Category: Esai
-

Mengeja Teologi Buruh
Memandang gerakan buruh, kadang hanya dilihat pada permukaannya. Seperti gulungan ombak, penuh gelora menghempaskan sampah di bibir pantai. Padahal, tak kalah pentingnya, memahami di dasar laut gerakan. Ada arus kuat, menghasilkan gelombang barisan ombak. Dan, separas di kedalaman laut, terdapat kehidupan, kedamaian, dan harmoni. Sekaum buruh PT. Huadi diorganisir gerakannya oleh Serikat Buruh Industri Pertambangan…
-

Prabowo dan Panggung Dua Wajah: Kritik Berdarah atas Standar Ganda dalam Isu Palestina
Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 di New York, pada 23 September 2025, menyampaikan pidato “Seruan Indonesia untuk Harapan” yang mendapat sorotan luas dunia internasional. Dalam pidato itu, ia menegaskan bahwa Indonesia mendukung solusi dua negara (two-state solution) dan menyerukan agar dunia mengakui Palestina sebagai negara merdeka: “Kita harus mengakui Palestina…
-

Di antara Basa-Basi, Seorang Buruh Menanak Nasi di atas Lilin
Di dalam jiwanya, hendak berontak menagih dalam lirih, sebab kebutuhan hidup telah tertagih. Sementara di antara mereka ada keluarga: istri dan seorang ibu, hanya mampu menanak nasi di atas lilin yang putih. Nasi tiada tanak, nikel semakin membara terbakar menjadi pundi-pundi kekayaan, memburu para buruh tanpa ampun. Mengebiri dan melengkungkan kebijakan, melipat perjanjian lalu meremas…
-

Tepuk Sakinah Merona, Medsos Jangan Lagi Merana
Unik bin aneh rasanya jika sosok yang menulis ini adalah orang yang belum pernah merasakan apa itu pernikahan sebelumnya. Tetapi, unik bin aneh juga rasanya jika kasus perceraian yang hanya melibatkan satu keluarga kecil. Ternyata sebegitu berpengaruhnya terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan kita. Broken home, fatherless, motherless, dan masih banyak istilah lainnya, yang sekilas hanya melibatkan…
-

Makan Bersama, Luka Bersama: Kritik atas Program Makan Bergizi Gratis
Pagi di sebuah sekolah dasar negeri di pinggiran kota, anak-anak berlarian ke kelas dengan seragam lusuh yang masih berbau deterjen murah. Di halaman sekolah seorang guru berdiri sambil mengawasi meja panjang yang penuh kotak makanan. Program yang disebut Makan Bergizi Gratis, disingkat MBG sedianya menjadi harapan. Seharusnya, di sanalah anak-anak menemukan energi untuk belajar, protein…
-

Esai tentang Esai
“Esai bentuk langsung dari opini.” (Remy Sylado) “Esai itu bukan karya sastra, bukan pula karya ilmiah.” (Emha Ainun Najib) ”Esai di antara puisi di pojok paling kiri dan karya ilmiah di sudut paling kanan.” (Zen RS) Pekan terakhir September 2025, ada yang perlu dihangatkan. Seperti makanan dan minuman yang lebih maknyus disantap dan diminum kala…
-

Demo Buruh dan Lima Tanda Kemenangan Locher
Langsung saja. Sebab tulisan ini agak panjang. Sudah lama tak ada kabar tentang demo buruh, tidak di jalanan kota, tidak di media cetak, tidak pula di dunia maya. Hening. Isu buruh seolah tenggelam. Dan kita hanya bisa menerka-nerka bagaimana nasib mereka hari ini. Apakah tuntutan mereka sudah terpenuhi? Atau justru sebaliknya. Seorang kawan bertanya perihal…
-

Antara Khayalan dan Bualan
Tadinya saya mulai optimis, sambil merakayasa dengan mencukur kumis agar seolah awet, dan terlihat manis? Ternyata itu mitos. Justru kemudian saat menemukan cermin tua milik ibu saya. Saya menampar wajah saya sendiri. Kemudian saya mulai merintis sebuah harapan, bahkan mimpi. Narasi kehidupan, tidak seperti biasa dengan genit! Sedikit agak bandit juga, kata seorang karib sore…
-

Nasib Negeri di Tangan Serakahnomics
Di tengah kebisingan sosial, kecepatan dan persaingan tak luput dari pengamatan sehari-hari. Hal tersebut tak lepas dari gejala sosial. Tenaga manusia banyak digantikan oleh mesin, anehnya, manusia makin mirip mesin. Terlebih lagi, pandangan hidup manusia tergerus oleh selera publik, dan kesempurnaan hidup disandarkan oleh perbendaharaan materi. Semangat berdasar kepuasan materi, mendorong manusia berlaku kompetitif, konsumtif,…
-

Ketika Sekolah Menanam, Murid Bertumbuh
Sudah terlalu lama sekolah dijebak dalam perangkap angka. Seakan-akan segala sesuatu yang bernama pendidikan hanya berujung pada rapor. Anak-anak digiring ke ruang ujian, lalu dikurung dalam selembar kertas yang diperlakukan bak kitab suci. Kehidupan seorang murid disederhanakan menjadi deretan angka, dipuja atau dicemooh sesuai tingginya skor. Padahal, tidak ada angka setinggi apa pun yang bisa…
