Cinta dan Kemanusiaan

Jauh di lubuk hati, Bisma sebenarnya juga jatuh hati pada Amba. Tapi ia ingat sumpah selibatnya. Meski ditolak, Amba tak menyerah. Ia mengikuti Bisma ke mana pun pergi.

Tanpa bosan, Amba terus meminta Bisma untuk menikahinya hingga suatu kejadiaan nahas. Bisma yang berniat menakut-nakuti Amba dengan anak panah, tanpa sengaja melepaskan anak panah hingga mengenai Amba.

Dengan memeluk Amba, Bisma pun mengakui perasaannya. Lega mendengar pengakuan Bisma, Amba berjanji untuk bereinkarnasi sebagai pembunuh Bisma, agar mereka bisa bersatu di keabadian. Begitu pun Bisma, ia berjanji akan pasrah ketika titisan Amba akan membunuhnya.

Apalah arti ikrar dan ikatan, jika hanya untuk saling menyiksa, dan menyisakan rasa yang kemudian membuat jiwa manusia terpaksa menerima, menjadi duri dendam, merasa terkhianati, ketika rasa itu sudah sepenuhnya tercurah. Namun, tetiba  terhasut hasrat dari manusia itu sendiri. Bertaruh gengsi, serta cara mencintai secara berlebihan. Atau dengan segala cara agar keduanya sama-sama takluk.

Bisma hanya bagian dari kisah sejatinya ikrar dua manusia. Meniadakan hasrat seorang Bisma hingga menemukan keabadiaan, tetapi dia tersiksa, terdera rasa, tercabik-cabik inginnya kembali menjadi manusia biasa, dan merasakan kembali getir, pahit, dan menemukan kembali cintanya tak direkayasa kepada Amba. Tanpa memaksakan diri keduanya Amba dan Bisma beringkarnasi. Ingkar dari kodratinya sebagai manusia. 

Danu telah pulih dari kantuk, berselang kemudian, percakapan mengalir. Pandu mendadak seakan  mengugat jawaban dari Danu. Mulai berkisah, Danu menjadi pendengar, penyimak yang baik. Dengan tidak menyentuh gadgetnya meski dering telpon sedikit mengganggu suasana. Mencoba mencerna sembari mencari jawaban yang sesuai. Tentang firasat, alam sadar, imajinasi. Hingga wasiat cinta dia lakoni dalam biduk rumah tangga dan sisi lain  kemanusiaan,  terbahas di sudut pagi menjelang matahari beraroma keluhan anomali cuaca, di  serambi mukim Danu.  

Prolog Bisma mengantar Pandu. Sambil terdiam bagai mendengarkan dongeng pada perwayangan. Pandu menyimak secara seksama. Sesekali menginterupsi dengan argumentasi terkait persona dan pesonanya yang kini mulai dia kudu berhati-hati atas setiap gejala, gejolak yang sering melonjak. Membuatnya menjadi paranoid, trauma dan mulai menjadi kacung bertabiat.

Saya kemari menemui bukan secara kebetulan. Kutemukan satu dua larik, kau pernah menuturkan pada sebuah halaman dari judul Narasi Cinta dan Kemanusiaan. Danu terdiam. Mengingat yang sejauh ini dia sudah lupa. Bahwa pernah ada narasi saat dia moncer-moncernya, getol melintasi dunia maya Facebook kala itu. Hingga seorang Alkemis bernama Daeng Litere tertarik. Maka dengan segala waktunya Daeng Litere menjadikannya halaman demi halaman, di-print out. Lalu dia cetak walau melalui secara sederhana. Artinya tanpa melewati birokrasi yang rumit, murah meriah. Yang ada adalah jiwa altruisme menjadikannya sebuah anak ruhani. 

Danu terjenak, tidak harus gegabah berloncatan bangga. Justru semakin membuatnya merasa lebih tenang, walau tegang. Bercampur aduk. Seorang Pandu datang setelah pernah membaca sebuah kalimat dalam buku itu. Yah. Cinta dan kemanusiaan. Di mana dia mengalami secara psikis, terhadap pasangannya, serta menaruh rasa kepada orang lain. Dua perangai kemanusiaan. Pandu harus  mampu meredam dan harus melepas cinta dan kemanusiaan yang palsu. 

“Kau boleh nemilih pada setiap interaksi kemanusiaan itu sendiri. Kau merasa diperlukan seperti kambing congek, atau kau menjadi benalu bagi setiap dari mereka.” Danu meluncurkan kata. Pandu menyimak.  Di dalam suasana kelompok atau di mana saja perjamuan itu ada. Danu mengisyaratkan sedemikian itu. Pandu kembali  terdiam mencari dirinya yang tersandera oleh sebuah keadaan yang dia merasakan sensasinya,  pikirkan, dan dia ciptakan sendiri.  Menjadi petaka jiwa gamangnya kali ini. 

Tidak perlu jadi Bisma. Tetapi setidaknya coba dengar kisah yang satu ini lagi. Bagaimana Rahwana menakkukkan Sinta dengan cara meniadakan dirinya sebagai keangkuhan, meredam rindu dan syahwatnya, dan rela mati atas nama kesatriannya sebagai lelaki.

Sementara bernama Rama, dengan aroma tubuh dan perawakannya yang gagah serta  menawan, ditantang Rahwana untuk secara  kesatria. Rahwana  tertuduh buruk, dan dikenal dasamuka (sepuluh wajah), sampai menjadi olok-olokan melekat pada dirinya. Tetapi berusaha meredam amarahnya atas kehinaan itu.

Bahkan Rahwana pernah dikhianati oleh saudaranya sendiri, tanpa dia harus sakit meradang lalu merenungi setiap  nasibnya! Dia justru menjadi lebih kuat dengan segala kekuatan tersisa atas cinta terhadap rakyat dan negaranya Alengka.

Rasa cinta kepada semesta jiwa para rakyatnya ia bertaruh, dan cinta memilihnya mati secara kesatria.  Apa yang terjadi?  Sinta yang merasakan sesuatu pada perangai dan sejatinya cinta serta jiwa kemanusiaan yang agung sesungguhnya. Dia  temukan pada Rahwana.

Ada banyak rekayasa di sekitarmu. Ada potensi khianatimu. Lantas apakah harus kau meradang, menaruh dendam?  Ada empat hal kau harus jalani, menerima secara lapang dalam merengkuh, dan menempahmu : tahu diri, tahan diri, sadar diri, dan hadap diri, lalu kau runut itu setiap saat.

Setiap peran manusia ada masanya, tergantung di sesi mana dia kemudian menyelinap, kabur, ngacir dan lari terbirit meninggalkan zona tak asyik. Dan apakah pencariannya juga aman dan menemukan secara langsung zona nyaman? Itu tergantung kembali individu manusia itu sendiri dalam memilih, memilah dan bahkan merekayasa sebuah yang biasa saja menjadi luar biasa.

Sama denganmu! Pandu menjawab cekatan dengan mengumpan pertanyaan. Apa maksudnya sama? Ok saya ubah menjadi saya. Danu mengurangi tensi potensi debat, secara terjajal dan mudah jatuh secara nyali dan mental, atau sensitif.  Sebagaimana  persepsi yang menganggap perasa itu mudah terbawa emosi, merajuk tanpa tajuk.  Padahal yang merasa dirinya petarung. Justeru tenggelam dalam bara emosi yang cukup tendensius.  Gunakan salah satu jurus, agar kau tak terjerumus. Kalimat Danu menggugahnya. Pandu merasa semakin betah.

Percakapan makin mengalir, kopi tersisa ampas, tergerus seruputan yang tidak terasa. Bahkan sebungkus Dji Sam Su tersisa tiga batang pula. Danu mengumpan kembali:  Kencana cinta tak perlu kau gugat. Biarlah dia berkelana di tengah kemanusiaan yang semakin tak karuan menentukan sikap, prinsip bahkan jauh dari realitas. Minim kualitas. 

Cinta dan kemanusiaan. Bukan sekadar kau tafsirkan sebatas prasangka antar asmara dan sejoli. Seperti mereka sambil mengumpat diam-diam mengintip percakapan kita. Mereka menginterpretasi terlalu sempit. Tapi tidak harus kau gugat, dan memaksa mereka untuk memahami. Biarkan mereka menganggap ini hanya jerami, lalu dia bakar semudah menjadi abu, diterbangkan angin kesiau yang juga risau.  Hidup ini serta kemanusiaan asalah tikai, bisa jadi perisai, tergantung cara kau menyelami, memahami. Tanpa harus merasa paling megerti. Apatah lagi memaksakan mau dimngerti! Ah. Terlalu melebar kita ini. Danu hampir juga terjebak dalam baranya yang dia karamkan selama ini.

Sudahlah. Hidup memang sedemikian dibuat rumit. Tak setumit pula kau sekadar menjinjit. Tetapi setelah kau hadapi dirimu sendiri. Maka di luar sana. Hal sulit kau mampu secara aktraktif, kreatif, bisa mengemas menemukan cara cinta dan kemanusiaan itu,  kau perankan di setiap panggung sandiwara kehidupan kemanusiaan,  yang semakin kurang belajar dan berlatih, mengasah dan mengasuh diri, mengeksplorasi dalam berakting, sebagai kejujuran murni pada situasi yang palsu.  Tetiba karib Dirhas hadir memainkan sebait, dalam petikan kidalnya yang khas. Menyusuri lembah kenangan bersama.

Kredit gambar: Riris facebook


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *