“Cermin kejujuran tanpa dalil, dia menyatakan sesuai apa adanya. Dan jangan tertipu pada cermin. Yang kanan jadi kiri, yang kiri jadi kanan” itu cara dia tanpa suara menjawab lebih jujur”. Bukan berfatwa saja.
Apakah aku masih mengigau siang ini? Padahal aku tidak tidur. Aku menyambut matahari dengan gerah yang bergetah di musim ini.
Musim doa-doa beraburan ke langit minta hujan. Ulama dan umat sepertinya saling hendak kabur di tengah terik.
Masih kudengarkan sampai saat ini nyanyian lembut penuh pesan Mbah Nun dan Mbak Novia Kolopaking:
“Semau-maumu. Kalau memang itu yang kau inginkan.
Pandailah sendiri dan bodohlah sendiri.
Kalau memang itu maumu
Mencari alasan dengan mengikuti nafsu terserah kamu”.
Saya terdampar di beberapa kalimatnya dengan senandung merdu. Kemesraan yang tidak harus dilengkingkan. Tapi selain belajar bercermin. Juga sesekali dalam wirid nan hening.
Benang kusut peradaban, keumatan yang disunat sebelum cukup umur. Saat cermin dilupakan. Atau kitab-kitab yang hanya dibaca sehelai.
Apakah hanya aku saja yang merasakan dilema ini, harus diperhadapkan pada dua mata pisau? Lama nian aku termenung. Lalu aku memutuskan untuk bertarung.
Dulu ulama adalah cermin. Umat berkaca padanya untuk tahu arah kiblat, bukan cuma arah salat tapi arah hidup.
Sekarang cermin itu retak. Bukan karena ulamanya hilang, tapi karena ia dipaksa berkaca pada dua arah sekaligus.
Biar tidak salah paham dan seolah menghakimi, aku mencoba mengurainya:
Dilema pertama: Antara Langit dan Negara.
Ulama diajarkan untuk berkata benar walau pahit. Tapi negara meminta ia berkata teduh, walau pahit itu disembunyikan. Kalau ia terlalu kritis, ia dituduh politis. Kalau ia terlalu diam, umat menuduhnya dibeli. Ia berdiri di tengah, dan di tengah itu sepi.
Dilema kedua: Antara Kitab dan Algoritma.
Dulu fatwa lahir dari halaqah bertahun-tahun. Sekarang fatwa dituntut lahir dalam tiga puluh detik untuk menjawab kolom komentar.
Umat tidak lagi membuka kitab kuning, mereka membuka TikTok. Sebagian ulama ikut lupa cara kerja cermin. Memburu algoritma. Di situlah dilemanya kambuh.
Kusaksikan beberapa memburu views dalam konten dengan menjual agama.
Dilema ketiga: Antara Pengakuan, Pujian, dan Pengajian.
Seperti cerita Danu yang terlalu menipu dirinya sendiri, jejak cintanya ia buat menjadi batu nisan. Dan ia taburi melati. Bukan doa dan baca-baca.
Ulama juga harus tahu mengeja zaman, posisi dan porsinya di tengah proses sosial, politik, dan budaya. Ia punya karib, yaitu tradisi, pesantren, sanad keilmuannya.
Ia juga harus punya cara berbaur pada realitas baru: anak muda yang bertanya dengan bahasa berbeda, perempuan yang menuntut tafsir yang lebih adil, dunia kerja yang tidak lagi mengenal haram halal dengan jelas.
Bukan lagi bertaruh demi jabatan. Tetapi demi kekhidmatan.
Akhirnya banyak ulama memilih diam. Bukan karena tidak tahu, tapi karena menyaksikan sesama ulama mulai terbawa arah angin, dan melihat bendera mana yang berkibar.
Umara dan ulama menyatu bukan untuk membuat peta umat yang damai, tapi justru bisa menjadi peta yang memicu konflik.
Apakah sebagian ulama sadar, di zaman ini mereka telah terpapar, tergoda, dan mulai meninggalkan sifat-sifat yang bukan sekadar berfatwa atau memasang wibawa? Padahal yang pernah aku daras, dilema ulama itu sendiri adalah karma yang mesra nan nyata. Dia akan hadir menagih kelak.
Lalu menyalahkan takdir. Bilang ini ujian. Sementara Tuhan tidak mengujinya. Tuhan hanya tersenyum dan senyumannya menjadi petaka, umat kocar-kacir. Ulama ngacir takut petir.
Ulama hari ini sedang menyambut karmanya dengan mesra. Karma untuk menjadi jembatan. Dan jembatan memang selalu diinjak dari dua sisi.
Yang dibutuhkan umat hari ini bukan ulama yang paling lantang menyalahkan, tapi ulama yang berani jujur bilang: “Saya juga sedang berkaca. Dan cermin saya sedang retak, mari kita perbaiki bersama.”
Dia adalah sematan simbol. Sama dengan empu. Sepuh, suhu, biksu, atau apalah jenis yang menyematkannya sebagai cermin. Cara beradaptasi, bersikap, tempat pa’lalangngang. Ketika sematan itu tiba-tiba diubah menjadi habitus dan situs baru, ia membalikkan diri dari fungsi cermin itu sendiri.
“Melengkapi yang keempat, mari kita coba urai bersama.”
Ini cukup menahan sesak. Ulama berdakwah tentang ikhlas, tapi algoritma memintanya untuk dilihat. Ia mengajarkan zuhud, tapi undangan dan amplop memintanya untuk hadir.
Ia ingin seperti empu yang diam di balik karyanya, tapi zaman menuntutnya menjadi seleb yang ramai di depan kameranya. Gengsi atau sensasi — dua dilema, dua cermin retak di antara benak.
Di sinilah pa’lalangngang itu diuji. Tempat berteduh, tempat menakar diri. Apakah ia masih menjadi cermin, atau sudah menjadi etalase?
Akhirnya aku mulai sedikit tidak gegabah. Dan menelaah, biar yang merasa cukup paham tanpa buru-buru mencatutku: bahwa ulama bukan malaikat yang tidak pernah retak. Dia juga manusia yang sedang belajar menjadi cermin. Namun apakah benar ia belajar untuk bercermin?
Dan kita, umat, juga bukan sekadar yang berkaca. Kita juga adalah cermin bagi ulama. Kalau kita hanya menuntut cermin itu selalu bening, tapi kita sendiri datang dengan wajah penuh debu prasangka, pantulan apa yang mau kita lihat?
Karma yang mesra itu bekerja dua arah. Ulama menagih kejujuran umat, umat menagih keberanian ulama.
Mungkin tugas kita bukan mencari cermin yang sempurna. Tapi merawat cermin yang retak itu bersama-sama. Dengan cara datang penuh mesra, bukan dengan menjatah kami dalam bahasa menakutkan, dosa, haram dan neraka, menuduh Tuhan murka seperti yang selama ini aku rasa.
Ancaman ayat dan dalil di mana-mana. Tidak ini dan itu celaka. Dalil terjun bebas. Fatwa dibawa satwa-satwa yang menjelma dari sebuah karma para ulama.
Oke, aku paham. Aku mulai mencari cara agar tidak terlalu menyudutkan satu sisi. Dan biar aku teruskan saja pada satu pertanyaan:
Maka jika kau tanya, di mana pa’lalangngang itu sekarang?
Ia tidak lagi di mimbar tinggi. Ia tidak lagi di ruang ber-AC dengan spanduk besar.
Pa’lalangngang itu ada di warung kopi, tempat ulama mau duduk sama rata dengan anak muda yang tatoan tapi bertanya tentang wudu.
Ada di lorong pesantren yang bocor, tempat santri masih menghafal dengan lampu senter. Ada di rumah-rumah yang pintunya diketuk bukan karena ada maulid besar, tapi karena ada tetangga yang kelaparan.
Cermin itu tidak perlu diganti. Cukup dilap.
Dilap dengan cara datang yang mesra. Seperti yang kau tulis di novelmu:
Cara dia datang, aku sambut dengan mesra bagai kekasih yang kupinang dengan setangkai ikrar yang tidak lagi menjadi pengecut seperti dulu.
Ulama tidak butuh kita bela mati-matian. Ia hanya butuh kita jujur di hadapannya. Dan umat tidak butuh ulama yang sempurna. Ia hanya butuh ulama yang tidak lari saat petir datang.
Jika cermin itu retak, jangan pecahkan sekalian. Rawat retaknya. Karena dari retakan itulah cahaya masuk.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply