Author: Sulhan Yusuf

  • Kepada Bupati Bantaeng, Ajaklah ASN Berwakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

    Kepada Bupati Bantaeng, Ajaklah ASN Berwakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

    Sebuah daerah boleh saja memiliki kantor pemerintahan megah, jalan mulus, taman kota  tertata rapi, ataupun bangunan-bangunan baru menjulang. Namun, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari apa yang kasat mata. Ada satu hal, sering luput dari perhatian: seberapa dekat masyarakatnya dengan pengetahuan. Sebab dari ranah itulah, arah masa depan sesungguhnya mulai bernala-nala. Di Perpustakaan Daerah…

  • Wahai Para Dai, Serulah Wakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

    Wahai Para Dai, Serulah Wakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

    Waima saya bukan seorang dai, tapi bersahabat dengan banyak dai. Entah itu dipanggil ustadz maupun kiyai. Seringkali diundang oleh elemen para dai, untuk berbagi minda terkait strategi dakwah sosial di era millenial. Dan, saya pun kerap menyodok, bagai stik yang menghamburkan bola-bola billiard, sehingga riuh percakapan. Di banyak tempat, mimbar pengajian dan sejenisnya masih menjadi…

  • Perpusda Bantaeng: Wakaf Buku dan Jalan Sunyi Memuliakan Pengetahuan

    Perpusda Bantaeng: Wakaf Buku dan Jalan Sunyi Memuliakan Pengetahuan

    Baskara baru saja mencicil teriknya. Saya membelah jantung Kota Bantaeng dengan roda dua butut bermuatan satu kardus buku. Arahnya ke selatan pinggiran kota. Persisnya di Perpustakaan Daerah Bantaeng. Entah sudah berapa kali saya bertandang ke gedung suaka bahan bacaan ini. Dan, kedatangan saya kali ini, merupakan yang kesekian kalinya dalam rangka membawa wakaf buku-buku dari…

  • Ayat yang Tertawa

    Ayat yang Tertawa

    “Menertawai diri sendiri serupa ayat, guna mengukuhkan kelantipan laku bijaksana.”(Tajali Daeng Litere, 15022025) Ujar Daeng Litere itu menyiratkan satu hal sederhana, bahkan kerap luput: ada ayat yang tidak dibaca dengan mata, melainkan dirasakan dalam batin—ayat yang tertawa. Ia hadir bukan sebentuk gelegar bunyi, melainkan serupa tawa halus, kala seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri. Dalam keseharian,…

  • Tiket Surga dan Lapang Diri

    Tiket Surga dan Lapang Diri

    “Bila saja memfatwakan sesat kepadaku, itu merupakan tiketmu untuk masuk surga, silakan saja. Berarti aku telah membantumu masuk surga.” (Tajali Daeng Litere, 27062025) Ujar Daeng Litere itu terdengar seperti kelakar, waima menyimpan simpai permenungan yang dalam. Ia hadir tanpa nada perlawanan dan dorongan membela diri. Sebaliknya, ia memancarkan kelapangan—kejernihan batin yang tidak mudah terseret oleh…

  • Lebaran yang Menyala di Dalam

    Lebaran yang Menyala di Dalam

    “Bagi jiwa yang lapang, tak butuh lebaran. Sebab, setiap hari berlebaran.” (Tajali Daeng Litere, 01042025) Ujar Daeng Litere tampak simpel, tetapi menyimpan kedalaman yang pelan merawi. Ia tidak menolak lebaran sebagai peristiwa, tiada pula meremehkan tradisi. Namun, ia menggeser pusat makna: dari hari menuju batin, berlapik momentum merunrun keadaan. Lebaran, dalam pengertian umum, sebentuk penanda…

  • Imam Ali Khamenei: A Hero’s Journey

    Imam Ali Khamenei: A Hero’s Journey

    Ramadan 1447 H, saya serasa berada dalam pusaran keharuan tak bertepi. Pasalnya, seorang panutan, Imam Ali Khamenei, menjemput kesyahidan dengan teladan konsistensi dan persistensi perlawanan terhadap imperialisme Amerika Serikat dan Israel. Sulit menemukan insan sepertinya di kekinian. Kesyahidannya memunculkan beragam reaksi. Salah satu bentuknya, berupa majelis duka di berbagai tempat. Kota Makassar, ikut menggelar majelis…

  • Di Antara Lapar dan Limpah

    Di Antara Lapar dan Limpah

    “Puasa mengada: memoderasi lapar dan kenyang.” (Tajali Daeng Litere, 27022026) Dahulu kala, manusia akrab dengan kelaparan. Paceklik datang tanpa aba-aba. Gagal panen menjelma nestapa panjang. Perut kosong bukan pilihan spiritual, melainkan nasib yang memaksa. Kelaparan serupa bencana kolektif—tubuh-tubuh meranggas, daya hidup menyusut, dan harapan menipis. Lapar menjadi ancaman nyata atas keberlangsungan hidup dan kehidupan. Kiwari,…

  • Separuh dan Sepenuh

    Separuh dan Sepenuh

    “Ramadan menyata: menerangkan puasa setengah dan setengah puasa.”(Tajali Daeng Litere, 25022026) Ramadan tak sekadar mengada sewajah bulan penanggalan. Ia menyata serupa cermin. Di dalamnya, manusia melihat wajah diri: sejauh mana lapar dipahami, seberapa dalam dahaga dimaknai, dan sepanjang laku jeda dimuliakan. Ramadan menerangkan dua perkara yang kerap disamakan, padahal berbeda hakikat: puasa setengah dan setengah…

  • Dengung Keberlimpahan

    Dengung Keberlimpahan

    “Nyamuk yang kekenyangan, tak sanggup terbang jauh dan berisiko kematian. Bukankah itu merupakan sunyata ayatullah?” (Tajali Daeng Litere, 27032025) Pendakuan Daeng Litere tersebut, termaktub ringan, nyaris jenaka, tetapi di dalamnya tersimpan simpai permenungan yang pelan merawi. Ia meminjam tubuh kecil seekor nyamuk, buat membentangkan cermin bagi manusia. Nyamuk bila terlalu kenyang kehilangan kelincahan, tak sanggup…