Qawi pun gila, dan mengalami beberapa gejala penyakit—sosial, psiko, fisik—dan ia makin lesuh, dimakan pusing pikirannya sendiri, semenjak denyutnya dirobek sepi. Melankolia.
La… la… la… la…
Penawarnya telah tiada; ia memilih pergi. Semua penyakitnya kronis.
Ia bisa saja mati dan diracun atau terbunuh, tapi…
Apakah ia mati karena itu?
Atau ia mati tak kuasa menahan ancaman dari teror mencekam—dirinya sendiri?
Ceritanya bermula ketika ia dari kampus untuk bimbingan. Terjebak hujan ketika ingin ke kafe tempat bekerja, meski hari terakhirnya bekerja setelah pernyataan untuk mengundurkan diri.
Di tepian pantai, pesisirnya bukan pasir, melainkan “batu-batu”.
Hujan kali ini memiliki intrik elegi, penuh imaji, sedikit religi, pada rongga yang selalu menerangi sisi gelap langit, walau pelit menghadiahkan pelangi. Januari bukan hanya sebatas pencerahan doa, penuh gagasan akan harapan; melampaui itu, ia memiliki ruang, membawa, menuntun, dan menjadi awal langkah buana mayapada.
Di kala kilat mewarnai sudut-sudut langit, bersamaan gemuruh gelagar guntur menggema, bumi dan langit menyamakan persepsi: dari langit, antara dilihat dan didengar; dari bumi, antara yang dijanjikan dan dirasakan; antara nasib yang terperangkap dalam secangkir takdir.
Langit menyeduh bumi perlahan tapi pasti, menjaga dinginnya tetap hangat di ujung mata, merayu tiap manusia akan beristirahat pada sifat lemahnya berikhtiar.
Mulailah ia prolog dalam monolog.
Di tengah-tengah tempatku berteduh.
Sebelah mataku mempelajari sisi-sisi yang alami. Sebelah mataku yang lain menyadari bahwa sunyi dan monolog adalah jeda waktu yang dianugerahkan hujan pada jiwa-jiwa yang arif atau rela bertawaduk lebih lama, menanti hujan reda. Sebelah mataku memproyeksikan diriku berada di tengah badai yang tak bisa ditenangkan; sebelahnya lagi mempelajari jiwa tenang yang mampu meredam suram dan bunyi badai dari rintik-rintik yang perlahan pecah menuju hilang, sekalipun di tengah badai.
Dengar pikiran berisikku yang sunyi, melalak hayatku, membakar setiap air mataku. Ia lebur, menghalaunya ketika bercucuran dari tempatnya. Fitrah manusia hanyalah harapan dan ikhtiar: berharap tak menangisi dunia, sementara negeri di atas awan tak melempar dadu untuk memilih keberuntungan, tapi ia bagai rahim ibu merawat kehidupanku.
Tibalah ketika hujan tak lagi merintikkan duka setelah derasnya meretas luka.
Sinestesia.
Di setiap hamparan dan bentang alam, aku melihat warna, seakan akselerasi hujan itu membentuk tangga menuju tempat ayah kini menikmati segelas kopi sembari menonton anaknya berjuang menyelesaikan akademi dan romansanya.
Aku tidak ingat apa pun saat sisi lainku tertusuk dan menembus kepalaku; mungkin ia telah menerkam semua memori, tapi aku sempat melihat siluet wajah orang tuaku. Mungkin karena mereka yang paling berduka.
Walau tak seperti Gie atau Rocky, diriku selalu mengalami ancaman, juga diteror mencekam dari kegundahan. Kerap aku menyingkirkan diri usai terperangkap di penyangkalan. Kurasakan kebahagiaan sepertiku hanya jadi momok. Wajahnya mengancam dan mengerikan seperti cerita yang menggambarkan “Jack the Ripper”.
Aku sendiri menikmati kegundahan dan segala kepahitan sebagai hal paling membahagiakan. Bukan komplotan yang menyanyi bersamaan menyamakan persepsi. Kau bisa membuatku menderita, mencabut nyawaku, menikam, dan mengursi-listrikkan tubuhku, namun suara kebenaran tak akan mati. Tidak akan mati.
Aku sering menyebutnya “aku”, padahal ia bukan aku. Ia tinggal di sela pikiranku, berbicara saat sunyi, menyamar dengan suaraku sendiri.
“Kau adalah ancaman, dan aku merobekmu dengan sepi saat kau tersungkur dalam kesendirian,” katanya lembut, seperti seseorang yang peduli.
“Kau sudah mencoba, dan itu cukup. Berhenti saja.”
Ia pandai. Ia mengingatkan semua kegagalanku satu per satu, seperti album kenangan yang diputar ulang tanpa tombol jeda. Ia tahu kapan aku paling lelah—saat malam menutup jendela dan dunia berhenti menuntut apa pun dariku. Di saat itulah ia muncul, duduk di sampingku, membisikkan ide-ide yang terdengar logis.
“Kalau kau menghilang, semua akan lebih tenang. Saat kematian datang, kau dinyanyikan sirene ambulans yang bersautan. Takdirmu tak usah ditunggu; jemput dan berlarilah. Seperti tahlilan berkunjung menuju tempat Tuhan. Di ruang tengah kini tak lagi hangat, tak hirup bau masak kesukaan, hanya ada seduh-seduhan. Kau pun harus memilih untuk usai. Kau sempurna untuk diurai oleh tanah, dilahap cacing kuburan.”
“Tak ada lagi yang kecewa. Tak ada lagi yang menunggu.”
Aku hampir percaya, karena ia memakai bahasaku, memoriku, rasa maluku. Ia tahu cara membuat luka terasa seperti jalan keluar. Ia menyebutnya kebebasan, padahal baunya seperti menyerah.
Namun ada satu hal yang selalu ia benci: ketika aku diam dan mendengarkan napasku sendiri. Di celah napas itu, aku sadar—jika ia benar-benar aku, ia tak akan sekejam ini. Jika ia benar peduli, ia tak akan memintaku menghilang.
“Aku lelah,” kataku padanya.
“Tapi aku masih di sini.”
Ia tertawa kecil, lalu mengecil. Tidak pergi, hanya mundur. Aku tahu ia akan kembali suatu hari, dengan argumen baru dan suara yang lebih halus. Tapi kini aku tahu namanya: bukan kebenaran, melainkan bisikan yang lahir dari sakit.
Dan selama aku bisa menamai dia, aku masih punya jarak. Selama aku masih bisa berkata, “bukan hari ini”, aku masih hidup.
Makassar belum tidur, tapi juga tidak benar-benar terjaga.
Dari tempatku duduk, aku melihat lampu jalan memantul di aspal basah, berkilau seperti nada tinggi yang terasa pahit di gigi. Angin dari arah laut membawa bau asin—bau yang terdengar biru tua di telingaku.
Lagu Efek Rumah Kaca masih berputar.
Suaranya bercampur dengan klakson jauh di Jalan Pettarani, yang terdengar seperti garis merah panjang, menembus dada. Kota ini bising, tapi kesepiannya punya volume sendiri—pelan, konsisten, dan menetap.
“Di kota sebesar ini, kau tetap sendirian. Maka resapi bait risauku yang melahap hayatmu. Rindu terpendammu itu luka. Padaku dan padanya melebur jadi mendung. Maka dengarlah nyanyi sunyiku. Kemanusiaan yang ia miliki tak diniatkan untukmu. Pekiklah,” kata sisi lainku.
Ia menunjuk keramaian yang tak pernah benar-benar menyentuhku: motor melintas seperti ketukan drum yang terlalu cepat, warung kopi yang tertawaannya terasa hambar di lidah.
Aku berjalan keluar, membiarkan malam Makassar menyentuh kulit. Panas aspal masih tersisa, rasanya oranye gelap. Laut di kejauhan berkilau seperti nada bas—dalam, menenangkan, tapi berat. Setiap ombak seakan memanggil namaku tanpa suara.
Kesepian di kota ini bukan sunyi.
Ia ramai, berisik, dan terus bergerak—seperti lagu yang tak pernah berhenti, hanya berganti bait. Aku merasakannya sebagai warna kelabu yang berdenyut, masuk lewat telapak kaki, naik ke dada.
“Pergi saja, tak usah rawat kehidupanmu ini. Sikap keras kepalamu adalah kelemahan terbesarmu, meski terang pagi kau halau,” bisik sisi lainku lagi.
“Tak ada yang akan sadar.”
Tapi lagu itu—entah lirik atau sekadar keberadaannya—menarikku kembali. Di sela suara kota, ada nada kecil berwarna hijau pucat. Harapan yang tidak berteriak. Hanya duduk di pinggir trotoar, menunggu aku menoleh.
Aku berhenti. Menghirup udara laut.
Asin itu terasa seperti pengingat: kota ini keras, tapi masih hidup. Dan selama aku masih bisa merasakan panas aspal, mendengar Makassar berdengung di tulangku, aku belum sepenuhnya hilang.
Sisi lainku terdiam, tertelan oleh suara ombak dan musik.
Aku melangkah pulang, membawa kesepian seperti lagu yang belum selesai—bukan untuk diakhiri malam ini, tapi untuk ditemani sampai esok.
Padam semua lampu. Sebatang rokok, percikan korek adalah jembatan panasea.

Pernah ikut Kelas Menulis Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng


Leave a Reply