Category: Esai
-

Makan Bergizi Gratis dan Risiko Bisnis Berkedok Kepedulian
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir atas nama kepentingan anak dan masa depan bangsa. Di atas kertas, program ini membawa harapan besar: menekan angka stunting, memperbaiki kualitas gizi anak, dan memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dengan kondisi kesehatan yang layak. Namun, seiring pelaksanaannya, publik berhak mengajukan pertanyaan mendasar: apakah tujuan mulia itu tetap dijaga, atau…
-

Apa Adanya, Bukan Ada Apanya
“Memilih pemimpin apa adanya, bukan karena ada apanya.”(Tajali Daeng Litere, 27112024) Sodokan ujar Daeng Litere tersebut, bekerja seperti cermin, diletakkan di hadapan nalar publik. Ia tidak berteriak, apalagi menggurui, tetapi memantulkan kebiasaan, kerap disembunyikan dalam proses memilih pemimpin. Kebiasaan melihat ke luar, tinimbang menengok ke dalam. Kelaziman terpikat pada kilau, ketimbang menimbang watak. Dalam praktik…
-

Cidong Landang Akrapang-Rapang Maka Appa’na.
Se’re pappasang: Sikatutui, sikapaccai, sipakainga’. Siparampe pa’mai tangnga mammilea bija kasi-kasi surang kalumannyang. Sekre pa’risi, surang pacce nujului. Passiamakkang, ri sesena cucu kulantu’na Pama’ bin Ma’dunda bin Serang. Nipanjari tambara surang leko akculla-culla angngerang pa’mai tamaminrayya. Irate ri Balla bibattuia, accidong landang akrapang-rapangn Ri pambuakanna Taung ruasa’bu ruangpulo angngannang, tanggala sampulo assangang tuju. Naku wuntu…
-

Indonesia sebuah Nama
Diskursus tentang bangsa yang bermula dari esai berjudul “Petta Tjelleng Daeng Magguliling Karaeng Tallua Dongkonga”, Paraminda.com, 11 Desember 2025, mendorong saya untuk menelusuri kembali dari mana nama Indonesia bermula. Di kepala saya tersimpan ingatan; kata Indonesia pertamakali dimuat dalam laporan dua orang sarjana dari eropa yang melakukan perjajanan di nusantara untuk keperluan memetakan kekayaan sumber…
-

Memimpin Nirjabatan
“Menjadi pemimpin nirjabatan adalah suatu keniscayaan. Pasalnya, jabatan membatasi waktu dan wilayah kepemimpinan.” (Tajali Daeng Litere, 20042025) Satuan ujar Daeng Litere tersebut, menyingkap lapisan makna, kerap terlewatkan. Ia tidak menafikan jabatan, tiada pula menegasikan struktur. Perhatiannya diarahkan ke hakikat kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan tak sepenuhnya bertumpu di kursi, melainkan daya pengaruh, bekerja melampaui penetapan formal.…
-

Kepemimpinan Demagog dan Patologi Birokrasi: Krisis Rasionalitas Pemerintahan Lokal
Otonomi daerah menempatkan pemerintah kabupaten sebagai aktor kunci dalam mewujudkan kesejahteraan warga. Pada level inilah negara berjumpa langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: pelayanan publik, pembangunan dasar, dan distribusi keadilan sosial. Namun, realitas pemerintahan lokal kerap menghadapi persoalan serius, yakni menguatnya kepemimpinan demagog yang berkelindan dengan patologi birokrasi. Kombinasi keduanya berpotensi melemahkan rasionalitas dan etika pemerintahan…
-

1901
Yuval Noah Harari: Sejarah adalah tentang bagaimana homo sapiens mendominasi dunia berkat kemampuan unik mereka untuk bekerja sama secara fleksibel dalam jumlah besar, yang dimungkinkan oleh kapasitas mereka untuk percaya pada kisah-kisah fiksi atau “mitos” kolektif. Dikutip dari sebuah laman, dengan halaman tepat pada pencarian referensi narasi ini. Tentang apa sejarah itu? Bagi Harari, sejarah…
-

Safar Hayat dari Selesai ke Selesai
“Sungguh, safar hayat hanyalah dari selesai ke selesai.”(Tajali Daeng Litere, 26072023) Deretan kata itu terkesan amat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman, pelan-pelan mengendap. Ia tidak membicarakan tujuan besar, juga tak mengagungkan capaian. Yang dihadirkan justru kata selesai, sebuah penanda, waima kerap diabaikan dalam kebudayaan serba mulai dan menuju. Di ucapan Daeng Litere, hidup didaras sebagai perjalanan…
-

Mengeja Ulang Petta Tjalleng Daeng Magguliling
Lantaran esai saya, “Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallua Dongkonga”, Paraminda.com, 11 Desember 2025, memoncerkan sejumlah esai, terbit belakangan—baik menyoal negara dan bangsa, bangsawan dan hierarki, maupun bangsa dalam uji sejarah—telah memperluas gelanggang pembacaan. Petta Tjalleng tidak selalu disebut, tetapi kegelisahan yang mengitari namanya terus berdenyut: bagaimana membaca figur berakar feodal di tengah kritik atas…
-

Sekali Lagi, Soal Bangsa, Bahasa, dan Bangsawan
Saya berterima kasih kepada Syafinuddin Al-Mandari yang membaca dan menanggapi esai saya, yang juga sebetulnya-senyatanya merupakan tanggapan saya atas esainya di Paraminda.com, 3 Januari 2026. Saya melihat disitu ada kesungguhan akademik, terutama ditunjukkan melalui literatur yang digunakan dan pendekatan linguistik-historis yang dipilih-dipakainya, untuk menjelaskan bagaimana bangsa dan bangsawan dikonstruksi, direkam, dan diwariskan di dalam bahasa.…
