Category: Cerita

  • Di Titian Batas Adat

    Di Titian Batas Adat

    Tempo hari, senja perlahan menyelimuti Kota Bulukumba dengan jingga merona. Aku mencuar di tepi pantai, memandangi ombak bergulung-gulung. Puang Lolong berdiri di sampingku, merasakan hembusan angin laut, membawa aroma garam dan kebebasan. “Kini, kau paham bukan?” tanyaku saat kami duduk di atas gundukan pasir, memandang ke arah bumantara bersinau-sinau. “Faktanya kau mencintai pemuda suku Makassar.…

  • Canawi dan 20 Kucingnya

    Canawi dan 20 Kucingnya

    “Puss.. puss..” Canawi memanggil kucing-kucingnya, dua puluh jumlahnya. Canawi menaruh satu piring berisi ikan Bandeng dan sisa ayam yang ia makan tadi. Dielusnya satu persatu kucing-kucing itu. Seperti biasa, di tiap pagi, setelah makan dan menghisap dua batang rokok, Canawi memberi makan kucing-kucingnya. Ia sangat mengenali kucing-kucing—yang bisa dibilang—gembel itu. Kucing-kucing itu ia temukan di…

  • Surat Dakwaan untuk Malaikat Pembagi Duka

    Surat Dakwaan untuk Malaikat Pembagi Duka

    Malam itu rembulan bersinar terang, menembus selaput tipis awan yang menghiasi langit. Puncak Lompo Battang tampak megah dalam balutan cahaya, seolah menyambut kedamaian malam. Tumpukan-tumpukan awan berarak pelan, menambah keindahan panorama yang tersaji di pelupuk mata. Di dalam kamar mungil yang sederhana, seorang gadis bernama Maidah duduk termangu. Matanya yang berkaca-kaca tak lepas memandangi gambar…

  • Kekalahan Pertama Pengacara Muda

    Kekalahan Pertama Pengacara Muda

    Ponsel berdering memecah keheningan. Seorang pemuda menepi di pinggir jalan. Memarkir Toyota Alphardnya pada kondisi jalan yang terjal. Pujaannya memberi kabar permohonan maaf terakhir atas hubungan yang harus usai sebab tak ada restu keluarga. Pemuda itu ambruk. Hatinya dipermainkan oleh takdir. Ia tak menerima jika harus dihantui oleh kenangan dalam genangan harapan. Kabar pahit itu…

  • Lelaki Labu

    Lelaki Labu

    Seorang lelaki yang telah lama hidup sendiri sangat gemar memakan labu kuning. Aneka jenis hidangan selalu ada unsur labu yang ia masukkan. Seperti sayur, sup, jus, kue maupun roti. Suatu waktu ia harus meninggalkan rumahnya di desa dan memulai hidup baru di kota seberang. Harta yang ia miliki hanyalah rumah dan labu-labunya. Rumahnya pun sudah…

  • Ketika Nais Sua Cat

    Ketika Nais Sua Cat

    Memasuki musim penghujan, orang-orang di kota tempat Gwen tinggal mulai menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Toko roti yang tadinya hanya memproduksi seratus buah setiap harinya, kini memperbanyak lagi produksinya di musim hujan. Namun, berbanding terbalik dengan makanan laut yang biasanya beraneka ragam. Tentu tak ada yang berani melaut di tengah-tengah kencangnya ombak. Para penduduk…

  • Nasib si Cat

    Nasib si Cat

    Kawasan rumah ini jauh dari kata ramai. Bahkan ia tak pernah melihat kucing-kucing lain, selain dirinya sendiri. Itu pengamatannya sejauh ia berjalan. Kiri-kanan kawasan ini dipenuhi oleh bangunan-bangunan yang tampak kosong terbengkalai, atau diisi oleh bangunan yang berisikan burung-burung yang sarangnya konon bisa bernilai jual tinggi. Jarak antar rumah pun lumayan berjauhan. Ada pekarangan yang…

  • Bersama Nais

    Bersama Nais

    Sering kali Gwen membaca ulang buku kanak-kanak yang dimilikinya atau menonton film kartun kesukaannya di masa kecil. Menurutnya itu salah satu terapi alternatif, yang bisa ia lakukan untuk menjaganya tetap waras di dunia orang dewasa yang begitu rumit. Misal, jika orang dewasa mengantuk bukannya bergegas tidur, tapi ia memilih meminum kopi. Orang dewasa juga kerap…

  • Pattiro Kanja’

    Pattiro Kanja’

    Senin pagi ibu selalu mengajakku ke pasar tradisional yang terkenal di daerah kami. Meski pagi ini cukup mendung namun situasi di pasar sudah sangat padat pengunjung. Yang kusuka di sana ada banyak dijajakan makanan tradisional, kue-kue buatan nenek yang sering kunikmati semasa beliau hidup di jajakan melimpah ruah. Tentu saja hal itu selalu membuatku teringat…

  • Kasosokang

    Kasosokang

    Aku sedang menikmati semangkuk sup buah buatan ibu ketika Rabania tiba-tiba berdiri di ambang pintu rumah. Anehnya, ia mengenakan dress putih panjang yang menjuntai hingga menyapu lantai sedang rambut panjangnya yang lurus ia biarkan tergerai. “Kamu Rabania atau Kuntilanak?” “Aku Rabania,” “Oke masuk!” Ia menyeret ujung kain di kakinya sehingga membuat langkahnya tertatih berkali-kali. Sampai…