Tersandung pada tapak perjalanan hari ini, mengajak isi kepala untuk berdiam sejenak dalam sunyi. Kilasan kehidupan perlahan terbit kembali, menjelma bayangan yang mengetuk kesadaran. Tertuanglah ia pada catatan takdir yang akan segera dieja, satu demi satu, oleh waktu.
Kisanak-nyisanak, pengeja goresan sederhana ini, izinkan aku berkisah sejenak tentang masa lampau. Bukan serupa catatan kelam yang membekas dalam tinta, Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai, dari sang novelis Boy Candra, tetapi kisah ini menyuguhkan getir yang cukup, untuk menenggelamkan penikmat masa lalu, pada takdir yang tak terselamatkan oleh angan angan.
Ia bermula di kisah putih-abu, ketika seorang remaja menuntaskan perjalanan singkatnya di bangku sekolah menengah atas. Di tengah gegap gempita euforia rekan-rekannya yang larut dalam sukacita kelulusan, ia berjalan pelan menyusuri lantai keramik bersih, sembari menghitung-hitung biaya menuju perguruan tinggi impiannya. Ya, remaja itu adalah diriku di masa lalu.
Singkat hikayat, setiba di rumah dengan perasaan lega sebab info kelulusan tadi, mereka menghampiri bukan untuk peluk dan ucapan selamat, melainkan senyuman datar yang perlahan berubah menjadi arah, ajak untuk menukar seragam dengan pakaian bak aparat sipil negara, “Nak, selanjutnya kau harus jadi guru seperti keluargamu yang lain”. Terperanjat, bukan karena tak bersyukur, melainkan sebab cita-cita yang perlahan harus rebah. Maka, biarlah takdir memulai skenarionya.
Sebutlah ia si pemuda taat, yang tak pernah berniat menentang kehendak orangtuanya. Harapan yang mulai terbit perlahan dilengserkan oleh pinta. Tekad yang dulu membara untuk menjadi wirausahawan muda lewat jalur pendidikan tinggi kampus ekonomi, kini harus rela menjadi bara yang ditiup angin.
Kehidupan pun berjalan tak lagi dalam jalur kebiasaan, jiwa terguncang, isi kepala porak-poranda, dihantui bisikan-bisikan sunyi yang mengajak untuk kembali bersujud dalam taubat karena merasa telah membangkang. Namun aku tahu, hidup ini memang adalah tentang memilih. tetapi, aku juga percaya bahwa diam tak memilih pun adalah sebuah pilihan.
Di satu malam, ilham menghampiri di sudut kamar yang remang, setelah doa-doa isak dipanjatkan dengan penuh harap. Perlahan, hati mulai belajar ikhlas menerima keputusan. Hingga akhirnya, kaki kanan melangkah masuk ke rumah para pencari ilmu—Kampus Unismuh Makassar.
Empat tahun waktu berlalu, dan aku kini menyandang gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam. Kala itu, lirih kudengar bisik bangga dari mereka yang pernah berharap, bukan demi gengsi, bukan untuk adu hebat dengan orangtua lain, tetapi sebagai bentuk penebusan atas langkah-langkah mereka yang tak sempat menggapai apa yang kini aku rengkuh.
Meski di dalam hati masih bertanya-tanya, apakah jalan ini sungguh jalanku atau sekadar jejak yang dititipkan orang tua? Aku terus mencoba mencintai jalan ini. Memberi makna pada sesuatu yang awalnya terasa asing.
Lalu, datanglah hari pertama bekerja. Mengenakan pakaian dinas dengan penuh gugup, aku berpamitan di hadapan mata-mata yang berbinar. Tatapan mereka membekas amat tulus, hangat, dan penuh bangga. Mungkin saja karena ia telah berhasil menyaksikan anaknya mulai berdiri pada jalan yang ia tunjukkan dalam angan angan keberhasilannya.
Entah, di perjalanan profesi pendidik ini aku merasa ada yang berubah. Seakan sesuatu yang ajaib merasuk, cita-cita lamaku perlahan hilang tanpa jejak. Dan di saat itulah aku mulai jatuh cinta, pada jalan yang sebelumnya tak kuharapkan. Bukan karena pekerjaan itu ringan, atau gaji yang menjanjikan, tetapi karena ada kemuliaan yang kurasakan, ketika berada di tengah kerumunan manusia bersahaja bersama para anak anak murid yang ramah dan santun.
Dari sinilah aku mengerti, bahwa tidak selamanya takdir berjalan bersisian dengan cita-cita. Terkadang, jalan yang kita anggap buntu justru mengantarkan kita pada tempat yang tepat. Terkadang, apa yang terlihat sebagai kesesatan adalah petunjuk bagi kemaslahatan
Jangan pernah menyesali apa yang telah digapai hari ini. Karena ketidaksesuaian antara pilihan dan kenyataan, bisa jadi adalah cara hidup yang mengajarkan kita tentang indahnya tersesat di jalan yang benar.
Sebab hidup, selalu tentang tiga hal: uscaha, ketetapan, dan keikhlasan.
Kredit gambar: Pngtree

Lahir di Bulukumba, 03 Juli 2000. S1 Pendidikan Agama Islam di kampus Universitas Muhammadiyah Makassar. Guru Honorer di sekolah madrasah muhammadiyah panaikang dan bantaeng. Pecinta seni dan literasi. Saat ini menetap di Bantaeng, belakang Kantor Camat Bissappu.


Leave a Reply