Author: Dion Syaif Saen
-

10-11-12
10 Setangkai mawar itu, palsu. Aku kembali ke Tuhanku, kaupun menuai doa ke Tuhan keyakinanmu. Setelah itu, kita hitung bersama dalam bentuk hitungan rabaan, atau kembali memgabjad alif-ba-ta-tsa-ja-ha-kha-. Dalam dimensi yang menyerupai tirai yang bersekat pada sekumpulan dosa-dosa kita. Aku belum bisa berhenti mengungkit dan menjelmakan masa lalu, dalam kekinian yang terbawa akal, terhanyut buai…
-

Peradaban dan Manusia
Semua bisa mengubah identitas, perangai, lalu bergerombol terbang bagai anai-anai sesuai jatah musim berganti. Populasi kian kikis, hendak populis. Di ujung lidah dan ciri tidak selamanya membentuk karakter. Manusia dengan segala upaya dan dayanya, hendak mengarung di tengah relung dan palung manusia sekitarnya. Apakah peradaban itu bagian dari mengubah pola pikir, laku diri dan dunia?…
-

07-08-09
07 Di untai-untai, sudahlah. Kita dalam gemgamannya. Jika tidak mampu menjawab aksara-aksara yang hidup sekian abad. Dengan caranya yang berseronok, menodong di sebuah abjad zaman mereka incar. Kalaupun merajuk, itu alasan tanpa sengaja! Cukup memberinya sapu tangan kebahagiaan bersama. Sebab, rujuk itu beda, bertajuk menikuk dan membekuk. Kita tanpa was-was pun tetap cemas. Seberapa jauh…
-

Balada Pilpres
Menjelang pelaksanaan pemilu 2024, banyak kontroversi yang terjadi. Mulai dari dukungan penundaan pemilu oleh salah satu partai politik dan penolakan terhadap penundaan pemilu, karena dinilai tidak sesuai dengan amanat konstitusi dan semangat reformasi, serta berpotensi kembali ke masa Orde Baru, manakala terjadi perpanjangan masa jabatan presiden. Atau sekadar hadir sebagai dramatikal bertipikal “genit bin nakal”. Ada…
-

04-05-06
04 Kali ini aksara keempat. Adalah aksara kita bersama dan menguatkan ikatan itu. Bersama seuntai harapan hingga akhir zaman, kebersamaan itu bersemayam selalu, kita berbagi duka, beriring bersama waktu. Adalah kita, sebagai kiat, dari geliat saling merindukan satu sama lainnya. Selalu ingin bersua dengan suka dan duka. Dan aku mencatat hingga menuliskannya pada aksara keempat…
-

01-02-03
01 Orang-orang mulai pandai meloncat. Yang pernah berjalan tertatih. Merangkak dan merayap di kaki-kakinya yang kumal. Hidup dalam tikungan dan telikung. Kecamba dan cara baca! Dalam aksara yang meringkih di tengah diksi, intuisi atau puisi kunyit yang legit. Tetapi parawi kata dan nasabnya, meruang tak lagi berlereng-lereng di kaki langit yang indah. Selebrasi dalam narasi,…
-

Tiupan Tipuan Elite
Setelah terpaksa sandi-sandi itu terbongkar. Di sanalah aku berdiri telanjang, dengan harapan sehelai benang menyelamatkanku. Dari sejumput harapan, tetapi sebuah tipuan membawaku seolah terbang. Lalu sehelai benang itu ibuku jalin dan ia jahit sebuah luka demokrasi. Hanya mampu menambal kecewa dan sejumud harapan, mimpi anaknya yang telah ia kubur. Ibu mengelus dan menyeka air mata…
-

Siluman Amplop
Salah siapa, dan dosa siapa kata seseorang pada ustas di sebuah ruang diskusi. Ustas bingung jawab apa. Akhirnya dalil terhampar, tetapi terasa hambar. Demokrasi terkapar di tengah belantara perjalanan politik, dari lorong hingga ke pinggir jalan. Dari hulu ke hilir menenteng alasan, ini atas nama sedekah dan bukan sogok. Pemberi amplop berlalu tanpa permisi, cengar-cengir…
