Di pojok lapangan, saya temangu di tengah keriuhan bazar Ramadan. Lampu menyala terang seperti bintang jatuh, di panggung nasyid didendangkan, penjual makanan takjil berjejer memanjakan lidah. Namun, bukan syahdunya musik dan sedapnya aroma makanan yang mengusik perhatian saya, melainkan pemandangan yang tersaji di tanah berumput hijau.
Tepat di sekeliling saya, di ruang publik yang seharusnya menjadi tempat berkumpul yang bersih, sampah plastik berserakan. Kantong kresek aneka warna, wadah styrofoam bekas, bergulir ke sana kemari sadrah ditiup angin. Botol-botol air mineral tergeletak pasrah, bagai mayar-mayat kecil tak bertuan.
Langit mulai menjingga, ketika saya menyaksikan itu semua, waktu berbuka hampir tiba, tapi yang hadir justru perasaan aneh, miris, dan janggal. Bahkan, di bulan Ramadan begini, yang katanya bulan menahan diri, betapa mudahnya kita membuang beban konsumsi kita ke alam. Tidak ada spirit Ramadan, hanya ruang hampa spiritual yang diisi oleh nafsu konsumerisme yang destruktif.
Sekarang ini, ada ribuan orang yang sedang menjalankan rukun Islam ketiga, menahan lapar dan dahaga demi menggapai rida Sang Pencipta. Namun, di saat yang sama, ada pengabaian massal terhadap amanah ekologis. Pemandangan ini mengingatkan saya pada kalimat ikonik Syekh Muhammad Abduh, ulama besar Mesir, saat ia kembali dari pengembaraannya di Eropa: “Aku pergi ke Barat, aku melihat Islam tapi tidak melihat Muslim. Aku kembali ke Timur, aku melihat Muslim tapi tidak melihat Islam.”
Kalimat Abduh sederhana, tapi terasa menghujam tepat di ruang kesadaran umat. Di lapangan ini, saya melihat ribuan Muslim, tetapi saya kehilangan jejak “Islam”, sebuah ajaran yang mendakukan bahwa kebersihan adalah separuh dari iman.
Ramadan yang seharusnya menjadi madrasah ruhani menundukkan nafsu, justru sering kali terjebak dalam acara mokbang dan selebrasi materi yang menyisakan jejak kerusakan nyata. Fenomena “Sampah Puasa” ini adalah manifestasi dari kegagalan kita menyelaraskan ritual dengan substansi.
Data menunjukkan lonjakan sampah hingga 20-30%, dengan 40% di antaranya adalah sisa makanan di bulan suci seolah menjadi tamparan. Sejatinya, apa yang kita tahan di kerongkongan, sering kali kita “balaskan” dengan tumpukan limbah yang jauh lebih masif saat azan berkumandang.
Aktivitas pasar Ramadan menjadi salah satu penyumbang terbesar peningkatan sampah, terutama dari kemasan makanan sekali pakai. Banyak orang membeli makanan berlebihan saat berbuka, bukan karena perutnya lapar, melainkan lapar mata yang membuat keinginan mencoba berbagai menu. Akibatnya, tidak sedikit makanan tersisa yang akhirnya terbuang. Pasar takjil berubah jadi lautan plastik: es teh dibungkus kresek ganda, somay dibungkus styrofoam, gorengan dibungkus kertas dobel. Lapar mata lebih ganas daripada lapar perut. Kita beli lebih banyak dari yang bisa dimakan, lalu sisanya jadi sampah yang tak pernah kita pikirkan lagi
Riska Rahman, Kepala Proyek Ummah for Earth Greenpeace Indonesia, mengatakan Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat hablum minal ‘alam—hubungan dengan alam—melalui langkah sederhana yang berdampak nyata. “Menahan diri bukan hanya soal lapar dan haus, tetapi juga menahan sikap berlebih-lebihan yang membebani bumi salah satunya lonjakan sampah,” ujarnya.
Kita terjebak dalam pola belanja yang lebih besar dari kemampuan lambung untuk menampung, sehingga makanan sisa (food waste) terbuang sia-sia menjadi tumpukan beban di TPA. Di sinilah letak ironinya: sebuah ibadah yang seharusnya membersihkan batin dan melatih kepekaan sosial, justru meninggalkan jejak kotor pada ekosistem. Puasa yang hanya berhenti sebagai ritual pemindahan jam makan, tanpa menyentuh dimensi ekologis, pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah kesalehan yang terputus dari tanggung jawab kita sebagai khalifah di muka bumi.
Maka, sudah saatnya kita melakukan reorientasi kesadaran, beranjak dari sekadar terjebak dalam “Sampah Puasa” menuju disiplin “Puasa Sampah”. Jika puasa secara konvensional adalah menahan apa yang masuk ke dalam tubuh, maka puasa sampah adalah laku spiritual untuk menahan apa yang keluar dari tangan kita.
Konsep ini menuntut “minimalisme spiritual”, sebuah kehati-hatian dalam bertindak yang menjadi inti dari takwa itu sendiri. Menolak satu sedotan plastik, membawa wadah mandiri saat berburu takjil, atau memastikan piring bersih tanpa sisa makanan adalah bentuk “memaknai puasa” dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah ikhtiar menyelaraskan antara ketaatan vertikal kepada Sang Pencipta dengan ketaatan horizontal dalam menjaga amanah alam.
Transisi menuju puasa sampah memerlukan kejujuran untuk mengakui bahwa kemewahan berbuka tidak boleh dibayar dengan kehancuran ekologis. Kita perlu menyadari bahwa doa-doa yang kita langitkan mungkin hanya bertahan beberapa saat di udara, tapi plastik yang kita buang akan menetap dan merusak bumi selama ratusan tahun. Dengan melatih otot-otot kesadaran untuk menolak budaya instan, kita sebenarnya sedang memerdekakan diri dari ketergantungan materi yang semu.
Pada akhirnya, di penghujung Ramadan ini, kita harus bertanya dengan reflektif saat fajar Idul Fitri menyingsing, mungkinkah kita benar-benar kembali pada kondisi yang “fitri” atau suci, jika kemenangan itu dirayakan di tengah kepungan limbah yang mengotori bumi? Kemenangan sejati tidak akan ditemukan dalam piring-piring yang meluap atau kemasan-kemasan yang mewah, melainkan dalam kemampuan kita untuk kembali pada hakikat kesederhanaan yang bermartabat.
Menjadikan Ramadan sebagai momentum “Puasa Sampah” adalah langkah nyata untuk memastikan bahwa kesucian jiwa kita bersenyawa dengan kelestarian alam, sehingga ibadah yang kita jalankan benar-benar menjadi rahmat bagi semesta, bukan beban bagi masa depan. Manusia, kata Evo Morales, tidak bisa hidup tanpa bumi, tapi planet ini bisa bertahan tanpa manusia.

Guru PJOK dan pegiat literasi di Bantaeng. Penulis buku kumpulan esai, Jika Kucing Bisa Bicara (2021) dan anggota redaksi di Paraminda.com.


Leave a Reply