Author: Sulhan Yusuf
-

Di Antara Lapar dan Limpah
“Puasa mengada: memoderasi lapar dan kenyang.” (Tajali Daeng Litere, 27022026) Dahulu kala, manusia akrab dengan kelaparan. Paceklik datang tanpa aba-aba. Gagal panen menjelma nestapa panjang. Perut kosong bukan pilihan spiritual, melainkan nasib yang memaksa. Kelaparan serupa bencana kolektif—tubuh-tubuh meranggas, daya hidup menyusut, dan harapan menipis. Lapar menjadi ancaman nyata atas keberlangsungan hidup dan kehidupan. Kiwari,…
-

Separuh dan Sepenuh
“Ramadan menyata: menerangkan puasa setengah dan setengah puasa.”(Tajali Daeng Litere, 25022026) Ramadan tak sekadar mengada sewajah bulan penanggalan. Ia menyata serupa cermin. Di dalamnya, manusia melihat wajah diri: sejauh mana lapar dipahami, seberapa dalam dahaga dimaknai, dan sepanjang laku jeda dimuliakan. Ramadan menerangkan dua perkara yang kerap disamakan, padahal berbeda hakikat: puasa setengah dan setengah…
-

Dengung Keberlimpahan
“Nyamuk yang kekenyangan, tak sanggup terbang jauh dan berisiko kematian. Bukankah itu merupakan sunyata ayatullah?” (Tajali Daeng Litere, 27032025) Pendakuan Daeng Litere tersebut, termaktub ringan, nyaris jenaka, tetapi di dalamnya tersimpan simpai permenungan yang pelan merawi. Ia meminjam tubuh kecil seekor nyamuk, buat membentangkan cermin bagi manusia. Nyamuk bila terlalu kenyang kehilangan kelincahan, tak sanggup…
-

Tarak Raga
“Wahai pemuja raga, cukuplah puasa sebagai interupsi, agar terbebas dari terungkunya.” (Tajali Daeng Litere, 26032025) Ujar itu terdengar mirip teguran lirih, tetapi mengandung kedalaman yang pelan mengendap. Ia tidak menyerang tubuh, tiada pula menafikan kebutuhan jasmani. Ia justru mengajak jeda—sebuah interupsi dalam arus pemujaan raga, nyaris tanpa sela. Maksudnya, puasa ditempatkan bukan semata sebagai ritual,…
-

Paras Batin Kepemimpinan
“Pemimpin berparas egaliter bervisi: memandang semua insan, setara di hadapan masalah negeri dan punya peluang untuk berbakti.”(Tajali Daeng Litere, 22092024) Penabalan Daeng Litere ini tersurat sederhana, tetapi mengandung simpai makna yang luas. Ia tidak berbicara tentang kemegahan kepemimpinan, tiada pula memuja figur. Sorotannya justru jatuh pada watak mendasar: egalitas sebagai wajah batin seorang pemimpin. Bukan…
-

Melata di antara Lawan dan Kawan
“Jauh lebih mudah menaklukkan lawan, tinimbang mengendalikan kawan.”(Tajali Daeng Litere, 18122024) Ujaran Tajali Daeng Litere itu, datar menghanyutkan, tidak meledak seperti semboyan perang. Ia justru turun perlahan, seperti hujan tipis, tetapi meresap hingga ke lapisan terdalam relasi manusia. Penabalannya singkat, waima menyimpan paradoks kepemimpinan: kekuatan terbesar kerap diuji bukan di hadapan musuh, melainkan di tengah…
-

Apa Adanya, Bukan Ada Apanya
“Memilih pemimpin apa adanya, bukan karena ada apanya.”(Tajali Daeng Litere, 27112024) Sodokan ujar Daeng Litere tersebut, bekerja seperti cermin, diletakkan di hadapan nalar publik. Ia tidak berteriak, apalagi menggurui, tetapi memantulkan kebiasaan, kerap disembunyikan dalam proses memilih pemimpin. Kebiasaan melihat ke luar, tinimbang menengok ke dalam. Kelaziman terpikat pada kilau, ketimbang menimbang watak. Dalam praktik…
-

Memimpin Nirjabatan
“Menjadi pemimpin nirjabatan adalah suatu keniscayaan. Pasalnya, jabatan membatasi waktu dan wilayah kepemimpinan.” (Tajali Daeng Litere, 20042025) Satuan ujar Daeng Litere tersebut, menyingkap lapisan makna, kerap terlewatkan. Ia tidak menafikan jabatan, tiada pula menegasikan struktur. Perhatiannya diarahkan ke hakikat kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan tak sepenuhnya bertumpu di kursi, melainkan daya pengaruh, bekerja melampaui penetapan formal.…
-

Safar Hayat dari Selesai ke Selesai
“Sungguh, safar hayat hanyalah dari selesai ke selesai.”(Tajali Daeng Litere, 26072023) Deretan kata itu terkesan amat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman, pelan-pelan mengendap. Ia tidak membicarakan tujuan besar, juga tak mengagungkan capaian. Yang dihadirkan justru kata selesai, sebuah penanda, waima kerap diabaikan dalam kebudayaan serba mulai dan menuju. Di ucapan Daeng Litere, hidup didaras sebagai perjalanan…
-

Mengeja Ulang Petta Tjalleng Daeng Magguliling
Lantaran esai saya, “Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallua Dongkonga”, Paraminda.com, 11 Desember 2025, memoncerkan sejumlah esai, terbit belakangan—baik menyoal negara dan bangsa, bangsawan dan hierarki, maupun bangsa dalam uji sejarah—telah memperluas gelanggang pembacaan. Petta Tjalleng tidak selalu disebut, tetapi kegelisahan yang mengitari namanya terus berdenyut: bagaimana membaca figur berakar feodal di tengah kritik atas…
