Atmosfer kota menjadi mencekam, saat warta menyebar perang pecah di tapal batas. Langit biasanya cerah kini tampak muram, terasa turut merasakan kecemasan merungkup setiap sudut jalan. Kerumunan manusia bergerak tergesa-gesa dengan ekspresi khawatir dan suara penuh rasa takut.
Di tengah kepanikan itu, Mahmuddin berdiri tegap di mulut pintu rumahnya yang sederhana. Rasa berat menyelimuti hatinya. Ia menatap Malahayati, istrinya, berdiri di ambang pintu dengan sorot mata yang setara menekan.
“Aku harus pergi, Ti. Negara memanggil,” kata Mahmuddin dengan suara tegar, meski ada sedikit getaran tak bisa ia tutupi.
Kendati hatinya terasa remuk, Malahayati berusaha tetap kukuh. Tangannya bergetar mencengkeram erat lengan Mahmuddin, seolah ingin memastikan kehangatan tubuh suaminya masih bisa dirasakan untuk beberapa menit lagi.
“Jaga dirimu, Din. Kami akan selalu menunggumu pulang,” bisiknya seraya menahan air nyaris menyembul dari bola matanya.
Mahmuddin menghela napas panjang, berusaha merekam setiap detik momen itu dalam ingatannya. Ia menyadari perpisahan ini bukan perkara mudah, terutama bagi Malahayati akan memikul beban kecemasan dan ketidakpastian setiap hari. Namun, panggilan tugas negara adalah sesuatu yang tak bisa diabaikan.
Ia menunduk, mencium kening Malahayati dengan lembut.
“Aku akan kembali, Ti. Demi kamu dan anak-anak, aku akan kembali.”
Kata-kata itu menancap di hati Malahayati, menjadi janji yang terukir dalam, meskipun Mahmuddin tahu bahwa dalam perang, segala sesuatu bisa terjadi. Malahayati mengangguk, mencoba menunjukkan keberanian serupa suaminya. Dengan tangan gemetar, ia menyodorkan sangu untuk Mahmuddin, sebagai simbol cinta dan harapannya.
Mahmuddin beroncet-roncet menarik langkah, membelakangi kediamannya dengan hati berat. Ia menyarungkan seragam asing di tubuhnya. Tangan biasanya mengepal cangkul kini mesti menggenggam senjata dingin dan keras. Sesekali Mahmuddin menatap ladangnya yang hijau, tempat ia menanam mimpi-mimpi bersama keluarga.
Di anggana perang, Mahmuddin menemukan dirinya di antara lelaki lain dari desa-desa jauh. Mereka, seperti dirinya, terdesak meninggalkan kehidupan damai. Mahmuddin melihat pantulan dirinya sendiri: ketakutan sama, kerinduan sama, dan harapan sama untuk pulang.
Kerumunan lelaki itu menghabiskan petang di kemah dengan membicarakan rumah, canda tawa anak-anak, istri menanti dengan penuh kekhawatiran. Dalam gelapnya malam, obrolan mereka menjadi pelita menghangatkan hati yang dingin. Setiap dentuman meriam, setiap desing peluru, adalah pengingat akan jarak memisahkan mereka dari rumah, sekaligus jua pengingat akan semangat yang wajib terus menggelegak.
Dalam perbincangan itu, Mahmuddin bertemu seorang pria paruh baya, penampilannya tampak seperti veteran. Namanya Banta, rambut mulai memutih dan kerut di wajahnya menjadi petanda dari garitan penderitaan dan bengisnya waktu. Banta berasal dari desa tetangga, memiliki cerita serupa dengan Mahmuddin.
Mahmuddin mengerling dengan penuh kekhawatiran, memecah kesunyian malam itu.
“Apa Pak Banta pernah berpikir, kapan semua ini akan berakhir?” tanyanya, suara Mahmuddin terdengar serak.
Banta menghela napas dalam.
“Setiap hari, Nak. Setiap hari,” jawabnya perlahan, seraya menatap ke langit malam penuh bintang.
“Dulu, aku berpikir kita bisa hidup damai. Namun, kenyataan berkata lain.”
Mahmuddin mengaduk-aduk kopinya, mencoba mencari kata-kata yang tepat.
“Setiap malam, aku bermimpi buruk tentang apa yang akan terjadi pada kita. Bagaimana jika kita tidak pernah melihat hari esok lagi?”
Banta menepuk bahu Mahmuddin dengan lembut.
“Rasa takut itu wajar, Din. Kita semua merasakannya. Tapi, di tengah situasi chaos ini, kita harus menemukan secercah harapan. Seperti sinar bulan yang tetap terang meski langit dipenuhi kegelapan.”
Mahmuddin menatap Banta dengan penuh rasa hormat.
“Bagaimana kau bisa begitu tenang, Pak? Apa yang membuatmu terus bertahan?”
Banta tersenyum kecil, menampakkan garis-garis lelah di wajahnya.
“Kenangan, Din. Kenangan tentang masa lalu indah dan impian tentang masa depan lebih baik. Aku ingat saat-saat saat desa penuh dengan gelak tawa anak-anak, saat ladang kita penuh dengan hasil panen, saat kita bisa tidur dengan tenang tanpa rasa takut.”
Mahmuddin mengangguk pelan, meresapi kata-kata itu.
“Aku juga punya kenangan seperti itu. Mungkin, itu yang harus kita pegang erat sekarang, ya?”
“Benar sekali, Nak,” jawab Banta.
“Selama kita masih memiliki kenangan dan harapan, kita belum benar-benar kalah. Kita harus percaya bahwa suatu hari nanti, perang ini akan berakhir dan kita bisa membangun kembali kehidupan kita.”
Malam terus melaju, dengan suara-suara perang yang makin menjauh. Di bawah binar rembulan, dua lelaki itu terus berbicara, menemukan kekuatan dalam kebersamaan. Mereka tahu, meski perang menggerantang segalanya, harapan dan kenangan adalah senjata paling kuat yang dimiliki. Setelahnya mereka tertidur, bersiap menangkis gempuran serdadu Belanda di hari esok.
Saat fajar mulai merekah, pertempuran besar pun pecah.
“Dooorrrrrrr……boooom….dor..dor..dorrrr…boommm.” Tanah bergetar oleh ledakan, udara dipenuhi asap dan debu. Mahmuddin dan Banta berjuang berdampingan, membentengi satu sama lain di tengah hujan peluru memberondong. Medan perang dipenuhi tubuh-tubuh yang terkapar, cucuran darah mengguyur tanah yang pernah subur. Kota yang dulu megah kini hancur berkeping-keping, dikelilingi oleh kepulan asap dan reruntuhan. Pertempuran terus berlangsung hingga malam hari.
Di tengah kegelapan malam yang tebal, suara dentuman meriam kembali mendegam-degam. Memecah kesunyian dan mengguncang bumi. Langit malam dipenuhi percikan api, seolah bintang-bintang menggelincir ke bumi penuh amarah. Serdadu Belanda, dengan seragam merah menyala, bergerak dalam barisan yang teratur, menyeberangi padang rumput luas menuju kota yang dikelilingi tembok tinggi di perbatasan.
Di balik tembok kota, serdadu lokal bersiap dalam ketegangan. Para kesatria itu berjaga di setiap sudut, senjata digenggam erat, mata mereka waspada menembus kegelapan. Saat serdadu Belanda makin mendekat, suara terompet perang menggema, menitahkan serangan habis-habisan. Mereka menyerbu dengan kecepatan, seperti gelombang laut yang menghantam pantai. Teriakan perang dan suara senjata saling bersahutan, “doooorrr…dorrr….dorrr…dorrr,” menciptakan simfoni kematian menyeramkan.
Para serdadu lokal bertempur dengan keberanian, tetapi jumlah dan kekuatan serdadu Belanda terlalu besar untuk dibendung. Benteng-benteng mulai runtuh. Tembok-tembok kota bergetar di bawah tekanan serangan tak kenal ampun. Asap hitam mengepul, menyelimuti medan perang dalam selubung misterius, sementara jeritan penderitaan dan suara pertempuran bergaung ke seluruh penjuru.
Saat mereka berlari dari satu perlindungan ke perlindungan lain, Banta mendengar suara serak Mahmuddin memanggilnya.
“Pak Baa..nn..taaa.”
“Bertahanlah, Mahmuddin! Kita harus kembali ke rumah Nak!”
Kata-kata itu memberi Mahmuddin kekuatan. Dengan keberanian tak pernah ia sangka miliki, dia terus berjuang. Namun, perang adalah hal tak terselami. Dalam sekejap, Mahmuddin terjatuh, terkena tembakan musuh. Banta merasa dunia berhenti sejenak. Dengan hati yang hancur, dia mencoba menyelamatkan temannya, namun nyawa Mahmuddin tidak tertolong.
***
Hari-hari bergulir lambat bagi Malahayati, menenggelamkan dirinya dalam kerja di ladang dan merawat anak-anaknya. Saat petang menyapa, ia bersimpuh di hadapan Yang Mahakuasa, memanjatkan doa tulus agar Mahmuddin, suaminya, selamat dan kembali ke pangkuan keluarga. Namun, saat baskara mulai mengintip, kedamaian desa terusik oleh hadirnya sosok laki-laki lusuh yang tubuhnya diliputi debu pertempuran. Wajahnya muram, membawa urita yang menggetarkan hati.
“Bu Malahayati,” suara lelaki itu berat, penuh duka.
Malahayati merasakan darahnya membeku.
“Ada apa?”
Laki-laki itu menunduk sejenak, seolah mencari kekuatan untuk mengucapkan kata-kata yang mengoyak jiwa.
“Pak Mahmuddin gugur dalam pertempuran.”
Bagai petir menyambar, dunia Malahayati runtuh seketika. Tangannya meremas pintu dengan erat, mencari pegangan di tengah gelap yang tiba-tiba menyelimuti jiwanya. Air mata mengalir deras, tak terbendung. Jeritan hatinya menggema dalam sunyi, namun bibirnya tetap terkatup rapat, menahan tangis yang membakar dada.
Tetangga-tetangga mendekat, seorang di antaranya memegang bahu Malahayati dengan lembut.
“Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan, Ti. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menguatkan hati dan menerimanya dengan ikhlas.”
Malahayati mengangguk pelan, meskipun hatinya memberontak. Anak-anaknya yang mendengar keributan di luar, kini berdiri di pintu, menatap ibunya dengan wajah bingung. Malahayati menarik napas dalam-dalam, mencoba tersenyum meski air mata masih mengalir.
“Anak-anak, kita harus kuat. Ayah kalian sudah tenang di sisi Tuhan sekarang.”
Rasa kehilangan yang dalam melanda dirinya. Ia merasa seperti bagian dari jiwanya hilang bersama Mahmuddin.
Tiga hari kemudian, ingatan tentang suaminya kembali menyergap pikirannya. Senyum hangatnya, tawa riangnya, serta janji untuk selalu kembali padanya. Kini menyisakan kenangan yang menusuk.
“Aku tidak bisa hidup tanpamu,” ratap Malahayati, tangannya menggenggam erat kalung pemberian suaminya.
Namun, Malahayati tahu bahwa hidup harus terus berjalan, terutama demi Ariga dan Inong. Setiap hari, Malahayati mengingat pesan-pesan suaminya. Ia mengajarkan anak-anaknya tentang keberanian dan pengorbanan.
Ariga yang masih kecil sering bertanya, “Kapan Ayah pulang, Bu?”
Malahayati hanya bisa tersenyum dengan mata berkaca-kaca, “Ayah selalu bersama kita, di sini,” katanya sambil menempatkan tangan di dadanya, di tempat hati bersemayam.
***
Sebulan sudah berlalu, kabar tentang kapal-kapal penjajah kembali menyeruduk terdengar hingga ke pelosok desa. Warga yang damai kini bersiap menghadapi ancaman, mata mereka memancarkan semangat dan tekad yang tak mudah goyah. Malahayati tak bisa tinggal diam melihat keadaan ini. Ingatan tentang suaminya yang berjuang demi kemerdekaan, membuatnya merasa bertanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan yang belum usai.
“Dunia ini milik mereka yang berani bermimpi dan bertindak,” suara kakeknya yang seorang mantan pelaut terngiang di benaknya. Nasihat bijak itu malar menjadi pendorong bagi Malahayati.
Sang kakek, yang pernah menjelajahi samudra dan menghadapi badai, telah menanamkan keberanian dan kecerdasan kepadanya.
“Jika kau ingin melawan mereka, kau harus belajar menjadi seorang laksamana sejati.”
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Malahayati pun memanfaatkan tiap kesempatan untuk belajar. Dari kakeknya, ia mempelajari seni navigasi, taktik perang laut, dan strategi bertahan hidup di tengah gelombang ganas. Dari suaminya, ia menyerap keterampilan tentang bertahan dalam pertempuran dan menghadapi musuh dengan kepala tegak.
Perlahan-lahan, Malahayati mulai memimpin pasukan yang tak gentar melawan penjajah. Ia mengumpulkan 2000 orang pasukan Inong Balee, janda-janda perang yang ditinggal mati suaminya, memiliki semangat juang sama dengannya. Setiap hari mereka berlatih, mengasah keterampilan, dan memperkuat mental untuk menghadapi pertempuran yang akan datang.
Baginya, kebebasan dan kehormatan tanah air lebih penting dari segalanya. Tekadnya telah bulat, ia tak akan menyerah. Bersama pasukan Inong Balee, Malahayati berangkat menuju Teluk Haru dengan hati penuh keyakinan dan keberanian.
Mereka bukan sekadar melawan penjajah, tetapi juga memperjuangkan mimpi akan tanah air bebas dan bermartabat. Malahayati dan pasukannya melangkah maju, menantang nasib dengan kepala tegak dan semangat menyala-nyala.
Teluk Haru yang tenang pagi itu bersiap menyaksikan sebuah pertempuran yang dikenang sepanjang masa. Di ufuk, kapal-kapal Belanda, di bawah komando Cornelis de Houtman mendekat, bagaikan ancaman kelam bagi kerajaan Aceh. Di hadapan mereka kini berdiri seorang perempuan dengan keberanian tiada tanding, Malahayati.
Dari atas dek kapal induknya, “Permaisuri” Malahayati mengamati bumantara. Kapal besar itu dipenuhi para Inong Balee, bersumpah untuk membalas dendam. Dengan kerlingan mata yang tajam, Malahayati memberi aba-aba kepada pasukannya.
“Saudara-saudariku, hari ini kita tidak hanya mempertahankan Aceh, tetapi juga kehormatan kita. Ingatlah, kita adalah Inong Balee. Kita bertempur demi mereka yang telah gugur,” seru Malahayati dengan suara menggema di seluruh kapal.
Para Inong Balee mengangkat senjata. Mereka tahu, kemenangan bukan hanya soal jumlah atau kekuatan, tetapi juga keberanian dan tekad.
Pertempuran pun dimulai. Dentuman meriam dan suara pedang beradu memenuhi udara. Malahayati, dengan pedang di tangan, memimpin serangan. Malahayati tak hanya memberi perintah dari belakang, tetapi berada di garis depan, bertarung bersama pasukannya. Setiap ayunan pedangnya adalah ekspresi cinta dan dedikasi kepada tanah airnya.
Di tengah kekacauan, Malahayati melirik Cornelis de Houtman di dek kapal musuh. Secara gesit, ia melompat dari kapalnya, melintasi ombak dan mendarat di kapal musuh. Mata mereka saling bertatapan, dalam sekejap, mereka sudah saling serang.
Pertarungan mereka sengit, penuh dengan kepiawaian dan ketegangan. Cornelis mengayunkan pedangnya dengan kekuatan. Malahayati lincah menghindar dan membalas dengan serangan cepat dan mematikan.
Setiap gerakan seperti perpaduan antara seni perang dan keanggunan seorang pejuang. Akhirnya, dengan satu tebasan, pedang Malahayati menembus pertahanan Cornelis dan mengakhiri hidupnya.
Melihat pemimpinnya tumbang, serdadu Belanda menjadi kacau. Tanpa komando yang jelas, mereka mundur dengan cepat, meninggalkan Teluk Haru berlumuran darah. Malahayati berdiri di atas kapal musuh yang kini menjadi miliknya, menatap laut yang kembali tenang.
“Pertempuran ini adalah untuk Aceh, untuk mereka yang telah gugur, dan untuk masa depan lebih baik,” gumamnya dengan penuh kebanggaan.
Hari itu, di Teluk Haru, legenda Malahayati semakin mengukuhkan namanya. Seorang laksamana wanita yang tak hanya memimpin dengan kecerdasan dan keberanian, tetapi juga dengan hati yang penuh cinta untuk tanah airnya.
Tahun demi tahun berlalu, waktu membawa perubahan, tetapi jiwa dan kenangan tetap abadi. Ariga dan Inong tumbuh menjadi anak-anak kuat nan bijaksana, mencerminkan semangat dan keberanian ayah mereka, Mahmuddin. Kedua Pasutri itu mewarisi tidak hanya darah dan daging, tetapi juga api semangat yang terus menyala di dada.
Malahayati, seorang ibu sekaligus laksamana, terus mengenang suaminya dengan rasa bangga dan cinta yang tak pernah pudar. Kehilangan Mahmuddin mungkin menjadi luka mendalam, tetapi dari luka itu pula ia menemukan kekuatan untuk terus melangkah. Dalam setiap tarikan napas dan langkah, ia merasakan kehadiran suaminya, seakan Mahmuddin tetap di sisinya, membimbing dan melindungi.
Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Malahayati berdiri di bibir pantai, menatap cakrawala yang perlahan berubah warna menjadi jingga dan merah. Angin senja berbisik lembut, membawa aroma laut. Senja itu, dengan segala keheningannya, menjadi saksi bisu dari sebuah cinta yang tak lekang oleh waktu.
Dengan senyum lembut menghiasi wajahnya, Malahayati berbisik pada angin, “Terima kasih, Mahmuddin. Kau telah memberi kami cinta abadi. Kami akan terus melangkah dengan semangatmu.”
Kata-kata itu seakan terbang bersama angin, menyatu dengan alunan ombak dan nyanyian alam.
Kredit gambar: https://budaya.jogjaprov.go.id/

Lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 02 September 1995. Ia menyelesaikan studi S1 di Institut Agama Islam As’adiyah (IAI) Sengkang Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah Filsafat Islam tahun 2019. Tahun 2021, ia juga berstatus sebagai mahasiswa penerima program beasiswa PBSB Kemenag di Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon (UI BBC) Fakultas Manajemen Pendidikan Islam Jurusan Manajemen Pendidikan Islam dan menyelesaikan studi S2 tahun 2023. Sebelumnya, ia pernah mondok di PP Syekh Muhammad Ja’far Banyorang Kabupaten Bantaeng, Sulsel. Selanjutnya, di PP Nurul Falah Borongganjeng Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Lalu, di PP As’adiyah Sengkang Kabupaten Wajo, Sulsel. Terakhir, di PP Darul Ulum Ad-Diniyah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ia juga aktif sebagai relawan PMI di Kabupaten Wajo, serta, menjabat sebagai Wakil Ketua BSO Moragister Kemenag Periode 2021-2023. Pernah ikut Kelas Menulis Esai Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply