Siapa Pewaris Petta Tjalleng Daeng Magguliling?

Kadang, sejarah kerap menorehkan kisah, tentang mereka yang bertengger di pucuk kuasa. Ia jarang menyapa sosok yang memilih menepi, kala jalan menuju puncak terbuka. Padahal, keputusan menahan langkah, acap kali menentukan keberlangsungan sebuah tatanan. Pada wilayah sunyi semacam itulah, nama Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga menggapai maknanya.

Esai saya di Paraminda.com, tentang “Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallua Dongkonga”, membuka gelanggang sawala. Salah satunya, ditanggapi oleh Syafinuddin Al-Mandiri, berjudul “Negara dan Bangsa; Berbeda dalam Dekapan Pemiliknya”.

Syafinuddin menarik garis reflektif, bahwa negara modern sering justru melanggengkan feodalisme simbolik, yakni penghargaan terhadap keturunan, pangkat, jabatan, dan gelar, bukan pada kualitas negara-wan (negara-pribadi atau pelayan publik yang berintegritas).

Perbedaan antara bangsawan (status turun-temurun) dan negarawan (pribadi yang berkontribusi pada bangsa-negara melalui etika dan tindakan) dijadikan sebagai simbol ideal kepemimpinan yang sejati.

Syafinuddin kemudian mengaitkannya ke teladan Petta Tjalleng, sebagai seseorang yang menempatkan integritas moral di atas gelar atau jabatan, dan oleh karenanya pantas disebut sebagai negarawan sejati.

Dan, mengemuka pula ihwal perbedaan negara dan bangsa. Negara dipahami sebagai bangunan hukum. Bangsa tumbuh dari kesadaran kolektif. Pembedaan ini penting, tetapi belum tuntas.

Tanggapan tersebut mengerakkan saya menulis kembali esai ini, sebagai bentuk apresiasi, dengan satu lapik tanya: bila Petta Tjalleng dipandang sebagai teladan etik politik, siapakah pewaris jejak lakunya hari ini?

Petta Tjalleng tidak meninggalkan singgasana. Ia juga tidak menaruh jabatan sebagai pusaka. Yang tertinggal justru sikap batin dalam menghadapi kuasa. Ketika peluang menuju pusat terbentang, ia memilih berada di luar lingkar kekuasaan, tanpa melepaskan tanggung jawab. Pilihan itu lahir dari minda bening, bukan dari gentar.

Pada konteks ini, saya memandang pewarisan Petta Tjalleng tidak berjalan melalui jalur biologis berlapik genetik semata. Darah menjelaskan asal-usul, tetapi tidak menuntun arah. Dalam tradisi Bugis–Makassar, perhatian tidak semata tertuju pada silsilah, melainkan pada pasang. Padanyalah tuntunan hidup bersemayam dan bergerak. Pewaris Petta Tjalleng hadir melalui minda, bukan melalui pertalian darah.

Waima, penting dicatat, Petta Tjalleng tidak berhenti pada jejak minda semata. Ia tetap memiliki keturunan sebagai pewaris biologis. Merujuk pada skripsi Andi Tenri Abeng yang saya kutip di esai awal saya, ada empat istri mendampinginya: Daeng To Beja, Daeng Sawang, Daeng Suraiya, dan Daeng Ma’inna.

Pada zamannya, seorang penguasa beristri lebih dari satu bukan perkara ganjil, melainkan kelaziman sosial-politik. Dari keempat perempuan itu lahir anak-cucu bermutu, tumbuh dalam peran, dan memberi sumbang nyata bagi Bantaeng. Fakta ini menegaskan satu hal: pewarisan darah berjalan seiring, tetapi tidak selalu menjadi penentu utama dalam soal arah dan sikap.

Pemisahan antara bangsawan dan negarawan pun tampak tanpa perlu diperkeras. Bangsawan terlahir dari rahim sejarah. Negarawan tumbuh dari kejernihan sikap. Petta Tjalleng memperoleh tempat dalam ingatan, bukan karena darah empat kerajaan, melainkan karena kecakapannya menjaga keseimbangan di tengah tarik-menarik kepentingan.

Refleksi tentang negara dan bangsa memberi kerangka nalar. Sejarah setempat menghadirkan isinya. Negara dapat dirakit lewat aturan. Bangsa dirawat melalui keteladanan. Dalam lontara, kedudukan mudah luruh. Laku bertahan lebih lama dan meninggalkan tilas.

Bangsa kerap hadir lebih dahulu sebelum negara menemukan bangunannya. Ia tumbuh dalam tata hidup bersama tanpa banyak catatan. Negara boleh beralih rupa mengikuti zaman. Bangsa bertahan sejauh minda para pewaris tidak aus. Ketika kesadaran menipis, negara masih berdiri, tetapi kehilangan arah batin.

Kalakian, siapa pewaris Petta Tjalleng hari ini? Pertanyaan ini tidak menunggu sebutan. Pun, tak meminta pengakuan. Saya cenderung menemukannya pada sikap. Tatkala kemampuan menahan diri ketika peluang menyapa. Manakala keberanian tidak selalu tampil di muka.

Tata hidup dan kehidupan Petta Tjalleng melambungkan ingatan saya pada seorang kaisar berwajah Stoasisme, Marcus Aurelius. Dalam catatanya, Meditations, Kaisar Marcus Aurelius mengingatkan, kekuasaan sejati tidak terletak pada kemampuan memerintah orang lain, melainkan pada kecakapan menguasai diri sendiri. Aurelius menyodorkan minda, manusia tak menjadi luhur karena kedudukannya, tetapi karena keteguhan batin saat berhadapan dengan godaan kuasa.

Bagi Stoasisme, menjauh dari kekuasaan bukan tanda kekalahan, melainkan pilihan sadar guna menjaga kebajikan. Pada irisan inilah, laku Petta Tjalleng menemukan resonansinya lintas zaman, berupa menahan diri ketika mampu melangkah ke pusat kekuasaan, bukan karena takut, tetapi karena memahami keutuhan hidup bersama, lebih berharga daripada kehormatan yang bersifat sementara.

Dalam kehidupan negara modern, pewaris ideologis semacam ini kian sukar dikenali. Jabatan lebih sering dipuja daripada dipikul. Tatanan tampak mapan, tetapi kesadaran rapuh. Kekurangan tidak terletak pada aturan, melainkan pada minda penuntun laku.

Petta Tjalleng memperlihatkan satu hal penting: kekuasaan tidak selalu menjelma dalam perintah. Ada waktu ketika menjauh dari pusat kuasa, justru menjaga kehidupan bersama. Sejarah tidak menunggu kelahiran figur serupa. Hanya meninggalkan satu tanya terbuka, masih adakah kesediaan mewarisi kebeningan minda itu?



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *