01
Orang-orang mulai pandai meloncat. Yang pernah berjalan tertatih. Merangkak dan merayap di kaki-kakinya yang kumal.
Hidup dalam tikungan dan telikung. Kecamba dan cara baca! Dalam aksara yang meringkih di tengah diksi, intuisi atau puisi kunyit yang legit. Tetapi parawi kata dan nasabnya, meruang tak lagi berlereng-lereng di kaki langit yang indah.
Selebrasi dalam narasi, kekecewaan yang di buat fantasi, hilir ke ujung tanpa revitalisasi kanal-kanal yang menghancurkan individu yang penuh dengan aksara di matanya, di telinganya, di hidungnya, di jemarinya, dan di batinnya. Menggumam.
Di teluk kehidupan, aku kerap menggerutu, tanpa bermutu, aku pukul-pukul waktu, bagai sehabis meneguk tuak.
Di mana saja, mengusikku, dalam teluk yang di rindu-rindukan dalam cengkraman dendam, tanpa kudengar lagi tutur dan gurindam, mengajak manusia melawan ketakutan dan kemerasaannya, telah mampu merangkai. Tetapi lalai dalam piawai.
Aku memilih di sebuah teluk bernama seduhan sederhana, di antara orang-orang yang lebih paham aksara, di antara tahapan tatapan kami. Dari kelas yang berseragam, hingga mereka yang setia menaungiku senyuman setiap seduh dan segelas pesanan kopi santun yang lebih bijak.
Dalam sekejap, aku melawan kekuatan itu, dengan menuliskannya selarik.
Buat perjalanan berikutnya, dalam teluk yang sama, beda situasi badainya. Aku dan kau adalah aksara. Walau tanpa tanda mata, orang-orang membaca.
DSS 290318
***
02
Seperti para Dewa menggemgam jiwa semesta manusia. Kerap kulangkahi butir demi butir yang bersatir. Ada pikir yang acap kali mengulir. Setetes mengalir menuang-nuang ke hilir.
Hujan jatuh di ujung kaki ibu, dalam gerah spontan kita menggugurkan Tuhan dan alam-Nya. Dewa mengembara seperti melara. Derma tak ada, yang terjual adalah amarah.
Pukul sekian warna langit berubah, seantero meruah dalam kuah-kuah petuah. Tanpa bunga dan pucuk! Tiba-tiba berebut buah.
Dalam teluk aksara, aku mengarung sepetak relung kujadikan kalung.
DSS 290318
***
03
Sesegera mungkin aku baringkan aksara. di luluh lantahkannya malam. Esok biar jedah memenuhi sarang para penyabung huruf berkata dalam kaca.
Sisa setengah malam, dirundung tudung kandung rahim. Lazimnya hiruk di pikuk untuk penekuk sesajen pesta di kampung, yang pernah hilang dan bahkan mulai tak terbaca di peta.
Aksara itu telah berbenah menuju peraduan. Mengunci rapat-rapat jendela dan pintu kamar. Tirai di sibak angin. Kalung emas melengkung di kera baju tipisnya. Dan sedikit Be-Ha-nya terlihat rata dengan warna tak mencolok. Aku buatkan cawan dan selenting tembakau kampung yang lezat.
Aku menoleh ke belakang, terlihat sendu kelam perjalanan pulang. Masih pula aku mengaminkan angin, mendesak sampan nelayan berburu cumi bermusim peka dengan alam. Ke tepian mungkin jangan berani ke dalam.
Teluk di antara samudera manusia, telah kumal dengan coretan dan bekas tumpahan minyak. Melumer ke tengger yang sama-sama pengarung. Bukan seolah tangguh. Tetapi belajar menafkahi hari-di huruf yang belakangan diketahui telah hijrah.
Aku di teluk malam kini. Menyingkir dari aksara kencana. Sebab aku diantarai, letupan-letupan yang memantik aksara itu! Menanak Visual dengan total, merafal yang tanpa dihapal. Sebab sebelumnya ada isyarat yang bersyarat tak sepertinya terikat. Dia memikat, dalam kencan yang sedih. Melupakan yang di rasanya pekat. Tetapi aku tak berani menekuk dalan teguk di tengah badai teluk.
Aku memeluk bintang, mengejar tanda-tanda langit ilmu rasa yang terdalam. Memendam tanpa dendam, mendendang dengan ratusan erangan menempel ketat di selangkang kekasih yang persis berbentuk ketapel.
Sesekali aku melihat sepasang mata, menata matanya terjaga di selaput dukanya. Menata kemuning di rahimnya. Melahirkan aksara di tengah teluk ini.
DSS 300318

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply