Author: Dion Syaif Saen
-

04-05-06
04 Kali ini aksara keempat. Adalah aksara kita bersama dan menguatkan ikatan itu. Bersama seuntai harapan hingga akhir zaman, kebersamaan itu bersemayam selalu, kita berbagi duka, beriring bersama waktu. Adalah kita, sebagai kiat, dari geliat saling merindukan satu sama lainnya. Selalu ingin bersua dengan suka dan duka. Dan aku mencatat hingga menuliskannya pada aksara keempat…
-

01-02-03
01 Orang-orang mulai pandai meloncat. Yang pernah berjalan tertatih. Merangkak dan merayap di kaki-kakinya yang kumal. Hidup dalam tikungan dan telikung. Kecamba dan cara baca! Dalam aksara yang meringkih di tengah diksi, intuisi atau puisi kunyit yang legit. Tetapi parawi kata dan nasabnya, meruang tak lagi berlereng-lereng di kaki langit yang indah. Selebrasi dalam narasi,…
-

Tiupan Tipuan Elite
Setelah terpaksa sandi-sandi itu terbongkar. Di sanalah aku berdiri telanjang, dengan harapan sehelai benang menyelamatkanku. Dari sejumput harapan, tetapi sebuah tipuan membawaku seolah terbang. Lalu sehelai benang itu ibuku jalin dan ia jahit sebuah luka demokrasi. Hanya mampu menambal kecewa dan sejumud harapan, mimpi anaknya yang telah ia kubur. Ibu mengelus dan menyeka air mata…
-

Siluman Amplop
Salah siapa, dan dosa siapa kata seseorang pada ustas di sebuah ruang diskusi. Ustas bingung jawab apa. Akhirnya dalil terhampar, tetapi terasa hambar. Demokrasi terkapar di tengah belantara perjalanan politik, dari lorong hingga ke pinggir jalan. Dari hulu ke hilir menenteng alasan, ini atas nama sedekah dan bukan sogok. Pemberi amplop berlalu tanpa permisi, cengar-cengir…
