dan rasa letih kita kala menyusurinya; kau percayakan kemudi padaku, lewat pelukmu yang menghangatkanku dari angin sepoi-sepoi. Sepanjang jalan yang kita lewati, kau menabur bunga, dan kau tahu betul aku suka bunga.
Aspal hitam memanjang seperti pita kaset tua yang diputar ulang. Setiap kilometer adalah halaman yang terlipat, dan sore itu aku membacanya kembali tanpa sempat menutup buku. Di pesisir yang kami lewati, laut terhampar luas—cokelat dan hijau lumut yang tak pernah benar-benar sama.
Ombaknya memantulkan cahaya matahari senja; di sana, tepat di garis antara air dan langit, aku melihat bayangan kami dulu. Aku dan Rani. Berdiri tanpa banyak kata, membiarkan angin mengacak rambut dan diam menjadi bahasa paling jujur.
Dulu, di jalan inilah aku sering pulang kampung setelah berbulan-bulan menempuh kuliah di Makassar. Dan di jalan inilah namanya selalu ikut duduk di kursi penumpang pikiranku: Rani. Kami pernah berdiri di tepi laut, membiarkan angin menjadi saksi bisu rencana-rencana kecil kami. Kami pernah berhenti di SPBU itu, tertawa terlalu lama hanya untuk menunda perpisahan beberapa menit.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai state-dependent memory—bahwa ingatan menguat ketika suasana fisik menyerupai masa lalu. Namun bagiku, ini lebih seperti kutukan manis. Karena semakin dekat aku pada kampung halaman, semakin jelas wajahnya terukir dalam kepala.
Maka tak heran jika jalan ini seperti altar. Bau asin laut, denting nozzle saat mengisi bensin, suara radio mobil yang samar—semuanya adalah kunci rahasia yang membuka peti berisi namanya.
Aku tak tahu kini ia di mana.
Apakah ia masih sendiri?
Jalan yang pernah kau taburi bunga itu, apakah kini kembangnya mekar di jalan yang lain?
Atau mungkin di jalan itu sudah bersama yang lain—tertawa di jalan yang tak lagi melibatkan namaku?
Ketidaktahuan itu seperti kabut: tak terlihat bentuknya, tapi mengaburkan segalanya.
Rani.
Namanya seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Menyentuh tanah hatiku dan menumbuhkan sesuatu yang tak pernah benar-benar mati. Setiap sudut dan masjid yang kami singgahi, selalu kami terlarut dalam percakapan.
Tentang sekolahnya. Tentang karya-karyanya di Forum Anak yang ia programkan dengan semangat membara. Ia berbicara dengan mata yang hidup, binar seperti permen susu merah muda rasa stroberi; rasanya jika dikenang, seolah dunia masih bisa diperbaiki dengan kata-kata dan keberanian kecil. Aku mendengarkannya seperti seseorang yang menemukan arah.
Kini, setiap persinggahan terasa seperti nisan kecil yang tak bertuliskan apa-apa.
Malam menyambut kami saat tiba di Jalan Rambutan. Rumah baru keluargaku berdiri sederhana, namun jalan di depannya menyimpan gema yang tak kasatmata. Aku duduk di teras, menatap jalanan yang dulu kulewati hampir setiap pukul sepuluh malam sepulang dari rumahnya. Kudengar napas pelan-pelan, hati terasa penuh. Kami biasa berbincang tentang sekolah, tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi yang kami rajut seperti rajutan tangan yang sabar—tentang masa depan yang terasa begitu mungkin.
Dalam teori keterikatan John Bowlby, manusia membentuk ikatan emosional yang begitu dalam hingga kehilangan terasa seperti amputasi batin. Mungkin itulah yang kualami. Seolah sebagian dari diriku tertinggal di ruang terasnya, duduk di kursi empuk kuning panjang, menunggu percakapan yang tak akan pernah selesai.
Aku masuk ke kamar dan membuka lemari. Tanganku menemukan topi rimba kesayanganku—hadiah darinya. Kainnya telah sedikit kusam, namun sentuhannya masih menyimpan kehangatan yang tak bisa dijelaskan logika. Topi itu bukan sekadar benda. Ia adalah fragmen waktu. Bau minyak angin bayi.
Malam itu juga aku mengemasi perlengkapan gunung. Ada sesuatu dalam diriku yang ingin mencari jawaban di tempat yang lebih tinggi, lebih sunyi.
Aku mendaki Moncong Tallasak, di kaki Gunung Lompobattang. Jalan setapak berliku, batu-batu tajam, napas yang memburu—semuanya seperti metafora tentang bagaimana aku mencintainya: tak mudah, tak lurus, namun terus melangkah.
Kabut turun perlahan. Angin berdesir seperti bisikan masa lalu. Dan ketika malam mencapai puncaknya, badai datang tanpa peringatan. Hujan mengguyur deras, menusuk kulit seperti jarum-jarum kecil. Petir membelah langit, dan di tengah gemuruh itu badai menghadirkan sesuatu yang mencekam. Rintiknya menghantam tubuhku tanpa ampun. Angin meraung seperti sesuatu yang patah. Dan di sanalah, di bawah langit yang pecah oleh petir, aku berhenti berpura-pura.
Menangis sejadi-jadinya.
Selama ini aku hidup dalam emotional suppression—menekan luka agar tampak biasa saja. Psikologi mengatakan bahwa emosi yang ditekan tak pernah benar-benar hilang; ia hanya berdiam diri, menunggu celah. Dan badai itu menjadi celahnya. Aku berpura-pura kuat, berpura-pura telah selesai. Padahal yang kulakukan hanyalah menunda pertemuan dengan rasa sakit.
Di tengah badai itu, entah bagaimana, lirik dari Oasis bergaung dalam kepalaku—
“So what’s the matter with you?
Sing me something new…”
Seolah ada suara yang menegurku: Apa sebenarnya yang salah denganmu? Mengapa kau masih berdiri di masa lalu? Mengapa kau tak menyanyikan sesuatu yang baru?
Aku tak punya jawabannya.
Karena kenyataannya, walaupun kini memang sudah tak bisa lagi bersama—atau mungkin ia telah bersama yang lain—cintaku seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke arah yang sama. Aku tak tahu apakah ia pernah menoleh ke belakang. Aku tak tahu apakah namaku masih pernah singgah dalam doanya. Ketidaktahuan itu menyakitkan, tapi juga memaksaku menerima satu hal: tidak semua cerita diberi kesempatan untuk tamat dengan indah.
Aku tersedu. Tangisku pecah, bercampur hujan. Suaraku tenggelam oleh angin, tapi pengakuanku jelas: cintaku masih utuh, seutuh malam pertama aku menyadarinya.
Aku bertanya pada diriku sendiri—apakah ini sekadar halu? Apakah aku menciptakan bayangan karena tak sanggup menerima kenyataan bahwa tak ada lagi jalan menuju pelukannya?
Dalam kepalaku, entah bagaimana, mengalun lembut “Sampai Nanti” dari Threesixty, lalu bersahut dengan “Di Mana Kau” dari Closehead. Musik itu seperti pita suara bagi luka yang tak mampu berbicara. Nada-nadanya melingkari pikiranku, mengaduk kenangan, menyulut perasaan yang kukira telah padam.
Aku duduk di tanah basah, membiarkan diriku kalah dan lelah menjadi baik-baik saja.
Keesokan harinya aku turun dengan langkah yang lebih pelan. Tidak lebih kuat, tidak juga lebih lemah—hanya lebih jujur. Aku kembali ke kota dan menuju Pantai Lamalaka saat senja hampir matang.
Langit memerah seperti luka yang akhirnya sembuh perlahan. Aku duduk di pasir, menyalakan rokok terakhirku. Api kecil di ujungnya berpencar, lalu asapnya naik membentuk garis tipis yang segera larut bersama angin laut. Setiap isapan adalah perpisahan kecil. Setiap hembusan adalah pengakuan.
Ada konsep radical acceptance—menerima kenyataan sepenuhnya tanpa perlawanan. Mungkin di sinilah aku berdiri: di antara sisa cinta dan kesediaan untuk melepaskannya.
Aku menatap laut yang tak pernah berhenti bergerak. Ombak datang dan pergi tanpa meminta izin. Seperti Rani. Seperti cinta.
“Untukmu,” bisikku pelan.
Asap rokok terakhirku habis bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Aku sadar, mungkin aku tak akan pernah benar-benar memisahkan mana yang halu dan mana yang nyata. Namun aku tahu satu hal: mencintainya bukan kesalahan. Bertahan dalam ilusi adalah pilihan, dan hari itu aku memilih terdiam dan bershalawat, agar rinduku lebih mulia.
Cintaku masih ada—tenang, dalam, dan tak lagi menuntut untuk kembali.
Ia tinggal sebagai kenangan.
Sebagai senja.
Sebagai lagu yang pelan-pelan selesai, namun gaungnya tak pernah benar-benar hilang.
Dan untuk pertama kalinya, ketika gema lirik itu kembali terngiang—“Sing me something new…”—aku tidak lagi merasa ditegur.
Aku merasa dilepaskan.

Pernah ikut Kelas Menulis Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng


Leave a Reply