Pattiro Kanja’

Senin pagi ibu selalu mengajakku ke pasar tradisional yang terkenal di daerah kami. Meski pagi ini cukup mendung namun situasi di pasar sudah sangat padat pengunjung. Yang kusuka di sana ada banyak dijajakan makanan tradisional, kue-kue buatan nenek yang sering kunikmati semasa beliau hidup di jajakan melimpah ruah. Tentu saja hal itu selalu membuatku teringat kenangan manis memakan kue buatan nenek. Sementara ibu, tidak banyak alasan mengapa ia senang berbelanja di sana.

“Di sini murah-murah, apalagi mau beli sayuran bisa buat nyetok seminggu dengan harga yang terjangkau,” jelasnya.

Ada banyak pedagang menjajakan dagangannya. Mulai dari penjual pakaian di blok depan, pedagang barang pecah belah, beberapa warung makan di sudut pasar yang harum ikan bakarnya menari-nari di hidungku.

Di sisi lain penjual sembako bercampur dengan penjual sayur dan penjual ikan. Oh iya, ada satu lagi titik yang sering menjadi incaran ibuku setiap kali tawaf di sini, yaitu di sebaris penjual thrifting second alias cakar. Ini salah satu hobi ibu yang menurutku aneh.

“Bu, kenapa beli taplak meja di sini 35.000 tapi bekas sementara di toko harga 20.000 juga ada dan baru. Belanja online malah lebih murah.”

“Ah kamu tidak paham, ini kualitasnya bagus.”

“Terus harga sayuran di pasar sentral juga dapat 5000 seikat kok harus jauh-jauh ke pasar tradisional, kualitasnya sama.”

“Eh di sini 5000 seikat tapi banyak, sudahlah kamu tidak paham.”

Padahal aku masih mau menjelaskan soal biaya ke sini juga butuh suplai bensin yang lebih dibanding berbelanja ke pasar sentral yang jauh lebih dekat. Ahh belum lagi soal aku yang kehilangan waktu bermainku di hari yang beruntung seperti ini, jatah libur di hari Senin bagi seorang pelajar adalah berkah yang tidak boleh di sia-siakan.

Ibu menarik lenganku menuju ke titik berikutnya. Aku melihat ada sudut yang ramai di sana, ternyata sebuah warung sate. Aku tidak lapar tapi melihat banyak orang di sana sepertinya enak dan aku jadi penasaran.

“Bu, ayo makan di warung itu juga.”

Sebelum menjawab ibu menatap ke arah warung yang kutunjuk. Dua kelopak matanya mengecil seolah ingin bersatu lalu kembali terbuka lebar.

“Astagfirullah hal adzim, masih ada yang pakai Pattiro Kanja’,” ucapnya lirih.

“Bu, ayo bu,” aku mulai merengek.

Ibu menatapku dengan tatapan yang entah aku juga tidak mengerti maksudnya.

“Kamu lapar”

“Tidak”

“Lalu kenapa minta ke sana?”

“Karena ramai, mungkin enak.”

Hmmmmm. Ibu berdehem panjang sambil memegang pundakku.

“Baiti, coba kamu beristigfar dan ucapkan audzubillahi minassyaithoni rrajiim.”

Aku semakin tidak mengerti. Bukannya menyuruhku membaca doa sebelum makan ibu malah meminta aku untuk beristighfar. Tapi karena beliau ibuku, aku menurut saja.

Ajaib, rasa penasaran itu tiba-tiba hilang.

“Masih mau makan di sana?” tanya ibu

“Entahlah, aku tidak setertarik tadi.”

“Begitulah jin Pattiro Kanja’ bekerja, membuatmu tertarik dan merasa ingin mendekat kepada sesuatu yang belum tentu kamu butuh dan kamu inginkan.”

“Apa bu? Jin? Sepagi ini?”

“Iya, Jin Pattiro Kanja’ atau penglaris dagangan.”

Aku tersentak. Mengingat bagaimana besarnya rasa penasaranku tadi yang secara ajaib menghilang setelah aku menuruti permintaan ibu.

“Apa tugas jin itu membuat kita tertarik?” Aku semakin penasaran

“Benar, jin itulah yang membantu pedagang ini melariskan dagangannya, tapi ini bukan hal baik untuk ditiru sebaiknya kita harus hindari. Mencari rejeki itu sebaiknya yang halal dan menggunakan kekuatan doa, meminta bantuan Allah bukan bekerjasama dengan jin.”

“Lalu bagaimana bentuk jin itu bu, apa semua pedagang di sini punya jin?”

Beberapa saat ibu mengedarkan pandangan lalu kembali menatapku.

“Tidak nak, tidak semua. Bentuknya bermacam-macam, ada yang berbentuk binatang, ada yang bertubuh manusia berkepala kerbau, ada yang menyerupai pocong bahkan wanita cantik juga ada tapi kuku-kukunya panjang dan kotor seperti habis mengais tanah kuburan.”

Iiiiiiyyyyyy aku bergidik jijik.

Aku mengerti sekarang. Untung saja ada ibu yang mengingatkan, jika tidak aku sudah celaka memakan sesuatu yang ternyata pakai kekuatan jin.

“Tapi Bu, nanti di rumah boleh ibu buatkan aku sate? Ini murni karena aku rindu sate buatan ibu kok bukan karena ada jin di tubuhku.”

“Iya, ibu mengerti di tubuhmu hanya ada seorang gadis kecil ibu yang kelaparan, ayo kita pulang.”

Kredit gambar: internet


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *