Dunia smelter serupa kenyataan hidup yang pahit. Di balik asap tebal yang mencakar langit, debu dan polusi menyatu dengan harapan. Panas tungku yang membakar kulit sebanding dengan panasnya doa yang tak pernah padam.
Baginya, tak masalah jika hari ini kulitnya terbakar. Tak masalah jika jari-jarinya hilang demi tungku yang rakus, asal esok anaknya bisa makan dengan layak. Tak ada alasan untuk berhenti berpeluh. Sayang, di balik kursi-kursi penguasa, ada mereka yang menikmati setiap tetes keringat ikhlas itu.
Ketika pabrik berisik oleh suara hak-hak yang digemakan, segalanya berubah jadi petaka. Ancaman dilontarkan: “Esok kau tak lagi di sini.” Atau kalimat dingin: “Harusnya kau berterima kasih.”
Mereka lupa bagaimana bersikap sebagai manusia—berubah jadi setan yang hanya berwujud manusia.
Meski tungku itu memakan waktu yang panjang, baginya tak ada masalah.
Meski tungku itu menelan jantung setiap detik, baginya tak ada masalah.
Meski tungku itu membakar kulit sepanjang waktu, baginya tetap tak ada masalah.
Jika semua itu demi tanggung jawab.
Tubuh yang lelah seketika hilang saat pulang disambut cinta yang hangat. Di balik pintu rumahnya, ada dua pasang mata kecil yang merangkai doa tanpa henti. Meski tubuh rapuh harus berhadapan dengan tungku yang membara, tenaga mereka tetap dianggap tak berharga oleh mereka yang kehilangan nurani.
Asap yang menembus langit bertarung dengan doa-doa yang menghujam pintu surga:
“Lindungilah suamiku. Lindungilah anakku. Lindungilah adikku. Lindungilah seluruh jiwa yang terbakar.”
Namun, tubuh yang ikhlas tetap tak berarti di mata penguasa yang memuja uang tanpa belas kasih.
Jika keadilan adalah janji negara, maka tungku yang menyala tanpa henti adalah saksi bagaimana janji itu diludahi. Hak yang dirampas dibungkam dengan ancaman, demi membuat perut tetap terisi esok hari. Ketakutan itu seolah menyinggung nama Tuhan, sementara manusia arogan berpesta pora di atas tubuh yang melepuh, jari yang hilang, dan anggota badan yang lenyap dimakan api.
Wajah buruh penuh lelah. Tak ada senyum di pipi yang kian tirus. Debu menutupi kulitnya yang layu, tangan tetap mengepal harapan dan doa.
Sesekali tawa terdengar sunyi—tawa yang tak mampu mengalahkan kerasnya smelter, yang menelan seluruh hak para pejuang.
Hak itu sengaja dihapus. Hak itu sengaja dibakar bersama tanah.Lenyap terbawa debu yang tebal.
Upah berteriak marah pada ketidakadilan.
Ia dikerdilkan dengan skema yang apik, dibungkam dengan suap yang mengenyangkan anjing-anjing penjilat smelter.
Tungku itu bak neraka kecil, namun menjadi surga bagi mereka yang meraup keuntungan.
Lalu, kekuatan apa yang mampu mengalahkan para pejuang keluarga?
Siapa yang lebih kuat: keyakinan terhadap kebenaran, atau kezaliman yang merajalela?
Api yang menyala di depan mata tak membuat buruh berhenti. Justru di dalam kobaran itu, kekuatan semakin gila—sebab doa-doa yang dilangitkan ikut terbang bersama asap, menembus langit, melawan seluruh harapan yang hendak ditelan.
Sudah seharusnya negara hadir, bukan sekadar mengutip pajak dari pabrik, tetapi menjamin hak-hak buruh terlindungi. Tidak boleh ada lagi upah yang dipermainkan, keselamatan yang diabaikan, atau suara yang dibungkam dengan ancaman. Karena ketika buruh diperlakukan tanpa nurani, maka pembangunan hanyalah pesta pora di atas tubuh-tubuh yang melepuh.
Buruh smelter bukan mesin yang bisa diganti ketika rusak. Mereka adalah manusia, kepala keluarga, dan pejuang kehidupan. Menghormati mereka berarti menghormati masa depan bangsa.
Kredit gambar: VioIndonesia

Lahir di Jeneponto 1994. Seorang ibu dari do’a bernama Divyannisa Isvara Gauri, sekaligus seorang fisioterapis yang aktif melayani masyarakat, terkait dengan Rehabilitasi dan Edukasi Ergonomi. Ia menempuh pendidikan di Poltekkes Kemenkes Makassar (D3 Fisioterapi) dan melanjutkan ke jenjang S1 di Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Bagi Wahdat, dunia kesehatan bukan sekadar profesi, tapi ruang pengabdian yang ia jalani dengan hati. Di sela-sela pekerjaannya, ia merawat dan membesarkan anaknya dengan penuh cinta, dua peran yang saling menyempurnakan. Kini, bermukim di Bantaeng bersama keluarga kecilnya.


Leave a Reply