Senja di Gunung Mountea turun perlahan seperti luka yang akhirnya lelah berdarah. Dari punggung gunung itu, aku berdiri memandang langit yang qberubah warna—jingga yang hangat, lalu perlahan tenggelam menjadi ungu yang tenang. Alam seakan sedang menutup matanya setelah terlalu lama melihat dunia yang gaduh. Angin gunung datang menyentuh wajahku dengan lembut, namun di dalam dada, hatiku tetap terasa berat. Rasanya seperti seseorang yang membawa rumahnya sendiri, tetapi rumah itu terbuat dari kesedihanku. Menjelma embun di kelabu jiwaku.

Dari ketinggian itu, kota terlihat kecil. Lampu-lampunya mulai menyala satu per satu, seperti bintang yang jatuh ke bumi. Orang-orang di sana mungkin sedang pulang, tertawa, makan malam bersama, atau sekadar beristirahat dari hari yang panjang. Aku memandangnya lama sekali. Dari jauh semuanya tampak damai. Namun aku tahu, di dalam setiap rumah ada cerita yang tidak selalu mudah diceritakan.

Aku datang ke gunung itu bukan untuk mencari pemandangan. Aku datang untuk mencari tempat bersembunyi dari diriku sendiri.

Ketika matahari akhirnya benar-benar tenggelam, udara berubah lebih dingin. Langit mulai gelap dan aku sadar bahwa waktuku di atas gunung telah selesai. Aku menuruni jalur setapak dengan langkah pelan. Tanah berderak pelan di bawah sendalku, sementara malam mulai menelan seluruh warna yang tadi masih tersisa.

Di sepanjang perjalanan menuju kota, pikiranku tidak pernah benar-benar pulang. Lampu jalan melintas di kaca kendaraan seperti kilatan kenangan yang datang tanpa diundang. Satu per satu wajah, percakapan, dan harapan lama muncul di kepalaku.

Aku terus bertanya pada diriku sendiri: ke mana sebenarnya jiwa ini harus pergi?
Ke mana seseorang membawa hatinya ketika luka terlalu ramai tinggal di dalamnya?

Aku pernah percaya bahwa mencintai seseorang dengan seluruh hati adalah sesuatu yang indah. Bahwa memberi perhatian, menulis kata-kata, dan menyimpan seseorang di dalam doa adalah bentuk ketulusan paling sederhana. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Kadang cinta hanya tumbuh di satu arah, seperti pohon yang terus tumbuh ke arah matahari yang tidak pernah benar-benar miliknya.

Motor trailku yang kutumpangi terus melaju menembus malam. Kota semakin dekat, dan lampu-lampunya semakin terang. Tetapi entah kenapa, semakin dekat aku dengan rumah, semakin terasa bahwa ada sesuatu di dalam diriku yang masih tersesat.

Ketika akhirnya aku tiba di kamar, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ruangan itu sunyi. Hanya cahaya lampu kecil di sudut meja yang menyala redup, membuat bayangan-bayangan lembut di dinding.
Aku terbaring di tengah semesta tempat tidur dan musik di laptopku.

Lagu One Last Night on Earth dari Green Day mengalun pelan di kamar yang sepi. Melodinya terasa hangat sekaligus menyakitkan, seperti surat lama yang tiba-tiba ditemukan kembali di laci yang sudah lama tidak dibuka.

Liriknya mengalir pelan.

I text a postcard sent to you,
Did it go through?
Sendin’ all my love to you.
You are the moonlight of my life, every night.

Aku tersenyum kecil, senyum yang lebih dekat dengan kepasrahan daripada kebahagiaan. Begitulah kisah cintaku selama ini. Sebagian besar hanya hidup di dalam tulisan.

Aku menulis banyak hal yang mungkin tidak pernah benar-benar sampai pada satu orang yang kutuju. Kata-kata menjadi rumah kecil tempatku menyimpan perasaan. Dalam tulisan, aku bisa mencintai dengan bebas—tanpa takut ditolak, tanpa takut membuat seseorang tidak nyaman.

Namun pada akhirnya, tulisan tetaplah tulisan. Ia tidak bisa menggantikan kehadiran.

Malam semakin larut, tetapi aku belum ingin tidur. Ada sesuatu yang terasa belum selesai di dalam hatiku. Maka aku keluar dari kamar, mengambil jaket, dan berjalan menuju pantai yang tidak terlalu jauh dari tempatku tinggal.

Jalanan kota sudah hampir kosong. Angin malam berembus pelan, membawa udara yang lebih dingin dari biasanya.

Ketika akhirnya aku sampai di pantai, suara ombak langsung menyambutku. Laut di malam hari selalu terasa berbeda. Ia lebih jujur. Tidak ramai, tidak berpura-pura, hanya bergerak dengan ritme yang tenang seperti napas dunia.

Angin laut menunggangi ombak menabrak pesisir dengan bermahkotakan lumut yang akrab. Bau yang mengingatkanku pada air mata yang kadang tidak pernah sempat jatuh.

Aku berjalan sampai menemukan sebuah batu besar di tepi pantai. Di sanalah aku duduk, memeluk lututku sendiri seperti seseorang yang akhirnya mencoba memeluk dirinya kembali setelah terlalu lama pergi.

Ombak datang dan pergi tanpa lelah. Setiap gelombang terasa seperti cerita yang datang, lalu perlahan menghilang.

Dalam kesunyian itu, aku menyadari sesuatu.

Mungkin selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri. Terlalu sibuk mengejar orang lain sampai lupa bahwa ada satu orang yang juga membutuhkan perhatian dariku—diriku sendiri.

Sesak dada yang sejak tadi terasa berat perlahan mulai tenang. Tidak sepenuhnya hilang, tetapi setidaknya tidak lagi terasa seperti badai.
Aku menarik napas panjang, lalu pelan-pelan mulai bernyanyi.

Lagu “Somebody’s Pleasure” dari Aziz keluar dari bibirku dengan suara yang hampir tenggelam oleh angin laut.

I hold imagination cover all of the sadness
I don’t feel something special
Turn off the phone to get some spatial
Never thought I’d living in true…
The truth that has been so blue

Ketika hujan turun, membasahiku, aku memilih tuk memeluk diriku lebih erat, sebab isak tangisku kini tak lagi terdengar. Sampai hujan tak lagii berdenting kesakitanku, meretas luka demi dukaku, hingga hujan sendiri kembali memulihkan.

Seperti pantai yang setia pada pasang dan surut, aku belajar mengikhlaskan dirinya datang dan pergi tanpa pernah menuntut untuk tinggal. Aku tak mengikatnya dengan janji, sebab cinta yang kupunya bukanlah sangkar, melainkan ruang yang lapang untuk ia memilih ke mana hatinya akan berlabuh.

Jika suatu hari ia kembali, atau sekadar mencariku di antara sunyi yang panjang, maka semesta di dalam dadaku akan tetap terbuka untuk memeluknya. Namun jika ia memilih berjalan bersama orang lain atau masalalunya, aku akan belajar tersenyum dari jauh, sebab bahagiaku telah lama bersemayam pada bahagianya. Walau kini lagu dari “Adu Rayu” kini kunikmati sendiri.

Dan bila ia memilih pergi sendirian untuk menyembuhkan luka yang tak pernah ia ceritakan, maka doaku akan diam-diam menjadi selimut bagi malamnya agar rinduku lebih mulia—hangat, meski tak pernah ia sadari.

Ia mungkin tak pernah tahu, bahwa di suatu sudut dunia ada seseorang yang selalu menjaga harap untuknya. Seseorang yang tak ingin melihatnya terluka lagi. Sebab sejak pertama kali menatap mata indahnya, aku tahu—di sana ada kesedihan yang terlalu dalam untuk diucapkan, luka yang bahkan senyumnya pun tak mampu sepenuhnya sembunyikan.

“Jika mata dapat menggambarkan jiwaku, maka semua orang akan melihatku menangis ketika tersenyum. Aku bukan nabi, tapi mataku paham betul apa yang jiwamu butuhkan, adalah aku.”

Ketika bait paling menikam dari lagu itu diiringi dengan nada pasrah, isapan terakhir rokokku meresap ke dalam lamunanku.

It was in a blink of an eye Find a way how to say goodbye

Semua terjadi hanya dalam sekejap mata. Waktu yang dulu terasa panjang tiba-tiba runtuh menjadi detik yang terlalu cepat untuk dipahami. Aku bahkan belum sempat menata semua kenangan yang kita bangun, ketika kenyataan sudah berdiri di depan pintu. Dan pada akhirnya, di antara sisa-sisa keberanian yang kupunya, aku hanya mencoba satu hal yang paling sulit di dunia ini—mencari cara untuk mengucapkan selamat tinggal.”


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *