Category: Esai
-

Merajut Silaturahmi dan Kisah Klasik Alumni 95 Smapat Bantaeng
Di seperdua malam saya masih terjaga, sembari kucegat agar tidak terjebak jauh lebih pengecut! Mengingat momen bagai sekelabat waktu yang hendak kuatur dan kutata kembali. Tetapi yang terjadi hanya rindu sebelanga yang saya harus relakan dan terlewati begitu saja. Di tengah gamang dan bekas selebrasi rindu yang kusisihkan, kutemukan diksi penguat dan pengingat dalam…
-

Tuhan, Tradisi, dan Kartini: Renungan Seorang Perempuan
Hari masih pagi, ketika saya sedang duduk di beranda rumah di kampung, sembari berbincang lewat telepon dengan seorang teman di Jepara, tempat kelahiran Kartini. Hujan baru saja reda, cuaca sangat dingin, lalu sesekali saya meneguk teh hangat yang baru saja kuseduh. Kami sedang berbincang tentang perempuan, pendidikan, dan tradisi. Tiba-tiba saja ia mengirim pesan gambar…
-

Jejak Pustaka Pama’
Pusara dan namanya, cerita serial dari legendanya. Kopi dan kekayaannya, dari cerita hingga pustaka yang dia tinggalkan menyimpan seribu rapang-rapang yang masih kami telusuri. Pustaka tentang istrinya bernama Kr. Sitti, setidaknya kami menemukan jejak dan juga cerita tentangnya. Dengan sekian banyak informasi dan referensi. Kami juga tidak gegabah menyimpulkan. Butuh lebih jauh, mendalami, menyelami segala…
-

Budaya Healing: Antara Cinta Diri dan Komodifikasi Luka
Langit sedang mendung ketika saya selesai mengisi seminar diskusi di suatu kafe di Makassar. Saya tidak langsung pulang. Saya lalu duduk di meja yang kosong sambil memesan hidangan yang cocok di saat cuaca mendung. Sembari melanjutkan buku bacaan saya, di meja sebelah, sepasang anak muda sedang asyik bercakap sambil memegang buku dengan sampul bergambar perempuan…
-

Mudik Spritual
Seiring bentangan waktu beputar, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, Ramadan manakah paling berbekas pada jiwa di sepanjang umur kita. Pertanyaan reflektif ini berkelindan di hari-hari akhir Ramadan. Sudahkah kita menyantap lezatnya hidangan Ilahi di bulan suci itu. Bukankah Ramadan serupa hadiah Tuhan kepada manusia, agar kembali pada eksistensinya. Bulan nan suci itu telah berlalu.…
-

Satu Juta Pohon Matoa pada 22 April 2025
Saat sedang mencari-cari informasi tentang keadaan iklim dunia, saya dikejutkan oleh sebuah laporan yang dirilis pada Januari 2025. Berita tersebut mengulas kondisi iklim global pada 2024, dan seketika itu pula saya merasa terhenyak. Tahun 2024 menjadi tinta hitam yang menodai kitab kehidupan alam. Tercatat, suhu rata-rata global mencapai angka tertinggi dalam sejarah pencatatan modern, menyentuh…
-

Menunda Ritual Jumat?
Menunda ritual Jumat. Apakah terpaksa? Iya! Begitu diperhadapkan pilihan dilematis yang sangat dramatis. Atau saya berdosa dalan dua dimensi perintah antara Tuhan dan ammak (ibu)? Linglung mencari letak ukuran dosa di mana? Saya mulai terlibat dalam dua situasi yang sakral. Berusaha tidak gegabah pada keputusan saat ritual Jumat sudah memanggil. Di mana orang-orang bergegas, lengkap…
-

Trah Seorang Pama’
Apalah arti sebuah trah. Jika menjadikanmu lupa, merasa berderajat paling level atas, akhirnya ingin dipuja-puji. Tetiba Pama’ berucap, “Nakke manna tannu angkaka karaeng nasaba lanri nakke tongji nanu nia risesena pakkusiangna adaka.” Benarkah Pama’ pernah berucap seperti itu?Nyali seorang Pama’ menambatkan pesan bahwa bukan “kella-kella“. Meski satu syarat menjadi rekayasa politik menghambatnya, karena dulu mengangkat…
-

Perantau, Mudik, dan Kampung Halaman
Di penghujung bulan suci, ketika takbir mulai merayap ke sanubari, para perantau berbondong-bondong pulang. Ada kerinduan yang tak tertahankan, rindu akan rumah, rindu akan keluarga, dan rindu akan tanah kelahiran yang selalu menanti dengan pelukan hangat. Jalanan berdenyut dengan roda-roda kendaraan yang melaju, seolah membawa hati yang bergejolak oleh harapan dan kebahagiaan. Mendengar kata “perantau”,…
-

Pama’ Bukan Pramoedya
Pama’ bukan Pramoedya. Selain beda zaman, ada paten dan telaten. Pram dengan segala kehebatan penanya. Pama’ dengan pelana kudanya, serta tuturnya. Kalau Pram menulis, Pama’ mengaplikasikannya. Pram memerdekakan pikirannya, Pama mengalami, mengayomi, dan menjalani dinamika perjalanan sunyi. “Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia,” kata Pram. Pram benar. Ia…
