Category: Esai
-

Arogansi Ilmiah dan Minimnya Pemahaman Filsafat
Di tengah derasnya arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita menyaksikan paradoks yang semakin nyata: semakin tinggi pencapaian intelektual, semakin besar pula potensi munculnya arogansi ilmiah. Fenomena tersebut tidak hanya berwujud pada kesombongan personal seorang ilmuwan atau akademisi, tetapi juga pada cara suatu komunitas ilmiah memandang kebenaran—seolah-olah pengetahuan yang mereka miliki adalah puncak yang tak…
-

Kemerdekaan tanpa Ruang: Suara Minoritas di Negeri yang Meriah
Pagi itu, 17 Agustus datang seperti lukisan lama yang digelar ulang: langit cerah, bendera merah putih berkibar anggun, anak-anak tertawa riang mengikuti lomba makan kerupuk, dan para ibu-ibu tersenyum dalam balutan busana nasional. Di udara, lagu Indonesia Raya menggema, seolah mengukuhkan bahwa kemerdekaan adalah milik semua. Tapi di balik gegap gempita itu, ada jiwa yang…
-

Ketika Menolak Tanda Tangan Berujung PHK: Potret Kecil Union Busting di Indonesia
Pagi itu, mataku menangkap pemandangan yang tak biasa. Sekelompok orang berdiri berbaris di bawah terik matahari, wajah-wajah mereka merah, suara mereka membakar udara: “Hidup buruh! Hidup buruh!” Di tangan mereka, spanduk dan poster menggantung seperti luka yang ditunjukkan pada dunia. Aku melewati mereka, menunduk, berusaha tetap berjalan menuju ruang kerjaku yang kecil. Namun, di dalam…
-

Abnormal yang Menormal
Era terkini, segala sesuatu terasa seperti hal yang normal. Kita bahkan tak tahu persis dari mana semua ini bermula. Konten-konten yang menampilkan kehidupan sehari-hari kini dipenuhi hal-hal yang dulunya dianggap tabu, tetapi kini dibungkus sebagai jati diri. Tak ada lagi batasan yang muncul di gawai anak-anak didik kita. Seharusnya ruang digital itu difilter, disaring, agar…
-

Tersesat di Jalan yang Benar
Tersandung pada tapak perjalanan hari ini, mengajak isi kepala untuk berdiam sejenak dalam sunyi. Kilasan kehidupan perlahan terbit kembali, menjelma bayangan yang mengetuk kesadaran. Tertuanglah ia pada catatan takdir yang akan segera dieja, satu demi satu, oleh waktu. Kisanak-nyisanak, pengeja goresan sederhana ini, izinkan aku berkisah sejenak tentang masa lampau. Bukan serupa catatan kelam yang…
-

Bontojai, Campaga, Bontodaeng, dan lainnya
Acapkali dihidu oleh lilitan faktor kebetulan. Waima, di semesta tiada yang kebetulan. Hanya perkara waktu saja belum baku sambung, antara peristiwa satu dengan lainnya. Bila melatai semesta dilakoni apa adanya, maka sambungan peristiwa sungguh merupakan satu kesatuan. Begitulah di hari Senin, 4 Agustus 2025, sejak baskara semenjana teriknya, hingga tiba pada semadya safarnya, sekira sesudah…
-

Merah Putih dan Jolly Roger
Bulan agustus merupakan bulan yang disambut sukacita oleh seluruh masyarakat Indonesia, mungkin saya juga termasuk orang tersebut. Bagaimana tidak? Karena bulan ini serupa bulan deklarasi kemerdekaan Republik Indonesia, tempat kita, bangsa Indonesia bermukim. Meskipun sesekali saya masih bertanya, “Apakah kemerdekaan itu hanya bersifat temporal? Atau justru sesuatu yang seharusnya dinikmati setiap individu bangsa ini hingga…
-

Tentang Kita
Sebuah hamparan menyerta dalam episode perjalanan kita, “Tiga puluh tahun cerita kita tetap ada. Kita disuguhi peristiwa dan tidak mengingat hari. Tetapi kita mengingat setiap momen.” Bilakah suatu saat nanti, bersama memetik melati, maka berbagilah bunga, atau wanginya saja. Saat sesama karib, teman sebangku di kelas, teman seangkatan dalam duka, sedih dan terundung tempaan…
-

Merawat Memori Sejarah dan Budaya Melalui Turatea Sport Tourism (TST) Center
Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang kaya, terutama di kawasan pantai Tamarunang, Kelurahan Pabiringa, Kecamatan Binamu. Di sinilah Turatea Sport Tourism (TST) Center berdiri, menggabungkan olahraga, rekreasi dan warisan sejarah dalam satu kesatuan yang harmonis. TST Center bukan hanya sekadar arena olahraga, tetapi juga merupakan simbol kebangkitan kembali kejayaan sejarah yang…
-

Akademia: Antara Gedung Indah dan Kelesuan Intelektual
Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya ketika membaca catatan seorang cendekia, yang sekaligus dosen saya, Prof. M. Qasim Mathar. Beliau seorang akademisi yang tidak hanya berpikir tetapi lebih untuk merasakan denyut kampus sebagai ruang hidup intelektual. Dalam tulisannya yang berjudul “Kegersangan Akademik” (Jendela Langit, 12 Juli 2025), Prof. Qasim berbagi cerita dari seorang sahabatnya, mahasiswa…
