Aku memandangi langit-langit kamar seraya bergumam dalam hati, “Apa yang harus aku tulis sekarang?” sambil meraih ponselku. Kunyalakan benda dengan layar kaca yang berhasil membuat mataku menyipit karena silau cahayanya sembari membaca ketentuan-ketentuan yang telah diberikan pagi tadi. Kuhela napas panjang tanda kebingungan. Aku menjadi teringat akan sebuah tas merah yang berisi harapan (mungkin?) saat ini. Aku bangun dan mulai merogoh isi tas merah itu. Ah, benar saja, isinya adalah setumpuk buku yang baru saja aku ambil dari sekretariat KMSI bekas kegiatan teras literasi sosmas kemarin. Dalam gelap, aku membaca judul yang terukir di sampul setiap buku yang ada. Sumringah seketika wajahku saat menemukan satu buku dengan warna kuning mendominasi sampulnya.
Anak Kosan Jaksel (Anjas) judul yang tertulis pada sampul tersebut. Buku ini merupakan karya Candra Aditya yang saat ini berprofesi sebagai seorang penulis serta produksi film. Karya-karyanya telah beredar di berbagai festival, baik lokal hingga internasional. Anjas merupakan karya perdana dari Candra Aditya yang diadaptasi dari sebuah web series dengan judul sama yang sebelumnya tayang di kanal YouTube Provoke Magazine.
Karya ini menjadi salah satu langkah awal dalam perjalanan kreatif Candra Aditya, terutama dalam menghadirkan kembali cerita yang awalnya dikemas dalam bentuk audiovisual ke dalam bentuk narasi yang tertuang dalam tulisan. Dengan judul yang sama, yaitu Anjas, membawa daya tarik tersendiri bagi para penikmat cerita yang mungkin sudah lebih dahulu mengenal dalam versi web series-nya.
Di tengah kesibukannya yang gonjang-ganjing di dunia perfilman dan penulisan, ternyata ia juga memiliki kesibukan lain yang tidak kalah menarik, yaitu menjalani kehidupan menjadi seorang single parent bagi anabul kesayangannya. Anabul tersebut diberi nama yang cukup panjang, unik, sekaligus terdengar berwibawa, yakni Raden M Rico Lindu Aji. Nama yang tidak biasa ini tentu saja mengundang rasa penasaran sekaligus menghadirkan kesan lucu sendiri, apalagi jika membayangkan seekor hewan peliharaan memiliki nama sepanjang itu. Begitulah deskripsi singkat penulis yang tertera pada belakang sampul buku.
Sebelum menjadi anak kos, apa sih hal yang pengen banget kita lakukan? Atau apa yang menjadi bayangan kita jika menjadi seorang anak kos? Hidup bebas, pulang tengah malam, tidur dari pagi hingga pagi atau sekadar bisa melakukan apa saja yang kita mau alih-alih hidup bersama orang tua yang harus mematuhi aturan rumah yang nggak ada habisnya itu. Tapi, di sisi lain, pernah nggak sih ngerasa perasaan baru banget ditransfer kemarin, tapi kok udah ngerasa miskin banget? Apalagi di tengah hiruk-pikuknya kehidupan Jakarta Selatan. Begitulah yang diinginkan dan dirasakan oleh Jaya, sang tokoh utama dalam novel ini.
Saat ini, Jakarta Selatan tidak hanya dikenal sebagai suatu daerah yang berpatok pada letak geografis saja, akan tetapi Jakarta Selatan lebih dari sekadar itu karena daerah yang lebih akrab disebut Jaksel ini telah bertransformasi menjadi sebuah cultural structure yang unik dan khasnya sendiri. Jika mendengar kata “Jaksel”, sebagian dari kita akan mulai terbayang dengan kehidupan anak muda perkotaan yang cukup khas. Mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris saat berdialog satu sama lain (code switching) ataupun tren seperti matcha hingga boneka lucu-lucu yang menghiasi tas ransel. Berbagai gaya kehidupan yang membuat Jakarta Selatan punya ciri khas sendiri di mata masyarakat. Semua fenomena-fenomena tersebut yang menjadi inspirasi Candra Aditya dalam menulis novel Anjas yang diterbitkan oleh Buku Mojok pada 2021 dengan kisaran halaman sekitar 194 halaman.
Penggambaran Candra Aditya terhadap kehidupan seorang pemuda bernama Jaya yang mulai berusaha menentukan arah hidupnya sendiri. Melalui karakter Jaya inilah pembaca diperlihatkan bahwa keinginan untuk hidup mandiri sering kali muncul ketika seseorang merasa perlu keluar dari ketergantungan orang tua. Keputusan Jaya untuk meninggalkan rumah dan tinggal di sebuah rumah kos menjadi langkah awal dalam usahanya mengenal kehidupan yang lebih bebas sekaligus penuh akan tanggung jawab. Namun, keinginan akan hidup sendiri tidak selalu sejalan dengan kesiapan menghadapi kenyataan.
Candra Aditya menghadirkan situasi tersebut melalui pengalaman Jaya yang masih membutuhkan bantuan finansial oleh kedua orang tuanya untuk membayar uang kos pada dua bulan pertamanya. Keadaan ini menunjukkan bahwa proses kemandirian hidup tidak hanya tentang berpindah tempat tinggal, melainkan juga belajar bagaimana proses mengelola kebutuhan sehari-hari dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Hal ini dapat tercermin dalam suatu peristiwa di mana Jaya di kos pertamanya mengalami kebanjiran hingga ikan lele masuk berenang ke dalam kamarnya.
Perjalanan Jaya dari kehidupan yang serba tersedia di rumah menuju keseharian anak kos yang semuanya harus dipikirkan dan mempertimbangkan seluruh pengeluaran mulai dari biaya untuk makan, nongkrong hingga transportasi menjadi gambaran yang realistis tentang proses kedewasaan. Candra Aditya ingin menyampaikan cerita dengan kemasan yang sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan kita bahwa segala hal yang kita lakukan tidak bisa dicapai secara instan.
Sejak memutuskan untuk menetap di kos, kehidupan Jaya perlahan berubah karena ia harus beradaptasi dengan lingkungan serta orang-orang baru yang belum pernah ia temui sebelumnya. Di sinilah cerita mulai masuk ke babak yang baru, yaitu babak yang seru dan dipenuhi oleh berbagai kejadian kocak. Jaya tidak lagi menjalani hari-harinya sendirian, melainkan harus menghadapi tingkah laku para penghuni lain yang sangat absurd dan beragam. Ada yang nyentrik atau bahasa gaulnya ngalcer abiezz, ada juga yang unik sampai punya tingkah laku yang di luar nurul (nalar maksudnya). Walaupun seperti itu, kehadiran mereka justru menjadi warna baru di kehidupan Jaya yang membuat terasa lebih menyenangkan.
Candra Aditya juga menggambarkan kedekatan para penghuni kos dengan narasi yang cukup akrab, seakan-akan mereka adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan bak keluarga sendiri. Kebiasaan saling bercanda, mengobrol tentang hal-hal sepele seperti “Menurutmu bumi itu datar apa bulat?” hingga menghadapi hal-hal konyol bersama menjadi terasa lebih dekat. Mereka juga senantiasa merangkul penghuni baru dengan gaya mereka sendiri. Interaksi mereka mampu menciptakan suasana yang ringan, membuat pembaca sejenak melupakan masalah hidupnya.
Saking akrabnya mereka ini, terkadang mereka juga saling bercanda tentang masalah percintaan. Persoalan cinta memang banyak yang menganggapnya begitu sensitif dan kerap menjadi masalah bagi remaja yang tinggal di ibu kota ini. Tinggal di Jaksel tidak hanya bagaimana seseorang dapat bertahan hidup dan menyesuaikan dengan lingkungan barunya, tetapi juga harus bisa memenuhi ekspektasi dari orang-orang di sekitarnya, ya, termasuk urusan asmara ini. Jaya memang sudah lama menyandang status jomblo (katanya sih yang penting happy). Walaupun kata Jaya Jomblo Happy, tetap saja ia tak luput dari candaan teman-temannya.
Masalahnya, candaan yang diterima Jaya ini tidak semuanya menyenangkan. Ada kalanya Jaya menggerutu dalam hati. Bagaimana tidak menggerutu, ia malah diberikan candaan yang mempertanyakan orientasi seksualnya? Kalau aku jadi Jaya sih juga pasti akan melakukan hal yang sama sih karena menurutku itu bagian dari privasi. Walaupun demikian, candaan-candaan tersebut mungkin terdengar familiar karena masih sering muncul di tongkrongan anak muda zaman sekarang katanya sih biar akrab. Meski dibungkus dalam bercandaan, ungkapan tersebut mengandung stereotip dan prasangka terhadap orientasi seksual seseorang.
Melalui kisah Jaya, penulis ingin menyampaikan bahwa masyarakat saat ini gemar ikut campur kehidupan orang lain, terutama di urusan percintaan. Seolah-olah memiliki pacar merupakan suatu keharusan setiap individu, sedangkan mereka yang masih menjomblo seperti Jaya (dan aku) dianggap perlu memberikan klarifikasi kepada semua orang tentang urusan asmaranya. Padahal keputusan untuk menjalin hubungan adalah bagian dari privasi seseorang.
Ternyata, status Jomblo Happy yang digelarkan Jaya kepada dirinya sendiri hanyalah tameng belaka karena Candra Aditya mulai memperlihatkan sisi lain dari perjalanan asmara Jaya menjelang akhir cerita. Perlahan, namun pasti, pembaca diajak untuk memahami di balik sikap dingin dan tidak pedulinya Jaya yang selama ini dia pertahankan. Rupanya masalahnya bukan karena belum nemu yang cocok, pemirsah, tapi tapi tapi… ada perasaan yang selama ini ia pendam untuk seseorang yang sudah sangat dekat dengan dirinya.
Menariknya lagi, jawaban yang ia cari selama ini dari kebingungan cintanya ternyata ada di sekitarnya sendiri. Namun, perasaan cinta itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak rintangan dan keraguan yang terjadi sehingga sulit untuk diungkapkan. Kisah mereka kemudian menghadirkan hubungan yang arahnya tidak jelas (kata anak muda zaman sekarang sih hubungan tanpa status atau just friend), sebuah dinamika percintaan yang awalnya temanan jadi cinta. Kehadiran unsur tersebutlah yang membuat alur cerita dalam novel ini terasa begitu akrab dan dekat dengan para pembaca.
Di tengah cerita anak muda Jakarta Selatan dengan segala gengsi, tuntutan gaya hidup, dan kebiasaan mengejar pengakuan dari orang lain, kisah Jaya dan sang pujaan hati ini menampilkan nuansa berbeda dari cerita ini.
Gaya bahasa dalam novel ini menggunakan bahasa yang santai dan mudah dipahami. Walaupun seperti itu, penulis ingin menekankan bahwa novel ini dibuat untuk menjadi teman di kala penat dan butuh bacaan yang ringan. Aku tidak tahu bagaimana penulis membuatnya, tetapi buku ini menurutku sayang jika tidak diselesaikan dalam satu hari atau sekali duduk.
Alasannya karena setiap peristiwa-peristiwa yang terdapat pada novel saling berkaitan satu sama lainnya dan hal tersebut membuat pembaca terus penasaran apa kejadian yang akan terjadi berikutnya. Novel ini juga memberikan kesan seolah-olah kita sedang membaca kisah teman yang sedang hidup di Jakarta Selatan karena penulis membuat seakan-akan tokoh Jaya ini adalah sosok yang begitu dekat dengan kita dan sedang “curhat” atau menceritakan kehidupan.
Sebagai kesimpulan yang menutup ceritaku tentang novel Anjas (Anak Kosan Jaksel) ini, menurutku sang penulis atau Candra Aditya ini sepertinya memang menulis kisah yang begitu akrab dengan para target pembacanya, yaitu para Gen Z. Berbeda dengan buku fiksi populer yang sering aku baca lainnya, buku ini tidak mengajak kita untuk berpikir atau memecahkan masalah, malahan alurnya begitu mengalir.
Membaca novel ini mengingatkanku terhadap satu kalimat yang pernah kubaca entah di mana. Kalimatnya berbunyi seperti ini: “Seseorang jika sekali keluar dari rumah untuk merantau, baik itu bekerja atau menuntut ilmu, saat ia kembali ke rumahnya ia hadir sebagai tamu, bukan sebagai penghuni lagi”. Kalimat ini begitu melekat pada sosok Jaya karena saat ia kembali ke rumahnya ia merasa dirinya bukan di sini lagi, tapi ia merindukan kamar kosnya.
Sebagai anak kos, aku juga merasa apa yang dirasakan dan dilakukan oleh Jaya sangat dekat denganku. Begitulah ungkapan singkat dariku yang kepo akan kehidupan seorang remaja yang memutuskan ngekos di Jakarta Selatan.

Lahir di Bantaeng, 26 Mei 2008. Seorang Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada. Aktif menulis, sehingga berharap dapat berdampak bagi sesama.


Leave a Reply