“Adalah sebuah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.” Ah, Itu sudah umum dalam kita mendefenisikannya. Namun ada filosofi lain yang menandai, mengurai sebuah masalah dengan menciptakan masalah!
Sepucuk surat Umbu layangkan, sebuah hamparan sabana dari tanah Sumba menghampar pada radar kehidupan yang ditimpuki masalah. Akan menjadi binasa, tanpa harus mengemas dengan teliti, sigap, dan siaga. Lalu kau hidangkan sebuah telaga jiwa, bukan menunggu bagai pungguk merindu bulan turun menyembuhkan. Atau menunggu wangsit dari langit, di tengah prahara manusia yang makin sengit.
Percakapan kami via telepon bahkan lebih. Mengalir meneguhkan dan mengurainya, setiap teguk percakapan kami yang seperti biasa di kopi “Assiama” kala itu. Bagai kuda pacu Sumba membawa pengembara hingga ke tanah bertuah.
Umbu mulai mengurai tentang sosial, budaya, agama, dan kemanusiaaan. Saya termenung kembali. Jauh di antara belantara peradaban, kebudayaan serta pengetahuan yang kini mulai terkikis oleh sifatia, dan kodratinya manusia yang dilumuti rasa gengsi pada setiap reaksi dalam menyikapi riak-riak masalah.
Misalnya saya, paling menghindari masalah itu. Ada ketakutan, merasa paling benar. Kalut, cari pembelaan. Kadang berdialog memaksa Tuhan untuk menyelesaikan. Atau mencari aman, dengan menghindari masalah. Umbu menepukku. Itu sama halnya menumpuk masalah dan akan menjadi keputusan yang konyol. Seorang Umbu memandu dengan teduh. Mengajakku mengayuh di samudera pengetahuan yang melengkapi literatur pada kerangka berpikirku yang seolah terstruktur padahal semrawut. Sembari mengurainya, Umbu menghamparkan sabana jiwa, pada realitas dan kualitas manusia. Dalam sebutir debu bahkan menjadikanku “abu”. Saya tercekat, seketika Umbu menyajikan, bahwa hidupnya sebuah kehidupan karena adanya detak nadi yang disebut sebagai masalah/tantangan hidup. Masalah ibarat gerbong kereta api yang tak berujung, datang silih berganti nyaris tanpa jeda.
Fenomena sosial dalam interaksi antar manusia sangat dinamis dan akan selalu berputar dalam lingkaran permasalahan. Baik pada area privat maupun area publik yang diharapkan bermuara pada sebuah solusi untuk kemaslahatan bersama.
Umbu melanjutkan, sambil menyiapkan seduhan kopi. Di mana rentetan gerbong masalah yang terus berputar ini, dengan munculnya ketakutan, kekhawatiran ataupun keragu-ragan yang membawa kita untuk berupaya menghindari atau lari dari masalah. Sehingga dampaknya justru semakin menimbulkan efek bola salju, terus menggulung menjadi bola besar yang bisa menghancur leburkan pada jangka panjang.
Saya mencoba menyela. Lantas apa yang harus dilakukan?
Umbu menangkap rasa kekhawatiran saya, serta seribu ketakutan. Jemput masalah itu, bukan sekedar dihadapi, lalu ciptakan masalah-masalah kecil di depannya, agar dapat mengurai masalah besar di belakangnya. Sehingga dapat mengurangi resiko benturan lebih besar, atau bahkan benturan itu bisa dilenyapkan sebelum tiba dihadapan kita. Wow. Saya tercekat terjenak. Umbu memberi ilustrasi dengan contoh sederhana, konflik antar kelompok tidak mungkin terjadi apabila tidak ada konflik antar individu sebelumnya. Konflik antar individu tidak mungkin terjadi sebelum ada konflik antara individu dengan dirinya yang tidak terselesaikan.
Maka perlu ada langkah antisipasi sebelum terjadi konflik antar kelompok, kita harus selesaikan terlebih dahulu akar masalah paling mendasar, yaitu konflik antara individu lain seacara tuntas dengan dirinya sendiri.
Ciptakan tantangan-tantangan kecil untuk diri kita sendiri. Jawab tantangan itu dengan perspektif yang lebih realistis. Kembangkan pola pikir kolaboratif didasarkan bahwa manusia adalah makhluk zoon politicon. Butuh kerjasama, butuh kebersamaan, butuh perbedaan yg saling menopang satu dengan lainnya. Kikis ego pribadi berujung pada keangkuhan. Wah. Umbu semakin menyeduhkan begitu lezat. Walau kadang kebersaman pecah sebelanga menciptakan luka menganga. Hadapi. Umbu menegaskan.
Tantangan kecil ini akan menjadi kerikil kecil yang disebar bersama, bukan mencari pemenang atas nama. Menghancurkan proses terbentuknya efek bola salju yg semakin membesar bila dibiarkan.
Saya terdiam hanya bergumam, pada sebuah filosofi kembali Umbu dalam konteks pilihan hidup,”Bila ada jurang terjal di depan, apakah kita harus berbalik arah dan pulang? Atau kita bangun jembatan kayu untuk menyeberang.”
Pilihannya tentu membangun jembatan. Dimulai dari mengumpulkan kayu-kayu kecil, merakit, menyusun, merangkai dan mengikat menjadi sebuah jembatan yang kuat. Tentu perlu kolaborasi, perlu kebersamaan, perlu sumbang pikir antar individu. Bukan sekadar sepakat, tidak untuk hanya menjadi pemikat. Atau merasa paling sakti berenang, tenggelam tak dikenang. Namun, mengikat sebuah prinsip untuk menyelesaikan. Bukan saling menyiasati antar individu yang berujung pemecahan masalah. Sama-sama tertinggal tidak sampai ke seberang. Wow. Ini data yang real terjadi.
Saya butuh nyali sepadan. Tak terasa satu jam lebih Umbu mengurai dengan teori tentang sebuah kebiasaan buruk di antara kita. Sepertinya harus mulai percaya diri, tidak panik, tidak menjadi pecundang lagi. Karena setahuku, masih banyak individu yang kutemui dengan menggunakan muslihat untuk sepakat, tetiba menjadi kesumat.
Kabut itu tertimpah hujan sehari. Sepertinya saya masih butuh ditempa. Untuk tidak mudah terjebak pada masalah, atau lari dari masalah. Memilih zona nyaman seperti biasa. Setelah itu merasa paling mampu dan tahu pemecahannya. Padahal saya masih tergugat di tengah masalah yang sepele bin receh.
Umbu mengingatkan saat langkah meski tertatih, ketika menganggap duri itu penghalang. Bersiaplah untuk duri-duri selanjutnya.
Pada akhirnya, saya seperti kalap dengan mengemas, kemudian saya meremas, melepas rasa culas dan cadas setiap aroma masalah menggedor-gedor dinding rasa, prasangka, akal sehat, dan aroma anyir pun sebuah masalah menjadi remuk. Tidak seperti dengan sekadar membakar kayu, menjadi arang lalu menjadikannya abu? Atau menjelma menjadi malaikat seperti sayap-sayap yang kemudian seolah menyeka, membasuh, dan menyelesaikan masalah!?
Setiap masalah ada hikma di baliknya. Hmm. Setelah mendarasnya. Menemukan sesuatu yang berbeda. makna sesungguhnya sisi lain sebagai motivasi meredakan sejenak setiap masalah. Tetapi saya memahaminya berbeda dari sebagian orang, bukan pasrah dan mengalah, menyerah tanpa ada siasat. Hadapi, jalani, buat solusi dan benar, kata Umbu. Cipatakan masalah baru, biar meremukkan masalah lebih besar dan merasakan sebuah klimaks tanpa harus merasa paling solutif.
Masalah itu menjelma menjadi karib, setelah sebelumnya saya remas, remukkan hingga membantaiku hendak bersekongkol dengan masalah lain. Percakapan berakhir sambil mengasuh rindu yang terjeda, di balik jendela waktu Umbu menaruh suluh pengetahuan di seperdua malam.
Sumber gambar: www.garudasystrain.co.id

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply