Category: Esai
-

Minimnya Pemahaman Filsafat sebagai Akar Arogansi Ilmiah
Banyak orang membayangkan filsafat sebagai bidang yang abstrak, jauh dari “realitas praktis” sains dan teknologi. Padahal, filsafat justru merupakan kerangka reflektif yang memungkinkan ilmuwan memahami batas, asumsi, dan implikasi dari pengetahuan yang mereka hasilkan. Minimnya pemahaman filsafat ibarat seseorang yang mengemudikan kendaraan berkecepatan tinggi, tanpa mengetahui rambu lalu lintas atau peta jalan—kemajuan mungkin tercapai, tetapi…
-

Setetes Peluh Buruh Menjadi Suluh
Narasi ini hanya bongkahan kecil, jerit dan harapan para buruh. Dan detailnya telah tertuang sebelum narasi ini liris. Namun, apa salahnya jika hendak menuang walau sekadar dianggap turut miris atas kejanggalan dari sistem, serta upaya tipu daya dari sekian undang-undang yang dikulum lalu di cicipi dari bibir ke bibir atas nama kebijakan. Jagat jiwanya teruji,…
-

Arogansi Ilmiah dan Minimnya Pemahaman Filsafat
Di tengah derasnya arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita menyaksikan paradoks yang semakin nyata: semakin tinggi pencapaian intelektual, semakin besar pula potensi munculnya arogansi ilmiah. Fenomena tersebut tidak hanya berwujud pada kesombongan personal seorang ilmuwan atau akademisi, tetapi juga pada cara suatu komunitas ilmiah memandang kebenaran—seolah-olah pengetahuan yang mereka miliki adalah puncak yang tak…
-

Kemerdekaan tanpa Ruang: Suara Minoritas di Negeri yang Meriah
Pagi itu, 17 Agustus datang seperti lukisan lama yang digelar ulang: langit cerah, bendera merah putih berkibar anggun, anak-anak tertawa riang mengikuti lomba makan kerupuk, dan para ibu-ibu tersenyum dalam balutan busana nasional. Di udara, lagu Indonesia Raya menggema, seolah mengukuhkan bahwa kemerdekaan adalah milik semua. Tapi di balik gegap gempita itu, ada jiwa yang…
-

Ketika Menolak Tanda Tangan Berujung PHK: Potret Kecil Union Busting di Indonesia
Pagi itu, mataku menangkap pemandangan yang tak biasa. Sekelompok orang berdiri berbaris di bawah terik matahari, wajah-wajah mereka merah, suara mereka membakar udara: “Hidup buruh! Hidup buruh!” Di tangan mereka, spanduk dan poster menggantung seperti luka yang ditunjukkan pada dunia. Aku melewati mereka, menunduk, berusaha tetap berjalan menuju ruang kerjaku yang kecil. Namun, di dalam…
-

Abnormal yang Menormal
Era terkini, segala sesuatu terasa seperti hal yang normal. Kita bahkan tak tahu persis dari mana semua ini bermula. Konten-konten yang menampilkan kehidupan sehari-hari kini dipenuhi hal-hal yang dulunya dianggap tabu, tetapi kini dibungkus sebagai jati diri. Tak ada lagi batasan yang muncul di gawai anak-anak didik kita. Seharusnya ruang digital itu difilter, disaring, agar…
-

Tersesat di Jalan yang Benar
Tersandung pada tapak perjalanan hari ini, mengajak isi kepala untuk berdiam sejenak dalam sunyi. Kilasan kehidupan perlahan terbit kembali, menjelma bayangan yang mengetuk kesadaran. Tertuanglah ia pada catatan takdir yang akan segera dieja, satu demi satu, oleh waktu. Kisanak-nyisanak, pengeja goresan sederhana ini, izinkan aku berkisah sejenak tentang masa lampau. Bukan serupa catatan kelam yang…
-

Bontojai, Campaga, Bontodaeng, dan lainnya
Acapkali dihidu oleh lilitan faktor kebetulan. Waima, di semesta tiada yang kebetulan. Hanya perkara waktu saja belum baku sambung, antara peristiwa satu dengan lainnya. Bila melatai semesta dilakoni apa adanya, maka sambungan peristiwa sungguh merupakan satu kesatuan. Begitulah di hari Senin, 4 Agustus 2025, sejak baskara semenjana teriknya, hingga tiba pada semadya safarnya, sekira sesudah…
-

Merah Putih dan Jolly Roger
Bulan agustus merupakan bulan yang disambut sukacita oleh seluruh masyarakat Indonesia, mungkin saya juga termasuk orang tersebut. Bagaimana tidak? Karena bulan ini serupa bulan deklarasi kemerdekaan Republik Indonesia, tempat kita, bangsa Indonesia bermukim. Meskipun sesekali saya masih bertanya, “Apakah kemerdekaan itu hanya bersifat temporal? Atau justru sesuatu yang seharusnya dinikmati setiap individu bangsa ini hingga…
-

Tentang Kita
Sebuah hamparan menyerta dalam episode perjalanan kita, “Tiga puluh tahun cerita kita tetap ada. Kita disuguhi peristiwa dan tidak mengingat hari. Tetapi kita mengingat setiap momen.” Bilakah suatu saat nanti, bersama memetik melati, maka berbagilah bunga, atau wanginya saja. Saat sesama karib, teman sebangku di kelas, teman seangkatan dalam duka, sedih dan terundung tempaan…
