Author: Dion Syaif Saen
-

Di antara Basa-Basi, Seorang Buruh Menanak Nasi di atas Lilin
Di dalam jiwanya, hendak berontak menagih dalam lirih, sebab kebutuhan hidup telah tertagih. Sementara di antara mereka ada keluarga: istri dan seorang ibu, hanya mampu menanak nasi di atas lilin yang putih. Nasi tiada tanak, nikel semakin membara terbakar menjadi pundi-pundi kekayaan, memburu para buruh tanpa ampun. Mengebiri dan melengkungkan kebijakan, melipat perjanjian lalu meremas…
-

Antara Khayalan dan Bualan
Tadinya saya mulai optimis, sambil merakayasa dengan mencukur kumis agar seolah awet, dan terlihat manis? Ternyata itu mitos. Justru kemudian saat menemukan cermin tua milik ibu saya. Saya menampar wajah saya sendiri. Kemudian saya mulai merintis sebuah harapan, bahkan mimpi. Narasi kehidupan, tidak seperti biasa dengan genit! Sedikit agak bandit juga, kata seorang karib sore…
-

Sangka Tojengna Gauka
Rapang lembarang dudu na tempo tommo (ibarat beban dipikul, lalu patah). Tanpa saya harus tahu ke mana percaya itu saya tambatkan. Empoma nakutakajanna’ nakutimbang ri pakmai (bergumam, tercekat, kemudian saya merelung dalam hati). Melihat peradaban yang terjungkal jauh di tepi kanal yang dipenuhi para kadal. Kemanusiaan kini terkikis oleh ambiguitas. Ada yang menyamar menjadi Semar dan…
-

Nak
Perjuanganmu menjadi artefak dan jejak, bahwa pernah menjadi bagian dan saksi perjalanan hidupmu sebagai buruh yang dikebiri haknya, di tengah gagapnya para pejabat yang hanya meneguk anggur di meja kepentingan. Mereka lupa, karena mabuk berjamaah.Atau mungkin lebih bisa saja juga kurang, dari tiga tahun, terhitung dengan jemari. Ada sesungut menunggu di antara kepastian dan realitas…
-

Salamat Jalan Perempuan Hebat
Seraya mencoba melerai dan mengurai, entah dari mana narasi ini saya mulai. Bukan tidak punya ide, bahan, dan diksi yang basi sekalipun. Terlalu banyak hal, peristiwa persemaian kita, walau tidak selama mereka jauh sebelum saya mengenalmu. Jika menuangkan semuanya, ini bukan lagi narasi berjuluk esai. Tapi bisa saja menjadi prosa dan cerpen, bahkan menjadi tulisan…
-

Setetes Air, Sebuah Anomali
Selain bendera terbalik, dan joget pesta di sebuah istana, setiap sudut, lorong, sudut kota dan di dusun. Gemuruh, rias warna merah dan putih, sorak-sorai. Para cukong merayakan dengan gembira, mereka lupa ada serpihan hati nan ringkih. Persolan hidup bertaruh antara pajak dan mafia.Sampai paling krusial dan penting saat ini di sebuah daerah, di antara hamparan…
-

Di Bawah Tiang Bendera, Pekik Merdeka Dicekik
Aku mendengar suara, jerit makhluk terluka. Luka, luka hidupnya. Luka. Orang memanah rembulan, burung sirna, sarangnya sirna, sirna hidup, redup alam semesta luka. Ya, tanpa daya terbiasa hidup sangsi. Orang-orang harus dibangunkan, Kenyataan harus dikabarkan, ini jeritan jiwa. Hidup bersama harus dijaga. Sebuah harapan sukma. Hidup yang layak harus dibela (sepenggal syair lagu kesaksian judul…
-

Setetes Peluh Buruh Menjadi Suluh
Narasi ini hanya bongkahan kecil, jerit dan harapan para buruh. Dan detailnya telah tertuang sebelum narasi ini liris. Namun, apa salahnya jika hendak menuang walau sekadar dianggap turut miris atas kejanggalan dari sistem, serta upaya tipu daya dari sekian undang-undang yang dikulum lalu di cicipi dari bibir ke bibir atas nama kebijakan. Jagat jiwanya teruji,…
-

Tentang Kita
Sebuah hamparan menyerta dalam episode perjalanan kita, “Tiga puluh tahun cerita kita tetap ada. Kita disuguhi peristiwa dan tidak mengingat hari. Tetapi kita mengingat setiap momen.” Bilakah suatu saat nanti, bersama memetik melati, maka berbagilah bunga, atau wanginya saja. Saat sesama karib, teman sebangku di kelas, teman seangkatan dalam duka, sedih dan terundung tempaan…
-

Kedok Agama?
Tameng, dan cukup ekstrim memanen pundi amaliah. Sambil berdendang menceritakan surga dengan neraka. Seketika kuncup subuh menebar ke pagi buta. Saya belum siuman dipaksa untuk menjemput rezeki. Saya mencoba sebuah ilustrasi dengan realitas terjadi, konon telat bangun pagi maka rezekinya dipatok ayam. Wets. Saya tercekat di sudut kantukku yang tertambat. Suatu pagi. Seketika berentetan dengan…
