Author: Dion Syaif Saen
-

19-20-21
19 Tiap naluri, adalah duri! Jika tak pandai menari dan melerai eforia dan confidence. Tetapi manusia kekinian, semakin diuji semakin ingin dipuji. Setepi ombak memberi ruang dari rongga-rongga bebatuan berkarang, dia penuh teguh, dan juga mampu meredam gairah angin dan arus yang membawanya. Dia gelambang yang mengembang tenang. Ajaklah dirimu membiasakan memahami letak-letak bahasa aktualisasi…
-

16-17-18
16 Orang-orang pandai, mengepung di antara manusia bijak, di telaga manusia sederhana, baik tutur maupun cara bekerjanya, mampu menafsirkan sesuai perkataannya. Suatu ketika, sebuah purnama muncul tiba-tiba. Dekat kerumunan sekelompok manusia sekonyong-konyong. Kepandaian itu kemudian merencanakan sesuatu pada sebuah percobaan diri, penuh kecendrungan mau tampil, tetapi tidak berproses. Saat itulah, kecendrungan mulai tampak manusia latah…
-

Kedok Budaya
Apakah budaya itu? Bagaimana bisa mengatur kehidupan, menaruh doktrin yang harus kita yakini dan kita jalankan. Walau kadang bertentangan dengan nalar. Apakah budaya sebagai pengetahuan yang abadi? Atau saat dia hadir sebagai pelengkap, ketarutan manusia agar lebih tidak menjadi lebih liar bagai rimba dengan penghuninya yang brutal tanpa akal? Sementara manusia memiliki akal untuk berkembang. …
-

Penyair Celana Menemui Sang Maha Sastra
Dunia sastra kembali berduka hari ini. Sastrawan sekaligus penyair Joko Pinurbo meninggal dunia, Sabtu, 27 April 2024, pukul 06.03 WIB di RS Panti Rapih, Yogyakarta. Benteng Roterdham Makassar, perjumpaanku denganmu kala itu kau asyik menyeterika kata dan cara pandang mendamaikan puisi dan kata. Sesekali melirikku lirih. Dan kau tak mengenaliku dan itu pasti serta wajar. Karena saya…
-

Tungguru Isrun
Tak berselang lama kepergian seorang tokoh pendidik pak Syafruddin. Kini tetiba langit mengawal hari kami kembali dengan kedukaan berpulangngya pada Ilahi seorang guru, Muh. Isrun bin Muh. Arief. Kami lebih akrab menyapanya dengan Tungguru Isrun. Setiba di pucuk waktu, kala magrib menggemgam hari. Ranah duka kembali menyelimuti kami. Seorang guru tutup usia dengan membuat semua…
-

Namamu dan Kebeningan Hatimu
Langit terang kala itu, tapi sejuta kepala tertunduk. Suasana haru menyelimuti kala mendengar kau dirawat karena sebuah musibah. Jauh dari bayangan kami. Kau harus berjuang saat usai penanganan operasi. Tiada bisa menduga. Berharap mukjizat Tuhan. Namun, ketika detik berlalu, tangis dan doa pecah ke langit. Seraya Tuhan menambatkan dan menempatkanmu di surga-Nya. Kabar duka menyelimuti…
-

Menyibak Lebur tapi Tak Larut
Ada yang larut dengan pesona, ada yang lebur dengan persona. Tipuan-tipuan bagai pesulap, lamat-lamat menyusup, mengendap, melesap masuk tanpa permisi (adab). Pura empati tetapi menaruh belati. Ada yang meringsut kemudian menjalin jala-jala sengketa. Benalu dinamakannya. Sebab ia berusaha lebur secara terpaksa kemudian hendak pula larut. Berpotensi akan menjadi karut marut. Ibatat pada satu komponen dan…
-

Hikmah Apparikongang
Manusia menghabiskan banyak waktu, uang, dan energi untuk memberi manfaat bagi orang lain, termasuk keluarga, teman, dan orang asing. Mengapa kita melakukannya? Pernahkah kita memedulikan orang lain demi kepentingan mereka dan bukan hanya demi diri kita sendiri? Apakah tujuan akhir kita selalu dan semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau apakah kita mampu memperhatikan kesejahteraan…
-

13-14-15
13 Sejumlah abjad di benakku, mencoba menjelma. Alur dan warna, diukir semesta, percakapan di tepi sore menjadi jalan cerita selanjutnya. Tentang kita yang sering salah paham, salah tingkah dan pamer, tentang sekumpulan di antara kita mulai pergi satu persatu, saat pemulihan lelah itu di sisa senja yang dikelabui awan. Sesederhana mungkin kusimpan dalam otakku. Aku…
-

Assiama: Suatu Penyatuan
Ia bertajuk “Assiama” dalam dialek bahasa Makassar (Bantaeng). Ia adalah spirit yang disifati dari rangkaian asimilasi, perpaduan, peneguhan, dan penyatuan yang saling melengkapi satu dengan lainnya. Siang itu bertepatan Jumat, saya baru siuman, tetiba tiga pucuk WhatsApp menggedor dinding kantukku. Kalimatnya cukup membuat adrenalin dan jiwa saya ciut. Bagaimana tidak, saya mengalami turbulensi karena bunyi…
