Jangan Dulu Mati Hari ini

Jangan dulu mati hari ini adalah jawaban dari tulisan sebelumnya, sebab tak ada lagi yang mencintaimu setulus diriku, itu kata Ayechral yang membuatku menulis lagi tentangmu

***

Tengah malam selalu menjadi ruang paling jujur bagi manusia yang tak lagi punya tempat untuk menyembunyikan perasaan. Jam dinding berdetak seperti jantung kedua di kamar ini—pelan, konsisten, tak peduli siapa yang sedang rapuh di bawahnya.

Setelah bermain gitar, aku duduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Lampu sengaja kupadamkan separuh agar bayangan lebih dominan daripada cahaya. Dari pengeras suara kecil di sudut meja, sebuah lagu lama mengalun—lagu tentang hati yang diminta untuk tidak menyerah. Tentang langit yang akan cerah setelah badai. Tentang keyakinan yang tipis namun tetap dipertahankan.

Setiap kali lagu itu diputar, selalu ada yang kembali.
Kamu.
Rani.
Stop Crying Your Heart Out…” Oasis.

Lirik itu meluncur dengan nada seperti tangan yang mencoba menenangkan bahu seseorang yang gemetar. Aku tidak tahu apakah lagu itu sedang menenangkan dunia, atau justru sedang menegurku.

Namamu seperti gema yang tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk terdengar lagi—biasanya di jam-jam seperti ini, ketika dunia seolah berhenti bergerak dan hanya kenangan yang punya keberanian untuk bangun.

Aku pernah menulis tentang kematian. Tentang sebuah kemungkinan yang dingin: bagaimana jika aku mati hari ini. Saat itu tulisanku penuh dengan pertanyaan tentang dunia—apakah akan ada yang berubah, apakah ada yang akan berhenti sejenak, apakah ada yang merasa kehilangan.

Kini aku menyadari, pertanyaan itu salah alamat.
Seharusnya bukan dunia yang kutanya.
Seharusnya kamu.
Bagaimana jika aku mati hari ini, Rani?

Apakah kau akan tahu bahwa ada seseorang yang sepanjang hidupnya menjadikan namamu bagian dari doa yang paling tulus? Ataukah aku hanya akan menjadi bayangan samar yang tak sempat kau pahami bentuknya?

Lagu itu terus berjalan. Suaranya seperti mengusap luka dengan lembut, seolah berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja. Tapi yang tidak pernah dikatakan lagu-lagu adalah: bagi sebagian orang, “baik-baik saja” berarti belajar hidup dengan kehilangan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Aku memejamkan mata.

Aku ingat pertama kali menuliskan namamu dalam sebuah cerita pendek. Aku menulismu dengan hati-hati, seakan kau bisa terluka hanya karena pilihan kata yang salah. Aku membangun dunia kecil untukmu—tempat kau tersenyum tanpa beban, tempat aku bisa mencintaimu tanpa takut ditolak oleh kenyataan.

Dalam cerita itu kusematkan bunga-bunga, kulukiskan pelangi setelah hujan melanda prosesmu—naas. Cerita-cerita itu tidak pernah kau baca. Kau memilih abu-abu, hatiku kelabu, dan tak berlabuh, berlayar sepanjang lautan hampa yang penuh misteri. Aku dikaramkan oleh hujan, tenggelam, dan tepat ketika aku tersadar, aku tenggelam di dasar.

Jauh di relung paling dalam, jantung terdalam.
Sungguh dalam.
Atau mungkin kau membacanya dan tidak pernah tahu bahwa itu tentangmu.

Malam semakin dalam. Angin masuk dari jendela yang kubiarkan terbuka sedikit. Tirai bergerak pelan seperti napas seseorang yang sedang tertidur. Aku membayangkan kau juga sedang terlelap di tempat lain—di kamar yang mungkin kini tak lagi terpapar gema suaraku, namaku di sudut-sudutnya. Sewaktu-waktu rindu merasuk hatimu, kini kau memunajatkannya melalui doa lain yang kau amin-kan.

Kau sedang menjaga hati seseorang sekarang.
Aku tidak tahu siapa dia.
Aku tidak tahu bagaimana caranya membuatmu bertahan.
Aku hanya tahu bahwa bukan aku yang kau pilih.

Ada bagian dari diriku yang ingin marah pada takdir, pada waktu yang berlarut dalam jemu, pada segala kebetulan yang mempertemukan kita tetapi tidak memberi keberanian yang cukup untuk memperjuangkan tuk dijamu. Namun yang lebih besar dari pikiran berisik kita adalah memilih diam.

Karena mencintaimu tidak pernah tentang memiliki. Namun harusnya kau tahu, mencintaimu harus menjelma “aku,” kata Sapardi.

Ia tentang menjelma.

Aku pernah membaca bahwa untuk benar-benar mencintai, seseorang harus menjelma menjadi sesuatu yang lebih luas dari dirinya sendiri. Dan aku telah menjelma menjadi doa-doa yang tidak pernah kukirim, menjadi puisi-puisi yang tidak pernah kubacakan, menjadi rindu yang tidak pernah kutuntut balasannya.

Jika aku mati hari ini, Rani, aku ingin ada satu hal yang kau lakukan—bukan karena kewajiban, bukan karena rasa bersalah.

Aku ingin kau menyebut namaku dalam doamu setiap ulang tahunmu.
Bukan sebagai mantan.
Bukan sebagai seseorang yang gagal.
Tapi sebagai seseorang yang pernah mencintaimu tanpa jeda.

Bayangkan: setiap kali usiamu bertambah, kau mengangkat tangan, memejamkan mata, dan sebelum menyebut harapan untuk dirimu sendiri, kau menyelipkan satu nama—namaku—dengan kalimat sederhana: semoga ia tenang.

Sebab jika aku mati hari ini, tak ada lagi manusia seheroik diriku dalam hal menghunuskan kata “tulus” di hatimu.
Itu saja.
Tidak lebih.

Karena mencintaimu telah menjadi bentuk keberadaanku. Jika aku pergi, maka doa itu adalah cara terakhirku untuk tetap hidup di duniamu.

Lagu di sudut kamar memasuki bagian yang paling lembut. Ada nada optimis di sana, seperti seseorang yang berusaha percaya bahwa cahaya pasti datang. Aku tersenyum pahit.

Lirik Oasis melantunkan bagian yang selalu membuatku terdiam.
Someday you will find me…

Seolah ada janji di sana—tentang pertemuan yang tertunda, tentang cahaya yang menunggu di ujung gelap. Tapi aku sadar, mungkin yang akan kau temukan suatu hari bukanlah aku. Mungkin seseorang yang lain. Seseorang yang kini kau jaga hatinya.

Mungkin aku memang harus berhenti menangisi hati ini.
Mungkin tugasku bukan untuk dimiliki, tapi untuk mengikhlaskan.

Namun, Rani, ada yang tidak pernah sempat kukatakan dengan jelas: mencintaimu adalah keputusan paling sadar yang pernah kuambil, secara khusyuk, tanpa ada godaan setan terkutuk atau paksaan. Bukan karena kau sempurna. Bukan karena kau selalu baik. Tapi karena setiap kali bersamamu, aku merasa menjadi versi diriku yang lebih jujur.

Kau tidak pernah tahu bahwa setelah setiap percakapan kita, aku duduk lama memikirkan caramu tertawa. Bahwa setelah kau bercerita tentang hari yang melelahkan, aku diam-diam berharap bisa menjadi alasan yang membuatnya sedikit lebih ringan.

Kini semua itu menjadi kenangan yang berjalan sendiri.

Aku sering bertanya-tanya, apakah orang yang sekarang kau jaga hatinya tahu caramu menggigit bibir ketika gugup? Apakah ia tahu bahwa kau menyukai hujan bukan karena romantisnya, tapi karena suara rintiknya membuatmu merasa tidak sendirian? Apakah ia tahu bahwa kau takut kehilangan lebih dari kau takut ditinggalkan?

Sederhananya, apakah ia tahu ketika kau memakan mi pangsit, kau sangat senang diperaskan jeruk, sedikit kecap, sedikit garam, serta sepotong sendok makan saus tumis yang pedis, dan tak lupa disediakan garpu dan sendok, air tidak terlalu dingin, juga tisu yang siap pakai tanpa kau cabut dari peti-peti mungil itu?

Jika ia tahu, semoga ia menjagamu lebih baik dariku.
Jika ia tidak tahu, semoga ia belajar dengan sabar.

Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang hanya bisa mencintai dalam bayangan masa lalu. Tapi ada cinta yang tidak selesai hanya karena kenyataan berubah arah.

Cinta seperti ini tidak menuntut. Ia hanya ada.
Ia hadir dalam bentuk paling sunyi—seperti malam yang tidak pernah meminta matahari untuk datang lebih cepat.

Jam menunjukkan lewat tengah malam. Aku tak peduli, tapi lagu itu berakhir, lalu mengingatkanku pada sore sempronyongan dari sisa-sisa sampanye.

Aku teringat tulisanku dulu—tentang kematian yang terasa dramatis dan besar. Kini aku mengerti, kematian yang paling nyata bukanlah ketika tubuh berhenti bernapas, melainkan ketika perasaan tak lagi punya tempat untuk pulang.

Namun anehnya, cintaku padamu belum mati.
Ia berubah bentuk.
Ia menjadi lebih tenang, lebih dalam, lebih tak terlihat.

Bukannya aku tidak lagi ingin kau kembali. Aku tidak lagi memaksa semesta untuk mempertemukan kita di jembatan kembar Gowa sehabis kau pulang kerja.

Aku hanya ingin kau bahagia, dan tetap tenang dalam keputusanmu. Jika bisa, sebahagia mungkin.

Aku tidak ingin menjadi beban dalam kenanganmu. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri—aku mencintaimu.

Jika suatu hari kau membaca tulisanku lagi, mungkin itu adalah hatiku yang masih tersisa di antara kalimat-kalimatnya.

Rani, jika aku mati hari ini, dunia mungkin tidak berubah.
Matahari tetap terbit.
Orang-orang tetap bekerja.
Kota tetap bising.
Tapi ada satu hal yang akan hilang: seseorang yang mencintaimu tanpa cadangan.
Dan mungkin itu tidak penting bagimu.
Tapi bagiku, itu adalah seluruh arti keberadaanku.

Di dalam hening itu, aku menyadari sesuatu: barangkali aku tidak perlu mati untuk membuktikan cintaku. Barangkali cukup dengan tetap hidup—meski tanpa kamu—dan terus mencintaimu dalam diam yang dewasa.

Karena beberapa cinta memang tidak ditakdirkan untuk bersatu.
Ia ditakdirkan untuk mengajarkan.
Di luar sana, malam masih panjang.
Di dalam sini, hatiku akhirnya memilih lebih lapang.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *