Hardiknas kembali dirayakan. Ya, dirayakan, sebagaimana 2 Mei tahun-tahun sebelumnya. Sebagaimana juga sebuah perayaan, ia hampir selalu diisi dengan seremoni dan formalitas. Upacara, pidato, penggunaan pakaian adat Nusantara, unggahan media sosial, dan berbagai simbol kebanggaan lainnya. Tidak salah, tentu saja. Bahkan bisa jadi penting sebagai penanda kolektif bahwa pendidikan masih kita anggap bernilai. Tapi pertanyaannya, apakah cukup berhenti pada perayaan?
Bukankah akan lebih bermakna jika Hardiknas tidak hanya dirayakan, tetapi juga diperingati? Diperingati dalam arti yang sesungguhnya, yaitu mengingat, mengingatkan, bahkan memperingatkan. Mengingat bahwa pendidikan kita masih menyisakan banyak sekali pekerjaan rumah. Mengingatkan bahwa ada nilai-nilai dasar yang mulai terpinggirkan. Dan memperingatkan bahwa tanpa refleksi, pendidikan akan “terjebak” dalam siklus rutinitas yang tanpa arah.
Salah satu hal yang patut diingat kembali adalah gagasan Ki Hajar Dewantara tentang konsep Tri Rahayu dalam pendidikan. Sebuah konsep yang yang dalam hemat saya sangat relevan untuk membaca problem pendidikan kita hari-hari ini.
Tri Rahayu adalah filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah menciptakan kebahagiaan dan keselamatan, yang memerdekakan manusia dari segala hal yang membelenggu, melalui tiga perwujudan utama. Pertama, Hamemayu Hayuning Sarira, yang berarti menjaga dan memartabatkan diri, dengan menjadi manusia yang cerdas, yang terampil, yang berbudi pekerti.
Kedua, Hamemayu Hayuning Bongso, yang berarti memelihara dan meningkatkan derajat bangsa, berkontribusi, mengambil peran, dan bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa. Ketiga, Hamemayu Hayuning Bawono, yang bermakna memelihara dan melestarikan alam raya, menjaga lingkungan, tidak merusak, dan hidup selaras dengan semesta.
Jika dibaca secara utuh, Tri Rahayu senyatanya bukan hanya konsep pendidikan, tetapi arah hidup. Ia menempatkan manusia tidak sebagai pusat yang egoistik, tetapi sebagai bagian dari lingkaran yang lebih luas, yaitu diri, bangsa, dan dunia.
Namun, jika kita jujur, arah pendidikan kita hari ini cenderung menyempit pada rahayu yang pertama, yaitu diri sendiri. Bahkan itu pun direduksi menjadi capaian-capaian yang sangat teknis, misalnya nilai ujian, ranking, sertifikat, dan indikator-indikator kuantitatif lainnya. Akibatnya pendidikan menjadi alat mobilitas sosial semata, tentang siapa yang paling tinggi nilainya, maka dia yang paling “berhasil”.
Tidak ada yang keliru dengan prestasi sebetulnya. Tapi ketika prestasi menjadi satu-satunya ukuran, kita kehilangan dimensi lain yang justru lebih esensial. Kita menjadi lupa bahwa pendidikan seharusnya juga membentuk kesadaran kebangsaan (rahayu bongso) dan tanggung jawab kemanusiaan global (rahayu bawono).
Di sinilah, Hardiknas seharusnya menjadi ruang refleksi, apakah sistem pendidikan kita masih setia pada visi besar Ki Hajar Dewantara? Ataukah kita justru sedang menjauh, membangun jarak dan pagar, perlahan tapi pasti?
Ambil contoh sederhana. Kita sering membanggakan capaian nilai siswa, tetapi pada saat yang sama masih menyaksikan praktik intoleransi, perundungan, hingga rendahnya kepedulian sosial di lingkungan pendidikan. Ini menunjukkan bahwa ada yang timpang. Ada sesuatu yang tidak utuh dalam proses pendidikan kita.
Konsep Tri Rahayu sebenarnya menawarkan keseimbangan itu. Hamemayu Hayuning Sarira mengingatkan bahwa pendidikan harus memerdekakan individu, dengan memberi ruang tumbuh, mengembangkan potensi, dan membangun karakter. Lalu Hamemayu Hayuning Bongso menegaskan bahwa pendidikan harus menanamkan nilai kebangsaan, persatuan, gotong royong, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Sementara Hamemayu Hayuning Bawono mengajak kita melampaui batas-batas sempit kepentingan manusia, menyadari bahwa keberlanjutan hidup sangat bergantung pada bagaimana kita memperlakukan alam dan dunia.
Sayangnya, dalam praktik, tiga dimensi ini tidak berjalan seiring. Pendidikan karakter kadangkala berhenti sekadar sebagai slogan. Sementara kesadaran ekologis sering dianggap sebagai pelengkap, bukan inti.
Di sinilah menurut saya letak perlunya memaknai ulang Hardiknas. Bukan sekadar momentum seremonial, tetapi titik tolak untuk bertanya, ke mana arah pendidikan kita? Apakah kita masih berjalan di jalur yang tepat, misalnya sebagaimana Ki Hajar Dewantara dahulu perjuangkan, atau justru tersesat dalam logika pragmatis yang sempit?
Lebih jauh, kita juga perlu berani mengakui bahwa problem pendidikan tidak hanya terletak pada kebijakan, tetapi juga pada cara kita, sebagai masyarakat, memaknai pendidikan itu sendiri. Orang tua yang terlalu fokus pada nilai, sekolah yang terjebak pada target administratif, hingga pemerintah yang terkadang mengukur keberhasilan dengan indikator kuantitatif. Semua kenyataan itu berkontribusi pada penyempitan makna pendidikan.
Padahal, jika kita kembali pada semangat Ki Hajar, pendidikan adalah proses kebudayaan. Ia bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan manusia seutuhnya. Manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, sosial, dan moral. Dan dalam konteks hari ini, juga manusia yang memiliki kesadaran ekologis.
Konsep Tri Rahayu menjadi sangat penting dalam konteks ini, karena ia mengingatkan bahwa pendidikan harus berorientasi pada keselamatan dan kebahagiaan yang menyeluruh. Bukan hanya saja secara personal, tetapi juga untuk masyarakat dan dunia.
Maka, Hardiknas tahun ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia perlu dihidupkan sebagai ruang refleksi kolektif. Sekolah, kampus, guru, orang tua, hingga pembuat kebijakan, perlu duduk bersama, bukan sekadar untuk merayakan, tetapi untuk mengevaluasi.
Apa yang sudah kita lakukan dengan pendidikan kita? Apakah ia benar-benar memerdekakan? Apakah ia memperkuat kebangsaan? Apakah ia menumbuhkan kepedulian terhadap sesama dan terhadap alam?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak nyaman. Tapi suka atau tidak harus kita jawab dan refleksikan, agar kita mengingatnya atau tidak lupa. Mengingat bukan hanya yang sudah baik, tetapi juga yang belum selesai.
Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Tuntunan, bukan paksaan. Arah, bukan sekadar prosedur. Dan tujuan akhirnya bukan hanya kecerdasan, tetapi keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Di tengah berbagai dinamika pendidikan hari ini, perubahan kurikulum, tuntutan digitalisasi, hingga tekanan industrialisasi dan globalisasi, kita membutuhkan jangkar nilai. Tri Rahayu adalah salah satu jangkar itu. Ia mengingatkan kita untuk tidak kehilangan arah, tidak tercerabut dari akar, dan tidak lupa pada tujuan.
Karena pada dasarnya, pendidikan bukan soal seberapa banyak yang kita rayakan setiap 2 Mei. Tetapi tentang seberapa dalam kita memahami, dan seberapa jauh kita menghidupkan nilai-nilai dasar Pendidikan, termasuk yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara.
Selamat memperingati hari Pendidikan nasional.

Lahir di Budong-budong Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Negeri Makassar. Belajar menulis dan bergiat di Kelas Literasi Paradigma Institute. Aktif berbagi perspektif melalui artikel opini di sejumlah media online, koran serta artikel ilmiah di jurnal penelitian-pemikiran dan pengabdian masyarakat. Telah menerbitkan sejumlah buku diantaranya “Kebebasan Berpendapat dan Berorganisasi: Persepsi Mahasiswa” (2020), “Metanarasi Pendidikan Nasional” (2024), “Digital Citizenship: Menjadi Warga di Ruang Maya” (2025), “Indonesia dalam Ragam Perspektif: Isu-Isu Kewargaan, Kebangsaan dan Kemanusiaan” (2025). Dapat berkorespondensi melalui yunasri.ridhoh@unm.ac.id atau akun instagram @ari_myunasri.


Leave a Reply