Author: Dion Syaif Saen
-

Agama Impor!?
Mengapa agama asli leluhur Nusantara ditinggalkan? Apa kurangnya agama asli Nusantara, padahal agama asli Nusantara sudah memberi banyak kemudahan dalam hal kemajuan, kebebasan berpakaian, lebih berperikemanusiaan, bahkan lebih berpandangan terbuka? Pertanyaan pembuka di halaman ini dari seseorang seketika membahas hal sensitif terkait fenomena sekarang, “agama sebagai tameng”. Tak jarang dan tidak sedikit, gegara bahas agama,…
-

Sinopsis Manusia
Ritual manusia, ada yang merayap, meratap, sampai yang terlelap. Menjadi bijak atau jahat, peran ini telah berlangsung dan kita lena selama belum pulihnya kesadaran itu sendiri.Di sudut lain seseorang menanti balas sebuah budi! Sementara si Budi diam-diam di sudut keadaban, mulai menyesuaikan diri, dalam keadaan terperangkap kondisional dan transaksional. Perkembangan manusia berfokus pada refleksi rasional mengenai…
-

Assiama di Tengah Kenduri Peradaban
Di tengah gejolak sosial kemanusiaan, pertarungan individu menjadi pentas monolog. Sembunyi di balik tirai kebijaksanaan, kehilangan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat di Nusantara ini. Akhir-akhir ini, sebagian di antara kita tak lagi ramah, saling ingin meremah, suasana semakin kacau, isu dikemas, para cendekia, tokoh menjadi pengamat yang lamat-lamat hanya menemui jalan buntu di tepi jurang,…
-

Mabuk
Tubuh saya ambruk, di antara tegukan demi tegukan, dan saat saya terpaksa sejak kecil untuk menekuni sebuah doktrin antara agama. Sejak kecil, remaja sampai usia dalam kecanduan, sampai ada yang masturbasi agama. Seketika mental saya tertempa, berusaha untuk terlepas dari kegamangan itu, saya dicekal dalam sebuah dogma pamali dan tabu. Agar lebih merasakan mabuk berlebihan…
-

NU Kultur dan Struktur
Dua hal menjadi pertempuran di benak saya, hierarki mengikat keduanya, dan menganggap kekuatan kultur begitu kuat mengikat sebuah struktur. Peradaban, kebudayaan dari sejarah terbentuknya organisasi NU. Peran sentralnya menjadi pilar bangsa, kekhusyukan untuk umat secara kultur, menandai perkembangannya. Apakah hanya menghafal Aswaja, tanpa membaca sejarah NU? Atau hanya identitas struktur semata tujuan. Saya masih menganggap kultur…
-

Sebelum Keluar, Masuklah Dulu
Saat mencoba masuk, masih selalu ada keinginan keluar, padahal di luar berapa serangkai parsel-parsel. Saat keluar seakan menyembuhkan sebuah dahaga. Padahal jauh lebih ke dalam akan memberimu isyarat dari segala syarat. Suasana menyembur di langit-langit. Pada syahwat yang memuncah, di antara realitas dan imajinasi membawa saya berhalusinasi, dipenuhi rangkaian ekspestasi. Betapa saat sebelum keluar, masuk di…
-

Mahkota Kiai, Jubah, dan Sorban
Betapa lugu dan gobloknya saya masa itu, mudah dibohongi, saat mendengar kisah kiai, orang pakai jubah dan sorban itu begitu keramat dan katanya sakti mandraguna. Memaksakan diri menerobos, berebutan cium tangan, minta berkah, berburu baca-baca sakti ilmu kanuragan. Pada akhirnya semua bagai memori keculungan, dan kebodohan saya yang sengaja dibodoh-bodohi, disuguhi doktrin. Dipaksanya saya disuapi…
-

Isilah Titik-Titik!
Sepele, kadang menganggapnya biasa saja, lagian apa yang harus saya isi dalam titik-titik itu sementara soal telah bocor di mana-mana, kejujuran terpenggal, dari topeng sosial dan kesialan yang sama-sama beriringan? Menganggapnya mudah dan menggampangkan. Dengan enteng, saya petenteng saja menyusuri lekuk dan riak keseruan kehidupan, yang semakin tampak anggun serta songongnya, ada yang secara cadas, ada…
-

Melapangkan Sejarah
Puspita merelung jauh, di tengah kumpulan, jejak pustaka buyutnya, membawanya ke sebuah sabana penyusurannya, bersama serumpun keluarga besar Ma’dunda bin Serang yang diagendakan Ahad 25-01-2026. Narasinya membuatku terdiam sejenak, setiap pragrafnya, membawaku larut menekuni prosesi kemarin saat berkunjung di sebuah rumah adat Bantaeng. Puspita menyuguhkan dengan pembukanya yang tegas, mengayuh ke setiap diksi, saat memintanya untuk…
-

Kesosialan dan Kesialan
Saya mulai gulai gugup dan gagap. Kusematkan dan kusamarkan saja dalam caraku bersifat dan bersikap, toh tersingkap walau sejauh mana menyembunyikan tentang sifatia manusia, antara kedok dan ketulusan itu, antara kesosialan dan kesialan menjadi konsekuensi. Kadang pula saya tersesat, terjebak sendiri, terseret, terbawa suasana pastinya, di tengah gelombang kemanusiaan yang mengintimidasi, sampai tersungut dan menjamurnya…
