Ada makna yang tidak pernah memilih untuk ramai—ia lahir dari sunyi, tumbuh dalam diam, dan menetap sebagai bisikan yang hanya bisa didengar oleh hati yang sabar mendengarkan. Ia bukan sesuatu yang perlu dijelaskan dengan lantang, sebab sejak awal ia memang diciptakan untuk dirasakan, bukan diperdebatkan. Dalam bahasa, Nazwa berarti bisikan rahasia—percakapan lirih yang hanya terjadi antara jiwa dan sesuatu yang tak kasatmata.
Malam itu jatuh dengan cara yang begitu pelan, seolah langit sedang menimbang bagaimana caranya tidak melukai bumi yang sudah terlalu sering menerima gelap. Tidak ada yang benar-benar berbeda pada suasana, namun dadaku terasa lebih berat dari biasanya, seperti ada sesuatu yang selama ini kutahan diam-diam akhirnya meminta untuk dilepaskan. Aku datang bukan karena aku kuat, melainkan karena aku tidak lagi tahu harus lari ke mana. Sholat tasbih di malam ganjil terakhir Ramadan menjadi alasan sederhana yang justru terasa seperti panggilan pulang, seakan ada tangan tak terlihat yang menuntunku kembali, bukan ke tempat, melainkan ke diriku sendiri yang lama hilang.
Aku memarkir mobil, lalu berjalan menuju tempat wudu dengan langkah yang terasa asing. Air yang menyentuh wajahku membawa dingin yang tidak sekadar menyentuh kulit, melainkan meresap hingga ke dalam dada, seperti sesuatu yang mencoba menenangkan tanpa perlu bertanya apa yang sedang terjadi. Masjid malam itu redup, lampu dipadamkan, dan keheningan terasa lebih hidup daripada keramaian yang sering kupakai untuk melarikan diri. Saat takbir diangkat, aku merasa kecil dengan cara yang belum pernah kurasakan sebelumnya, bukan di hadapan manusia, melainkan di hadapan seluruh rasa yang selama ini kusembunyikan dari diriku sendiri.
Gerakan demi gerakan kulalui bukan sebagai rutinitas, melainkan seperti seseorang yang sedang menelusuri jalan pulang di dalam dirinya sendiri. Hingga akhirnya, dalam sujud, semua yang selama ini kutahan tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi. Aku meminta, bukan tentang dunia, bukan tentang seseorang, melainkan tentang dua hal yang terasa begitu jauh untuk kugenggam: agar aku tetap mampu berjalan dalam ketaatan, dan agar aku mampu menerima semua rasa sakit yang selama ini kupeluk tanpa pernah benar-benar kuikhlaskan. Pada saat itu, sesuatu di dalam diriku runtuh dengan cara yang sunyi, seperti bangunan yang tidak roboh ke luar, tetapi hancur ke dalam.
Dalam sujud itu, aku merasakan dadaku seperti dibelah, seolah ada luka yang selama ini tersembunyi akhirnya dibuka tanpa peringatan. Rasa perihnya tidak terletak pada tubuh, tetapi menjalar ke seluruh ingatan, menyentuh setiap kenangan yang pernah kutahan. Nafasku tersengal, seperti seseorang yang hampir tenggelam dalam dirinya sendiri, sementara tangis yang seharusnya jatuh justru tertahan di tenggorokan, menggumpal tanpa bentuk. Di antara sesak itu, aku mulai memahami sesuatu yang selama ini selalu kutolak: bahwa aku bukan tempat pulang bagi siapa pun, aku bukan penenang yang selalu bisa diandalkan, dan aku bukan kebahagiaan yang bisa dimiliki lalu ditinggalkan. Hatiku bukan batu sesuatu yang keras dan mati, melainkan langit dihiasi kepulan awan menjelma kabut tipis, ya seperti langit yang luas, ia pun memiliki saat-saat di mana ia tidak sanggup lagi menahan hujan.
Kenangan tentangnya datang tanpa izin, seperti ombak yang tahu persis di mana batu karang itu rapuh. Wajahnya, tawanya, dan segala hal yang pernah ada di antara kami muncul kembali tanpa bisa dicegah. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa semuanya harus selesai, bahwa tidak semua yang pernah hadir harus tetap tinggal, namun hati tidak pernah bekerja seperti logika. Ia selalu kembali ke tempat yang pernah membuatnya merasa hidup, meskipun tempat itu juga yang membuatnya hancur. Salat berlanjut hingga witir, dan ketika kami selesai lalu melangkah keluar, salah satu temanku memintaku untuk segera mengeluarkan mobil. Aku mengangguk, tetapi langkahku tertahan, karena aku tahu ada sesuatu yang belum selesai di dalam diriku.
Aku memilih untuk diam sejenak, membiarkan hatiku meraba sisa-sisa luka yang belum sempat kusembuhkan, dan tepat pada saat itulah, tanpa aba-aba, tanpa tanda, aku melihatnya. Ia berdiri di sana, nyata, bukan lagi bayangan yang muncul dalam sujudku. Waktu terasa melambat, dan dadaku bergetar tanpa kendali. Aku tidak pernah menyebut namanya dalam doa, tetapi ia hadir seperti jawaban yang tidak kuminta. Bibirku kaku, dan aku memilih membuang muka, seolah dengan begitu aku bisa menghindari kenyataan yang terlalu dekat. Namun langkahnya kembali mendekat, dan kali ini aku tidak memiliki alasan untuk lari.
Aku menyapanya dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh diriku sendiri, dan ia membalas dengan senyum yang sederhana, cukup untuk menghidupkan kembali sesuatu yang sebelumnya sudah kupaksa untuk diam. Pertemuan itu singkat, tetapi cukup untuk mengaduk ulang semua yang sudah susah payah kuendapkan. Aku tahu, jika aku bertahan lebih lama, aku akan kembali tenggelam dalam rasa yang sama, maka aku memilih kembali ke dalam masjid dan menambah dua rakaat, bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk memahami.
Dalam sujud itu, aku tidak lagi meminta banyak, aku hanya ingin mengerti, dan perlahan, tanpa kata-kata, aku mulai memahami bahwa tidak semua pertemuan adalah awal, sebagian hanyalah penutup yang datang dengan cara yang indah. Kami bukan untuk saling memiliki, kami hanyalah dua orang yang pernah berjalan di jalan yang sama, lalu dipertemukan sekali lagi agar masing-masing tahu ke mana harus kembali. Aku menyelesaikan witir dengan hati yang tidak sepenuhnya utuh, tetapi lebih tenang dari sebelumnya.
Setelah sahur, aku tidak langsung pulang. Ada dorongan halus yang membawaku menuju pantai, seolah aku perlu melihat sesuatu yang lebih luas dari sekadar pikiranku sendiri. Laut sedang surut, dan aku berjalan perlahan masuk ke dalamnya, merasakan air yang menyentuh kakiku dengan tenang. Angin pagi berhembus lembut, membawa rasa yang tidak bisa dijelaskan, seolah mengatakan bahwa tidak semua yang pergi adalah kehilangan. Cahaya matahari mulai muncul dari kejauhan, perlahan, tanpa tergesa, seperti luka yang akhirnya belajar untuk tidak lagi terasa.
Aku berdiri di sana, di antara laut dan langit, dan untuk pertama kalinya aku tidak mencoba melarikan diri dari perasaanku sendiri. Aku membiarkannya ada, tanpa ditolak, tanpa dipaksa hilang, dan di situlah aku benar-benar mengerti bahwa tidak semua rindu harus diperjuangkan, tidak semua cinta harus dimiliki, dan tidak semua pertemuan harus diulang. Ada yang cukup disimpan dalam diam, dalam doa yang tidak didengar siapa pun, dalam sujud yang tidak diketahui siapa pun, dalam hati yang memilih untuk tetap mencintai tanpa harus memiliki.
Aku menatap matahari yang kini mulai utuh, dan di dalam dada yang masih menyimpan sisa perih, aku menemukan sesuatu yang baru, bukan kebahagiaan, bukan pula kehilangan, melainkan keikhlasan yang tumbuh perlahan, seperti cahaya pagi yang tidak pernah datang dengan tergesa. Dan sejak saat itu, aku mengerti bahwa mengikhlaskan bukan berarti berhenti mencintai, melainkan belajar mencintai dengan cara yang tidak lagi menyakitkan, dengan cara yang lebih sunyi, lebih dalam, dan lebih dekat kepada-Nya.
Dan pada akhirnya, yang paling dalam memang tak pernah benar-benar terlihat—ia bersembunyi di antara jeda, di balik kata yang tak sempat diucap, namun tetap tinggal sebagai sesuatu yang diam-diam ingin dimengerti. Sebab seperti maknanya, Nazwa akan selalu menjadi rahasia yang hidup dalam hati—pelan, tersembunyi, namun tak pernah benar-benar pergi.

Pernah ikut Kelas Menulis Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng


Leave a Reply