Mengelola Kegagalan

Sukses itu dari sebuah kegagalan, katanya! “Itu hanya sugesti saja, sekadar penyemangat,” ujar Petong menggebuki dirinya sendiri, yang tidak percaya terhadap angan-angan para motivator yang menumpang jadi “aktor”.  Danu berusaha menenangkan Petong, “Teako Rangga selai, risesena tallasaka. Tea tongkol tappu pangrannuangngi mange iya niaka angngatoroki sikuntu kajarianga ri  tompo lino-Na. Sikuntu iya napa’jaria ri Kun-faya kun-Na.” Petong mereda, sekilas wajahnya mengernyit, masih merasakan getir nan kecewa dari harapan yang gagal, dan  digagalkan! Hem. Betapa harus mengajak jiwa, pikiran, hati untuk menyatu, meski kadang bertolak belakang.

Mengelola kegagalan berarti menerima kegagalan sebagai bagian dari proses belajar dan tumbuh. Kegagalan adalah hal yang normal dan dapat diprediksi, sehingga kita  bisa belajar dari pengalaman.  Tidak harus dendam seperti Petong. Yang seakan menikmati kegagalannya dengan kecewa begitu khidmat. 

Sembari untuk tidak sekadar menafsir dan meraba-raba bagaimana kegagalan itu terkelola,  kutemukan jejak gagal itu sendiri yang akan memilih kuncinya. Apakah kita  mau membuka pintu menuju diri sendiri yang lebih baik? Atau meratapi hasil dengan melihat area pengembangan sebagai sebuah kegagalan. Lalu menyalahkan diri sendiri atau lingkungan atas kegagalan yang didapat, tanpa memikirkan potensi pengembangan diri ke arah yang lebih indah nan penuh kebajikan.

Menjadi lebih tenang, tidak harus tegang oleh orang sekitar yang umumnya cenderung menggagalkan. Itu juga sudah fenomena klasik, sebuah proses, dan terkadang ikut andil di dalamnya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menerima kegagalan itu secara positif dan berjiwa besar. Petong kembali tidak sepakat dengan dalihnya, punya alasan tersendiri mengapa meski mengelola kegagalan? Sementara trauma itu semakin membuatnya terpantik untuk bangkit? Nah, bukankah Petong juga pengecut seperti saya? Petong tersenyum, meski masih tersisa rasa kecut.

Danu menetralisir perasaan  Petong. Ya, kegagalan pasti menimbulkan kekecewaan. Karena ekspektasi kita, usaha yang dilakukan berjalan lancar tanpa hambatan. Namun, yang terjadi justru jauh di luar perkiraan. Walaupun kecewa, kamu harus tahu jika kegagalan tidak selalu buruk.

Justru kamu bisa mempelajari kegagalan agar menjadi pengalaman berharga. Salah satunya dengan memetakan kemampuan diri. Melalui kegagalan, kamu bisa mengetahui sisi kekurangan yang harus diasah dan diperbaiki. Kemampuan bisa berkembang lebih optimal.

Ikau tongji ambayui ripakkusiang tallasa’nu. Punna tanni Kulle teako passai, teako ranggaselai. Allei pammatei, teako allei nupangjari kodi. Kanasaba sikuntu tanra surang erang gio’nu. Ikau tongji langpakabajiki sikuntu simpung le’baka nulaloi.

Kita sendiri yang akan mengubah, tanpa harus memaksakan sesuatu yang kemudian akan membuatmu mengalami gagal total! Begitulah hidup menjadikanmu objek untuk berjalan, berjuang hingga menuju capaian-capaian sebagaimana manusia pada umumnya harapkan.

Lembar demi lembar, kekalutan atas harapan dan kenyataan berujung tragis di tengah gerimis. Ada yang miris, ada yang sinis ikut bereaksi terhadap kegagalanmu. Ada juga memang kadang appacidde (merundung) seolah mendukung, tetapi sesungguhnya menanti di ujung tanduk kegagalanmu.  Itu juga perlu dikelola dengan lapang dada, belajar menguatkan pikiran, batin, tidak harus ikut terjerumus kamus kehidupan dan manusia yang seperti itu. Danu  menguatkan Petong dan dirinya sendiri.

Kecewa itu berat untuk sekejap hilang di peraduan ingatan, peristiwa. Ia melekat seakan mengingatkan agar berhati-hati saja dalam setiap proses interaksi, adaptasi, dan kondisi akan membuatmu gagal yang terjegal bagai dibegal di tengah jalan. Danu mencoba berpihak pada prasangka dan perasaan Petong.

Jangan berkecil hati, apalagi mengambil keputusan menyerah. Ada strategi khusus agar kamu lebih mudah mempelajari kegagalan. Tentunya meminimalisir kesalahan yang sama di kemudian hari. Seperti di diurai dalam sebuah laman. Katanya untuk mengelola kegagalan, kita mesti menerima kenyataan. Artinya, ketika gagal menghampirimu, pahami segera bahwa situasi yang terjadi adalah di luar kendalimu. Apa pun emosi yang kamu rasakan, terimalah. Namun ingat, jangan membiarkannya bersarang terlalu lama dalam pikiranmu. Makin cepat kamu menghentikan perasaan marah dan kesalmu, makin cepat kamu menjadikan kegagalan itu sebagai pelajaran dan move on.

Jangan juga baper! Petong melongo sejenak termangu. Salah satu alasan seseorang menganggap kegagalan adalah sesuatu yang menghancurkan mereka, karena dirinya identik dengan kesuksesan. Dengan kata lain, ketika mengalami kegagalan, dia akan melihat dirinya sebagai kegagalan itu sendiri. Saat gagal, mereka merasa itu adalah sebuah kemunduran bagi diri.

Cobalah untuk tidak terlalu baper dengan kegagalan dan kesuksesan yang kamu punya. Gagal dan sukses itu hanya sebuah peristiwa yang tidak akan mengubah nilai dan diri kamu sebenarnya.

Jangan terlalu memikirkan apa yang dikatakan orang lain. Danu melanjutkan sebuah kutipan, “Kadang pandangan kita tentang gagal dan sukses itu berhubungan dengan pandangan orang terhadap diri kita. Ketika banyak orang beranggapan kamu baru sukses saat bisa menjadi lulusan terbaik, kamu berpikir kalau kamu harus memenuhi ekspektasi itu supaya tidak dianggap gagal.”

Kamu tidak bisa mengontrol apa yang dipikirkan orang lain. Kamu juga tidak perlu melakukan sesuatu hanya karena orang lain menganggap itu keren. Lebih mudah menerima kesuksesan dan kegagalan kalau kamu sendiri yang menentukan definisinya. Raihlah sesuatu karena kamu ingin meraihnya, bukan karena kamu pikir orang akan merasa terkesan kalau kamu mendapatkannya.

Selanjutnya, ini kita alami sendiri, Danu menatap Petong, “Kita punya kesamaan juga!” Petong hanya tersenyum kecut. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, apalagi orang lain. “Maksudnya?” Petong memburu dengan bedil seperti sniper. “Kamu mungkin pernah bertemu dengan orang yang ketika berhadapan kegagalan, mereka mencari cara untuk menyalahkan orang lain.” Gara-gara dia saya gagal   lulus, atau karena dia saya mengalah, sebab saya memang tidak pantas untuk kompetisi ini. Dan alasan-alasan lainnya.

Belajarlah dari kegagalan, sebab gagal adalah bagian dari batu loncatan untuk menuju gerbang impian. Sementara impian saya sederhana saja. “Gagal bagi saya adalah tetap sebuah kegagalan,”  Petong berusaha mengelak! “Tidak perlu saya tahu, bagaimana saya harus keluar dari kegagalan dengan membaca dan membangun teori yang juga masih terpental dari hal dasar saja, justru mereka juga kelabakan.”  Ahh, Danu mengalah, berusaha tenang. Karena cara ketuntasan diri adalah mengalah untuk mencegah hal-hal buruk terjadi saat berdebat. Bukan mengeluh seperti kebanyakan orang yang suka ngeluh.

Petong bukan pengeluh! Dia hanya suka menggerutu. Tetapi dia tidak mudah luruh atau pasrah. Menjalani hidup dan dinamika seadanya. Cara untuk tidak melawan arus zaman. Yang sudah mulai kehilangan pijakan. Takut gagal, takut dibegal strata sosialnya,  hanya karena soal finansial.

Rasa geramnya dia tuangkan dengan cara diam. Saya mulai belajar pula, sisi lain seorang Petong. Menafkahi pikirannya yang dianggap konyol, tetapi cukup profesional mengolah perasaan, jiwanya. Seraya merayap ke sisi peran manusia dalam mengendalikan, merespon, membawa diri meski sekian kegagalan yang dianggap tidak bisa apa-apa. Kutemukan falsafah hidupnya, tidak merekayasa cara dia bersikap.

Rebahlah malam, dari kejauhan mengintip kemungkinan. “Tallasaka surang kacaradekanga silalo tassirapi’ji, massing nikatutui risipa langjaria pangngodi ri sesena rupa tauwwa, surang sisurakkangna erokna patangna kuasa”.

Mengelola kegagalan tidak semudah menerapkannya, mengubah kebiasaan menjadi kebiasaan baru, walau sesungguhnya tidak ada hal baru, semua telah disadur. Cukup mengeja saja itu sudah mengayomi diri sendiri. 

Naura menutup ruang pergumulan berpikir saya, mengajakku belajar menerima setiap konsekuensi setiap espektasi. Suaranya pelan, matanya tajam menguatkan sebuah sandiwara hidup. Beranjaklah, jangan memaksakan diri larut kalau hanya sekadar mengelola. Buatlah harapan walau sepetak. Ceritakan peristiwamu secuil saja, tidak begitu gamblang, geggamlah keluh dan rahasia hidupmu yang paling sublim, hanya pada orang-orang tidak suka ngawur.

Sejenak kusimak, melintas khayali terhadap Naura, yang kukenal sejak dulu. Segala peristiwanya dia hadapi dalam  bereaksi setiap peristiwa kegagalan yang dia kelola, lalu mampu keluar dan menyelesaikannya tanpa harus semua orang tahu dan terlibat. Ya, Naura dengan suaranya yang lembut membuyarkan pikiran konyolku.  Bahwa kegagalan itu hanya kebebalan setiap individu memerankan personanya pada setiap peristiwa dan dinamika hidup. Jangan terlalu dramatis. Kau akan terpental jauh kembali kepada kegagalan itu lagi.

Sumber gambar: loisllc.com


Comments

2 responses to “Mengelola Kegagalan”

  1. Reni Deje Avatar

    “Kamu tidak bisa mengontrol apa yang dipikirkan orang lain”

    Sungguh pesan yang mendalam dan sarat makna. Saya setuju sekali akan hal itu, kak.

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Siap. Makasih Kakak telah berkenan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *