Antara Khayalan dan Bualan

Tadinya saya mulai optimis, sambil merakayasa dengan mencukur kumis agar seolah awet, dan terlihat manis?  Ternyata itu mitos. Justru kemudian  saat menemukan cermin tua milik ibu saya. Saya menampar wajah saya sendiri.

‎‎Kemudian saya mulai merintis sebuah harapan, bahkan mimpi.  Narasi kehidupan, tidak seperti biasa dengan genit! Sedikit agak bandit juga, kata seorang karib sore menjelang petang di Cafe Maevan.  ‎‎

Kau tidak lagi romantis. Protes seseorang. Ya, saya mulai sedikit jahil bin jahat! Jawab saya seadanya. ‎‎

Memulai sebuah  percikan, berusaha  melepaskan dari kawanan ombak yang asyik bermesraan dengan buih-buih kepalsuan. Hinga beberapa perdebatan dengan sederet peristiwa dari hal sepele, hingga yang bertele-teleh bin receh.

‎‎Saya mulai menikmati ritme, dan ikut nimbrung. Menjadi penyusup, biar merasakan bagaimana cara berpikir dan secara teori harus diuji. Bukan hanya dipuji-puji.

‎‎Hari telah masuk pasak waktu, terhadap pagi yang seperti biasa, bolos tadi subuh. Merangkak ke pagi yang tertunda, setengah sadar, kantuk masih membentuk mimpi semalam, seperti sebuah penantian dengan seseorang di delapan belas tahun, katanya! ‎‎

Sehelai saya daras, sekecuping dan keping sejarah. Di sebuah peristiwa para penjagal demokrasi mulai membual atas nama perbaikan sistem dan tatanan.  Ada yang berjoget, ada siluman dan siulan. Bagai pesta jalangkung. ‎‎

Rasa-rasanya saya terpesona kiranya. Tetapi sudahlah. Saya hanya berusaha mengkhayal. Agar tidak ikut pada rawai-rawai yang terjerat tirani di sebuah negeri penuh pembual. 

Kudu saya beriming-iming, ingin menemui seseorang dari serial delapan belas tahun yang masih simpang, tanpa saya tahu dalam penantian, tetapi ada isyarat dari mata ibu melerai hasrat saya, “Padi belum menguning, sawah kering kerontang, air surut seketika. Ditambah sangka gaukna adaka, sampai pada  negara serta pemimpinnya  belum konsisten terhadap ideologi negara mencerdaskan anak bangsa, dan memelihara, membantu fakir miskin.”

‎‎Sudahlah. Hari ini semuanya serba cuan, integritas, mentalitas ditinggalkan. Kehilangan pondasi.  Semua serba mahal kini, mulai  permen dari rasa nano-nano, sampai terstrukturnya sebuah kultur, ibarat  menjadi perdagangan manusia bernama  “uang panai” misalnya. Semua ikut berkhayal kelak anak perempuannya, ditimang dengan mahar mewah nan megah. ‎‎

Saya tidak harus menanggapi fenomena itu secara gamblang. Toh kita memang disuguhi atas nama budaya, peradaban yang gampang diubah setiap saat, sesuai situasi, kondisi dalam  sumir dan gamang. 

‎‎Setubang dan timang-tumang doa yang kini sekarat. Saya memutuskan memilih pamit pulang ke rumah, setelah seharian menikmati suasana bebas, lepas dengan seruput kopi bersama  karib yang menjadi ruang temu pemikiran, dan di  titik kumpul dengan sekian banyak kisah dan cerita.  Dari klasik sampai yang basi, tetap menjadi menarik dibincangkan. ‎‎

Saya meletakkan dasar pada Argan yang tipikal imajinasinya juga liar, suka mengkhayal. Yang kini mulai bertumbuh dengan segala keinginannya, mulai tidak betah dan mengajinya suka alpa. Namun, mulai melek huruf sampai pada membaca lancar, tanpa saya harus tuntun. ‎‎

Tidak juga harus saya dengan dogma dan pola tempo doloe, memaksakan dia sopan santun misalnya, etika dan keteraturan, justru membuatnya merasa dan mulai bereaksi walau masih saya paksa-paksa alim,  cium tangan, atau “attabe“. Semata Argan tidak tertuduh kelak kurang asuh dan dibasuh dengan adab. 

‎‎Fenomena teruji, dari sisi manusia mulai lupa menaklukkan dirinya sendiri, hendak menarik ketapel, lalu terpental meleset karena tidak terlatih. Sebuah pesan dari Vi menambatkanku lebih percaya diri, “Asahlah pedangmu, tapi jangan lupa asah pikiran, nalar biar tidak kesasar arah yang hendak kau bidik.” Kalimat ini tetiba hadir mengingatkan dan menyadarkan saya.

‎‎Seusai senja melepas tugasnya. Saya kembali merayakan pesta tentang serunya berada di antara peran-peran manusia, ada pembual, ada pengkhayal sepertiku. ‎‎

Ada banyak pengetahuan, berderet menjadi pandu yang kemudian menyeret ke sebuah target untuk saya tampung. Saya masih mengkhayal. Antara realitas yang mulai tidak bisa saya bedakan, dengan meracuniku menjadi pembual.

‎Vi menegur dengan spontan, dari sebuah insiden kecil melihat kaki kiri saya bengkak karena tertindih motor setelah kejadian konyol dan jatuh goblok saya dari sebuah sepeda motor. Dan itu terjadi dari sekian persen pikiran dan khayalan saya berseliweran saat berkendara.  ‎‎

Vi dengan suaranya yang khas menempatkan satu tipikal dari sisi seorang penghayal yang dikutip dari sebuah laman. “Penghayal” seringkali dibedakan dari tipe pekerja lainnya seperti “penikmat”, “pengejar”, atau “penderita”.

Berfokus pada ide tanpa mengambil tindakan nyata untuk mewujudkan ide-ide tersebut sebagaimana ciri-cirinya:‎‎

Penuh ide: Sering memiliki banyak gagasan dan pemikiran.‎ Cenderung tidak bernyali, ide-ide tercerabut dan dirangkai orang lain, karena terlalu penakut dan pengecut.  

‎‎Sementara pembual, hanya membuat saya mual-mual, tindakan dan ide mereka tipu, mengambil dan menjiplak saja.

‎‎Sehelai harapan saja, setelah memburu, lalu kita dikejar balik oleh keadaan sosial. Di sana kutemukan beberapa pembual. Sementara keadaan sosial yang adil dan beradab semakin tiarap, karena bedil zaman dan lakon manusia yang memburu identitas, lupa bahwa ada kecakapan hidup yang harus dilengkapi. 

K‎‎hayalan itu menandai ide, lalu ketika semua buyar karena para pendekar pemenang kompetisi atas nama demokrasi sepertinya hanya membual. Membuang jaring, sampah, ikan kecil bahkan berak di sambar semua. Akhirnya sebuah keputusan menjadi sumir. 

‎‎Adegan manusia, mulai samar. Kejujuran yang terjungkal ke jurang.  Hanya karena hiasan sesaat dan janji esok akan dilamar, dengan mahar yang membumbungkan khayali perempuan, lupa ini juga bagian dari bualan meski atas nama budaya. ‎‎

Padahal budaya juga sering tertipu oleh rekayasa budaya itu sendiri. Sebab menurut saya budaya lahir juga hasil sebuah khayalan (ide) dan diejewantahkan melalui medium dan spektrum sosial masyarakat yang katanya menopang keberlangsungan kehidupan. Namun seiring waktu semua sama dengan membual. ‎‎

Akhirnya saya mulai piknik, tidak lagi panik atas segala situasi, kejadian, fenomena yang kini cenderung memaksakan untuk saya ikut, lalu hendak memakzulkan selera dan ketajaman berpikir serta cara kita bersikap terhadap situasi kekinian. Yang menjerat, seolah pemikat, tetapi hanya  penikmat seperti saya.

‎Saya bukan pengkhayal, bukan pemikat, setelah mengikuti alur cerita dan zaman, yang kini tergantung prabayar. Maka semua bisa melucuti  yang lain, memunculkan cerita dan identitas lain, itulah pembual sesungguhnya. Ini terjadi di sekelilingmu bahkan di tengah prahara, mampu menghadirkan sosok pembual sebagai pemenangnya. 

‎‎Berusaha kembali mengambil alih suasana dengan menghayal, di tengah rasa nyeri di kaki saya mulai semakin terasa. Saya mencoba berkhayal lagi, agar bisa mengalihkan sakitnya sejenak, sebab reaksi cengeng itu seperti memengaruhi psikis. Saya harus tahu diri dan mulai pura-pura bertahan.

‎‎Dengan klise dan berpura saja menahan sakit, saya mainkan peran dengan berkhayal lagi di tengah mereka. Agar tidak merusak suasana. Dan paling berharga pakrikongang/empati karib, teman,  membuat sakitnya reda, ditambah Vi bagai menyembuhkan seketika walau reaksinya sedetik. Hem. Saya tetiba menjadi pembual. ‎‎‎

Sumber gambar: depositphotos


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *