Kasosokang

Aku sedang menikmati semangkuk sup buah buatan ibu ketika Rabania tiba-tiba berdiri di ambang pintu rumah. Anehnya, ia mengenakan dress putih panjang yang menjuntai hingga menyapu lantai sedang rambut panjangnya yang lurus ia biarkan tergerai.

“Kamu Rabania atau Kuntilanak?”

“Aku Rabania,”

“Oke masuk!”

Ia menyeret ujung kain di kakinya sehingga membuat langkahnya tertatih berkali-kali.

Sampai akhirnya rumah keong yang kami gunakan untuk menahan pintu membuatnya tersungkur sampai jidatnya tergores ujung meja.

“Nah kan begini jadinya kalau orang kasosokang,

“Siapa yang kasosokang?” tanya Rabania, masih di posisi yang tadi, tiarap mencium lantai.

“Ya kamu! Lagipula ini ritual macam apa setelanmu seperti cosplay jadi kunti dan tiba-tiba berdiri di ambang pintu begitu?”

Aku membantunya, kutarik lengan dan melipat kain yang membuatnya tersandung tadi. Beberapa luka bekas gores di dahinya perlahan mengeluarkan darah, tidak banyak tapi kasihan jika dibiarkan. Aku menuju kamar dan mengambil kotak P3K yang tersedia.

“Sebenarnya aku mau tunjukkan sesuatu sama kamu,”

“Kata nenek ini baju ibuku waktu menikah dulu,” tuturnya.

“Ohh terus kamu sekarang mau main pengantin-pengantinan?”

“Emm tergantung sih, kalau kamu bisa carikan aku pangeran tampan,”

Skip. Aku mengakhiri obrolan, aku hapal di luar kepala ujung dari percakapan dengan Rabania ini.

Sebenarnya kadang aku merasa kasihan. Rabania anak yang cantik dan juga pintar, meski ia tak mengenyam bangku sekolah. Ia pandai membaca menulis hanya karena aku banyak berbagi waktu dan ilmu dengannya. Namun, ia haus kasih sayang dan perhatian.

Cita-citanya sederhana, ia ingin menikah dengan pria yang mencintainya dan membuat banyak anak, agar jika ada yang meninggal masih ada keluarga lain yang menemani di bumi. Tidak seperti dirinya yang merasa sendiri saat ditinggal ibu dan ayahnya. Kasih sayang neneknya yang tercurah tidak dapat menggantikan kekosongan dalam hatinya.

“Kamu betul-betul kasosokang ini,” kataku usai membersihkan luka di jidatnya.

“Kalau kasosokang itu membuatku bahagia, biar saja aku kasosokang seumur hidup,” jawabnya dengan tatapan kosong.

Lagi-lagi ia memasang ekspresi yang paling tidak aku senangi darinya. Saat terbawa perasaan ia selalu berbicara dengan nada-nada yang sedih dan membuatku kesal. Ya, aku kesal karena usahaku setiap waktu untuk membuatnya jadi orang bahagia selalu sia-sia setiap kali situasi seperti ini terjadi. Makanya aku sebut ia kasosokang.

Kasosokang dalam bahasa daerahku berarti kemasukan atau kesurupan roh halus. Sebuah kondisi di mana mahluk astral dianggap menguasai tubuh seseorang, sehingga ia melakukan hal-hal yang tidak biasa.

Meski dalam kejadian ini Rabania tidak benar-benar kasosokang karena mahluk astral, tapi karena kelakuannya yang aneh, aku jadi menyebutnya seperti itu agar ia tahu seberapa kesal aku dibuatnya.

“Eh sini makan gorengan dulu mumpung masih hangat,” kata ibu sambil menaruh sepiring gorengan di meja. Namun, tiba-tiba sorot matanya berhenti di satu titik. Tatapannya lurus ke arah pagar rumah kami. Mulutnya mulai komat-kamit seperti membaca doa-doa tertentu.

“Astagfirullah, astagfirullah,”

“Eh ibu kenapa?”

Ibu memalingkan wajahnya dan duduk di sebelahku.

“Kamu tidak lihat tadi? Ada pocong di belakangmu terus tiba-tiba menghilang dan berdiri di sana dekat pagar,” kata ibu.

“Hampir saja kamu kasosokang,”

“Makanya kalau magrib itu tutup pintu, ada jin jahat berkeliaran.”

Aku lanjut makan gorengan. Aku tidak tahu soal jin yang berkeliaran saat magrib, aku tidak tahu soal pocong yang sempat berdiri di belakangku yang aku tahu gorengan ibu sangat enak.

Kredit gambar : iStock


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *