Apalah arti sebuah trah. Jika menjadikanmu lupa, merasa berderajat paling level atas, akhirnya ingin dipuja-puji. Tetiba Pama’ berucap, “Nakke manna tannu angkaka karaeng nasaba lanri nakke tongji nanu nia risesena pakkusiangna adaka.” Benarkah Pama’ pernah berucap seperti itu?
Nyali seorang Pama’ menambatkan pesan bahwa bukan “kella-kella“. Meski satu syarat menjadi rekayasa politik menghambatnya, karena dulu mengangkat seseorang karena memiliki kesaktian/keahlian khusus yang mumpuni untuk bisa menjadi pemimpin. Pama’ memilih mengalah.
Kami tidak harus gegabah menelan lalu euforia sebagai cucu dan cicitnya. Butuh kekuatan data yang lebih untuk sebuah identitas? Dalam hal trah, kami masih mencari benang merah. Dari sumber didapat tertanggal tiga Maret menemui seseorang bernama Ir. Anwar Kamran.
Satu jam mencoba menelaah kehadiran kami. Lamat-lamat semua mengalir. Benang merah telah ada, tentang nama Pama’ sebagai sebuah trah yang murni.
Terkait trah yang artinya keturunan berasal dari kata truh yang artinya hujan. Hujan selalu menetes ke bawah sehingga trah pun dimaksudkan sebagai garis keturunan yang dihitung dari atas ke bawah (Sairin, 1991: 3).
Dalam masyarakat aristokrat dan monarkis, trah erat berkaitan dengan istilah dinasti atau wangsa. Dalam masyarakat timur yang mengutamakan kebersamaan, seperti yang dipraktikkan oleh sebagian suku bangsa di Indonesia.
Anggota trah seringkali mengorganisasikan diri untuk mempererat hubungan personal di antara mereka. Dalam masyarakat Jawa, sering kali alasan yang dipakai adalah agar mereka tidak saling melupakan satu sama lain (kepatèn obor).
Tetesan, utusan, dan situs nilai manusia dengan keturunan dinamakan. Ditekankan dengan kuat sebagai tetesan darah murni sebuah perangai, dan kekuasaan di identikkan (raja/karaeng).
Senada dengan ulasan singkat tentang trah di laman Kompasiana. Bahwa Trah dibuat salah satunya untuk menjaga budaya atau pesan-pesan moral dari trah pertama dari garis silsilah tersebut untuk menjaga budaya yang dibangun, pesan-pesan moral yang saya bagikan bagi anak cucu dalam trah tersebut.
Kalau terhitung istilah “pinangka/urutan dari atas bernama Serang menghadirkan Ma’dunda turun ke Pama’. Lalu Pama’ turun ke kakek saya bernama Baharu, Baharu turun ke ayah/Tata’ saya. Lalu hadirlah kemudian saya sebagai generasi keempat atau kelima.
Kesemuanya bukan tanpa tujuan, bukan pula “ero‘ nikua“. Tapi ada nilai kebudayaan yang melekat dalam kedekatan dan hirarki kekeluargaan. Meski kadang ada juga tercerai-berai.
Bangga? Tidak harus juga berlebihan. Hanya sekadar memenuhi rasa penasaran, pertanyaan di benak kami. Siapa kami dari mana nasab kami? Sebagai generasi yang kelak akan jauh dari nilai-nilai leluhur.
Berikutnya pencantuman silsilah sehingga dalam status masyarakat tercantum sebagai turunan raja, ya, hal ini hanya sebagai catatan pribadi dalam silsilah keluarga saja.
Setidaknya juga kudu hati-hati, karena kadang ada turunan trah yang berbudaya dan bertingkah laku tidak selaras dengan budaya yang diusung trah pertama. Misalnya, trah pertama dikenal sebagai orang yang Arif, Budiman, baji ampe-ampena, namun ada turunan yang sangat bertolak belakang dari itu semua.
Hal ini sangat mungkin, apalagi mereka yang lebih dari trah kesekian, belum masuk ke puncak trah. Sehingga semua sudah tidak lagi mempunyai rasa yang sama atau tidak nyambung lagi dengan trah pertama.
Pama’ kami tempatkan pertama, meski ada jauh lebih di atasnya bernama Ma’dunda’. Begitu juga Ma’dunda punya tingkatan di atasnya lagi bernama Serang. Sampai pada tiga atau berapa lagi pinangka’na ke atas. Tapi kami tidak harus terjebak sampai ingin merasa untuk pamer identitas. Lalu kapuji-pujiang apatahlagi kajili-jili erok nikua keturunan.
Terlebih sebuah nilai amanah dan penuh risalah yang kemudian memberi kami pelajaran cara bersikap, bertutur, dan segala perangai bentuk identitas kami harus jaga.
Beliau memilih tidak dikenali, yang konon pernah punya kedudukan di masyarakat. Yang nyaris hilang di antara turunannya sebagai Jannang Mappilawing.
Dia memilih diam dari pada mengumbar kehebatannya, kesaktiannya, hingga pada titik nadirnya dia melawan semua ketenaran. Dia hanya butuh kebenaran dan ketenangan yang hening di akhir episode trah-nya dia lepas. Dia merasa sudah tunai dan selesai.
Buat apa trah dia bangun dan bertahan, jika kelak akan menjadi konflik di tingkatan anak dan cucu-cicitnya sebagai generasi yang kelak a’sakransa’ra mami, merasa trah kuat tapi lemah dalam adab. Itu juga kebablasan. Dan pada akhirnya jika tidak mengetahui minimal perangai leluhur dan sejarahnya, maka kelak generasi merasa kelimpungan, tersesat, lebih mengakui sejarah trah orang lain.
Fenomena trah, bertingkah seenaknya, bagai anak panah meluncur tak terkendali. Maka akan menjadi kebablasan mengakui diri keturunan, itu juga buat apa. Sementara sikapnya tidak sesuai defenisi trah itu sendiri.
Ketika seorang bertanya! Kamu trah ke berapa? Apa saya harus bangga? Sebab status sosiallah akan menentukan sanjung dan penghormatan meski kadang perlakuanmu tidak baik-baik saja.
Ada yang menghormati karena terpaksa, karena bermateri, pejabat. Atau ada nama di belakang nama? Tapi bagi saya tidak perlu semua itu. Apa guna memburu sematan kehormatan, jika sekadar nampang dan numpang di pelampung sejarah penuh catatan yang cacat oleh para pencatut.
Ada juga berkumpul dengan trah, tapi demi pamer saja. Hendak dikata, lalu merasa paling murni, mulia namun lupa semua sematan adalah sayatan yang mengoyak-ngoyak kedirian, kemandirian manusia sebagai mahluk apa adanya.
Sebagaimana laiknya manusia, terlahir telanjang tak sehelai, semua sama tertitah dan tertatih proses diri dan sisi kualiti seseorang, bukan semata sematan ada trah. Tetapi bagaimana seseorang mampu membawa diri. Tanpa embel-embel melekat pada dirinya.
Trah hanya ilusi yang akan menjebakmu di tengah peradaban yang penuh onak. Dan cara kita menyifatinya. Melekatnya sebuah trah akan menghujammu di setiap personanya, dalam interaksi sosial, pada setiap momen kehidupan, hingga pada saat tertentu kau tergusur oleh busur-busur adab yang kian bergeser.
Tanreja nijalla nianai ri sesena keturunan, apa pole, loe tau wrokmi nikaraengngang, Mingka so’sorangna anre natabai lo’loranh cera’. (banyak merasa punya trah keturunan ini dan itu, namun tidak murni dengan hanya tujuan hendak dikata).
Hem. Saya menggumam saja, setelah menyaksikan fenomena dan peran para pengakuan. Sementara Pama’ tersenyum mengingatkan satu pesan di awal pembuka tulisan ini.
Pama’ melewati sebuah episode yang terjal, dengan sebuah misteri mengincar di sebuah babad/cerita tentangnya yang melintasi imajinasi saya selama ini. Ada hal menarik, ada juga membuat saya merasakan sesuatu hendak membuncah tentang kisahnya semakin kami temukan dalam lembar-lembaran cerita dari sanak keluarga.
Lamminroi adaka! Benarkah? Setelah bertemu dengan seseorang yang trah ada pada adaka ri Bantaeng. Namun butuh waktu, kekuatan mental dan secara data, bukan sekadar kata-kata yang minim kosa kata pula.
Nia salla se’re wattu! Kapan? Kalau sejarah dan peristiwa kita dikibuli selama ini. Pelit tentang data realita titimasa yang sebagian terpaksa membuat kabur sebuah sejarah dengan sesiapa yang trah langsung dan palsu.
Trah bukan sekadar derajat dan syarat menjadi manusia yang punya martabat. Meminjam Level of Leadership yang dikemukakan oleh Maxwell, kita dapat bercermin tentang mengapa orang menghormati kita.
1. Jabatan. Orang lain mengikuti karena keharusan. Contohnya bisa dalam trah tadi. Hanya karena masuk dalam silsilah trah raja, maka orang akan mengikuti karena keharusan (dogma).
2. Hubungan. Orang lain mengikuti karena ingin yang disebabkan hubungan yang hangat (baik hati, ramah, dll).
3. Priduktivitas-hasil. Orang lain mengikuti karena apa yang sudah Anda lakukan atau mereka melihat hasil dari apa yang Anda lakukan.
Lalu Pama’ serta ayahnya sendiri Ma’dunda/Dunda, trah itu dari mana? Ah,
saya semakin getol ingin reinkarnasi, untuk mediasi memutar waktu masuk di masanya, sembari menyusuri trah ke level atas. Sampai trah ketujuh katanya.
Ah. Rasa penasaran itu semakin menggelitik, menguasai jiwa petualangan kami, memantik dan menggelitik kami sampai pada detik ini.
Lalu bagaimana dia menurunkan ke Jannang Tamejo, Jannang Ganing, Jannang Piluru, Jannang Hasan lalu ke Jannang terakhir di Mappilawing Jannang Ma’ne adalah tidak lain suami cucunya anak dari Jumada anak dari Pama’ sendiri? Sanna sikalu-kalukinna.
Secara trah butuh juga butuh trah, lebih menguatkan kultur. Seiring waktu kepunahannya juga adalah dari trah itu sendiri.
Ada kesinambungan, ada kesenjangan sosial, serta secara manusiawi semua sirna dengan tidak lagi mengindahkan trah sebagaimana zaman dan peradabannya mengikis semua tentang nilai yang tertanam pada sebuah trah.
4. Reproduksi. Orang lain mengikuti karena apa yang telah Anda lakukan untuk mereka.
5. Puncak-Respek. Orang lain mengikuti karena jati diri Anda dan apa yang Anda wakili tentang kehidupan.
Pada level puncak, seseorang sudah tidak memerlukan trah. Bahkan berani meninggalkan atribut-atribut yang mendukung dirinya dihormati hanya karena keharusan (level 1). Mereka dihormati dan diikuti karena jati dirinya, bukan karena jabatan, sebutan, atribut ataupun silsilah apa pun.
Begitulah seorang Pama’ memilih level puncaknya. Begitu kuat nan tegar. Tanpa harus merasa ragu dan malu melepaskan semua atribut tersemat kepadanya.
Sebab dia selalu berpesan. Bahwa pengakuan dalam sisi trah tidak membuatnya tergugah dan mengubah prinsipnya. Tidak harus ada ritual khusus untuknya. Karena level dirinya telah dia selesaikan dengan segala resiko. Memijak air mata sejarahnya sendiri.
Apakah Pama’ dari jalur karaeng? Atau Kare’ atau entah apalah nama istilah struktur kedudukan dulu yang masih simpang siur pula. Entah dari dongeng yang menjadi tolak ukur seperti istilah tumanurung.
Dan kemudian menjadi legenda yang sampai sekarang masih terpusat ke sana. Padahal secara sains bisa menemukan tanpa berhenti pada level mengalah dan pasrah dimitos-mitoskan.
Lagi-lagi penuh teka-teki tentang trah seorang Pama’ bin Ma’dunda bin Serang dan bin selanjutnya yang tidak harus saya sebutkan, karena trah Pama’ saja kami mengalami fase uji mental yang dahsyat, tanpa memuncah dan merasa bangga, atau rasa getir, keharuan, serta kecewa terhadap sejarah trah.
Pama’ manusia biasa. Walau dulu punya kuasa, tapi tidak harus leluasa bertahan sampai kemunculan dan akhir kisah kehidupannya tidak lazim bagi kami sebagai generasi trah-nya. Memilih menghilangkan jejak trah-nya sendiri.
Tanpa trah, apakah hidupmu tertatih dan terpuruk? Sementara jatah hidup telah ditakar. Derajat manusia telah terkadar.
Selain trah ada ilmu pengetahuan lebih menjadikanmu bertahta pada kepemilikan ide, kreativitas, kualitas hidup mumpuni. Tanpa harus tepuk dada, tetiba kita jadi budak.
Tertukar takarnya harga diri, menuang anggur pesta di tengah sejarah keadaban leluhur yang babak belur, dan mabok bersama mereka sampai sempoyangan.
Trah sekadar identifikasi dan referensi sebuah nilai. Trah kedaulatan mutlak Mahatinggi-Nya Tuhan. Serta utusan-utusan-Nya membawa risalah menyelesaikan masalah dunia dan umat. Sementara trah manusia hanya menggunakan untuk sebuah identitas, yang kadang menjadi biang kerok dan biang masalah.
Apalah arti trah, jika kita lupa mengasah dan merasa lebih hina dalam sebuah tindakan, ucapan dan segala bentuk ampe-ampea ri lino surang parangta rupa tau.
Pama melengkapi Trahnya, dengan konsekuensi, semua hal dia hadapi dan dinikmati. Tanpa mereka dan kami harus ketahui. Selubung membubung lumbung yang menghiasi di masanya.
Trah yang kuat kadang mengingkari dirinya sendiri. Merawatnya butuh ritual khusus. Tetapi bukan terjebak pada ritual uang terpental jauh dalam dunia sains sebagai warisan tak benda.
Namun, tidak juga kita mengada-ada, gegabah mengakui secara brutal tanpa faktual. Kejayaan seseorang bukan ujuk-ujuk kemenangan tanpa perjuangan, dan melibatkan unsur-unsur pendukung lainnya. Pama’ melengkapi dirinya dengan memenuhi syarat sebuah trah.
Tidak juga sesyahwat para sejawat di masanya. Ingin “nikaraengngang” Pama’ memilih melepaskan atributnya sebagai Jannang dan pernah menjadi kandidat untuk naik tahta? Saya kembali merasa “kalabangngang” (bingung yang khidmat).

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply