Malam itu rembulan bersinar terang, menembus selaput tipis awan yang menghiasi langit. Puncak Lompo Battang tampak megah dalam balutan cahaya, seolah menyambut kedamaian malam. Tumpukan-tumpukan awan berarak pelan, menambah keindahan panorama yang tersaji di pelupuk mata.
Di dalam kamar mungil yang sederhana, seorang gadis bernama Maidah duduk termangu. Matanya yang berkaca-kaca tak lepas memandangi gambar sang ayah yang terpampang di etalase. Potret itu mulai tampak usang, seperti juga perasaannya yang kian hari makin getir. Rindu kerap menyelinap di antara celah-celah ingatannya, menghadirkan kenangan-kenangan yang menorehkan luka di hatinya.
Rasa perih yang dirasakan Maidah serupa belati tajam yang menyayat dada, mencungkil setiap sudut hatinya dengan kejam, layaknya seorang psikopat. Sesudah itu, imajinasinya melayang-layang, mengembara jauh ke alam yang tak terjamah. Kadang ia terkekeh-kekeh tanpa alasan, kadang pula tersengut-sengut menangis pilu. Ia tampak seperti orang gila yang kehilangan akal.
Namun, setelah semua itu berlalu, ia kembali normal. Kesedihan yang tadi menguasai dirinya perlahan menghilang, tergantikan oleh kedamaian malam yang hening. Kidung jangkrik yang terdengar lirih di luar sana menjadi pengiring malam, seolah menyanyikan lagu penghibur untuk hatinya yang rapuh.
***
Malam itu, Maidah tak kuasa menahan laju pikirannya yang kadang menyeretnya masuk dalam cerita yang menggembirakan, kadang juga mengajaknya mengingat hal-hal konyol bersama ayahnya. Ada momen-momen saat mereka bebas tertawa terbahak-bahak, saling beradu kentut dengan penuh canda. Kadang kentut ayahnya mengalahkan kentutnya, kadang pula kentutnya yang menang. Sekumpulan peristiwa itu kini menjadi kenangan dalam genangan duka yang menganga. Tak ada kentut yang bisa diadu lagi. Hanya jatah duka yang tertancap di hatinya.
Ayahnya kini tak lagi menyata di alam fana, tapi Maidah selalu merapalkan doa untuk sang ayah. Malam itu ia berdongeng untuk dirinya sendiri, menenun kenangan-kenangan indah bersama sang ayah menjadi alur cerita yang menyempurnakan malamnya. Ia memohon pada Tuhan agar diberi kesempatan bersua di alam mimpi dengan ayahnya.
Seusai dongengnya, Maidah menutup mata, berharap Tuhan mendengar doanya. Namun, ketika pagi menjelang dan ia terbangun, hanya satu tempat yang bisa ia kunjungi: pusara ayahnya. Dengan hati-hati, ia beranjangsana ke makam sang ayah, menabur bunga kamboja dengan penuh kasih. Di sana, di antara bebauan harum bunga dan kenangan yang melekat, Maidah merasa ada sedikit kedamaian yang menyelimuti dukanya.
***
Biasanya pagi Maidah selalu diawali dengan elusan hangat dari tangan ayahnya. Tangan itu selalu membangunkannya untuk mencicipi seduhan kopi berlabel “Senandung Kopi Kahayya,” produk asli dari desanya, Desa Kahayya. Kiwari, pagi itu berbeda. Maidah dibangunkan oleh suara keras kentongan dari arah barat yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Ia tersentak. Dari bunyinya, jelas kentongan itu dipukul berulang kali dan cepat, disertai teriakan, “Usir, usir! Mereka buat malu kampung!”
Bunyi kentongan dan teriakan itu semakin mendekat. Siapa gerangan yang diusir, pikirnya. Segera ia berlari ke teras, hampir berbarengan dengan ibunya yang keluar dari dalam rumah sambil membawa ember berisi bunga kamboja yang disiapkan untuk menabur di pusara ayahnya. Keadaan kacau balau. Rupanya warga justru mendatangi rumah mereka. Kerumunan warga sudah menyemut hingga di ujung bawah tangga.
“Ada apa bapak-bapak, ibu-ibu?” tanya ibu Maidah.
“Anakmu si Marsan buat malu Desa Kahayya. Dia bawa lari anak orang,” jawab salah satu warga.
“Siapa yang dibawa lari?” tanya ibu Maidah penasaran.
“Itu anakmu si Marsan bawa lari anak Pak Rusman, Tiara. Laporan itu kami terima dari Daeng Seru. Tindakan anakmu itu bikin malu desa. Sebelum Pak Rusman datang mengamuk ke desa ini, lebih baik kalian pergi saja. Kalau kalian tetap ngotot tak mau pergi, warga akan membakar rumah kalian,” ancam kepala desa.
Maidah yang sedari tadi menguping percakapan mereka sontak mengucurkan air mata. Ia menyeka bulir air mata di pipinya. Bagaimana mungkin, di tengah duka yang masih menganga atas kepergian ayahnya kemarin, kini harus menanggung duka berikutnya? Ia tak akan meninggalkan kampung halamannya. Kepolosan Maidah membuatnya melompat ke luar membela ibunya.
“Kalian jahat. Kami tidak mungkin meninggalkan rumah yang telah dibangun ayahku. Kami bertahun-tahun bermukim di rumah ini. Ini tempat kami berteduh satu-satunya. Apakah kalian tega mengusir kami yang sedang berduka? Mana rasa kemanusiaan kalian?” teriaknya dengan suara gemetar.
Kerumunan warga terdiam sejenak, tertunduk oleh keberanian gadis kecil itu. Namun, amarah yang telah membakar hati mereka tak mudah padam. Kepala desa maju selangkah, menatap Maidah dengan tatapan keras.
“Kami paham kalian sedang berduka, tetapi perbuatan Marsan tidak bisa dibiarkan. Dia harus bertanggung jawab,” kata kepala desa dengan suara yang lebih tenang namun tetap tegas.
Maidah menoleh kepada ibunya yang kini berdiri mematung, air mata mengalir deras di pipinya. Ibu Maidah menggenggam tangan Maidah erat, mencoba memberikan kekuatan.
“Kami akan bicara dengan Marsan. Beri kami waktu,” ucap ibu Maidah memohon.
Kepala desa mengangguk pelan. “Kami beri waktu sampai malam ini. Jika tidak ada keputusan, kami akan bertindak.”
Berbeda dengan sikap ibunya, Maidah justru meragukan tuduhan warga. Kakaknya belum tentu bersalah. Ia menduga kakaknya hanya korban fitnah. Tetapi, ia juga mempertimbangkan ucapan warga. Tak mungkin warga menuduh sebab laporan itu diterima dari Daeng Seru yang dipastikan kejujurannya. Selama ini Maidah tahu Daeng Seru adalah sahabat ayahnya.
Akhirnya, Maidah menjatuhkan dugaan kuat itu pada malaikat pembagi duka. Baginya, tampaknya malaikat sudah mulai keliru dalam membagi jatah duka. Mestinya, duka itu tak datang bersamaan: kematian ayahnya dan pengusiran warga.
Maidah beringsut menuruni anak tangga. Ia membelah kerumunan warga. Ia berlari ke arah puncak Lompo Battang. Ia akan menggugat malaikat pembagi duka di hadapan Tuhan. Pontang-panting ia berlari dengan terompah Swallow-nya yang sudah hampir putus karena gundukan-gundukan kerikil tajam. Puncak itu semakin dekat. Tanjakan semakin kuat membebani kakinya. Ia terjatuh separuh perjalanan. Namun, ia tak akan menyerah untuk mencapai puncak itu. Baginya, perlu berdiri di puncak agar Tuhan tidak tuli mendengar gugatannya. Akhirnya, ia pun menginjakkan kakinya di puncak Lompo Battang. Ia pun mulai membaca surat dakwaan untuk malaikat pembagi duka.
“Wahai Paduka pemilik segala keadilan. Hari ini aku menggugat. Aku akan bacakan surat dakwaan untuk malaikat pembagi duka,” Maidah mengadu. “Kesalahan pertama: Malaikat ini keliru dalam tugasnya membagi duka, sebab kami harus dirundung duka secara bersamaan. Kesalahan kedua: Malaikat ini tak tahu rasanya berduka, sebab ia bukan manusia, maka ia tak pantas seenaknya membagi duka. Kesalahan ketiga: Malaikat ini datang membagi duka tanpa mappatabe kepada kami. Mestinya ia mengetuk pintu rumah kami terlebih dahulu. Kesalahan keempat: Malaikat ini tidak mencerminkan keagungan-Mu sebagai Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Mahaadil. Mohon Paduka menerima surat dakwaan ini dan menghukum malaikat pembagi duka dengan seberat-beratnya.”
Maidah membacakan surat dakwaan itu dengan lantang dan lugas. Ia meyakini rerumputan, bebatuan, binatang, angin, gemericik air sedang meruncingkan pendengarannya. Ia meyakini alam mendengarkan seksama tiap poin gugatannya. Alam pasti tahu jatah duka yang keliru untuknya. Alam pasti berpihak padanya. Usai membacakan surat dakwaan itu, bisikan Tuhan tak menggema di langit. Ia telah menggugat, tapi Tuhan dan para penghuni langit sedang membisu.
“Kenapa Paduka tak berbicara? Jangan-jangan Paduka yang keliru mengutus malaikat pembagi duka. Baiklah. Jika Paduka tak menyahut, aku juga menantang-Mu di puncak Lompo Battang ini. Aku akan mengambil jatah dukaku sendiri. Aku yakin Paduka tak mampu menghalangi rencanaku,” tantang Maidah.
Maidah memutuskan bertempur dengan Tuhan yang paling berkuasa mengutus malaikat pembagi duka yang keliru membagi duka. Ia bersumpah tak akan membiarkan dukanya menjadi urusan Tuhan dan malaikat pembagi duka. Ia hanya mau mengambil dukanya karena ia sendiri yang menghendakinya. Ia akan mematahkan tulangnya sendiri. Ia yakin itu adalah duka yang dipilihnya. Dengan tekad yang bulat, ia lompat dan menukik tajam dari puncak Lompo Battang ke jurang Donggia.
Namun, duka patah tulang yang dikehendakinya tak terjadi. Maidah telah menghitung secara detail kedalaman jurang Donggia kisaran 200 meter ke bawah. Permukaan tanah sangat padat. Berat badannya 65 kilogram. Kecepatan gaya gravitasinya 10 m/s². Maidah yakin semestinya tulang-tulang di tubuhnya patah. Harusnya ia menang sebab memilih dukanya. Tampaknya Tuhan tidak bersikap adil.
Setelah pertempuran itu, Maidah pun tak lagi berniat menggugat malaikat pembagi duka. Tak ada gunanya. Ia telah kalah. Ia pasrahkan takdir itu pada Tuhan saja. Tapi, akhirnya ia tahu kuasa Tuhan di alam ini. Duka bukan haknya memilih.
“Terserah Paduka saja,” gumamnya.
Maidah pun mulai meyakini pasti ada rahasia di balik duka yang diterimanya. Barangkali ini cara Tuhan mendewasakan pikirannya. Ia pun kembali ke rumah dan merayu ibunya bergegas meninggalkan kampung halaman saja daripada menantang Tuhan di puncak itu. Keluarga itu pun beranjangsana ke Kajang. Berat meninggalkan kampung halamannya, tapi Maidah yakin bahwa yang diutus Tuhan pada episode berikutnya adalah malaikat pembagi bahagia.
Kredit gambar: https://ruangsastra.com/

Lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 02 September 1995. Ia menyelesaikan studi S1 di Institut Agama Islam As’adiyah (IAI) Sengkang Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah Filsafat Islam tahun 2019. Tahun 2021, ia juga berstatus sebagai mahasiswa penerima program beasiswa PBSB Kemenag di Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon (UI BBC) Fakultas Manajemen Pendidikan Islam Jurusan Manajemen Pendidikan Islam dan menyelesaikan studi S2 tahun 2023. Sebelumnya, ia pernah mondok di PP Syekh Muhammad Ja’far Banyorang Kabupaten Bantaeng, Sulsel. Selanjutnya, di PP Nurul Falah Borongganjeng Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Lalu, di PP As’adiyah Sengkang Kabupaten Wajo, Sulsel. Terakhir, di PP Darul Ulum Ad-Diniyah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ia juga aktif sebagai relawan PMI di Kabupaten Wajo, serta, menjabat sebagai Wakil Ketua BSO Moragister Kemenag Periode 2021-2023. Pernah ikut Kelas Menulis Esai Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply