Adab dan Petaka Sosial

Selalu beriringan. Mengitari dan menjadi pegangan untuk memahami manusia sebagai manusia.

Mudah diurai, gampang diucap. Susah dan jarang, bahkan sering lalai sebagai manusia bernama adab. Akibatnya, dia peristiwa luka dan petaka sosial terjadi.

Agar supaya tidak asal dan dikira mengada-ada, maka satu hubungan secara bahasa berikut ini:

Secara bahasa Arab, adab berakar dari kata addaba yang berarti mendidik, melatih, atau mengajak pada suatu kebaikan dan kebiasaan yang luhur. Oleh karena itu, orang yang beradab adalah orang yang terlatih jiwanya untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya yang tepat.

Jejak peradaban manusia adalah belajar, tidak harus mengejar kadar diri. Tetapi menakar sesuai yang telah kita tabur dan kita tuai.

Histori dan filosofisnya, tidak dipandang sekadar sebagai peristiwa malang yang terjadi secara kebetulan, melainkan sebagai cermin dari keretakan moral, struktural, dan spiritual dalam suatu peradaban.

Albert Camus melihat bahwa saat masyarakat abai terhadap tanggung jawab kebebasannya, mereka terjebak dalam kepalsuan.

Kusematkan Albert Camus, berusaha melengkapi diri, dengan beberapa hal. Semua punya hak, urusan, dan segala kesibukan. Sisa bagaimana manusia menjaga pustakanya agar tidak menjadi petaka sosial.

Reaksi dan aksi. Dua hal yang kadang butuh untuk dimaknai secara mendalam. Cara pandang, berinteraksi pada sosial masyarakat yang melekat lebih erat.

Petaka sosial adalah kondisi ketika tatanan nilai, norma, dan hubungan antarmanusia dalam masyarakat mengalami turbulensi pada dimensi yang memicu hal-hal yang tidak lagi kondusif.

Secara masif. Berbeda dengan bencana alam yang dipicu oleh kekuatan bumi, petaka sosial murni lahir dari dinamika sosial manusia itu sendiri. Misal: konflik horizontal, kesenjangan ekstrem, hingga pada hal-hal sederhana, kesalahpahaman menjadi benturan yang cukup kuat di tingkat bawah.

Dunia dan peradaban kali ini sedang tidak baik-baik saja. Tatkala kebersamaan menjadi kecaman, kecemasan untuk saling merangkul satu dengan lainnya.

Jika dibiarkan, ini tidak hanya merusak kedamaian sesaat, melainkan berpotensi meruntuhkan peradaban sebuah bangsa, masyarakat, kemanusiaan pada umumnya dari dalam. Dan manusia dan nilainya akan karam.

Akar Penyebab Petaka Sosial

Itu tidak terjadi dalam semalam. Fenomena ini merupakan akumulasi dari berbagai krisis yang saling berkelindan:

Ketika kendali diri tak bisa diredam. Akan menjadi bara dendam.

Sisi lain berputar di lingkaran kecil elite sementara mayoritas masyarakat terjebak dalam kemiskinan, tekanan kondisi yang telah lupa bagaimana budaya, agama hadir sebagai rem. Konflik sosial akan menebal.

Kesenjangan ini menjadi sumbu pendek yang mudah memicu seperti polarisasi ideologi dan politik, dan kepentingan: akan terpecah dan terbelah antargolongan demi kepentingan, kecemasan, keluhuran yang dulu terjaga, masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling bermusuhan.
Danu kembali membaca diri. Hanyut tergerak di antara dua perang antara logikanya dan batiniahnya (hati).

Di sebuah pintu peradaban aku menemukan seruan. Bagai angin mengabarkan kebenaran. Yang selama ini hilang.

Tetaplah mengkaji zaman. Meski terjal untuk menapaki, ada samar dan mungkin gelap. Tetapi ada gerbang yang akan bercerita kelak.

Ada etika yang tergerus. Seraya mengepung yang telah terjaga. Kian marak seperti ingin terbang meniru burung merak. Padahal sayapnya baru tumbuh.

Reda terik datang gundah yang belum sembuh. Selepas hujan pagi itu. Kemarau meniadakan segera. Alam dan manusia tidak lagi padu menjaga pusaka Tuhan.

Petaka itu tercipta tanpa kita undang sekalian. Sisa kita saling mengingatkan dan menguatkan.

Hanya karena ego, cara melihat peta sosial yang mulai tercerai-berai. Ada terbuai, ada tergiring pesan. Ada yang hanya ikut melebur. Sambil menyaksikan petaka sosial terjadi.

Nurani ditirani. Cepat dan begitu mudah semua berubah. Ada metode yang mungkin penerapannya yang butuh diubah.

Atau kita harus kembali sama-sama belajar. Menyikapi dan menyelami satu dengan yang lainnya. Untuk bisa kita bedakan.

Saling menebar luka, empati makin tergerus dari simpati baru yang hadir di tengah peradaban manusia, sosial, masyarakat.

Akhirnya, yang terjadi saling menabuh dan menabur hal yang memicu persatuan yang berujung petaka sosial yang berlanjut.

Adab redup, empati tertelungkup, terkadang demi mengejar status untuk berjalan mulus. Misi berhasil. Petaka sosial ditinggalkan. Dalil-dalil menjadi kumal dan dekil, bagai candu pengakuan.

Kususuri laman. Agar menyeka untuk tidak gegabah dalam menempatkan narasi ini:

Yang menjadi pepatah sering kita dengar: “Adab lebih tinggi dari ilmu” memiliki makna filosofis yang mendalam yang mencerminkan pandangan tentang kedalaman budi pekerti dan kesopanan yang lebih bernilai daripada sekadar pengetahuan. Berikut adalah makna filosofi di balik pepatah “Adab lebih tinggi dari ilmu”.

Ada Kedalaman Budi Pekerti

Mencerminkan kedalaman budi pekerti seseorang. Seseorang yang memiliki adab yang baik akan memiliki kebijaksanaan dan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan daripada seseorang yang hanya memiliki pengetahuan tanpa adab.

Kemudian tata diri kesopanan dalam berinteraksi: Dalam berinteraksi dengan orang lain. Seseorang yang memiliki adab yang baik akan lebih dihormati dan dihargai oleh orang lain, sehingga menciptakan hubungan yang lebih harmonis dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa punggung jadi panggung. Aku simak secara saksama peristiwa manusia yang saling berlomba menggapai tujuan. Meninggalkan jejaknya yang menjadi luka sosial.

Sebuah anomali. Di abad kini. Semakin kuat dan merasa pintar, dan belum pintar merasa, itu paling sering kutemui. Semakin lupa untuk jeda dan merunut.

Aku harus pulang pada ibu, tetiba dia menegurku setiap saat ketika aku lupa diri:

“Teako erokki nikua. Bajiki ampe-ampenu. Punna niakko irate, teako takkaluppai.
Bajiki papparanpenu mange ri parangnu rupa tau. Kanasaba ia ngasengna niaka rikau lanapilarijako antu”.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *