Hadap Diri

Bagai cermin pecah seribu, saat perawakan mulai punah, dan kecamuk yang diaduk-aduk lalu remuk, menjadi remah-remah, lalu manusia dengan mudah meremehkan.Dinamika dari bekas koyak dan tombak kisah perjalanan hidup setiap manusia untuk tidak gegabah, atau memaksakan yang berujung petaka kedirian yang masih suka berkedok. Wow menohok.

Menakar, menukar nalar.  Ada yang mulai tidak ramah. Khilaf dan lari dari tungkai makna.  Tetiba tawa Buya lepas di tengah orang-orang dengan tubuh dan atributnya dipenuhi slogan. Serta di sekeliling tampak jinak, namun liar mencari mangsa. Serta beberapa di antaranya dengan selekta kata minim data berlagak. Buya mengumpan dan memantik nalar Danu yang sepi.

Danu mengakui sebuah kesalahan tempo hari, terlalu sensitif kata Buya. Lengah atau jengah keduanya bertaut, sumringah atau pongah itu menjadi pertaruhan.  Letupan manusia kian menggema, menjadi mercon, ada yang seolah mercusuar di antara terang yang sudah ada. Memilih cahaya yang lain walau tampak redup, hanya remang tanpa gemerlap serta  temaram. Lalu beranjak menuju terang, yang sesungguhnya juga berkalang ilalang.  

Sebagaimana Rumi lupa hadap diri,  ketika salah menafsirkan ujian gurunya. Ketika gurunya menguji menyuruh Rumi untuk segera membeli arak/tuak. Rumi menolak dengan lantang menguatkan dirinya yang alim dan ahli agama.

Namun, gurunya kekeh agar kiranya Rumi segera mencari tuak. Rumi masih menolak dengan argumen. Wahai guru, apa kata orang nanti ketika mereka melihatku menenteng arak. Mereka akan meghujamku dengan umpatan, hinaan serta cacian. Sementara saya ini dikenal sebagai seorang yang taat beribadah, cerdas serta berpengatahuan dalam agama. Gurunya tidak mau tahu alasan itu. Maka segeralah Rumi memenuhi suruan gurunya.

Tetiba tanpa diketahui Rumi diincar, di ikuti, hingga pada akhirnya berkerumun sambil mengolok-olok Rumi, saat setelah Tuak telah di tangannya. Semua menghardik dan mencaci sebisa mungkin.  Seorang pemuka, dan ahli agama katanya. Toh juga memenuhi hasratnya dengan tuak.

Rumi tak bisa mengelak. Seketika seseorang hendak menggebuki, tetiba gurunya hadir di tengah kerumunan dan mencegah amarah, agar tidak gegabah mengambil sikap dan tindakan kepada Rumi.

Sang Guru berbisik menguatkan dan mengingatkan Rumi. Ini baru sebotol Tuak. Maka jangan pernah merasa paling ini dan itu. Ilmu, kelebihan, skill, kepandaian tidak harus kau jadikan kebanggaan. Namun, bagaimana menjaga dari segala siasat godaan nan memesona, atas segala apa yang menjadi kelebihanmu.

Masih banyak yang subjektif. Menganggap sepele, padahal tidak receh. Jarang di antara kita secara objektif. Buya menaruh gelas kopinya. Menemukan harapan, dari setiap kuantum ilmu yang sederhana, tidak harus merasa paling mumpuni.

Apatah lagi pamer kepandaian. Yah. Begitulah Buya, setahuku dulu penuh dengan riuh tepukan, pengagum bahkan fans berat dengan liukan yang menyeret rasa, sampai pada titik Buya telah usai dalam sebuah  pertarungan diantaranya adu skill dan kontestasi mengeksplorasi demi sensasi.

Sebenarnya menurutnya sudah usai pencarian jati dirinya. Begitulah Buya yang dulu pernah merambah dengan penuh pesona, kemampuan mumpuni dari talentanya. Kini Buya telah hadap diri.

Sama kisah seorang Umbu Landu Paranggi. Saat setelah membangun kedirian sastrawinya di setiap jiwa-jiwa pengelana sepertinya. Saat tahta dan kekayaan sebagai pewaris, seketika dia lepas, Umbu hempaskan dengan memilih hadap diri menjadi pejalan serta penyair sunyi.  Tidak butuh pengakuan lebih dalam karyanya. Namun, namanya mewangi seperti sajak-sajak yang dibacakan oleh yang pernah berinteraksi dengannya. 

Di sebuah laman menemukan apa yang Buya, Danu, dan saya pikirkan itu tertuang, saya tertegun. Di sana disuguhkan kata self awareness: kesadaran diri. Yang dimaksud dengan kesadaran diri adalah kemampuan individu dalam mengenali dan memahami diri sendiri secara menyeluruh, mulai dari memahami sifat, watak, perasaan, emosi, cara pandang, pikiran, dan cara beradaptasi dengan lingkungannya. 

Self awareness juga berarti kemampuan melihat diri secara objektif dengan melakukan refleksi dan introspeksi. Dengan demikian, individu dapat memikirkan perilaku dan gaya hidup yang dilakukan sebagai suatu kenyataan. 

Untuk mendalami pemahaman kita mengenai self awareness, terdapat beberapa pengertian kesadaran diri menurut para ahli. Menurut Listyowati (2008) self awareness adalah kondisi ketika seseorang dapat memahami dirinya dengan sebaik-baiknya dengan kesadaran terhadap pikiran, evaluasi diri, dan perasaan. Hal serupa juga dinyatakan oleh Oden, Miner-Holden, dan Balkin (2009). Selain itu, Yuliasari (2020) menjelaskan bahwa self awareness  memiliki tiga aspek, yakni kesadaran diri emosional dalam mengenali perasaan diri, penilaian diri, dan kepercayaan diri. 

Nah. Kemudian saya merunut. Menata dan mendata agar dapat informasi dari halaman waktu yang berlalu. Kemudian mendeteksi, bahkan mengiterupsi, ketika itu saya terlalu percaya diri, kurang tahu diri dan kurang teliti cenderung gegabah.

Buya tertawa, Danu mencoba tersenyum seolah meledek.  Saya susuri kembali sebuah peristiwa namun saya terpental jauh dari ingatan-ingatan. Buya mengingatkan! Semua telah usai. Walau hari ini adalah sesungguhnya masa lalu.  Ah. Makin kabur dan ngawur saja! Kata Danu sambil mengembuskan bara tembakau, dan menjadikannya asap seakan mengintimidasi suasana.

Analisis saya terbatas, secara psikis cukup mengintimidasi setiap geliat, gejolak yang lama terjenak. Tetapi kadang saya  berpikir jauh lebih pengecut saja, agar tidak terjebak dan apatah lagi bertindak seolah pahlawan. Kembali  Buya mendeteksi nadi-nadi pikiran dan sentimentil itu. Betapa hal demikian cara melawannya dengan diam. Tidak perlu klasifikasi. Tetapi secara kesatria sambil tangannya bergerak mengarah ke atas meneguhkan!  Tanpa merasa paling benar, paling tahu atau beberapa paling-paling yang lain. 

Danu mulai perlahan melunak pada setiap reaksi yang anti paling merasa ini dan itu. Padahal masih  suka membuat kekonyolan.  Saya seperti biasa menjauh dari setiap kerumunan, yang dulu pernah ada menjadi bagian pelengkap perjalanan waktu. Sebutir debu cukup melengkapi setiap peristiwa sejarah.

Tetiba Danu menyambar dengan berucap sesuatu! Dan terasa saya cukup saya kenal kalimat ini, entah dari mana Danu mulai latah: Danu menyemaikan kalimat, “Walau kelak kau tanpa nama tanpa pusara untuk di kenang dalam taburan bunga sejarah itu sendiri.” Tetaplah menghadap diri. Jangan paksa pengakuan yang menipumu setiap saat.

Tidak terasa matahari telah setegak. Selagak manusia yang makin mangkir , untuk sejenak mampir meski di hilir. Sambil menikmati aroma bising pengakuan yang menanti senja katanya. Biar lengkap cara romantika yang palsu.  Buya meneguk kopi pesanannya yang sengit pahit dan manisnya. Danu masih bersama tembakau kesenangannya. Saya memilih menulis diam-diam narasi ini di tengah ramainya percakapan sekitar.

Kredit gambar: https://wolipop.detik.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *