Author: Sulhan Yusuf
-

Menakar Kebangsawanan Petta Tjalleng Daeng Magguliling
Percakapan ihwal Petta Tjalleng Daeng Maggulilling Karaeng Tallua Dongkonga, tidak pernah tuntas pada urusan silsilah. Setiap ikhtiar membacanya kerap berujung pada laku, jarak, dan pilihan etis di tengah pusaran kuasa. Tanggapan M. Yunasri Ridhoh melalui esai berjudul, “Bangsa dan Bangsawan”,Paraminda.com, 28 Desember 2025, menghadirkan satu timbangan konseptual penting, terkait pembedaan tegas antara bangsa sebagai persekutuan…
-

Melatai Negeri di antara Pesona dan Persona
“Janganlah tebar pesona dalam memimpin negeri, bila personamu belum mampu menaklukkan semesta negeri.”(Tajali Daeng Litere, 18 Desember 2025) Sajian tutur Daeng Litere memuat peringatan lembut sekaligus tegas. Ia tidak menolak kepemimpinan, juga tidak mencurigai pesona. Perhatiannya tertuju pada urutan batin. Sebelum pesona ditebar ke hadapan khalayak, kerja sunyi mesti dituntaskan terlebih dahulu, yakni menaklukkan diri…
-

Pengabdian nan Mengabadi
“Amat penting untuk mengintimi perbedaan antara mengabdi kepada negeri dengan mengabdi kepada pengurus negeri. Satu mengabadi dalam pengabdian, sedangkan lainnya sementara dalam kesementaraan.”(Tajali Daeng Litere, 17/12/2025) Ungkapan Daeng Litere menuntun pembacaan ulang atas kesetiaan. Ia tidak menolak pengabdian; ia memurnikannya. Persoalan terletak pada arah serta maksud, bukan semata laku melayani. Arah keliru membuat pengabdian tergelincir,…
-

Tiga “Malaikat” dan Urita dari Emirates
Tiada maksud memanggil malaikat turun ke lapangan hijau, apalagi mengaitkan kemenangan dengan campur tangan langit. Sepak bola tetap urusan kaki dan napas panjang, serta kecermatan taktik via nalar berlaga. Dua pucuk waktu menghidu saya. Pertama, dini hari berselimut Subuh, hingga pertengkaran gelap dan terang. Kedua, hari terakhir, Rabu, 31 Desember 2025. Apa yang elok di…
-

Siapa Pewaris Petta Tjalleng Daeng Magguliling?
Kadang, sejarah kerap menorehkan kisah, tentang mereka yang bertengger di pucuk kuasa. Ia jarang menyapa sosok yang memilih menepi, kala jalan menuju puncak terbuka. Padahal, keputusan menahan langkah, acap kali menentukan keberlangsungan sebuah tatanan. Pada wilayah sunyi semacam itulah, nama Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga menggapai maknanya. Esai saya di Paraminda.com, tentang “Petta…
-

Pelajar dan Literasi Moderasi Beragama untuk Indonesia Emas 2045
Koridor dan ruang kelas di tengah hiruk-pikuk sekolah. Sekotah pelajar berjalan tergesa-gesa. Ransel bertengger di punggung berisi buku pelajaran. Sebagian sibuk bercanda, ada pula yang menunduk memeriksa layar ponsel. Dari mereka, tampak isyarat kecil, masa depan bangsa sebenarnya sedang menghidu mereka. Penuh energi, tanya, dan kemungkinan. Namun, muncul hal lain, sering luput dari sorotan: bagaimana…
-

Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga
Sekira 10 tahun belakangan ini, setiap bulan Desember, baik saat menjelang peringatan Hari Jadi Bantaeng, maupun sesudahnya, saya amat suka mengintimi perkara-perkara berdimensi Butta Toa sebagai julukan Kabupaten Bantaeng. Selain bersilaturrahmi dengan budayawan, tetua negeri, juga amat intens mengeja karya-karya literasi terkait masa silam Bantaeng. Bentangan masanya cukup panjang untuk dintimi, sejak zaman Orang Toala,…
-

Menjadi Manusia Kaloli
Kamu adalah apa yang kamu makan. Isi piringmu mencerminkan kepribadianmu. Apa yang kamu makan mencerminkan siapa dirimu. Makananmu mengungkapkan karaktermu. Kepribadianmu tercermin dalam apa yang kamu pilih untuk dimakan. Tunjukkan makananmu, dan aku akan tahu siapa dirimu. Makanan tidak hanya mengenyangkanmu, tetapi ia mengungkapkan dirimu. Sederet kalimat-kalimat bijak tersebut, paling sering muncul di media sosial.…
-

Dua Kecamuk Amarah Menghidu Hari Jadi ke-771 Bantaeng
Kadangkala satu negeri mengulang hari jadinya, bukan dengan kesemarakan pesta semata, melainkan peristiwa penanda tak terduga. Penanda datang serupa interupsi, agar sekotah anak negeri mawas diri. Sebab, kehadirannya muncul dari arah tak disangka-sanga. Bantaeng, per 7 Desember 2025, sudah memangsa waktu tujuh abad lebih, persisnya 771 tahun. Peringatan hari jadinya tidak main-main. Pasti menghabiskan biaya…
-

Nalar Literat sebagai Fondasi Peradaban
Gedung kadang menjadi saksi atas hadirnya lintasan percakapan unik dan berdimensi ke masa depan. Mengimajinasikan masa datang, berlapik pikiran kekinian, usai mengeja minda masa silam. Eloknya lagi, bila percakapan itu dihelat oleh sekelompok kaum muda-mahasiswa, buat satu negeri, demi tanggungjawab selaku agen perubahan. Bangunan berupa kantor, di dalamnya ada satu sudut ruang, bernama Studio Mal…
