Category: Esai

  • Bangsa dalam Uji Sejarah dan Kuasa

    Bangsa dalam Uji Sejarah dan Kuasa

    “Begitulah seharusnya gagasan diperlakukan, ia dipercakapkan, diuji, diperdebatkan, digeledah, dibantah, dan seterusnya, dan sebagainya.” Pernyataan tersebut membuat tanggapan balik dari Yunasri terasa hangat dan bersahabat. Dan, itu pula yang membuat saya merasa perlu memberikan penghormatan dengan menulis satu lagi tanggapan. Sebagai pembuka, saya ingin menggeledah pernyataan bahwa gagasan bangsa lahir sebagai kritik atas legitimasi hierarki…

  • Bangsa, Bangsawan, dan Beberapa Pengecualian

    Bangsa, Bangsawan, dan Beberapa Pengecualian

    Saya berterima kasih kepada Sulhan Yusuf atas tanggapannya berjudul, “Menakar Kebangsawanan Petta Tjalleng Daeng Magguliling” di Paraminda.com, 4 Januari 2026, yang seperti biasa selalu memikat. Setelah membacanya berulang-ulang, saya menyadari satu hal penting, bahwa tanggapan Sulhan Yusuf tidak berada dalam semangat membantah, melainkan menimbang. Rasanya (mudah-mudahan perasaan saya tidak keliru), Sulhan membaca argumen saya secara…

  • Bulan-Bulan Haram

    Bulan-Bulan Haram

    Di saat banyak orang lebih cepat menghakimi ketimbang memahami, di saat itulah kita perlu berhenti sejenak menenangkan hati, sebab sikap memahami perkara tidak mudah dilakukan banyak orang. Laku memahami bersumber dari pekerjaan hati yang melahirkan empati. Sejatinya, kekuatan itu terletak pada sejauh mana seseorang menunjukkan rasa empati terhadap kemanusiaan. Mengabaikan laku empati sama halnya dengan…

  • Bangsa sebagai Konsensus dan Disensus

    Bangsa sebagai Konsensus dan Disensus

    Sebagai tanggapan atas tanggapan, rasanya saya mesti memulai dari ucapan terima kasih kepada Adam Kurniawan. Bagi saya, tanggapannya atas esai saya berjudul “Bangsa dan Bangsawan” sangat berarti dan saya memaknainya sebagai sebuah ajakan berpikir. Dan memang, begitulah seharusnya gagasan diperlakukan, ia dipercakapkan, diuji, diperdebatkan, digeledah, dibantah, dan seterusnya, dan sebagainya. Atas dasar itulah saya merasa…

  • Menakar Kebangsawanan Petta Tjalleng Daeng Magguliling

    Menakar Kebangsawanan Petta Tjalleng Daeng Magguliling

    Percakapan ihwal Petta Tjalleng Daeng Maggulilling Karaeng Tallua Dongkonga, tidak pernah tuntas pada urusan silsilah. Setiap ikhtiar membacanya kerap berujung pada laku, jarak, dan pilihan etis di tengah pusaran kuasa. Tanggapan M. Yunasri Ridhoh melalui esai berjudul, “Bangsa dan Bangsawan”,Paraminda.com, 28 Desember 2025,  menghadirkan satu timbangan konseptual penting, terkait pembedaan tegas antara bangsa sebagai persekutuan…

  • Melatai Negeri di antara Pesona dan Persona

    Melatai Negeri di antara Pesona dan Persona

    “Janganlah tebar pesona dalam memimpin negeri, bila personamu belum mampu menaklukkan semesta negeri.”(Tajali Daeng Litere, 18 Desember 2025) Sajian tutur Daeng Litere memuat peringatan lembut sekaligus tegas. Ia tidak menolak kepemimpinan, juga tidak mencurigai pesona. Perhatiannya tertuju pada urutan batin. Sebelum pesona ditebar ke hadapan khalayak, kerja sunyi mesti dituntaskan terlebih dahulu, yakni menaklukkan diri…

  • Bangsawan dalam Bangsa: Bahasa sebagai Arsip Feodalisme dan Modernitas Politik

    Bangsawan dalam Bangsa: Bahasa sebagai Arsip Feodalisme dan Modernitas Politik

    Perkenankan saya menyatakan bahwa ada kesetujuan pada subtansi tulisan M. Yunasri Ridhoh dalam “Bangsa dan Bangsawan”, di Paraminda.com, 28 Desember 2025. Namun, jika yang dipersoalkan adalah keserupaan bunyi belaka, rasanya justru amat problematik. Saya sudah menduga bahwa pembahasan ini bakal berat sebab definisinya sangat dinamis. Saya menganggap bahwa terlalu sederhana jika hubungan bangsa dan bangsawan…

  • Bangsa dan Janji Kesetaraan yang Kerap Tersesat

    Bangsa dan Janji Kesetaraan yang Kerap Tersesat

    Pada paragraf kedelapan, M. Yunasri Ridhoh, dalam tulisan berjudul, “Bangsa dan Bangsawan” di Paraminda.com, 28 Desember 2025, merujuk Imagined Communities (1983) untuk menegaskan bahwa bangsa, menurut Benedict Anderson, dibayangkan sebagai persaudaraan horizontal yang menempatkan semua anggotanya setara, meski tak pernah saling mengenal. Dari sini Yunasri menyimpulkan bahwa bangsa secara inheren bertentangan dengan bangsawan. Dalam imajinasi…

  • Dari Fukushima Kita Belajar, tak Ada Bencana yang Murni Alami

    Dari Fukushima Kita Belajar, tak Ada Bencana yang Murni Alami

    Pemerintah Jepang kembali menyalakan apa yang pernah dimatikan oleh sejarah: Kashiwazaki-Kariwa. Mereka menyetujui untuk mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di dunia itu, setelah lebih dari satu dekade Bencana Fukushima mengubah kata “energi” menjadi “ketakutan”. Tanggal 11 Maret 2011 persisnya. Gempa bermagnitudo 9,0 mengguncang lepas pantai timur laut Jepang, disusul gelombang tsunami. Lebih dari…

  • Pengabdian nan Mengabadi

    Pengabdian nan Mengabadi

    “Amat penting untuk mengintimi perbedaan antara mengabdi kepada negeri dengan mengabdi kepada pengurus negeri. Satu mengabadi dalam pengabdian, sedangkan lainnya sementara dalam kesementaraan.”(Tajali Daeng Litere, 17/12/2025) Ungkapan Daeng Litere menuntun pembacaan ulang atas kesetiaan. Ia tidak menolak pengabdian; ia memurnikannya. Persoalan terletak pada arah serta maksud, bukan semata laku melayani. Arah keliru membuat pengabdian tergelincir,…