Arogansi ilmiah bukan hanya masalah pribadi seorang ilmuwan atau akademisi, melainkan penyakit struktural yang dapat mengubah arah perkembangan peradaban.
Ketika keyakinan absolut pada satu paradigma, metode, atau interpretasi menguasai institusi ilmu, maka seluruh mekanisme produksi pengetahuan dapat berubah menjadi instrumen kekuasaan.
Dalam sejarah, kita melihat betapa berbahayanya ketika ilmu berhenti menjadi sarana pencarian kebenaran dan justru menjadi alat legitimasi ideologi atau kepentingan ekonomi-politik.
Dampak pertama yang paling kentara adalah hilangnya ruang dialog kritis. Arogansi ilmiah membuat komunitas pengetahuan cenderung mengabaikan atau bahkan membungkam pandangan yang berbeda. Hal ini bisa terjadi di lingkup akademik—misalnya melalui penolakan publikasi terhadap penelitian yang bertentangan dengan teori dominan—maupun di ruang publik, melalui pembentukan opini bahwa sudut pandang tertentu adalah “anti-ilmiah” tanpa mau memeriksa argumennya secara mendalam. Fenomena ini pada akhirnya menciptakan iklim intelektual yang kaku, di mana inovasi radikal sulit muncul karena dianggap menyimpang dari “aturan main” yang berlaku.
Dampak kedua adalah reduksionisme kebijakan. Ketika pembuat kebijakan mengandalkan saran dari kalangan ilmuwan yang terjebak dalam arogansi epistemik, keputusan yang dihasilkan sering kali tidak mempertimbangkan dimensi sosial, budaya, dan etis dari sebuah masalah. Contohnya terlihat dalam kebijakan pembangunan teknologi besar-besaran tanpa analisis dampak lingkungan yang memadai, atau dalam penerapan algoritma kecerdasan buatan yang mengabaikan bias sosial. Arogansi ini tidak hanya merugikan kelompok tertentu, tetapi juga berpotensi mengancam stabilitas ekosistem dan keadilan sosial.
Dampak ketiga, yang lebih subtil namun tidak kalah serius, adalah erosi kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan. Ironisnya, semakin ilmuwan memaksakan klaim absolut tanpa memberi ruang bagi kritik, semakin banyak masyarakat yang merasa teralienasi dari dunia ilmiah. Ketika publik mulai melihat sains bukan sebagai proses terbuka, melainkan sebagai otoritas yang tak boleh digugat, maka skeptisisme ekstrem dan teori konspirasi akan menemukan lahan subur. Kepercayaan publik tidak hilang karena sains itu salah, melainkan karena sains terlihat angkuh dan tertutup.
Dampak keempat adalah instrumentalisasi ilmu oleh kekuatan ekonomi dan politik. Arogansi ilmiah yang tidak diimbangi kesadaran etis membuat ilmuwan mudah menjadi bagian dari proyek yang merugikan kemanusiaan, karena merasa bahwa tugas mereka hanyalah “menemukan” atau “menghasilkan” tanpa memikirkan implikasinya. Di sinilah kita melihat keterlibatan ilmuwan dalam pengembangan senjata biologis, teknologi pengawasan massal, atau teknik manipulasi perilaku dalam dunia digital. Semua ini mungkin dibenarkan dengan dalih efisiensi atau kemajuan, tetapi pada hakikatnya mempersempit horizon kemanusiaan.
Dampak terakhir, yang jarang dibicarakan, adalah kemiskinan imajinasi ilmiah. Arogansi epistemik membuat ilmuwan enggan menjelajahi wilayah pengetahuan yang berada di luar paradigma dominan. Padahal, banyak terobosan besar dalam sejarah lahir dari keberanian menyeberangi batas disiplin atau menggabungkan perspektif yang dianggap “tidak ilmiah” pada masanya. Filsafat, seni, bahkan agama pernah menjadi inspirasi bagi teori ilmiah besar. Ketika arogansi menutup pintu dialog ini, maka pengetahuan akan mengalami stagnasi kreatif.
Masa depan pengetahuan bergantung pada kemampuan kita mengendalikan arogansi ilmiah ini. Di satu sisi, kita memerlukan sains yang kuat, berbasis data, dan mampu menghadapi tantangan zaman. Di sisi lain, kita juga membutuhkan sains yang rendah hati, terbuka, dan sadar akan keterbatasannya. Filsafat memberi perangkat untuk mencapai keseimbangan ini: ia mengajarkan bahwa pengetahuan adalah proses kolaboratif antara rasa ingin tahu dan kesadaran etis, antara akurasi teknis dan kebijaksanaan moral.
Jika peradaban ingin bertahan dalam jangka panjang, maka ilmu pengetahuan harus kembali ke akar misinya: melayani pencarian kebenaran yang membebaskan, bukan membelenggu. Tanpa itu, arogansi ilmiah akan menjadi ironi terbesar dari kemajuan manusia—kemajuan yang membangun kemegahan teknis, tetapi menghancurkan fondasi kemanusiaan itu sendiri.
Kredit gambar: Kompas.com

Lahir di Sorowako, 1 Februari 1969. Menempuh studi pada Jurusan Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Sewaktu mahasiswa, ia pernah menjabat Ketua Umum HMI-MPO Cabang Makassar, 1996-1997. Saat ini ia berkecimpung dalam dunia usaha, sebagai Direktur Utama PT. Pontada Indonesia. Telah mengarang buku puisi berjudul, Ziarah Cinta (2015).


Leave a Reply