Cinta di Pucuk Munajat

“Munajat perindu terpahat dalam laku merangkak, dari mencintai hingga dicintai.” (Tajali Daeng Litere, 0511026)

Cinta memiliki jalan panjang. Tidak selalu lapang, terkadang berkelintangan, bahkan tak jarang berliku dalam kesunyian. Seorang perindu menempuhnya dengan segala kerendahan hati. Ada munajat, pengabdian, dan kesetiaan yang terus diuji oleh waktu. Begitulah perjalanan seorang hamba dalam mencari pertautan dengan Tuhannya.

Rukun Islam dan Rukun Iman merupakan dua lapik pengabdian. Keduanya menjadi jalan bagi seorang hamba untuk menyatakan kecintaan kepada Tuhan. Islam menghadirkan laku yang terpateri dalam lima rukunnya. Iman menghidupkan keyakinan melalui enam perkara yang menjadi sandaran batin. Keduanya bertaut, saling menguatkan, mengiringi langkah manusia dalam perjalanan penghambaan.

Walau demikian, pengakuan belum tentu menjadi bukti kedalaman cinta. Lidah mampu menyatakan, pikiran bisa meyakini, tetapi laku kehidupanlah yang memperlihatkan sejauh mana cinta itu bersemayam. Menjadi muslim dan mukmin bukanlah garis akhir sebuah perjalanan. Justru di sanalah pengembaraan menemukan pintu-pintu berikutnya. Ada kesadaran tentang keterbatasan diri, sekaligus ketekunan untuk terus mendekat.

Laku merangkak menjadi perlambang kerendahan seorang perindu. Ia tidak sedang menghitung jarak untuk membanggakan kedekatan. Tak pula merasa telah sampai hanya karena mengenali jalan. Sebab, perjalanan mencintai Tuhan bukan perkara cepat atau lambat, melainkan kesungguhan menjaga pengabdian di setiap persinggahan.

Religiusitas dan spiritualitas, dua perkara yang berkelindan, tetapi tidak selalu berbanding lurus. Rukun Islam dan Rukun Iman dapat dibaca sebagai penanda religiusitas seseorang. Ada pengakuan, keyakinan, kepatuhan, serta laku keberagamaan yang tampak dalam kehidupan.

Waima penampakan religius belum dengan sendirinya menandakan kedalaman spiritual. Banyak insan telah menampakkan kesalehan dalam berbagai rupa, tetapi belum tentu menemukan kedalaman penghayatan terhadap Tuhannya.

Di sinilah Rukun Ihsan menemukan tempatnya. Ihsan bukan sekadar tambahan setelah Islam dan iman. Ia merupakan kualitas penghayatan ketika pengabdian tidak lagi berhenti sebagai rangkaian kewajiban, tetapi menjelma kesadaran batin. Hadis Jibril memberikan pengertian, beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya; jika tidak mampu melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kita.

Betapa jauh pergeseran kesadaran itu. Seorang hamba tidak lagi hanya sibuk dengan apa yang dilakukannya di hadapan Tuhan, tetapi juga senantiasa menyadari bahwa seluruh dirinya berada dalam penglihatan-Nya. Tidak ada ruang bagi kepura-puraan, apalagi panggung buat mempertontonkan kesalehan. Sebab, yang menjadi ukuran bukan semata-mata penampakan lahiriah, melainkan kejujuran penghambaan yang meresap hingga ke ruang terdalam dirinya.

Al-Qur’an menyebutkan, Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Pernyataan ini menghadirkan sesuatu yang menggetarkan. Perjalanan yang semula berangkat dari hasrat seorang hamba mencintai Tuhannya, ternyata memiliki kemungkinan berjumpa dengan cinta yang datang dari arah sebaliknya. Bukan karena manusia sanggup menuntut cinta itu, melainkan karena Allah sendiri menjanjikan cinta-Nya kepada orang-orang yang berbuat ihsan.

Spiritualitas tidak berhenti pada seberapa banyak simbol keagamaan dikenakan, seberapa fasih perkara agama diucapkan, atau seberapa sering kesalehan dipertontonkan. Ia menyangkut kesadaran yang tumbuh di kedalaman batin, kemudian memancar melalui laku kehidupan: akhlak. Ketika seseorang menyadari Tuhan senantiasa melihatnya, kejujuran tidak lagi bergantung pada pengawasan manusia. Kebaikan tidak membutuhkan panggung. Pengabdian tidak menagih tepuk tangan.

Religiusitas bisa terlihat melalui penampakan, sedangkan spiritualitas menemukan pembuktiannya melalui penghayatan. Yang pertama dapat dikenali dari sejumlah laku keberagamaan, yang kedua meresap hingga membentuk kualitas kemanusiaan. Keduanya semestinya beriringan. Sebab, spiritualitas tidak dimaksudkan untuk meniadakan religiusitas, melainkan memberikan kedalaman pada keberagamaan.

Barangkali, di sinilah perbedaan antara kualitas memiliki dan kualitas menjadi. Muslim dan mukmin menegaskan identitas serta keyakinan dalam diri seorang hamba. Sementara itu, Ihsan memperlihatkan ketika keislaman dan keimanan menjelma dalam keseluruhan laku. Bukan meninggalkan keduanya, justru menghidupkan keduanya hingga tidak lagi menjadi sekadar sesuatu yang diucapkan atau diyakini, tetapi sesuatu yang mengalir dalam kehidupan.

Seorang Muhsin bukan manusia yang telah selesai dengan dirinya. Ia tetap seorang hamba yang memiliki keterbatasan, bisa khilaf, dan membutuhkan ampunan. Namun, kesadaran ketuhanan senantiasa menuntunnya untuk memperbaiki laku. Ia tidak merasa telah menjadi kekasih Tuhan, sebab cinta-Nya bukan sesuatu yang dapat diklaim. Ia hanya terus mengabdi, sembari berharap rahmat dan cinta-Nya.

Maka, munajat seorang perindu sesungguhnya tidak berhenti pada permintaan agar cintanya diterima. Ada perjalanan panjang untuk membenahi diri, menanggalkan kesombongan, dan merawat kejujuran dalam pengabdian. Mencintai Tuhan merupakan laku yang terus diusahakan, sedangkan dicintai-Nya merupakan anugerah yang tak patut disombongkan.

Barangkali, puncak munajat bukan lagi tentang seberapa jauh seorang hamba berusaha menggapai Tuhan, melainkan ketika seluruh lakunya menjadi jalan bagi cinta Tuhan untuk bersemayam dalam dirinya. Berpucuk pada akhlak yang merupakan tajali Tuhan.

Bila demikian, wahai para perindu merangkaklah. Lalu berjalanlah. Kalau perlu berlarilah. Lupakan jebakan religiusitas yang menggoda dalam kenyamanan simbol kesalehan. Sebab, Tuhan akan menyongsong dengan cinta-Nya.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *