‎Penyembah Pendamba Jatah

Saat hujan belum turun. Ketika urusan belum selesai. Ketika doa-doanya tidak terjatah. Resah para penyembah berhamburan ke langit.
‎
‎Seakan Tuhan ada di atas. Sambil mengumpulkan amal menagih Tuhan.
‎
‎Aku ragu pada diri sendiri selama ini. Selalu memaksa Tuhan. Merayunya, membuatnya sibuk. Maka aku menemukan kesadaran. Bukan Iman. Bukan taqwa yang pada akhirnya jumawa. Memburu wibawa pada akhirnya jatuh ke rawa-rawa.
‎
‎Sementara tidak juga ragu untuk hari esok. Statis, bukan berarti apatis. Secara agamais, ternyata aku jauh dalam bentuk atribut yang membuat ribet. Spiritualis tidak juga. Hanya sebagai gelandangan yang optimis setiap tarikan napas setiap detik.
‎
‎Rasanya enggan sebagai  seseorang yang sedang beribadah, berdoa, atau mengabdi, tetapi iming-iming pengakuan,  hatinya dipenuhi dengan kecemasan, karena tujuan dan capaiannya di dunia belum tercapai, ada keraguan, atau pencarian kesadaran yang belum selesai.
‎
‎Aku ragu dan amat takut. Ketika wajahku  penuh basuhan wudu. Namun membuat rusuh dan gaduh. Keimanan bukan tolak ukur. Jika masih mendamba saat menyembah lalu hanya ingin pengakuan.
‎
‎Ritual yang dilakukan mulai kehilangan jiwanya dan berubah menjadi sekadar rutinitas.
‎
‎Aku hanya melihat sebagian,  semata menyembah. Setelah itu resah lagi, ketika jatah tidak sesuai.  Adanya konflik batin antara tujuan dan kepentingan, itu hanya standar moral/agama dengan kelemahan diri sebagai manusia. 
‎
‎Tuhan itu bukan sesembahan: secara kajian mengandung makna filosofis dan teologis yang membedakan antara eksistensi Tuhan. Sang Pencipta yang ada dengan sendirinya, dengan sesembahan objek atau bentuk peribadahan yang ditujukan kepada-Nya.
‎
‎Terkait pernyataan tersebut: Tuhan tetap ada tanpa disembah: Tuhan itu  yang Maha Mandiri. Sekalipun seluruh makhluk di alam semesta berhenti menyembah-Nya, eksistensi Tuhan tidak akan berkurang atau hilang sedikit pun. Tuhan ada pada hakikat-Nya sendiri.
‎
‎Tuhan tidak perlu juga dibela. Teringat sebuah kalimat dalam buku dan sebuah esai, adalah judul esai terkenal karya K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dimuat di majalah Tempo pada 28 Juni 1982.
‎
‎Apa makna dan inti pesan, menurut Gus Dur:  Allah Mahakuasa. Gus Dur berangkat dari pemikiran tasawuf (mengutip Al-Hujwiri) bahwa Tuhan adalah Mahabesar dan hakikat-Nya tidak akan berkurang sedikit pun oleh serangan, ejekan, atau penolakan manusia.
‎
‎Yang berubah atau terancam bukanlah Tuhan, melainkan persepsi manusia.
‎
‎Kritik terhadap amarah atas nama agama: Kalimat ini merupakan kritik kepada kelompok-kelompok yang merasa paling berhak “membela Tuhan” dengan cara-cara penuh kemarahan, intoleransi, kekerasan, atau aksi main hakim sendiri. Mengaduk-aduk suasana demi kepentingan pribadi.
‎
‎Menurut Gus Dur, yang seharusnya dibela bukanlah Tuhan yang sudah Maha Segalanya, melainkan sesama manusia yang lemah, tertindas, tersisihkan, dan mengalami ketidakadilan.
‎
‎Logika kecilku kembali berusaha menerima. Menyusuri lorong pemahamanku. Tapi apa yang lihat. Sebagian masih ragu pada Tuhan.
‎
‎Masih mencari dan menceritakan dunia. Bertengger dan berlindung atas nama agama dan Tuhan itu sendiri. Akan tetapi hanya kedok,  butuh pengakuan, kemudian merambat pelan menyusup di keramaian.
‎
‎Misinya tercapai. Dia raih lalu meninggalkan jejak tapaknya yang tersisa adalaha petaka.
‎
‎Manusia semakin kocar-kacir. Ketika para pendamba surga, penyembah yang sekadar dipertontonkan. Bukan menjadi untuk dituntunkan.

‎Akhirnya suatu hari aku berhenti berdoa. Karena aku takut kecewa saat doaku tidak terkabulkan. Tetiba karib mubaraq menyeka untuk segera membangun “kesadaran”.
‎
‎Penyembah berlomba mencari jatah. Ada yang latah, ada yang kalah. Karena dunia masih bertengger dalam doanya.
‎
‎Bahkan ada penyembah mengkhianati Tuhannya, ketika kekhawatiran hari esok itu selalu hadir mencemaskan.
‎
‎Jatah Tuhan tidak habis. Antara surga, neraka. Dosa dan keimanan. Jika sesembahan mendamba surga. Maka tutuplah pintu surga untukku. Kalimat seorang sufi perempuan Rabiatul Adawiyah. Mengajakku merenung, merunut. Bukan semata zikir. Tapi berpikir. 
‎
‎Bibir mengucap tasbih. Tetapi masih risih dan berisik. Kata Cak Nun. Kalau perlu menyembahlah tanpa Tuhan sekalipun tahu. Ini ilustrasi tamparan menurutku. 
‎
‎Ada makna dan sangat kuat kepada manusia yang sesembahannya masih menganggap sebagai jalan pulang ke Tuhan. Tetapi masih ada luka dan petaka sosial  tertabur demi debut pencarian jati diri.
‎
‎”Jika Tuhan masih dianggap sebagai penyembahan. Maka berhentilah menyembah.” Sebab Dia bukan sesembahan.


‎
‎
‎
‎
‎


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *