Author: Dion Syaif Saen
-

Pama’ Bukan Pramoedya
Pama’ bukan Pramoedya. Selain beda zaman, ada paten dan telaten. Pram dengan segala kehebatan penanya. Pama’ dengan pelana kudanya, serta tuturnya. Kalau Pram menulis, Pama’ mengaplikasikannya. Pram memerdekakan pikirannya, Pama mengalami, mengayomi, dan menjalani dinamika perjalanan sunyi. “Saya sangat menghormati Mandela. Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia,” kata Pram. Pram benar. Ia…
-

Nakaluki Kanyamangngang, Tersisa Semata Kenangan
Na apajia ana’. Punna nia’mi russaka, nanu anre angkatutui sikuntu niaka rikau battu kabattuangna barang-barangnu surang kaniakkangna. Tiada guna semuanya, hanya membuat menjadi petaka kelak jika tidak sesuai hak sesungguhnya. Masih terngiang masa kecil, remaja sampai dewasa para orangtua kami, dan hampir semua sepupu mengalami buah kisah tentang konon katanya, bagaimana situasi nakaluki kanyamangngang surang…
-

Kalompoangna Dikucilkan
Wangi kopi Pa’bumbungang masa kejayaannya, sekarang menentramkan sejenak pikiran saya. Meletakkan satu sesaji untuk menguatkan hati menerima segala konsekuensi dari segala kondisi dan dimensi. Berapa cerita, mulai dari zaman Belanda sampai ke mata-mata Belanda. Hehe. Sampai pada dinamai gerombolan (pasukan). Hingga pada telikungan sejarah “kalompoangna” kemudian dikucilkan. Bahwa pernah jaya tetapi seribu tipu daya. Membantai…
-

Sekapur Sirih Kajannanganganna Buyut Pama
Singkamma bunga biraeng, kereppi jammeng lananbossarang kalengna. Apa itu mitos? Atau sebagai simbolisasi seperti sejarah penamaan dan temuan istilah bunga mawar, anggrek, serta melati? Seperti itulah prahara Kajannangnganga di sebuah daerah dijuluki katanya Butta Toa. Kehadirannya tidak detail dengan struktur periodik. Antara versi gallarrang dan kajannangang se’re bannang panjai (satu haluan dan keterhubungan). Kemudian diputus…
-

Sejarah Leluhur Kami Dibegal?
Tabe ri dallekang mala’burittaRiempoang masunggutaNaku parampe pa’maiNakutannisa’sala tujuh turunanRi tuju pinangka’na. Lanri mallakku piti pau-paui ri sesena ta’lenguka tannicinika nakua adaka, naku tanre tongja nakubassung. Mingka apajia, tanre laku barani, iareka cakkania’ erok nikua. Nasaba simata erokku angngisenge se’re runtu Carita battu ri boheku. Seperti kunang-kunang , tiada sebenderang ekspestasi kami sebagai generasi yang terjebak…
-

Jejak Air Mata Leluhur
Atas nama buyut dan cicit nan luhur, ada yang semesta mempertautkan sekian puluh tahun sanak terpisah. Kini, sepertinya akan assiama kembali bagai sediakala. Para ayah, kakek kita masing-masing membangun silaturahmi yang kuat. Kukutip dari sebuah laman, tentang mutiara dan air mata. Sebagai pembuka narasi sederhana ini, bahwa di dasar laut yang dalam, terdapat sebuah kisah…
-

Mengelola Kegagalan
Sukses itu dari sebuah kegagalan, katanya! “Itu hanya sugesti saja, sekadar penyemangat,” ujar Petong menggebuki dirinya sendiri, yang tidak percaya terhadap angan-angan para motivator yang menumpang jadi “aktor”. Danu berusaha menenangkan Petong, “Teako Rangga selai, risesena tallasaka. Tea tongkol tappu pangrannuangngi mange iya niaka angngatoroki sikuntu kajarianga ri tompo lino-Na. Sikuntu iya napa’jaria ri Kun-faya…
-

Fandi dan Profesinya sebagai Desainer Grafis
Merancang idea, menerapkannya di antara imaji, terkadang menyeka peluh menarik sebuah garis, atau sketsa, tanpa harus berani merekayasa sebuah karya. Fandi menekuni dengan belajar melayani dirinya sendiri, sebelum karyanya di-publish bukan juga untuk numpang populis. Menjadi seorang desainer grafis saat ini bukan lagi pilihan, melainkan tuntutan seiring perkembangan teknologi. Dulunya saya seorang perupa, di mana…
-

Seekor Ayam untuk Argan dan Nurul Lamung
Tetiba seorang ibu menenteng seekor ayam sambil senyum-senyum masuk ke rumah saya. Berpikir mungkin suruh potong seperti biasa di rumah. Kadang memang orang-orang suruh potong ayam sama Tata’ (ayah). Saya kecele. Karena ayam tersebut adalah sebuah pemberian dari H. Ramlan Lamung yang mendirikan musholla bernama Nurul Lamung di sebuah kampung bernama Lembang-Lembang. Konon penamaan musala…
-

Tata’ dan Uwa’: Sebuah Identitas?
Seketika saya menyusuri lorong waktu, seiring proses pencarian saya, sekian lama seribu tanya dan andai. Dengan dekil saya menyembunyikan identitas saya sesungguhnya. Ya, saat berinteraksi sekian lama. Ada hal terjaga agar tidak gegabah, lantas hampir menyerah saat kata Uwa’ itu disinyalir oleh beberapa orang sebagai strata sosial (terbawah). Saya mulai menyadari untuk merendah, walau hendak…
