Data Buku
Judul: The Geography of Bliss: Kisah Sang Pelancong Filosofis yang Berkeliling Dunia Mencari Negara Paling Membahagiakan
Penulis: Eric Weiner
Penerjemah: M. Rudi Atmoko
Penerbit: PT Mizan Pustaka (Penerbit Mizan)
Tahun terbit: 2024 (Edisi kelima)
Tebal buku: 520 halaman
ISBN: 978-602-441-298-2
Perkenalan saya dengan buku The Geography of Bliss, karya Eric Weiner sebetulnya terbilang terlambat. Buku ini pertama kali terbit pada 2008, sementara saya baru membacanya akhir 2025, tujuh belas tahun kemudian. Buku ini telah terbit dalam 5 edisi dengan 17 kali periode cetak. Dalam ukuran dunia penerbitan, itu jarak waktu yang panjang. Namun, seperti kata orang bijak, tak ada kata terlambat dalam belajar. Tentu termasuk membaca buku ini.
Pertemuan saya dengan buku ini terjadi kebetulan saja. Setelah nyaris tiga bulanan tidak pernah berkunjung ke toko buku, hingga suatu waktu karena keperluan tertentu saya ke sebuah mal di Kota Makassar, mampirlah ke Gramedia. Di situlah, di antara rak buku perjalanan dan psikologi, saya menemukannya, sebuah buku yang seolah menunggu saat yang tepat untuk dibaca.
Berkeliling Dunia Menemukan Kebahagiaan
Weiner membuka perjalanan intelektualnya dengan pertanyaan, apakah orang Swiss lebih bahagia karena negara mereka paling demokratis di dunia? Pertanyaan yang tampaknya retoris itu menjadi pintu masuk untuk memahami kebahagiaan sebagai pengalaman yang tidak sesederhana angka-angka statistik.
Kita tahu, Swiss adalah negeri yang rapi, teratur, dan sangat demokratis. Namun, apakah itu yang membuat bangsanya bahagia? Boleh jadi, tapi tidak selalu. Weiner menemukan orang Swiss yang bahagia, tetapi ia juga menemukan mereka yang merasa terjebak dalam kesempurnaan. “Terlalu sempurna,” katanya, “bisa membuat hidup terasa hampa.”
Sebelum tiba di Swiss, Weiner mampir di Belanda, negara yang sering dipuji karena keseimbangan hidup dan rasionalitas sosialnya. Di sana, kebahagiaan lahir bukan dari ambisi besar, melainkan dari kemampuan mengelola hidup secara wajar, misalnya bekerja secukupnya, menikmati hidup secukupnya, dan tidak menjadikan pencapaian sebagai beban eksistensial. Belanda mengajarkan bahwa kebahagiaan kadang justru hadir ketika hidup tidak dikejar-kejar oleh hasrat berlebih.
Lalu Ia ke Qatar, negeri gurun yang berkilau oleh kekayaan minyak, disana kata Weiner kebahagiaan hadir secara paradoks. Ternyata kekayaan melimpah tidak serta-merta melahirkan ketenangan sosial, apalagi kebahagiaan. Di Qatar, uang hadir seperti angin panas, kita tahu angin panas itu memang terasa keberadaannya, tetapi tidak membuat sejuk. Weiner menulis dengan getir, “Uang membuat hidup lebih mudah, tetapi tidak membuat hidup lebih berarti.”
Yang paling menarik dalam perjalanan Weiner adalah ketika ia tiba di Bhutan. Negeri kecil di Himalaya itu memiliki keberanian yang tak dimiliki banyak negara, Bhutan menolak Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai indikator utama pembangunan dan menggantinya dengan Gross National Happiness (GNH).
Bagi sebagian ekonom, itu mungkin seperti lelucon. Bagi sebagian politisi, terdengar utopia. Atau bagi sebagian akademisi, ini semacam eksperimen sosial yang terlalu idealis. Lalu apakah itu berarti Raja Bhutan adalah seorang pengkhayal?
Bagi Weiner tidak. GNH bukan khayalan, melainkan filosofi nasional yang hidup, dihidupi dan menghidupi. Karenanya negara membatasi pertumbuhan yang merusak alam, membangun pendidikan yang bermakna, menjaga kohesi sosial, dan menahan laju konsumerisme, dan lain sebagainya, dan seterusnya.
Tentu Bhutan bukan surga. Disana ada juga kemiskinan, ketimpangan, dan beragam problem modernitas. Tapi keberanian mereka menyatakan bahwa kebahagiaan adalah tujuan negara adalah pelajaran yang langka.
Dalam konteks Indonesia, yang masih membangun Indeks Kebahagiaan sebagai pelengkap statistik pembangunan, GNH seolah menyindir kita: pembangunan bukan hanya membesarkan angka, tetapi membesarkan manusia. Ya, bangsa kita layak disindir soal ini.
Namun, bagian yang paling menggugah bagi saya adalah ketika Weiner tiba di Islandia. Bagaimana mungkin negeri yang gelap selama musim dingin, dingin hampir sepanjang tahun, dan jauh dari mana-mana justru termasuk negara paling bahagia di dunia?
Jawabannya sederhana, disana mereka punya “core value” yaitu kreativitas dan toleransi terhadap kegagalan. Orang Islandia tidak takut salah, atau gagal. Mereka menulis buku, membuat musik, berbisnis, mencoba berbagai hal baru, dan ketika gagal, mereka mencoba lagi. Kebahagiaan tumbuh bukan dari iklim atau kekayaan, tetapi dari budaya yang memaafkan ketidaksempurnaan.
Indonesia, dengan budaya malu dan tabu yang kelewat tebal, sepertinya perlu belajar dari Islandia. Betapa sering kita menunda mimpi karena takut ditertawakan ketika gagal? Betapa sering kita menilai diri dari mulut orang lain?
Islandia mengingatkan bahwa kebahagiaan kadang lahir dari keberanian untuk tidak sempurna.
Weiner juga membawa pembaca ke Moldova, salah satu negara termiskin di Eropa. Di sana, kebahagiaan terasa seperti lotre yang jarang dimenangkan. Ketika institusi lemah, masa depan suram, dan harapan kolektif menghilang, kebahagiaan menjadi barang langka. Moldova mengajarkan bahwa kebahagiaan membutuhkan fondasi sosial dan politik yang adil, ia tidak bisa hidup lama di tanah yang keropos.
Lalu Weiner ke negeri di tenggara benua Asia, tepatnya Thailand. Di sini, Weiner menemukan kebahagiaan dalam bentuk lain, yaitu sikap hidup yang tidak terlalu memusingkan segalanya. Senyum bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi kemampuan menjaga jarak emosional dari tekanan atau masalah.
Ini berbeda dengan Britania Raya, kebahagiaan justru terhambat oleh kebiasaan mengeluh dan terlalu banyak berpikir. Ternyata kata Weiner, kecerdasan dan kesadaran kritis tidak selalu berbanding lurus dengan ketenteraman batin.
Weiner juga membawa pembaca ke India, negeri yang mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan bisa hidup bersisian. Di satu sisi ada festival, musik, spiritualitas, dan senyum yang tulus. Di sisi lain ada kemiskinan ekstrem, ketimpangan, dan hiruk-pikuk urban.
India menunjukkan bahwa kebahagiaan bukan garis lurus, ia seperti mozaik yang pecah-pecah. “Di India,” tulis Weiner, “hidup itu terlalu besar untuk dipahami, apalagi dikelola. Mungkin di sana kebahagiaan muncul sebagai mekanisme bertahan.” Pernyataan itu mengingatkan kita bahwa makna bisa tumbuh bahkan dalam kekacauan.
Perjalanan ini ditutup di Amerika Serikat, negeri Weiner sendiri. Di sana, kebahagiaan menjadi proyek individual yang melelahkan, selalu dikejar, selalu dibandingkan, dan jarang dirayakan. Dari negeri ini kita belajar bahwa kebebasan tanpa solidaritas sering berakhir pada kesepian.
Pelajaran untuk Kita
Dari Belanda hingga Swiss, dari Qatar hingga Bhutan, dari Islandia hingga Moldova, dari Thailand, Britania Raya, India, hingga Amerika Serikat, Weiner menyusun satu tesis bahwa kebahagiaan bukan komoditas global yang seragam, yang homogen. Ia bersifat lokal, kontekstual, dan kultural.
Geografi kebahagiaan mengajarkan bahwa uang penting, tetapi uang tak pernah mampu membeli kebahagiaan. Demokrasi penting, tetapi tanpa kehangatan sosial ia bisa terasa beku. Kesederhanaan bisa membahagiakan, selama dipilih, bukan dipaksakan. Lingkungan alam dan kualitas relasi sosial sangat memengaruhi suasana batin.
Itu sebabnya buku ini tetap relevan 17 tahun setelah terbit. Ia mengajak kita pulang pada pertanyaan dasar, tempat macam apa yang membentuk kita, dan tempat macam apa yang kita butuhkan untuk menjadi manusia yang bahagia?
Dan akhirnya, kebahagiaan memang punya koordinat geografis, Swiss, Bhutan, Islandia, dan lainnya, tetapi ia juga punya koordinat batin. Dan sering kali, koordinat yang paling kita butuhkan bukan berada di peta dunia, melainkan di peta sunyi dalam diri kita sendiri.

Lahir di Budong-budong Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Negeri Makassar. Belajar menulis dan bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute. Aktif berbagi perspektif melalui artikel opini di sejumlah media online, koran serta artikel ilmiah di jurnal penelitian-pemikiran dan pengabdian masyarakat. Telah menerbitkan sejumlah buku diantaranya “Kebebasan Berpendapat dan Berorganisasi: Persepsi Mahasiswa” (2020), “Metanarasi Pendidikan Nasional” (2024), “Digital Citizenship: Menjadi Warga di Ruang Maya” (2025), “Indonesia dalam Ragam Perspektif: Isu-Isu Kewargaan, Kebangsaan dan Kemanusiaan” (2025). Dapat berkorespondensi melalui yunasri.ridhoh@unm.ac.id atau akun instagram @ari_myunasri.


Leave a Reply