Desa Hindia dalam Tiga Babak

Babak Pertama

Di sebuah desa bernama Desa Hindia, hiduplah seorang lelaki bernama Jaya Wibawa. Orang-orang biasa menyebutnya Pak Jawi. Ia berasal dari Suryamanik, sebuah dusun tua di ujung desa. Letaknya jauh dari balai desa, tapi konon, dusun tersebut pernah jadi pusat desa.

Dahulu Pak Jawi seorang tukang kayu. Ia terbiasa mengukur papan, memotong balok, dan merangkai bagian-bagian menjadi meja, almari, kursi, dan lainnya.

Dari tukang kayu, Pak Jawi kemudian menjadi kepala dusun. Ia cukup pandai membaca suasana. Tidak banyak bicara tentang teori pemerintahan, tetapi tahu bagaimana membuat orang merasa didengar. Penampilannya rapi, sederhana, senyumnya mudah muncul, dan tutur katanya tidak pernah terdengar seperti orang yang sedang memerintah. Ia lebih suka tampil seperti tetangga yang kebetulan diberi kewenangan.

Ketika pemilihan kepala desa tiba, Pak Jawi maju sebagai calon. Ia tidak membawa banyak janji yang muluk-muluk. Cukup memperlihatkan kesederhanaan, keramahan, dan keyakinan bahwa desa membutuhkan pemimpin yang dekat dengan warga. Penduduk pun percaya. Pak Jawi menang.

Lawannya adalah Prawira Satria atau yang popular dikenal sebagai Pras, seorang bekas anggota Laskar Hindia yang dikenal keras dan berwatak komando.

Lima tahun kemudian, ia kembali mencalonkan diri. Kembali berhadapan dengan Pras. Sebagai petahana, ia semakin kuat. Ia menang untuk kedua kalinya.

Prawira Satria, atau Pras, bukan orang yang tidak punya pengalaman. Ia pernah menjadi bagian dari Laskar Hindia, pasukan yang dahulu dibentuk untuk menjaga ketertiban desa. Tetapi kariernya di kesatuan itu berakhir setelah ia diduga terlibat dalam penculikan sejumlah warga yang menanam pohon pisang di tengah jalan sebagai bentuk protes atas jalan desa yang tak kunjung diperbaiki. Warga yang memprotes jalan rusak justru berurusan dengan aparat. Jalan tetap rusak, sementara urusan penculikan menjadi bahan pembicaraan panjang di warung kopi.

Sejak itu, Pras menyimpan ambisi menjadi kepala desa. Dua kali ia mencoba, dua kali pula ia dikalahkan Pak Jawi.

Pak Jawi sendiri mempunyai seorang sahabat setia bernama Laksana S, atau LS. Ia sudah menemani Pak Jawi sejak masih menjadi kepala dusun di Suryamanik. LS dikenal loyal, cekatan, dan tidak banyak bertanya. Ketika Pak Jawi menjadi kepala desa, LS diangkat menjadi Kepala Keamanan Lingkungan Desa.

Jabatan itu membuat LS memiliki akses ke banyak urusan. Ia tahu siapa yang keluar masuk balai desa, siapa yang sedang berselisih, siapa yang sedang mendekati kepala desa, bahkan siapa yang sekadar datang untuk meminta tanda tangan surat keterangan.

Pada masa jabatan keduanya, Pak Jawi mulai menyusun langkah politik yang lebih luas. Ia tidak melupakan Pras, tetapi juga tidak ingin terus-menerus berhadapan dengannya dalam pemilihan kepala desa. Ia kemudian memberi Pras jabatan sebagai Kepala Pengamanan Perbatasan Desa.

Pras menerima jabatan itu. Meski banyak pendukung dan loyalisnya kecewa. Pras tampak menikmati jabatan tersebut. Ia mislanya mengurus wilayah perbatasan dan membeli sejumlah peralatan keamanan bekas pakai.

Konon, barang-barang itu masih layak digunakan. Tetapi warga bertanya-tanya, mengapa peralatan keamanan desa harus membeli barang bekas? Pertanyaan yang tak pernah dijawab oleh Pras.

Pak Jawi juga tidak terlalu memusingkan pertanyaan itu. Ia punya urusan lain, yaitu memikirkan bagaimana kelangsungan jabatannya, sebab sebentar lagi masa jabatannya berakhir. Ia tentu tak bisa lagi mencalonkan diri. Ada ketentuan bahwa tidak boleh lebih dari dua periode.

Untuk mengatasi itu, ia mula-mula memerintahkan kepada beberapa ketua RT untuk mengusulkan peraturan mengenai batasan dua periode diubah, menjadi boleh tiga periode. Namun usulan itu mendapat reaksi dari warga desa. Akhirnya ide itu tidak diteruskan.

Lalu menjelang akhir masa jabatannya, ia mulai mengusulkan putrinya, yaitu Gita Sari atau Gisa. Padahal, selama ini Gisa dikenal sering mengatakan bahwa dirinya tidak tertarik pada politik. Ia lebih suka mengurus perkebunan pisangnya dan sesekali menghadiri acara warga.

Tapi ternyata itu hanya sebentar. Tidak begitu lama, Gisa diangkat menjadi kepala dusun. Setelah itu, namanya mulai disebut-sebut sebagai calon wakil kepala desa.

Yang akhirnya benar, Gisa kemudian dipasangkan dengan Pras, orang yang dua kali dikalahkan ayahnya dalam pemilihan kepala desa.

Maka terjadilah perkawinan politik itu.

Pras dan Gisa maju bersama. Mereka menang. Pras menjadi kepala desa, Gisa menjadi wakil kepala desa. Mereka menang telak, meski mendapat protes dari pendukung kandidat lain, karena disinyalir menggunakan perangkat desa, aparat keamanan, dan penyelenggara pilkades untuk memenangkannya.

Di hari pelantikan, warga bersorak. Mereka berharap masa pemerintahan baru akan melanjutkan warisan dari Pak Jawi, sebagaimana yang mereka janjikan.

Sementara itu, Pak Jawi kembali ke Suryamanik. Ia mengatakan akan Kembali menjadi warga biasa, mengurus cucu dan kembali mengurus lahan dan usaha kayunya.

***

Babak Kedua

Pada awal pemerintahan Pras dan Gisa, Desa Hindia tampak baik-baik saja. Dua tahun pertama berlangsung seperti bulan madu. Keduanya sering tampil bersama dalam acara desa. Mereka saling memuji, saling mendampingi, dan sesekali berfoto dengan latar spanduk pembangunan.

Pras merasa telah mendapatkan mandat penuh dari warga. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar bekas lawan politik yang diberi kesempatan menduduki kursi kepala desa. Ia ingin meninggalkan jejak pemerintahannya sendiri.

Maka dimulailah sebuah program besar yang diberi nama Laskarisasi.

Melalui program itu, Pras ingin menata seluruh kehidupan desa dengan standar Laskar Hindia. Disiplin harus ditegakkan. Barisan harus dirapikan. Instruksi harus dipatuhi. Rapat harus berlangsung dengan komando yang jelas. Bahkan cara warga menyampaikan pendapat pun diharapkan mengikuti tata tertib yang ketat.

Semua harus tertib. Semua harus seragam. Semua harus satu komando.

Di balai desa, para perangkat mulai terbiasa mendengar istilah komando, operasi, barisan, perizinan, dan pengamanan. Rapat yang dahulu berlangsung dengan diskusi santai kini lebih mirip apel pagi. Orang yang terlambat datang dianggap tidak disiplin. Orang yang terlalu banyak bertanya dicurigai kurang loyal.

Pras rupanya percaya bahwa desa yang baik adalah desa yang stabil. Ia mungkin lupa bahwa desa bukan barak, dan warga bukan anggota pasukan yang harus selalu menjawab siap.

Ada pula kebijakan yang membuat para petugas keamanan desa kebingungan. Mereka yang semula bertugas menjaga lingkungan dan perbatasan justru diminta ikut mengurus lahan pertanian serta mengelola toko kelontong milik desa.

Seorang petugas keamanan pernah bertanya kepada rekannya.

“Sebetulnya kita ini petugas keamanan atau petani?”

Rekannya menjawab, “Tergantung perintah. Kalau pagi menjaga perbatasan, siang mencangkul, sore menjaga toko.”

“Kalau malam?”

“Ya, menghitung harga cabai. Katanya kita juga harus ikut mengendalikan inflasi.”
Keduanya tertawa. Tetapi tawa itu tidak sepenuhnya lepas. Mereka mulai merasa bahwa pekerjaan mereka semakin jauh dari tugas yang seharusnya.

Sementara itu, Pras semakin percaya diri. Ia merasa program Laskarisasi adalah jawaban atas segala persoalan desa. Jalan rusak, pasar sepi, saluran air tersumbat, dan harga kebutuhan pokok naik, semuanya dianggap bisa diselesaikan dengan disiplin dan komando.

Padahal, jalan berlubang tidak mungkin bisa ditambal dengan apel pagi. Harga cabai tidak turun hanya karena pedagang berbaris rapi. Dan kemiskinan tidak bakalan hilang karena warga diwajibkan mengikuti upacara setiap Senin.
Di tengah kesibukan itu, hubungan Pras dan Gisa mulai berubah.

Pada mulanya, keduanya terlihat seperti pasangan yang saling melengkapi. Namun, semakin lama Pras merasa bahwa dirinya adalah kepala desa yang dipilih langsung oleh warga. Ia ingin mengambil keputusan sendiri, menentukan arah desa, dan mengatur orang-orang di sekelilingnya tanpa harus selalu mempertimbangkan kepentingan keluarga mantan kepala desa.

Gisa, sebaliknya, merasa bahwa dirinya tidak boleh dijadikan ban serep, seolah pelengkap jabatan saja. Ia datang ke pemerintahan bersama nama besar ayahnya. Ia merasa mempunyai hak untuk didengar dan dilibatkan. Di belakang Gisa ada Pak Jawi, yang meskipun sudah tidak menjabat, masih memiliki jaringan dan loyalis di berbagai sudut desa.

Di sinilah benih-benih persoalan mulai tumbuh.

Pras mulai curiga terhadap orang-orang yang terlalu dekat dengan Pak Jawi. Salah satunya Laksana S, Kepala Keamanan Lingkungan Desa yang sudah lama menjadi orang kepercayaan mantan kepala desa.

Pras merasa LS lebih setia kepada Pak Jawi daripada kepada pemerintahan yang sedang berjalan. Setiap keputusan Pras seolah-olah harus lebih dahulu melewati penilaian orang-orang Pak Jawi. Ada kabar yang sampai ke telinga Pras bahwa beberapa kebijakan pemerintahannya selalu dibicarakan di rumah Pak Jawi.

Akhirnya Pras mengambil keputusan. LS dicopot dari jabatan Kepala Keamanan Lingkungan Desa.

Namun, Pras tidak benar-benar mengeluarkannya dari pemerintahan. Ia masih membutuhkan orang-orang yang berpengalaman, dan barangkali juga tidak ingin membuat Pak Jawi semakin tersinggung. LS kemudian diberi jabatan baru, orang desa menyebutnya “jabatan hiburan”, yaitu sebagai Kepala Hubungan Masyarakat Desa.

LS menerima jabatan itu. Ia tetap berada di dalam pemerintahan, meskipun posisinya kini tidak lagi sama.

Keadaan semakin rumit ketika pengadilan desa mulai memeriksa persyaratan pencalonan Gisa. Salah satu dokumen pendidikan yang digunakan dalam pencalonannya dipersoalkan. Dalam pemeriksaan, terungkap bahwa dokumen tersebut tidak menunjukkan riwayat pendidikan Gisa yang sebenarnya. Ia tidak menyelesaikan pendidikan sebagaimana yang dinyatakan dalam dokumen itu.

Persoalan yang semula hanya menjadi bahan bisik-bisik warga kini berubah menjadi masalah hukum dan politik. Kedudukan Gisa sebagai wakil kepala desa berada dalam ancaman.

Bagi Pras, perkara itu bisa menjadi beban pemerintahan. Bagi Gisa, perkara itu menyangkut masa depan politiknya. Bagi Pak Jawi, perkara itu jauh lebih serius, bukan cuma soal jabatan anaknya, tetapi juga soal kelanjutan pengaruh keluarga di rumah besar.

Maka, bulan madu yang semula tampak indah mulai berubah menjadi pertengkaran yang tak lagi bisa disembunyikan.

Warga mulai bertanya-tanya, apakah Pras dan Gisa memang pasangan yang dibangun atas dasar kepercayaan, atau sejak awal hanya kawin paksa?

***

Babak Ketiga

Di Dusun Suryamanik, Pak Jawi mulai merasa bahwa keadaan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Ia memang sudah tidak menjabat kepala desa. Tetapi ia tidak pernah benar-benar menganggap dirinya selesai dari urusan pemerintahan desa. Ia masih mempunyai orang-orang kepercayaan, jaringan politik, dan sejumlah loyalis yang tersebar di balai desa.

Di antara mereka ada yang masih duduk dalam jabatan, ada yang berada di luar pemerintahan, dan ada pula yang setiap sore datang ke rumah Pak Jawi dengan alasan sekadar minum kopi.

Dari percakapan-percakapan itulah muncul sebuah rencana.

Menurut aturan Desa Hindia, apabila kepala desa berhenti atau diberhentikan sebelum masa jabatannya berakhir, wakil kepala desa akan menggantikannya secara otomatis. Dengan kata lain, jika Pras berhasil disingkirkan, Gisa berpeluang naik menjadi kepala desa tanpa harus menunggu pemilihan berikutnya.

Inilah jalan pintas yang mulai diperhitungkan Pak Jawi dan para loyalisnya.

Mereka tidak perlu menunggu lima tahun. Tidak perlu mengumpulkan suara lagi. Tidak perlu mengeluarkan biaya kampanye. Cukup membuat Pras kehilangan legitimasi, kehilangan dukungan, lalu pergi dari rumah besar.

Kursi kepala desa pun bisa berpindah kepada Gisa, sang wakil.

Maka dimulailah operasi politik untuk melemahkan sang kepala desa.

Setiap kebijakan Pras mulai dicari kekurangannya. Program Laskarisasi yang semula dipromosikan sebagai disiplin pemerintahan kini digambarkan sebagai usaha mengubah Desa Hindia menjadi barak militer. Cara Pras memimpin disebut terlalu komando. Rapat-rapatnya dianggap tidak demokratis. Para perangkat desa dikabarkan tidak lagi memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat.

Urusan pembelian peralatan keamanan bekas kembali diangkat. Termasuk cerita tentang masa lalunya yang menculik warga desa. Loyalis Pak Jawi mulai mempertanyakan mengapa pengamanan perbatasan menggunakan barang bekas. Kebijakan petugas keamanan yang disuruh bertani dan mengurus toko kelontong juga dijadikan bahan kritik.

Bahkan persoalan kecil yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan mulai diperbesar. Pernyataan Pras yang memang sering kurang tepat, sengaja disebarkan sebagai bukti bahwa kepala desa tidak kompeten dan sudah kehilangan arah.

Pras tentu tidak tinggal diam. Ia mulai merasa bahwa pemerintahannya sedang dikepung. Ia melihat kritik datang dari berbagai arah, bahkan dari orang-orang yang dahulu mendukungnya. Ia mencurigai ada tangan yang bekerja di belakang semua keributan itu.

Dalam keadaan seperti itu, nama Pak Jawi semakin sering disebut.

Sebagian warga menduga mantan kepala desa itu sedang berusaha mengembalikan kekuasaan kepada keluarganya. Sebagian lain menganggapnya sebagai hak politik yang wajar. Bukankah setiap mantan kepala desa berhak mengkritik pemerintahan yang sedang berjalan?

Namun para loyalis Pras menganggap bahwa kritik itu sengaja dirangkai menjadi operasi untuk menjatuhkan kepala desa, agar wakil kepala desa bisa naik menggantikannya.

Sementara itu, Pak Jawi merasa perlu mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan Pras, termasuk terhadap anaknya, Gisa. Ia tidak ingin persoalan dokumen pendidikan anaknya berkembang menjadi pintu masuk bagi Pras untuk menyingkirkan Gisa dari balai desa.

Pada suatu sore, Pak Jawi memanggil Laksana S ke sebuah ruangan tua di belakang rumah besarnya. Ruangan itu dahulu sering digunakan ketika Pak Jawi masih menjadi kepala dusun di Suryamanik. Di sana pernah dibicarakan banyak hal, seperti strategi pemilihan, urusan keamanan, daftar orang yang harus didekati, hingga nama-nama warga yang dianggap perlu diperhatikan.

Pak Jawi meminta LS memantau gerak-gerik Pras. Ia ingin mengetahui apakah Pras terlibat dalam terbongkarnya persoalan dokumen pendidikan Gisa. Ia juga ingin tahu apakah Pras sedang menyiapkan langkah untuk menyingkirkan Gisa dari jabatan wakil kepala desa.

“Perhatikan baik-baik apa yang dilakukan kepala desa,” kata Pak Jawi.

LS mengangguk.

“Jangan sampai kita terlambat mengetahui apa yang sedang direncanakannya.”

LS kembali mengangguk. Ia tahu tugas itu bukan tugasnya sebagaimana jabatan resminya. Tetapi ia harus setia pada Pak Jawi.

Sejak saat itu, LS menjalankan tugas menjadi mata dan telinga Pak Jawi.

Sampai suatu hari, pekerjaan rahasia itu ketahuan dan terbongkar.

LS ketahuan sedang mengintip Pras melalui sebuah lobang kecil pada dinding ruangan kepala desa. Kejadian itu segera menjadi bahan pembicaraan.

Kabar itu menyebar cepat. Dalam waktu singkat, persoalan LS menjadi skandal besar yang mengguncang desa, bahkan ke desa tetangga.

Kini semua orang saling mencurigai.

Pras menuduh ada operasi untuk menjatuhkannya. Sementara Pak Jawi merasa Pras lupa diri, tidak tahu terimakasih.

LS akhirnya ditangkap oleh laskar desa. Gisa dan Pak Jawi juga mulai gelisah, tampaknya dalam waktu yang tidak lama, akan ada yang jatuh, entah kepala desa, atau wakil kepala desa.

Warga ikut terseret, terpolarisasi pada pilihan, membela Pras sebagai kepala desa, atau membela Gisa dan ayahnya.

Akhirnya, segala persoalan desa, ikut tenggelam. Orang-orang tidak lagi membicarakan jalan rusak, listrik desa yang sering padam, harga pupuk yang kembali mahal.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *