Seteguk Americano terakhir yang kuminum, kuindahkan panggilan Kakak tak sedarah ke air terjun, sebab jiwaku menagih sesuatu, bermain di alam. Berbagi waktu dengan alam adalah jembatan menuju hakikat pada manusia. Sebelum manusia mengenal adat istiadat yang katanya lebih bermartabat, alam kini terdengar sebagai barang asing. Semenjak manusia memisahkan diri dari alam, gedung pencakar langit dibangun beriringan hedonism merambah ke beberapa budaya di situlah alam dan manusia memulai sejarahnya masih-masing, tepat ketika mereka kembali bersatu di situlah pecinta alam dimulai.
Selepas demo di sore hari, jalan dan setapak Pettarani yang macet kembali mulus, cahaya matahari yang ranum di makan senja terasa panas karena paparan ban yang masih terbakar, memang mahasiswa masa-masa paling asyik ber-idealis, hingga tiba cahaya bulan jatuh menusukku di tempat bekerja, kau tersenyum mengenang orasi tadi.
Tapi masih ada yang lirih dalam hati, bagai lagu yang terlupa akan liriknya, walau nadanya jelas terngiang-ngiang. Akhirnya aku memusnahkan kegelisahan itu dengang membulatkan tekad ke Bantaeng.
Malam itu aku meninggalkan Makassar menempuh jarak kisaran 120 kilo meter, ransel kosong di punggung dan langit yang menggantungkan rahasia di atas kepala. Tak ada perlengkapan apa pun di dalam tas itu—semua telah disiapkan di mabes (markas besar) di Bantaeng. Ranselku ringan, hampir tak terasa, namun dadaku justru berat oleh sesuatu yang belum bernama.
Jalan poros malam itu sunyi seperti lorong panjang menuju takdir. Lampu motorku memantulkan cahaya tipis di aspal yang basah oleh embun. Angin berembus lembut, membawa aroma tanah dan laut yang samar. Dalam mitologi Bugis kuno, ada kisah tentang To Manurung—makhluk dari langit yang turun membawa perubahan. Malam itu, entah mengapa aku merasa seperti seorang pengelana yang sedang dituntun menuju pertemuan yang telah ditulis jauh sebelum aku menyadarinya.
Jalan poros memanjang seperti benang takdir yang ditarik perlahan oleh tangan dewa waktu. Angin malam menyentuh wajahku, dingin dan jujur. Dalam kisah-kisah tua Bugis, para pengelana sering kali diuji oleh cuaca sebelum menemukan makna perjalanan. Malam itu, mungkin aku sedang diuji.
Hujan turun tanpa aba-aba bersama petir bagai menyamakan perspektif langit. Seperti rahasia langit yang tak sempat dirundingkan dengan bumi.
Awalnya hanya butiran kecil, seperti pesan rahasia dari tengah malam. Lalu ia meringkuh deras, seolah Dewi Langit tengah menumpahkan tangisnya kepada bumi. Airnya menghantam visor helmku, memecah pandangan menjadi serpihan cahaya. Jalanan berkilau seperti sisik naga dalam legenda timur—indah tapi berbahaya. Naga badai kalau di cerita Tensei Shitara Slime Datta Ken.
Aku menepi di sebuah warung kecil yang telah lama tertidur. Di teras kayunya aku duduk menggigil, memeluk sunyi dan dingin. Waktu mengalun lambat. Pukul dua. Pukul tiga. Hujan belum berhenti. Mungkin saja langit ingin memastikan kesungguhanku. Membuatku tersadar bahwa alam dan badai-nya tak bisa di tenangkan, kecuali orang yang tenang berhasil meredam badai.
Menjelang subuh, ketika azan hampir berkumandang dari kejauhan, aku berdiri. “Jika badai adalah gerbang,” gumamku, “maka biarlah aku melewatinya.” Kuterobos sisa hujan itu. Air membasahi seluruh tubuhku, sepatu terasa berat, jaket melekat di kulit. Tapi di dalam dada, ada bara kecil yang tak padam.
Saat tiba di Bantaeng, langit telah memucat seperti wajah yang baru terbangun. Mabes Bantaeng Expedition telah ramai oleh tawa dan obrolan beberapa orang, cukup ramai. Aku turun dari motor, membuka helm, dan meletakkan ransel kosong di sudut. Sengaja kucari tempat tak ada siapapun di situ.
Beberapa teman lama menyapaku. Aku membalas dengan senyum singkat. Di antara mereka, ada beberapa orang-orang seperti barisan padi yang kutahu tapi tak kukenal. Aku tak peduli. Seperti batu karang yang tak tergoda ombak. Tanpa menyapa siapa pun, aku masuk ke markas untuk bersiap. Mengganti pakaian, mengecek perlengkapan, memastikan tak ada peluang tuk di tanya-tanya.
Aku memilih terlihat diam seperti orang yang tak penting dalam kegiatan hari ini.
Aku tak menyela pembahasan. Tak mengucap sepatah kata pun. Biarlah aku menjadi bayangan di dinding ruangan. Dari sudut mata, kulihat dua perempuan melirik ke arahku, lalu bertanya pada temanku. Bibir mereka bergerak pelan.
Siapa dia?
Aku pura-pura tak tahu.
Tanpa menghiraukan siapa pun, aku masuk lebih dalam ke mabes. Senior mulai memperkenalkan seluruh rangkaian kegiatan hari itu. Peralatan satu per satu diperlihatkan, dijelaskan fungsinya, bagaimana cara memakainya, bagaimana menjaganya. Suara senior terdengar tegas namun bersahabat.
Namaku disebut sebagai bagian dari tim yang akan mendampingi.
Beberapa kepala menoleh.
Dan di antara tatapan itu, ada sepasang mata yang tak bisa kuabaikan. Tatapannya seperti danau yang memantulkan langit pagi—tenang, tapi menyimpan kedalaman. Aku tak tahu mengapa jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Tapi aku telah melewati badai ganas beberapa jam lalu, masa iya aku terlihat menaruh harapan besar pada tatapan singkat itu?
Pukul delapan kami berangkat menuju air terjun. Tubuhku belum tidur semalaman, tapi adrenalin menggantikan lelah. Setibanya di lokasi, suara gemuruh air menyambut seperti nyanyian purba dari para nimfa dalam mitologi Yunani—makhluk-makhluk air yang menjaga keseimbangan alam.
Air terjun itu berdiri megah, seolah gerbang menuju dunia lain.
Setelah semua siap, kuputuskan peserta didahulukan. Aku berdiri di tepi, menyanyi dan asyik sendiri, setiba para peserta datang. Junior meminta tolong tuk menjelaskan gerakan dasar ke pada gerombolan itu. Siapa nona bertutur lembut ini? Gumamku setelah nyanyi.
Ia berdiri di hadapanku. Sebatang rokok yang terselip di jemariku memilih padam sebagaimana diamku dalam mencari tahu.
Lucunya. Tangannya sedikit kaku saat mencoba mengikuti instruksi. Ada gugup yang tak bisa disembunyikan. Aku mendekat, membimbingnya dengan suara pelan. Sebagaimana tutur sapa halusnya, kutanya juga langit yang berubah jadi mendung, siapa dia sebenarnya? Langit juga memilih diam dengan udara dingin, awan yang sedikit murung enggan menatapku berada di dekapnya. Mungkin langit juga malu melihatmu, atau ia bersedih sebab kau berada di dekapku, mendengar derap jantungku, yang kau hirup menjadi rahasia tak terucap.
“Tenang. Jangan melawan alurnya. Ikuti saja.”
Tanganku menyentuh tangannya, membenarkan posisi jemarinya sekaligus memberi pijatan pada lengan-nya agar merasakan tekanan saat menggenggam tali itu. Sentuhan itu hanya sepersekian detik, tapi terasa seperti kilatan kecil yang menyambar dada. Kau tinggalkan juga balasan serupa menggenggam tanganku tapi pijatan-nya terasa sampai ke hati, aku hanya bisa mengheka napasku oleh harum aromamu, sampai-sampai jidatmu sedikit lagi ku-kecup. Saking dekatnya kita.
Kami saling mencuri pandang. Atau kami berusaha menjaga pandangan agar tak dicuri oleh kedekatan kita.
Senyum tipis muncul di wajahnya. Senyum yang sederhana, tapi cukup untuk membuat gemuruh air terasa lebih jauh dan dalam. Menambah wahana baru hari itu, bukan hanya air terjun harus dilewati dengan selamat, tapi bagaimana caranya lolos pada alismu yang runcing menatapku, menusukku, dan mengalihkan anggapanku terhadap indahnya bunga liar yang mekar di sudut bibirmu.
Saat gilirannya tiba untuk turun, ketakutan tampak jelas di wajahnya. Kuputuskan mendampinginya, bukan sebagai modus, tapi aku ingin kesenangannya hari ini terbayarkan setelah ia merasakan betapa bangganya pada diri sendiri setelah menyusuri air terjun.
“Aku takut,” katanya lirih. Sembari posisiku seakan memeluk memasang carabiner ke harnestnya.
Ia sempat ingin naik kembali. Air terjun mengaum seperti raksasa penjaga lembah. Dalam mitologi, ada kisah tentang manusia yang ragu melangkah ke dunia para dewa karena takut kehilangan dirinya. Saat itu, aku merasa ia berdiri di batas semacam itu—antara takut dan percaya.
Aku mendekat.
“Kamu bisa. Lihat aku. Percaya-kan langkahmu pada pijakanku. Jika kau terjatuh maka diriku yang paling terluka, dari itu untuk menjaga keselamatan nyawaku, secara logika kamu harus selamat barulah aku bisa dikatakan selamat juga.”
Detik itu aku ingin menciumnya, Ia menatapku lama memilih percayakan pijakannya dalam genggamanku. Seolah mencari kepastian dalam mataku. Nyawaku pun jadi nomor dua dihadapan-nya, kurang romantis apa coba?
Lalu ia mengangguk oleh mata binarnya, aku menanggapinya dengan hati yang terngiang-ngiang sebab masih ada rintangan yang akan kami lalui bersama, seakan-akan diriku memilihnya sebagai teman hidup tuk melalui sisa rintangan dalam hidupku ini.
Perlahan ia menuruni tebing. Air memercik deras, membasahi wajahnya. Aku menjaga dari bawah, memastikan semuanya aman. Setiap langkahnya adalah keberanian kecil yang lahir dari keyakinan. Senyumnya kerap kali meremasku jadi sebuah bola kertas yang tak akan dibaca isinya.
Di tengah jalur, tepat ketika ia ditarik perlahan oleh tim dan tubuhnya menggantung di antara langit dan gemuruh air, aku berdiri tak jauh darinya—menjaga dengan mata yang tak berkedip menatapnya dengan bangga, seperti tatapan seorang ayah.
Air terjun mengaum seperti Thor yang mengayunkan palunya yang bernama Mjolnir di langit, percikannya menari di udara, membentuk tirai tipis di antara kami. Ia tergantung di sana, kecil namun berani, seperti nimfa yang menantang arus takdirnya sendiri. Tali menegangkan waktu, dan aku merasakan jantungku ikut tertarik bersama tubuhnya yang perlahan terangkat.
Sesaat ia menoleh ke arahku. Di tengah derasnya air dan dinginnya batu, tatapan itu terasa hangat—seperti api kecil yang tak padam meski diguyur hujan.
Ketika ia kembali, Lalu seseorang mengangkat kamera. Tepat ketika kaki menjejak tebing di tengah air terjun, senyumnya pecah seperti matahari setelah badai. Kami berdiri berdampingan, di dinding batu yang basah, napas memburu, tapi hati ringan oleh kemenangan kecil yang kami raih bersama. Seolah dunia menggantung bersama kami.
Kamera terangkat, dan kami mengangkat dua jari—tanda peace, tanda kebebasan, tanda kebahagiaan yang sederhana namun tulus. Di balik simbol kecil itu, ada rasa yang tak terucap: bahwa untuk sesaat, di antara derasnya dunia, kami bebas tertawa dan merasa hidup sepenuhnya.
Kami berpose dengan tawa yang lepas—tangan terangkat, wajah basah oleh air dan bahagia. Di balik gemuruh yang tak pernah diam itu, ada kegembiraan sederhana yang membeku dalam satu bidikan.
Poto itu mungkin hanya segambar kenangan.
Namun bagiku, ia adalah bukti bahwa di antara batu, air, dan langit yang bergemuruh, pernah ada momen di mana aku menjaganya—dan kami sama-sama tertawa tanpa takut. Walau kabut warna abu-abu.
Dan ketika akhirnya ia sampai di dasar. Napasnya terengah, tapi matanya bersinar. Aku hanya ingin mengajaknya tos—sekadar benturan ringan dua telapak, isyarat sederhana tanpa makna berlebihan. Namun saat tanganku terulur, Ia tak menepuknya dengan cepat dan lepas, melainkan menggenggamnya pelan, seakan waktu tiba-tiba memilih diam. Di sela jari yang saling bertaut, ada getar yang tak pernah diajarkan oleh keberanian.
Tos yang seharusnya singkat, berubah menjadi detik paling panjang yang tak ingin segera dilepaskan. Aku sulit membedakan itu kejahatan atau kebaikan, dari sisi satu menghangatkan diriku pada dingin air terjun, jahatnya ia juga ikut menggenggam hatiku.
Aku berjalan mendekat.
Ia masih mengenakan helm. Dengan hati-hati, dan sepenuh hati kutatap Ia bertengkar pada benda sekecil itu, Ia menangadah dengan muka lucu bak bayi tak berdosa yang gemas memintaku melepasnya.
Saat helm itu terangkat dan krudungnya yang basah membentuk segetiga sempurna, perlahan kecantikan simetrisnya lebih jelas, waktu seperti melambat. Tetesan air jatuh dari ujung, menyentuh pipinya. Tapi kali ini Ia tak minta diusap, “andai saja ia minta” kataku dalam hati.
Ia menatapku. Dan kami tersenyum.
Senyum yang manis. Senyum yang tak perlu kata-kata. Senyum yang terasa seperti hadiah dari langit setelah hujan panjang semalam. Di momen kecil itu, dunia seakan mengecil hanya menjadi dua manusia yang berdiri di antara batu dan air. Sepanjang kegiatan, percakapan kami mengalir ringan. Tentang kampusnya. Tentang alasan ia ikut. Tentang hal-hal kecil yang membuatnya tertawa.
Namun kemudian aku tahu, ia memiliki pasangan. Kenyataan itu datang seperti angin dingin yang tiba-tiba memadamkan lilin kecil di dalam dada. Aku tersenyum seperti biasa. Tak ada yang berubah di luar. Tapi di dalam, ada ruang sunyi yang perlahan retak.
Setelah kegiatan, kami singgah di rumah kenalan senior untuk menghangatkan diri. Tadi terlihat mahir merawat teman yang sakit, Ia berbicara gejala seperti tenaga kesehatan, bagai dokter nadanya kudengar sepenuh hati, walau mataku tak tertuju padanya, jika saja Ia dokter, pastilah menyembuhkan tapi, kukira dia obat bisa saja jadi luka terhebat.
Rumah itu memiliki kompor kayu bakar tradisional khas rumah pedesaan, menyala di sudut ruangan. Api berderak lembut, seperti doa yang dipanjatkan pada musim dingin. Tapi momen dadakan datang lagi. Kami duduk bersama berdekatan, sedekat kayu dan api.
Lutut kami bersentuhan pelan. Hangat api bercampur dengan hangat yang lain. Kami pura-pura tak menyadarinya. Ada teman-teman di sekitar. Kami takut ketahuan bahwa jarak kami sebenarnya lebih dekat dari yang terlihat. Sebelum waktu perlahan memisahkan kami, bagai kayu yang dilahap api.
Kami berbicara tentang kuliahnya. Tentang skripsiku. Tentang dosen pembimbing yang cerewet, dan tugas-tugasnya. Aku mendengarkannya seperti seorang pengelana mendengar cerita bintang.
Sore dimakan maghrib seperti kayu bakar yang kini hanya tersisa bara, datang terlalu cepat.
Kami kembali ke mabes. Satu per satu berpamitan. Semua menatapku dan berkata, “Hati-hati di jalan.”
Kalimat sederhana. Tapi cukup untuk membuatku mengulangnya berkali-kali sepanjang perjalanan kembali ke Makassar. Tapi Ia pergi tanpa aba-aba, tak terlihat sebagai perayaan kecil atas pencapaian kami berdua di air terjun itu.
Beberapa hari kemudian, rasa penasaran membawaku mencari tahu tentangnya. Dan takdir kembali tersenyum samar—ia adalah adik dari temanku sendiri. Teman yang skripsinya sementara kucontoh karena judul kami benar hampir mirip. Begitu lucu dunia membawaku padamu.
Dunia ini ternyata sekecil lingkaran api unggun. Masihkah kau menggosokkan telapak tanganmu ketika dingin, sebagaimana yang kuajarkan kepadamu cara menciptakan rasa hangat tanpa menyentuh. Kini setiap kali mengingat Bantaeng, yang terbayang bukan hanya gemuruh air terjun, tapi juga momen kecil saat helm itu kulepas dan kami saling tersenyum.
Aku tahu aku tak boleh berharap lebih. Namun di dalam hati aku beranggapan, diriku tak tahu di sudut mana ia menjelma air terjun, yang airnya bersumber dari matanya dan tebingnya adalah pipi meronanya. Aku tak tak tahu di mana ia menangis, dan sungguh aku ingin membuatnya menjadi lega atas luka yang tak pantas ia dapatkan.
sebagai penutup dari kisah yang tak pernah benar-benar dimulai, ada bait yang terus berulang—lagu dari Tulus yang tak pernah berani kuucapkan langsung padanya.
Maukah lagi kau mengulang ragu
Dan sendu yang lama
Dia yang dulu pernah bersamamu
Memahat kecewa
Atau kau inginkan yang baru
Sungguh menyayangimu
Aku ingin dirimu
Yang menjadi milikku
Bersamaku mulai hari ini
Hilang ruang untuk cinta yang lain
Kau dan air terjun adalah satu kesatuan dari fenomena alam, sebab air terjun menenangkan lewat suaranya, kau mengindahkan-nya melalui senyum dari bibir mungil itu.

Pernah ikut Kelas Menulis Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng


Leave a Reply