Abnormal yang Menormal

Era terkini, segala sesuatu terasa seperti hal yang normal. Kita bahkan tak tahu persis dari mana semua ini bermula. Konten-konten yang menampilkan kehidupan sehari-hari kini dipenuhi hal-hal yang dulunya dianggap tabu, tetapi kini dibungkus sebagai jati diri. Tak ada lagi batasan yang muncul di gawai anak-anak didik kita.

Seharusnya ruang digital itu difilter, disaring, agar tidak menjadi hal yang lumrah—padahal jelas-jelas layak untuk dilarang.

Podcast di tahun 2025 mungkin bisa dinobatkan sebagai fase terburuk dalam sejarah industri digital. Entah dari mana awal mulanya, dan entah apa sebenarnya pandangan para kreatornya. Apakah semua itu hanya demi uang, popularitas, atau ego manusia yang tanpa sadar merusak moral dan citra generasi? Yang jelas, krisis rasa malu saat ini sudah berada di ujung tanduk kehancuran.

Mengapa demikian?

Salah satu podcast ternama di Indonesia kini tidak lagi memuat pembahasan bermanfaat, melainkan menjadi ruang penuh kontroversi. Apakah tujuannya untuk mencari tahu siapa ayah kandung dari seorang anak? Atau sekadar siapa yang untung dan siapa yang buntung di balik semua drama itu?

Dalam salah satu tayangan viral, tampak sekelompok laki-laki, kadang berbaur dengan perempuan. Bukan soal gender yang ingin kita bahas, tapi isi dari tayangan itu—penuh dengan kata-kata yang tak layak, kalimat-kalimat yang seharusnya tidak pernah mereka ucapkan.

Di pundak mereka ada tanggung jawab sebagai publik figur. Tapi sopan santun seolah sudah dikubur dalam-dalam, digantikan oleh lelucon yang kasar dan tontonan yang merusak akal. Entah apa yang sedang terjadi pada bangsa ini.
Tidak ada pesan pasti dari tulisan ini. Hanya kegelisahan. Karena hal-hal semacam ini perlahan menjadi wajar. Bahkan dirayakan.

Namun di sisi lain, ada realita yang menyesakkan: di sebuah ruangan kecil, seorang perempuan yang menyebut dirinya “Ratu Party” tengah hamil sembilan bulan, dan mengumumkan kehamilannya di depan jutaan penonton melalui podcast terkenal—tanpa ikatan pernikahan.

Sangat disayangkan jika publik figur yang seharusnya menjadi contoh, justru duduk di atas tahta kehormatan sambil menanggalkan rasa malu. Padahal, di luar sana, masih banyak kisah yang lebih layak diangkat—kisah perjuangan, pendidikan, kemanusiaan—yang lebih pantas menjadi tamu dalam podcast-podcast besar ini.

Alih-alih menampilkan realita yang menyedihkan dan memperkuat nilai, mereka justru menunjukkan pada dunia bahwa jika hamil di luar nikah, tetapi mampu menghidupi diri sendiri, maka pernikahan tak lagi penting. Jalani hidup saja, selama uang ada di tangan, dunia akan baik-baik saja.

Padahal, perempuan adalah simbol kemurnian, kecantikan, dan kesucian. Pada diri perempuan tersimpan kehormatan. Perempuan cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas. Perempuan berakhlak akan melahirkan generasi yang beradab. Perempuan yang menjaga kehormatannya akan melahirkan penjaga nama baik bangsa.

Tak ada lagi rasa malu. Tak ada lagi norma. Di bawah langit yang sama, ada anak remaja yang memilih membunuh bayinya karena malu, dan ada pula yang dengan bangga memilih tidak menikah dan merawat anaknya sendiri. Lalu lahirlah narasi baru: “Tidak apa-apa hamil di luar nikah, asalkan kuat menjalaninya.”

Sebuah kalimat motivasi yang dilemparkan oleh seseorang yang sedang berada dalam krisis moral dan kehilangan rasa malu. Ironisnya, dua kata yang bertolak belakang itu—motivasi dan hamil di luar nikah—disatukan seolah menjadi pelajaran hidup.

Jika norma dan budaya Indonesia menjunjung tinggi kehormatan, maka sangat menyedihkan melihat publik figur yang justru semakin bebas memperlihatkan kekayaan, kesombongan, kata-kata kasar, dan kehidupan glamor yang menjunjung uang di atas segalanya.

Di satu sisi, dunia digital dipenuhi oleh figur-figur yang memamerkan dunia malam dan gaya hidup tanpa batas. Namun di sisi lain, di bawah langit yang sama, ada ustadzah seperti Halimah Alaydrus, atau tokoh perempuan dari Timur seperti Collie Pudjie—perempuan legendaris yang menjunjung tinggi moralitas dan sastra, menjaga kehormatan dan kecerdasan intelektual.

Ada juga sosok seperti Bunda Fajrianti Basri, pembimbing keagamaan yang membangun pondok pesantren dari nol. Biayanya sangat murah, bahkan gratis, selama anak itu ingin belajar. Semua itu dilakukan tanpa paksaan, hanya karena satu niat: agar Nusantara memiliki generasi yang shalih dan shalihah.

Mereka tidak berisik. Mereka tidak menangis di depan kamera. Tapi merekalah yang seharusnya kita tangisi, karena perjuangan mereka seolah tak terdengar di tengah kebisingan dunia malam.

Pertarungan ini senyap. Tanpa suara. Tanpa gema. Hanya semesta yang menyaksikan dengan diam. Jalan sunyi kebenaran tenggelam ditelan kebebasan yang semu. Suara kehormatan terkubur dalam gemerlap dunia palsu yang menjual kebahagiaan sebagai ilusi. Padahal, jalan itu hanyalah jalan menuju kesepian tak berujung.

Seharusnya ketika para kreator menyadari bahwa konten mereka akan diakses publik, mereka juga paham bahwa konten tersebut bisa difilter atau dijelaskan maksud serta tujuannya—bukan untuk memancing sensasi, tetapi untuk mengedukasi.

Misalnya, jika ingin membahas alkohol, maka sampaikan bahwa alkohol berdampak buruk, bukan malah menampilkan kesan seolah mabuk dan oleng adalah hal yang keren dan membanggakan.

Ironisnya, di negara yang katanya 80% penduduknya adalah ateis dan dikenal sangat kapitalis, justru aturan moral tetap dijaga. Mereka berhati-hati, tidak memperlihatkan kehidupan bebas secara vulgar, dan sangat ketat dalam mengedukasi agar anak di bawah umur tidak mengonsumsi alkohol.

Kita di Indonesia, negara yang menjunjung tinggi sila pertama—”Ketuhanan Yang Maha Esa”—seharusnya lebih kuat dalam hal moral dan batasan, namun justru semakin bebas dalam menayangkan hal-hal yang seharusnya ditutup rapat dengan rasa malu.

Salah satu podcast publik figur bahkan tanpa sensor menyebutkan bahwa kebiasaan laki-laki saat bangun pagi adalah dengan kondisi alat vital yang menegang. Hal itu disampaikan tanpa adab, dibungkus dengan lelucon, dan dianggap candaan yang menggelitik. Padahal, di luar sana, anak-anak remaja menonton, meniru, dan menjadikannya teladan.

Ketika para orang tua merasa khawatir, justru mereka dicap “tidak asik”, “terlalu kolot”, atau “kurang kerjaan.” Padahal ini bukan tentang “sok peduli”, tapi tentang bagaimana publik figur seharusnya punya tanggung jawab dalam menggunakan panggung dan pengaruh besar yang mereka miliki—bukan secara tidak sadar ikut merusak generasi bangsa.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *