Seketika tabir terbuka, sebuah kabut seakan sengaja menutupi. Di sanalah saya hampir berhenti pada penyusuran yang sudah di tengah jalan?
Agar tidak kabur, bagi saya masih butuh rekayasa lain untuk menjadi bahan telusur lebih mendekati, biar cukup dasar telusur sebagai penguat, serta pengikat. Bukan diajak merenung semata, dan diceritakan memaksa saya menerima begitu saja.
Tidak juga harus terjebak pada riasan dongeng. Lebih sepadan dengan pembuktian jejak seperti artefak, bukan karena “budele” yang memecah belah “passiamakkang” pada zona yang masih cenderung berpikir “primitif”.
Sebagian memburu pengakuan serta melengkapi identitas. Saya masih suka membantah, jika tanpa pembuktian spesifik, pada sebuah lini masa atau periode dari carut marutnya catatan sejarah.
Ataukah memang kita rada pemalas, dalam menuliskan hal sederhana setiap peristiwa. Sepertinya masa bodoh. Barulah tiba di suatu kondisi, barulah kemudian saling mengklaim.
Leluhur? Kata siapa? Dan menarik periodik dari mana? Bahkan bicara “pinangka” (susunan/urutan keturunan kesekian). Semua punya cerita dan turunan, mulai dari yang dinamai Karaeng, Gallarrang, dan Jannang itu sendiri.
Siang itu, setelah tugas dadakan selesai, merambat pelan. Tetiba saya harus segera pulang, saat Nehru menelpon, bahwa di rumah saat ini, ada yang mencari dan ingin bertemu dengan saya.
Perjamuan itu berlangsung lama di teras baca saya, entah kebetulan atau apalah namanya, arah perbincangan itu adalah seputar catatan yang tercecer, bagaimana leluhur seakan tidak tersemat dan “samara‘” seperti nama pemangku adat lainnya?
Atau, jangan-jangan seakan disembunyikan? Pada jejak namanya yang disebut beberapa tetua, bahkan dari beberapa trah yang konon punya pertautan sejarah di abad delapan belas hingga akhir episode kisahnya dilupakan.
”Ndi. Teako boyai ri sialia, mingka mangengo ri lembarangna se’rea jalur, ka nasaba, konjominjo Nia bang sisambungna niarenga ‘Pama’”. Kata Pak Hamzah sembari kami saling menjabat jiwa, pertalian sumber informasi, dan satu titik nilai bahkan pesan para tetua yang pernah menjabat bagian dari adaka berkata seperti ini:
”Nia intu sekre wattu, ambattuiko lanri naboya assala, rurunganna keturunanna, Nanu paetengngi adaka“. (Kelak suatu saat nanti, akan datang menemuimu, mencari leluhurnya dan itulah trah sesungguhnya, maka akan kembali kelak nilai, adat yang sesungguhnya).
Seiring waktu pesan dari tetua masing-masing, memiliki dasar kuat, dari setiap catatan, meski telah tersobek satu persatu lalu dihilangkan. Akan tetapi, minimal kami dapat walau hanya seterang lentera, seputik pengakuan, secercah harapan, menjadi hamparan yang lapang ditumbuhi nilai-nilai, tanpa harus merasa “tinggi langga“. (paling hebat, jago, sinonim kata sombong, angkuh).
Kehadiran Deng Hamzah, bukan kali ini, kadang tetiba hadir saat hal tepat seperti kali ini, dia ceritakan secarik sejarah, litera yang tertera, membuat saya terdiam, membatin, sambil mereka-reka, benarkah ini?
Daeng Hamzah menepuk pundak saya, memenuhi syarat untuk melengkapi setiap titik penyusuran. Bukan asal nyosor.
Dengan demikian agar melengkapi catatan dan sumber yang cukup menguatkan ini, Puspita saya ajak untuk mendengar secara langsung, juga melengkapi catatannya, serta proses penggaliannya yang begitu kuat tekad bulat.
Tentunya, saya dan Puspita kudu harus berhati-hati kembali, menempatkan syahwat penyusuran, dan rasa penasaran untuk lebih menyesuaikan sisi lain proses identifikasi sumber, dan tidak gegabah. Karena ternyata betapa amat sensitif dan butuh nyali, bahkan sembilan nyawa untuk masuk lebih jauh.
Benarkah? Pertanyaan itu sering terlontar! Tojek injo? Selalu hadir menghuni di benak kami, saat keluarga berkisah tentang bagaimana buyut, ketika masanya, serta peradabannya, seraya kisahnya yang masih saya butuhkan secara runtut, meski bersifat tutur. Minimal sebagai sumber rujukan yang tidak harus menjadi kebenaran mutlak.
Selegit dan sesengit apa sejarah itu digubah? Saya memilih tidak kesusu dan sekadar “erok nikua” (hendak dikata, numpang, nampang seolah pembenaran). Kudu lebih memilih dengan cara yang akan terurai di antara paragraf narasi ini.
Agar tahu diri juga sebagai anak riboko (anak zaman sekarang), tetapi tidak harus mengebiri hak, keingintahuan saya untuk jauh lebih mendalam, dan butuh secara mental, harus melewati dengan segala konsekuensi risiko yang harus dihadapi.
Pola pikir secara budaya! Masih tergolong istilah “primitif”. Cukup rumit, sambil sejarah mencari kambing hitam. Tidakkah seluruh hal butuh diklarifikasi? Justru seolah dibatasi, dan dianggap tabu.
Sementara di sana peradaban dalam penyusurannya menemukan sudah mulai menemukan titik terang. Sementara kita masih termangu dungu, dengan persoalan yang receh, gengsi, hanya katanya! Sumir bin seribu kata “bede” (konon).
Sejarah tutur dituang dan disuguhkan bagai menu hidangan, tergantung selera kita menyantapnya. Seraya sesiapa pemangkunya dan mencatat sejarahnya sendiri.
Agar tidak asal alias abal-abal. Bukan pula kami dianggap piti, dan dituduh bebal. Tapi secara dialektika, dan teori kami jalani, sesuaikan, dan tidak pula harus mudah memercayai setiap sumber secara utuh.
Kami menelaah, bukan menelan utuh, atau sekadar kami kunyah, terolah dan membaca secara seksama yang berhamburan di dinding media dan ruang pengetahuan. Bukan dengan rangkaian imajiner dan membumbuhi beberapa hal, yang sifatnya hanya membuat saya berhalusisnasi.
Ataukah memaksa jika perlu, serta membiasakan, belajar membaca buku tebal, di sebuah kanal, di dinding laman, tentang bagaimana cara merangkai, mengumpulkan, menghipotesa, sejarah yang sejatinya di jaga, justru dijarah.
Tidak juga harus menafikan secara mitologi, atau istilah dongeng yang membius dan bisa saja nantinya menjadi kebenaran mutlak.
Semua ada keterhubungan, tetapi, tidak mengingkari segala yang berhierarki secara keilmuan, dengan berupaya tidak menggugurkan hal yang dihubungkan dengan mitos tersebut. Minimal menjadi “bannang pangjai” dari sebuah sejarah yang disobek sebagian, dari upaya doktrin atas nama tradisi, kepercayaan, membuat cara nalar menjadi stagnan, jatuh tersungkur diantara semak, kabur sejarah.
Seolah mengusik dua hal deduksi dan induksi. Justru kalau perlu keduanya kita jadikan rujukan. Agar tidak saling menyalahkan, menggugurkan satu dengan lainnya.
Saya kembali bertamasya ke sebuah hamparan referensi, penguatan, metode penelusuran sejarah, di mana mencakup empat tahapan utama seperti bernama heuristik (pengumpulan sumber). Di tengah suasana dan keilmuan saya yang amat terbatas.
Tertera dan terurai bernama verifikasi (kritik sumber), lalu interpretasi (analisis dan penafsiran), dan historiografi (penulisan sejarah). Proses ini dimulai dari mencari dan mengumpulkan sumber sejarah, kemudian menguji kebenarannya, menganalisis maknanya, dan diakhiri dengan menuliskan hasil temuan menjadi sebuah narasi sejarah yang koheren.
Setelahnya bernama istilah heuristik (pengumpulan sumber). Tahap ini merupakan pencarian dan pengumpulan sumber sejarah yang relevan dengan topik penelitian.
Sebagai sumber dapat berupa sumber primer (langsung dari pelaku atau saksi sejarah) dan sumber sekunder (tulisan yang ditulis setelah peristiwa terjadi). Metode pengumpulan meliputi wawancara, observasi, dan studi dokumenter (mempelajari arsip, buku, dsb).
Lebih jelas lagi, mengunjungi langsung situs-situs bersejarah untuk mendapatkan sumber yang lebih kaya.
Bagaimana verifikasi? (kritik sejarah). Tahap ini melibatkan penilaian sumber-sumber yang telah dikumpulkan untuk memastikan keaslian dan kebenarannya.
Adalah istilah kritik ekstern: memeriksa keaslian fisik sumber (misalnya, tahun pembuatan, bahan), kritik intern: Menguji kebenaran isi dari sumber (apakah sesuai fakta atau tidak).
Barulah dengan menempatkan interpretasi. Tahap ini adalah proses menganalisis, menafsirkan, dan sebuah sintesis fakta-fakta sejarah yang telah terverifikasi.
Sebuah hal, di mana saya mulai merasakan sebuah sensasi, tapi bukan untuk membuat saya sekadar puas dan berhenti, dengan demikian, informasi selama pencarian/penyusuran. Tetap terjaga, agar tidak terbawa dogma sepihak, serta halusinasi.
Sebuah peneliti menguraikan fakta yang terpisah (analisis) dan kemudian menyatukannya menjadi satu kesatuan narasi yang logis (sintesis). Bukankah interpretasi harus bersifat logis, deskriptif, dan selektif?
Lantas bagaimana dengan istilah satu ini lagi? Historiografi (penulisan sejarah) sebagai tahap akhir di mana peneliti menuliskan hasil penelitiannya dalam bentuk narasi sejarah yang terstruktur.
Penulisan ini didasarkan pada semua informasi dan data yang telah dikumpulkan, diverifikasi, dan diinterpretasikan.
Maka dengan demikian pada penggalian dengan empat metode rangkaian di atas. Sebagai penguatan validasi demi tujuan, merekonstruksi peristiwa masa lalu dengan berdasarkan fakta yang telah ditemukan.
Setelah memahami. Kami mengunjungi makam. Seribu andai dan pertanyaan di benak saya. Sembari menghubungkan beberapa sumber informasi dan cerita dari satu, dua, tiga dan sumber selanjutnya secara internal terlebih dahulu.
Sebagaimana biasa, tidak kapitu-pitu (ceroboh dan serampangan) Membuat rekonstruksi objek selanjutnya, dengan sumber dari eksternal. Sebagai pedoman, petunjuk agar tidak kesasar di tengah gemuruh pengakuan yang masih primitif dan intuitif. Tidak secara dialektika dan cara sejarah bekerja dengan segala rekayasa, atas pembenaran yang butuh validasi lebih dalam.
Terlebih pula seiring dengan dianggap “kapiti-piti” (asal-asalan). Pembenaran sumber yang mulai merasa terkoyak. Antara layak atau tidak! Butuh lebih jeli, lebih menahan gejolak bernama arogansi, saat alur cerita dan sejarah mulai satu persatu dikuliti, minim catatan/tulisan. Baik secara periodesasi, atau kebiasaan dulu seribu kata “bede“. dengan sumber-sumber bukan hanya tutur/ceritera, tetapi di dalamnya saling mengklaim satu dengan lainnya.
Riset? Dari sekian krasak-krusuk. Saya mulai mencurigai, dengan cara observasi yang masih terbata-bata, cenderung tidak tuntas, dengan dalih serta sejuta alasan. Ternyata hanya materi, subjektif, dan mulai menutup kembali lembaran sejarah yang mulai “mabossarang kalengna” (terkuak, terungkap).
Betapa sejarah telah dijarah, kita pasrah dan menyerah. Hanya karena bangsa kita mungkin terlalu pengecut.
Pena telah tak lagi direncong, patah di peradaban yang katanya maju kini, tetapi sangat masih cenderung “primitif”.
Saat para pemimpi telah bangun, dan saat penulis telah mati, sudut pandang ditengkarkan bahkan meliuk-liuk, seperti lekuk sejarah leluhur yang sesungguhnya tidak misteri, hanya saja ditenggelamkan di antara belukar sejarah bahkan ditukar kehadiran pakar dan pendekar baru. Pun juga masih mencomot kisah sebelumnya.
Tetiba Puspita seolah dilahirkan untuk menjadi bagian sepinya manusia yang sigap dan bersiap dengan segala konsekuensi, dari gagap dan kepengecutan seperti saya selama ini, mengalah, cara untuk berdamai. Puspita mendobrak benalu serta cara saya bersikap.
Dia menguatkan, meletakkan sebuah filosofi bertahan dari segala pertunjukan manusia: “Di sanalah harus bertahan, meski pengakuan tidak menjadi prioritas, tetapi demi meretas kebekuan dan kacaunya sebuah sejarah”.
Entah yang mana lebih masuk akal, dengan menghadirkan dialektika sering dihindari, katanya pembuktian, sementara yang ada hanya kebanyolan dan kekonyolan.
Pucuk cinta kepada leluhur terlanjur menyeruak, meski tiada sepadan serta harus sesuai harapan.
Terhadap situasi, kondisi saat ini. Musuh dan lawan, semakin tidak nyata. Hem. Sekonyong-konyong kebohongan itu lebih menjadi kebenaran. Sementara kebenaran itu hanya metafora dan fiksi, terkepung seketika, dari secuping dan sekeping cerita, antara khayalan dan bualan.
Menutup perjamuan narasi kali ini, kutemui seorang penulis, Yuval Noah Harari, tentang peristiwa sejarah, bahwa sejarah bukanlah sekadar kumpulan fakta objektif, tetapi lebih merupakan sebuah “tatanan imajiner” atau narasi yang diciptakan manusia untuk memungkinkan kerja sama massal.
Ditambah kutipan kalimat kunci dari Harari mengenai peristiwa sejarah dan sifatnya: “Manusia menciptakan seluruh konsep ‘tuhan’ untuk menjawab hal yang tak terduga, lalu mengadopsi ‘fiksi’ agung ini sebagai kebenaran dan penjelasan.
Harari juga menekankan pentingnya empati dalam menceritakan peristiwa sejarah yang sulit, terutama kepada generasi muda, untuk menciptakan kesadaran sejarah.
Secara umum, Harari memandang sejarah sebagai alat yang ampuh untuk memahami bagaimana fiksi dan narasi (seperti uang, agama, negara, dan hukum) telah membentuk peradaban manusia dan memungkinkan manusia untuk bekerja sama dalam skala besar, yang tidak dapat dilakukan oleh spesies lain.
Sumber gambar: talkinghumanities

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply