Kembali dari Meja Jabatan, Menuju Bangku Murid

Teman-teman guru Bantaeng yang tak pernah surut belajar. Izinkan saya berkabar. Saling berkabar, bagi saya, seperti menyalakan lampu kecil di beranda: cahayanya sederhana, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kita masih ingin terhubung, masih ingin menjaga persaudaraan.

Kadang, jalan terpendek menuju diri sendiri adalah jalan memutar yang membawa kita kembali ke ruang yang pernah kita tinggalkan.

Dan hari-hari ini, kabar terasa seperti hujan pertama di bulan Desember. Hujan yang turun perlahan, ragu-ragu, tapi membawa isyarat bahwa musim telah berganti. Dalam puisi Joko Pinurbo, Desember selalu seperti ruang teduh di mana kenangan, kesedihan, dan harapan berjalan pelan-pelan berdampingan. Hujan menjadi kabar baik yang menandai bahwa sesuatu sedang dimulai ulang.

Hari ini saya tak lagi berkantor di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bantaeng. Kemarin, menjelang magrib, kabar itu datang. Sebuah kalimat pendek yang bisa mengubah arah perjalanan seseorang. Saya menerimanya dengan tenang, seperti seorang pelaut yang paham benar bahwa angin kadang bergeser tanpa meminta izin.

Siang ini saya meminta meja saya dibereskan, merapikan dokumen, mengumpulkan barang-barang yang selama ini saya pikir tak penting tetapi ternyata menyimpan jejak perjalanan. Serakan dokumen, saya sadar: saya akan memulai lagi dari tempat yang dulu pernah saya tinggalkan. Pulang ke kelas. Ruang belajar yang aromanya tak pernah benar-benar hilang dari kepala seorang guru.

Setelah lima tahun tidak memegang kelas, saya akan belajar lagi. Saya tahu risikonya. Masuk kelas tanpa ilmu yang cukup sama buruknya dengan masuk rumah orang tanpa mengetuk pintu. Guru yang buruk bukan hanya guru yang tidak mengajar; ia juga guru yang tidak sempat mengukur murid-muridnya. Dan saya tidak ingin menjadi itu.

Saya akan ke sekolah, menemani murid-murid. Aduhai. Saya membayangkan kembali senyuman paling hangat yang hanya dimiliki anak-anak di pagi hari. Senyuman yang membuat siapa pun merasa masih punya kesempatan untuk menjadi orang baik. Mungkin nanti, saya juga akan kembali melihat tatapan kosong di tengah hari, saat kantuk dan kebosanan merayap pelan di sudut-sudut kelas. Tetapi begitulah sekolah: dunia kecil yang memutar semua suasana manusia sekaligus.

Jika sejak tiga tahun lalu saya ikut merancang dan menginisiasi beragam program belajar bagi guru dan tenaga kependidikan, mulai dari diskusi kecil yang lembut hingga forum besar yang riuh. maka mulai hari ini saya yang akan lebih banyak belajar bersama guru-guru. Bukan sekadar memfasilitasi, tetapi benar-benar duduk kembali, membaur, menyimak, mencatat dan semoga bisa sehat untuk mempraktikkannya.

Dan percayalah, ini menyenangkan. Saya kembali menjadi “guru belajar”, satu identitas yang tidak pernah saya lepaskan, hanya tertutup sebentar oleh urusan administrasi.

Di titik ini, saya teringat Camus dan tokoh asingnya itu. Meursault yang selalu terasa berdiri beberapa langkah dari dunia. Ia tidak sepenuhnya menolak kehidupan, tetapi tidak juga ikut di dalamnya. Ia seakan menonton hidupnya sendiri dari balik jendela.

Teman-temanku. Ada masanya saya merasa begitu: berada di ruang birokrasi, sibuk memikirkan strategi, target, rapat, dan laporan, tetapi sesekali merasa asing di tengah keramaian itu. Menjadi kepala bidang adalah kehormatan, tetapi ia sering menempatkan seseorang dalam jarak tertentu dari realitas kelas yang dulu membuatnya jatuh cinta pada profesi ini. Kini saya pulang. Jarak itu menghilang. Berharap seperti teman-teman guru di penjuru Butta Toa, saya kembali menjadi manusia yang utuh, yang tidak lagi asing bagi ruang yang membesarkannya.

Beberapa kawan bersedih. Wajar. Setelah bersama bertahun-tahun, kehilangan bukan sekadar soal berpindah ruang kerja. Ia menyentuh hal-hal kecil yang tak terlihat: kebiasaan berdiskusi sepulang rapat, makan siang tiba-tiba, tawaan yang meledak tanpa alasan jelas. Tetapi saya selalu meyakinkan bahwa kehilangan terbesar bukanlah berpisah dari seseorang. Sesungguhnya kehilangan terbesar adalah ketika seseorang kehilangan tujuannya.

Di sinilah saya teringat Viktor Frankl. Psikolog yang dalam penderitaan menemukan teori makna. Ia telah melihat bagaimana manusia bisa bertahan hidup bukan karena tubuhnya kuat, tetapi karena jiwanya mengenali alasan untuk terus melangkah. Baginya, makna adalah lentera. Tanpanya, seseorang akan tersesat meski berada di jalan yang terang.

Saya tidak ingin kehilangan makna itu. Dan saya kira, saya sedang menemukannya kembali melalui keputusan ini.

Dari seberang dan ujung gawai, kawan lain menyemangati saya. Terima kasih. Tetapi sungguh, saya tidak sedang berduka. Tidak ada ratapan, tidak ada rasa kalah. Ini bukan pertandingan. Tidak ada skor yang harus ditutup rapi atau diumumkan. Hidup bergerak maju, bahkan ketika kita tidak menyuruhnya.

Kabar baiknya, saya penganut ajaran di sini, saat ini, kini. Mindfulness mengajarkan bahwa seseorang hanya punya satu ruang untuk benar-benar hadir: detik yang sedang ia jalani. Masa lalu sudah selesai dan masa depan belum menampakkan wajahnya. Maka saya memilih berada di titik ini, dengan tenang dan penuh perhatian.

Saya melangkah bukan untuk mencari kemenangan baru, tapi untuk menjalani babak yang telah tiba pada waktunya.

Ada hal lain yang juga ingin saya katakan: semua akan berakhir. Jabatan, karier, pekerjaan, bahkan nyawa. Tidak ada yang kebal terhadap kefanaan. Waktu adalah gelombang yang tidak pernah gagal meruntuhkan batu.

Karena itu, izinkan saya memohon maaf jika dalam masa saya bekerja bersama teman-teman guru dan tenaga kependidikan, ada kata atau sikap yang melukai, terasa kasar, atau tidak sensitif. Saya pernah keras demi tujuan bersama, tetapi keras tidak selalu benar, meski dimaksudkan baik. Saya manusia, dan saya belajar.

Tak elok juga jika saya lupa berterima kasih. Terima kasih atas penerimaan, masukan, dan gagasan yang teman-teman berikan. Sering kali, ide yang saya serap dari kawan-kawan lebih jernih daripada apa yang saya mampu pikirkan sendiri. Terima kasih atas keterbukaan, bahkan saat kita berbeda pandangan. Saya banyak belajar pada masa itu, dan tak ada cara yang lebih baik untuk menutupnya selain dengan rasa syukur.

Apakah kita masih akan bertemu? Tentu. Saya sekarang guru, sama seperti teman-teman. Kita akan bertemu dalam forum diskusi, obrolan ringan, atau sesi berbagi praktik belajar. Jarak sekolah ke kantor itu pendek. Yang membuatnya terasa luas hanyalah jarak hati kita. Selama kita masih ingin belajar, kita akan terus berjumpa.


Demikian. Guru belajar sampai akhir, dan saya ingin tetap menjadi salah satunya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *