07

Di untai-untai, sudahlah. Kita dalam gemgamannya. Jika tidak mampu menjawab aksara-aksara yang hidup sekian abad. Dengan caranya yang berseronok, menodong di sebuah abjad zaman mereka incar.

Kalaupun merajuk, itu alasan tanpa sengaja! Cukup memberinya sapu tangan kebahagiaan bersama. Sebab, rujuk itu beda, bertajuk menikuk dan membekuk. Kita tanpa was-was pun tetap cemas.

Seberapa jauh aksara itu mengapungkan di atas bara duniawi? Sengketa pribadi, hingga kepanikan tanpa mengetahui, telah terbawa aliran nadi-nadi yang kehilangan dalil.

Aksara dalam telukku pun, makin mengarung, meski masih mengapung di kepung pasukan ubur-ubur.

DSS 130418

***

08

Dalam batasan khayali, imaji itu bersemburat ringkih menemui ilalang.

Sebuah penyangga kemuliaan, mendatangi dalam sudut matahari sore, menyeka dahaga seketika, bersama seribu aksara bersemi dalam hatinya.

Sedenting dawai, tak bisa memuji jauh melebihi dari yang dimiliki.

Aku hanya aksara dalam semtuhan ilalang. Berkalang seadanya di bukit, semai cemara jiwa manusia.

DSS 140418

***

09

Para derma dan kerukunan, aksara itu terlempar di kaki mereka. Semua bagai disulap menjadi tikai-tikai dan saling membantai.

Silutarrahmi menjadi ketakutan yang memisahkan dari kerumunan, menjadi tontonan ketoprak humor dan adegan horor dari teror-teror bagai pelor.

Sejajar bulan yang diungkap-ungkap, bertepatan prosesi sakral sang Manusia Agung, yang membawa diri dan jiwanya sebagai mahluk pemaaf, penyantun sifat dalam tabiat. Yang selalu di kenang aksara-aksara kemudian luhurnya kepada sesama manusia. Yang sebagian orang sering meminjam anjuran dan fatwanya, walau tak sama tak serupa perannya. Menyimpulkan luka dalam kelenjar yang berpendar.

Aku menengok ke sudut pagi. Aksara masih merambah teluk menyembunyikan sunyi.

DSS 140418


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *