Papan Interaktif Digital dan Ilusi Pembelajaran Menyenangkan

Bulan lalu, sekolah kami kedatangan tamu baru bernama Papan Interaktif Digital (PID). Tahun sebelumnya, pemerintah membagikan satu perangkat ke sekolah kami. Tahun ini, jumlahnya bertambah menjadi tiga. Praktis, empat dari enam kelas kini memiliki layar besar yang dipasang di depan kelas, membelakangi papan tulis yang sudah kusam.

Kehadiran perangkat ini tentu patut disambut baik. Guru makin semangat, murid apalagi. Pemerintah sedang berupaya membawa pendidikan kita lebih dekat dengan perkembangan teknologi. PID menawarkan banyak kemungkinan yang sebelumnya sulit dilakukan dengan fasilitas terbatas. Kini, Guru bisa menampilkan gambar, video, animasi, membuat kuis interaktif, dan menghadirkan berbagai sumber belajar ke dalam kelas. Jika digunakan secara tepat, perangkat ini tentu dapat memperkaya pengalaman belajar anak-anak.

Namun, belakangan saya melihat ada kecenderungan yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Seolah-olah kehadiran PID mengharuskan guru untuk mengubah setiap pembelajaran menjadi aktivitas digital yang meriah. Berbagai aplikasi digunakan untuk membuat kuis, memutar roda keberuntungan, menebak gambar, mengejar poin, hingga berlomba mendapatkan peringkat. Anak-anak tertawa, berteriak kegirangan, berebut menjawab pertanyaan. Kelas terlihat hidup. Pembelajaran tampak menyenangkan.

Saya tidak sedang memperkarakan permainan dalam pembelajaran. Gamifikasi, jika ditempatkan secara tepat, dapat membantu meningkatkan motivasi dan keterlibatan murid. Persoalannya muncul ketika permainan justru menjadi pusat pembelajaran, sementara pengetahuan yang seharusnya dibangun melalui proses belajar hanya menjadi alasan untuk menjalankan permainan itu.

Di titik ini, barangkali kita perlu berhati-hati terhadap ilusi pembelajaran menyenangkan. Kita mungkin menganggap anak-anak yang tertawa, bersemangat menjawab kuis, berebut mendapatkan poin, dan meminta permainan diulang sebagai tanda bahwa pembelajaran telah berhasil. Padahal, kita mungkin sedang keliru membaca suasana kelas sebagai ukuran keberhasilan belajar.

Anak-anak bisa sangat antusias mengikuti kuis perkalian. Mereka berebut menjawab, bersorak ketika memperoleh poin, bahkan meminta permainan diulang. Namun, ketika dihadapkan pada soal cerita yang membutuhkan pemahaman perkalian, mereka justru kebingungan. Mereka menikmati permainannya, tetapi belum tentu menguasai pengetahuannya.

Kesenangan dan pemahaman memang tidak harus dipertentangkan. Pembelajaran yang menyenangkan tentu baik. Akan tetapi, keduanya bukan hal yang sama. Anak yang menikmati proses belajar belum tentu memahami materi. Begitu pula skor tinggi dalam kuis digital tidak serta-merta menunjukkan bahwa anak telah menguasai konsep yang dipelajari. Kita perlu melihat apa yang tertinggal dalam pikiran mereka setelah permainan selesai.

Belajar tidak selalu berlangsung dalam suasana yang menyenangkan. Ada saat ketika anak harus berhadapan dengan bacaan yang sulit, soal yang membingungkan, percobaan yang gagal, atau pertanyaan yang tidak segera menemukan jawaban. Mereka membutuhkan kesabaran untuk membaca, ketekunan untuk mencoba, dan keberanian untuk menghadapi kesalahan. Semua itu bukan tanda bahwa pembelajaran gagal. Justru di sanalah kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan berpikir.

Jika setiap kesulitan buru-buru kita ubah menjadi permainan, setiap kebosanan harus segera diusir dengan hiburan, jangan-jangan kita sedang membentuk anak-anak yang hanya mau belajar ketika belajar terasa menyenangkan. Padahal, pendidikan bukan sekadar membuat anak betah berada di dalam kelas. Pendidikan juga harus membentuk kemampuan mereka untuk bertahan menghadapi persoalan, termasuk persoalan yang tidak menyenangkan.

Saya teringat Byung-Chul Han, filsuf Kore-Jerman dalam The Palliative Society. Han mengkritik masyarakat modern yang semakin terobsesi pada kenyamanan dan berusaha menghindari segala bentuk ketidaknyamanan. Segala sesuatu dituntut serba mudah, cepat, menyenangkan, dan bebas dari rasa sakit. Dalam konteks pendidikan, kecenderungan ini bisa muncul ketika kita menganggap kebosanan, kesulitan, dan kebingungan sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan dari ruang kelas.

Padahal, tidak semua ketidaknyamanan harus dihindari. Ada kesulitan yang justru diperlukan agar seseorang dapat bertumbuh. Anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berpikir lebih lama, mencoba berkali-kali, membaca dengan saksama, dan menemukan jawaban melalui proses. Jangan sampai kita terlalu sibuk membuat pembelajaran terasa mudah hingga menghilangkan kesempatan bagi anak untuk belajar menghadapi kesulitan.

Menariknya, sejumlah negara yang lebih dahulu mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan justru mulai mengevaluasi kembali penggunaannya. Swedia, misalnya, mengoreksi kebijakan pendidikan digitalnya dengan kembali memberi perhatian pada buku cetak dan kemampuan dasar membaca. Prancis juga membatasi penggunaan telepon seluler di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Langkah-langkah tersebut bukan berarti mereka menolak teknologi. Mereka sedang mencari keseimbangan dan mengingatkan bahwa teknologi tidak selalu menjadi jawaban bagi setiap persoalan pendidikan.

UNESCO melalui Global Education Monitoring Report 2023 juga mengingatkan bahwa teknologi dalam pendidikan harus ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan. Penggunaannya perlu mempertimbangkan relevansi, kesetaraan, dan keberlanjutan. Teknologi seharusnya mendukung proses pendidikan, bukan menggantikan peran penting interaksi manusia di dalamnya.

Karena itu, kita tidak perlu tergesa-gesa menganggap papan tulis, buku cetak, kertas, dan tulisan tangan sebagai benda-benda usang yang harus segera ditinggalkan. Membaca buku, mencatat dengan tangan, berdiskusi, mengamati lingkungan, melakukan percobaan, dan berinteraksi secara langsung tetap memiliki tempat penting dalam pembelajaran.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah kesiapan guru. Jangan sampai pengadaan perangkat digital hanya diikuti pelatihan teknis tentang cara mengoperasikan aplikasi, tanpa pendampingan yang memadai mengenai bagaimana teknologi itu digunakan untuk memperbaiki pembelajaran. Guru perlu memahami kapan PID berguna, kapan permainan interaktif diperlukan, dan kapan papan tulis, buku, percakapan, atau praktik langsung justru lebih efektif.

Bahkan, guru seharusnya tidak merasa bersalah ketika sesekali memilih untuk tidak menggunakan PID. Sebab, keberhasilan mengajar tidak diukur dari seberapa sering perangkat digital dinyalakan, seberapa banyak aplikasi digunakan, atau seberapa meriah suasana kelas. Dalam pembelajaran, kata Dhitta Puti Sarsvati dalam bukunya Mendidik Pemenang Bukan Pecundang, kita harus menggunakan alat apa pun, termasuk TIK secara bijak, TIK bukan dewa. Ada saatnya ia relevan digunakan, ada saatnya tidak.

Pemerintah pun perlu mengevaluasi kebijakan digitalisasi pendidikan dengan ukuran yang lebih mendasar. Jangan hanya menghitung berapa banyak perangkat yang telah dibagikan atau berapa sekolah yang sudah memiliki layar interaktif. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kehadiran perangkat itu benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran? Apakah kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan berpikir kritis anak-anak ikut berkembang? Apakah guru menjadi lebih terbantu dalam mengajar, atau justru dibebani pekerjaan tambahan untuk membuat pembelajaran terlihat digital?

Jika kita sungguh ingin meningkatkan kualitas pendidikan, perhatian terhadap teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan hal-hal mendasar. Perpustakaan sekolah perlu diisi buku-buku bermutu. Anak-anak perlu dibiasakan membaca dan menulis. Guru perlu memperoleh pendampingan pedagogis yang memadai. Dan yang tidak kalah penting, kita harus memberi ruang bagi proses belajar yang tidak selalu cepat, mudah, dan menyenangkan.

Jangan salah paham. Saya tidak menolak kemajuan. Saya pun tidak ingin anak-anak kita tertinggal dalam penguasaan teknologi. Mereka perlu mengenal perangkat digital, memahami cara kerjanya, dan mampu memanfaatkannya untuk kehidupan mereka kelak.

Jangan sampai kita terlalu sibuk membuat kelas tampak menyenangkan, tetapi lupa memastikan bahwa anak-anak benar-benar belajar. Jangan sampai layar semakin pintar, aplikasi semakin maju, sementara kemampuan anak-anak untuk berpikir justru hanya jalan di tempat.

Sumber gambar: Kemendikdasmen


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *