Itami o Shire: Amegakure di Tanah Bantaeng

Sudah hampir sepekan, langit di atas kita enggan menyisakan celah bagi matahari. Awan gelap seperti wajah yang murung, dan langit seperti mata yang tak henti-hentinya menangis. Hujan turun dengan ritme yang monoton, dingin, dan melelahkan.

Tak keluar rumah, membuat saya melankolis dan berpikiran aneh-aneh. Saya yang tumbuh dengan kisah-kisah fiksi, dengan cepat melempar ingatan pada Amegakure no Sato, sebuah desa industri tersembunyi dalam semesta Naruto yang dikutuk oleh hujan abadi.

Dalam imaji Masashi Kishimoto, hujan di Amegakure bukan sekadar fenomena cuaca. Ia adalah air mata kolektif dari masyarakat yang tertindas, terjepit, dan menjadi korban dari ego pihak lain. Dari Hanzo Salamander, ke Pain Akatsuki, hingga Konan si Lady Angel, Amegakure terus dirundung tragedi. Kepiluan inilah yang membikin Pain Akatsuki ingin mengubah status quo, re-desain tatanan dunia shinobi yang rapuh dengan menangkap semua biju.

Itami o Shire (Ketahuilah Rasa Sakit)

Hujan yang turun berhari-hari bertindak selaku hakim yang jujur. Ia membongkar apa saja yang selama ini kita sembunyikan dengan rapi di balik selokan yang rapuh.

Sepekan ini, saya saksikan drainase tidak lagi berfungsi mengalirkan air, melainkan telah menjelma menjadi lambung raksasa yang gemar muntah-muntah. Ketika volume air meningkat, got yang mampet oleh plastik kehilangan daya tampungnya. Air yang frustrasi akhirnya meluap, menumpahkan segala jenis limbah anorganik ke atas jalan raya.

Jalan aspal yang semula bersih seketika berubah menjadi koridor pameran kemunafikan kita. Tetiba pengendara harus menjadi Messi, meliuk-liuk menghindari genangan, botol plastik yang mengapung bebas, juga lubang yang tersembunyi oleh air.

Alam seolah sedang mempraktikkan doktrin terkenal dari Pain saat menginvasi Konohagakure:

(Itami o shiranu mono ni, hontō no heiwa wa wakaran). “Mereka yang tidak mengenali rasa sakit, tidak akan pernah memahami kedamaian sejati.”

Melalui luapan sampah di jalanan ini, alam sejatinya sedang memaksa kita untuk mengenali “rasa sakit”. Apa yang kita buang dengan egois ke dalam gelapnya selokan, dikembalikan lagi oleh hujan tepat di depan muka kita. Kita dipaksa tidak nyaman oleh ulah sendiri.

Dari Aspal Menuju Sawah

Sialnya, ancaman ini tidak berhenti di jalanan. Tragedi ini bergerak lebih jauh, merayap ke arah hilir, dan merusak apa saja. Di sinilah kita harus membuka mata, bahwa ancaman ekologis ini mengepung kota dan desa, meski dalam konteks yang berbeda.

Jika di wilayah urban sampahnya menyumbat got dan mengacaukan estetika serta kenyamanan jalanan, maka di desa, dampaknya jauh lebih fatal karena menghantam urat nadi kehidupan. Air bah yang membawa sisa-sisa konsumsi masyarakat itu mengalir tanpa permisi, menerobos saluran irigasi, dan masuk ke sawah-sawah warga.

Kini, pemandangan hijau sawah harus rela dinodai oleh warna-warni plastik kemasan yang tersangkut di antara batang padi. Di sinilah letak kemiripan paling intim Bantaeng dengan Amegakure. Jika di Amegakure warga desa menjadi korban tak bersalah dari perang ego negara-negara besar di sekitarnya, maka di Bantaeng, para petani di desa adalah pihak yang paling tertindas oleh kepungan sampah kiriman ini.

Ketika Plastik Menghancurkan Masa Depan Pangan

Di titik inilah, bencana lingkungan bergeser menjadi ancaman eksistensial bagi kelangsungan hidup kita: krisis pangan. Sawah adalah dapur MBG raksasa yang memberi kita makan, bukan tempat sampah.

Ketika sampah plastik membajak lahan pertanian, dampaknya tidak sesederhana pemandangan kotor. Plastik-plastik yang tertimbun di dalam lumpur sawah tidak akan hancur hingga ratusan tahun. Mereka menghalangi penetrasi akar padi ke dalam tanah, menyumbat sirkulasi udara di dalam lumpur, dan merusak kesuburan tanah secara permanen. Lebih ngeri lagi, partikel makro plastik yang tergerus air lambat laun akan terurai menjadi mikroplastik yang berpotensi terserap oleh tanaman dan masuk ke dalam bulir-bulir beras yang kelak kita konsumsi.

Ini adalah teror yang senyap. Kini, petani harus bertarung dua kali: melawan hama, sekaligus bertarung melawan limbah plastik yang meracuni tanah mereka. Jika sawah-sawah kita terus dipaksa mengunyah plastik, penurunan produktivitas pertanian adalah kepastian. Kita membuang sampah sembarangan, sawah menyerap racunnya, dan akhirnya, kita akan memanen kelaparan. Ingat, tidak semua kita mendapat MBG.

Ironi Kebijakan

Di sinilah letak ironi terbesar dari tata kelola daerah kita. Di tingkat pusat, pemerintah begitu berambisi merancang program-program megah seperti MBG demi mencetak generasi emas. Namun di tingkat daerah, pemerintah seperti gagap dan menutup mata pada fondasi paling mendasar dari gizi itu sendiri: keberlanjutan dan kesehatan lahan pertanian. Bagaimana kita bisa pongah bicara tentang ketahanan pangan, jika pemangku kebijakan masih menganggap remeh saluran irigasi primer yang tersumbat plastik? Apatahlagi ini sudah jadi siklus tahunan yang tak pernah diberi jalan keluar.

Menyalahkan pola hidup masyarakat memang mudah, tetapi membiarkan pemerintah lepas tangan adalah kekeliruan struktural. Banjir sampah di jalanan sepekan ini adalah bukti nyata dari lumpuhnya sistem pengelolaan limbah di Bantaeng. Masyarakat membuang sampah ke selokan bukan semata karena miskin kesadaran, melainkan karena absennya fasilitas bak sampah yang memadai di ruang publik dan tidak adanya ketegasan regulasi.

Sampai kapan aturan daerah tentang pengelolaan sampah hanya menjadi macan kertas di atas dokumen dinas? Selama pemerintah menganggap urusan sampah bisa selesai dengan Jumat Bersih, dan bukan “darurat ekologis”, maka selama itu pula pemerintah sedang memelihara bom waktu bencana.

Dengan dingin, Pain secara filosofis pernah bilang:

(Tada ikiteiru dake de, ishiki sezuni tasha o kizutsuke ru noga ningen da.) “Hanya dengan hidup saja, manusia adalah makhluk yang menyakiti pihak lain tanpa pernah mereka sadari.”

Gaya hidup praktis masyarakat modern yang mengandalkan plastik sekali pakai—yang dipandang sebagai hal lumrah—ditambah dengan keangkuhan birokrasi yang lambat bertindak, tanpa sadar telah bersekongkol menjadi mesin penghancur bagi masa depan pangan para petani di pedesaan.

Memutus Siklus Kebencian Ekologis

Pain selalu bicara tentang siklus permusuhan yang tidak akan pernah berakhir jika tidak ada pihak yang mau memutusnya:

(Hito wa, kizutsuke awanakeba, tagai o rikai dekinai.) “Manusia tidak akan pernah bisa saling memahami jika mereka tidak merasakan rasa sakit yang sama.”

Hubungan kita dengan alam belakangan ini menyerupai siklus permusuhan. Kita menyakiti alam dengan gaya hidup yang abai dan kebijakan yang pasif, lalu alam membalasnya dengan luapan air dan limpahan sampah di sepanjang jalan dan sawah. Ironisnya, kita—baik masyarakat maupun pemerintah—sering kali mengeluh seolah-olah kita adalah korban yang paling suci, tanpa pernah mau memahami jeritan tanah yang kita tinggali.

Besok, langit di atas kita mungkin akan cerah dalam beberapa hari. Hujan pasti akan reda. Namun, jika kita memilih tetap bebal, alam tidak akan lagi menegur kita baik-baik. Ia akan menjatuhkan vonis mutlaknya, berdiri layaknya Pain di atas langit Konoha, mengumandangkan maklumat tertingginya:

(Itami o oboe, itami o omoi, itami o ukeire, itami o shire.)”Rasakan penderitaan, pikirkan penderitaan, terima penderitaan, kenali penderitaan.”

Kita sudah merasakan, menerima, dan mengenali penderitaan. Berkali-kali bahkan. Sudah waktunya kita menghapus penderitaan itu. Sebab jika tidak, hujan mungkin hanya sekejap, tapi duka kita mengabadi.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *