Category: Tungguru
-

Mengantar Anak ke Sekolah: Siri’ na Pacce Seorang Ayah
Sejujurnya, saya sangsi bahwa ayah—yang sering saya panggil dengan Aji—pernah mengantar saya semasa SD ke sekolah. Sejauh memori ini saya gali, sekali pun tidak pernah. Bukan karena terlalu sibuk, apatahlagi karena tidak peduli, tapi mungkin baginya tidak ada hal yang benar-benar perlu dipusingkan. Saya bersekolah di kampung sendiri, di sana teman-teman saya banyak, juga ada…
-

Langkah Kecil Nana, Pelajaran Besar untuk Ayahnya
Di hari pertama sekolah kemarin, saya cuma dapat kiriman foto. Wajah Nana tersenyum malu-malu, diapit ibunya. Ransel baru menggantung di punggungnya seperti sayap kecil yang siap mengepak. Kakaknya yang sulung menjemput di siang hari, dengan bangga dan sedikit gaya. Saya? Absen. Bukan karena tak peduli, bukan pula sibuk luar biasa. Hanya saja, kadang peran ayah…
-

Hari Pertama Sekolah: Di Balik Tas Baru, Ada Anak yang Ingin Dipahami
Bagi saya, hari pertama sekolah bukan sekadar rutinitas tahunan. Bukan cuma perkara presensi, perkenalan wali kelas, atau pembagian jadwal pelajaran. Lebih dari itu. Hari pertama sekolah adalah peristiwa kecil yang menyimpan gema besar. Di hari itu, sesuatu yang belum terlihat mulai tumbuh: keberanian, rasa ingin tahu, harapan yang pelan-pelan mekar seperti bunga liar di musim…
-

Sepedaku, Petani, dan Hujan yang Tak Pernah Lama
Hal-hal baik mesti dirawat. Ia bukan hanya tentang tanaman yang disiram, buku yang diberi sampul, atau rumah yang dibersihkan saban akhir pekan. Ia juga soal tubuh—yang jika tak diajak bicara, bisa diam-diam patah, diam-diam protes. Maka setiap pagi, lutut saya yang sudah lama tak muda, kerap berbicara lirih saat saya memaksanya mengayuh pedal. Seolah ia…
-

Ruang Sadar Pendidikan: Dari Ruang Kelas ke Medan Gagasan
Tempo hari, di lantai tiga Perpustakaan Daerah Bantaeng, Ustaz Kamaruddin menyodorkan saya sebuah buku. Sampulnya hitam kebiruan, dengan siluet kepala manusia yang diisi dengan gambar rak buku. Kombinasi keduanya seolah menekankan pentingnya pendidikan dalam membentuk kesadaran dan identitas, senafas dengan tajuk bukunya, Ruang Sadar Pendidikan. Menerima sebuah buku sejak dulu selalu membahagiakan, apatahlagi lagi jika…
-

Sekolah Biasa Saja: Dari Taman, ke Barak, Hingga ke Salam
Akhirnya, di siang hari yang suam, kala orang-orang sibuk meluruskan tulang belakangnya yang ringkih selepas bekerja, kurir tiba di depan rumah, mengetuk pintu, pelan sekali. Ia membawa paket berisi dua buah buku terbitan Insist Press. Saya menerima dengan riang, laiknya seorang anak yang baru saja mendapat mainan baru. Saya melepas bungkus plastik, membuka salah satu…
-

Nenengisme dan Pendidikan Iklim: Mitos vs Kesadaran Kritis
“Lucu ya, pohon beringin selamat karena dianggap angker, bukan karena sadar pentingnya pohon untuk lingkungan. Ternyata cara paling efektif menjaga alam bukan lewat pendidikan, tapi melalui mitos dan mistis.”— Neneng Rosdiyana (Mazhab Nenengisme) Sepertinya Neneng Rosdiyana benar. Yang menjaga pohon, yang melestarikan hutan, sebaiknya bukan sekolah atau katakanlah pendidikan. Cukup melestarikan dan mewariskan mitos sebanyak…
-

Nenengisme dan Pendidikan Kritis
Halo, kawan-kawan guru. Pagi ini, saya fix jadi pengikut Nenengisme. Kenapa? Coba resapi postingan Neneng Rosdiyana di Facebook tanggal 10 Maret: “Di minimarket, belanja itu cuma datang, pilih barang, bayar, dan selesai. Gak ada obrolan, gak ada tawa, paling cuma kasir yang ngomong. Selamat datang atau terima kasih sudah berbelanja. Tapi di warung tetangga, belanja itu…
-

Ngaji Pedagogi: Jika Guru Berhenti Belajar, Murid Berhenti Bertumbuh
Hanya Guru yang Belajar, yang Berhak Mengajar. Saya ulang sekali lagi, dengan penekanan yang lebih dalam: hanya guru yang belajar, yang berhak untuk mengajar. Kalimat ini bukan sekadar slogan, bukan sekadar rangkaian kata yang enak didengar. Ini adalah prinsip dasar yang harus dipegang oleh siapa pun yang berani menyebut dirinya guru atau sebagai pendidik. Banyak…
-

Revitalisasi Tri Sentra Pendidikan: Belajar dari Yogyakarta hingga Finlandia
Seorang kawan pernah mengeluh, ketika mengundang rapat orangtua murid, hanya sedikit sekali yang datang. Sisanya memilih bekerja, atau mungkin hanya berdiam diri di rumah, tak melakukan apa-apa. Sekolah belum mereka anggap sebagai rumah yang ramah, sedang pendidikan anaknya bukan bagian dari tanggung jawab bersama. Padahal, anak-anak mereka hidup dan besar di sekolah, berjam-jam duduk di…
