Category: Esai
-

Kemerdekaan Masih Jauh: Cerita Buruh 16 Hari di Depan Pabrik Huadi
Pagi itu, udara di Kawasan Industri Bantaeng terasa lebih berat dari biasanya. Bau logam yang menyengat bercampur dengan debu halus yang beterbangan dari truk-truk pengangkut ore. Di sepanjang jalan poros Bantaeng–Bulukumba, suara mobil tronton menggeram, memecah pagi yang seharusnya tenang. Rudi, buruh PT Huadi Nickel Alloy yang hampir empat tahun bekerja di pabrik itu, menatap…
-

Angka 17: Jejak Wahyu, Kemerdekaan, dan Penghambaan
Angka 17 mungkin terlihat sederhana di mata sebagian orang, hanya bilangan ganjil yang lewat dalam hitungan. Namun, di balik angka tersebut tersimpan kisah yang merentang dari langit Gua Hira hingga pekik Proklamasi di Jakarta, lalu berlanjut ke kesunyian sajadah setiap hamba. Tiga peristiwa agung yaitu 17 Ramadan, 17 Agustus, dan 17 rakaat salat, terikat dalam…
-

Peluh Buruh di Dunia Smelter
Dunia smelter serupa kenyataan hidup yang pahit. Di balik asap tebal yang mencakar langit, debu dan polusi menyatu dengan harapan. Panas tungku yang membakar kulit sebanding dengan panasnya doa yang tak pernah padam. Baginya, tak masalah jika hari ini kulitnya terbakar. Tak masalah jika jari-jarinya hilang demi tungku yang rakus, asal esok anaknya bisa makan…
-

Dampak Arogansi Ilmiah terhadap Peradaban dan Masa Depan Pengetahuan
Arogansi ilmiah bukan hanya masalah pribadi seorang ilmuwan atau akademisi, melainkan penyakit struktural yang dapat mengubah arah perkembangan peradaban. Ketika keyakinan absolut pada satu paradigma, metode, atau interpretasi menguasai institusi ilmu, maka seluruh mekanisme produksi pengetahuan dapat berubah menjadi instrumen kekuasaan. Dalam sejarah, kita melihat betapa berbahayanya ketika ilmu berhenti menjadi sarana pencarian kebenaran dan…
-

Di Bawah Tiang Bendera, Pekik Merdeka Dicekik
Aku mendengar suara, jerit makhluk terluka. Luka, luka hidupnya. Luka. Orang memanah rembulan, burung sirna, sarangnya sirna, sirna hidup, redup alam semesta luka. Ya, tanpa daya terbiasa hidup sangsi. Orang-orang harus dibangunkan, Kenyataan harus dikabarkan, ini jeritan jiwa. Hidup bersama harus dijaga. Sebuah harapan sukma. Hidup yang layak harus dibela (sepenggal syair lagu kesaksian judul…
-

17 Agustus: Merdeka dari Apa, untuk Apa?
Kata Anhar Gonggong, 17 Agustus 1945 itu bangsa Indonesia merdeka. Sehari setelahnya, 18 Agustus, barulah negara ini ditegakkan lewat rapat PPKI. Kalau mau diibaratkan, 17 Agustus itu seperti keluar dari rahim, masih merah, masih bau ari-ari. 18 Agustus itu saat bayi diberi nama, akta, dan harapan hidup panjang. Tapi sekarang, delapan puluh tahun kemudian, kemerdekaan…
-

Memaknai Sebuah Rumah: Metafora Rumah bagi Mahasiswa Perantau
“Letih mengembara rumah ke rumah, kadang ku lupa akanmu amalia, siap sedia tiap ku bercerita, aku beruntung jadi anakmu bunda” (Hindia) Penggalan lirik di atas diambil dalam sebuah lagu yang berjudul Rumah ke Rumah. Sebuah lagu yang tidak asing di telinga pecinta musik utamanya Gen Z. Lagu ini dipopulerkan oleh Daniel Baskara Putra atau dengan…
-

Lebih dari Sekadar Memasak: Cerita dari Dapur
Dingin subuh masih menggelitik telapak kaki, bebauan masakan merebak, mendobrak pintu kamar yang tengah rapat. Di luar jendela, matahari belum sepenuhnya tinggi, tapi dapur di rumah sudah lebih dulu menyala. Seperti biasa, ibu telah lebih dulu bangun, menyiapkan bukan hanya sarapan, tetapi juga energi untuk seluruh penghuni rumah. Di rumah, ada keheningan yang khas setiap…
-

Minimnya Pemahaman Filsafat sebagai Akar Arogansi Ilmiah
Banyak orang membayangkan filsafat sebagai bidang yang abstrak, jauh dari “realitas praktis” sains dan teknologi. Padahal, filsafat justru merupakan kerangka reflektif yang memungkinkan ilmuwan memahami batas, asumsi, dan implikasi dari pengetahuan yang mereka hasilkan. Minimnya pemahaman filsafat ibarat seseorang yang mengemudikan kendaraan berkecepatan tinggi, tanpa mengetahui rambu lalu lintas atau peta jalan—kemajuan mungkin tercapai, tetapi…
-

Setetes Peluh Buruh Menjadi Suluh
Narasi ini hanya bongkahan kecil, jerit dan harapan para buruh. Dan detailnya telah tertuang sebelum narasi ini liris. Namun, apa salahnya jika hendak menuang walau sekadar dianggap turut miris atas kejanggalan dari sistem, serta upaya tipu daya dari sekian undang-undang yang dikulum lalu di cicipi dari bibir ke bibir atas nama kebijakan. Jagat jiwanya teruji,…
