Jumat kali ini kembali memburuku, sepertinya menundanya lagi. Di rumah masih sepi. Selaksa di wajah ibu tatatapan harapnya untuk menemaninya kembali.
Rebahan, main gadgat. Buka layar, skrol sana-sini. Hingga pada sebuah catatan tergeletak sepi, belum ada judul, hanya satu kalimat “ka doe‘”. Dan pada akhirnya melanjutkannya, hingga sampai menjadi narasi sederhana seperti ini.
Ya. Ka doe’. Judul singkat, tapi menjadikannya diburu menjadi dituan dan dan di Tuhankan.
Tidak harus menampik. Kita ada dibagian itu juga, tidak pula harus munafik, tetapi cukup jangan terpantik dan terpetik. Cukup berhati-hati saja.
Suara masjid besar itu mulai padat menghujamku. Seakan memaksaku untuk segera beranjak bergegas pakai songkok, putih rapi, sarung, sajadah. Sementara aku masih menunda Jumat hari ini. Raut wajah ibu seakan memintaku kembali “temani”.
Baiklah kita masuk diantara paragraf narasi ini.
Ya. Begitu kuat pengaruhnya merambat pada tabiat, serta kesumat yang selalu kumat untuk merasa paling bermartabat. Sementara orang-orang mulai berbohong setiap detik untuk beretika, menyanjung kepada mereka yang punya doe‘.
Ujungnya adalah doe‘. Segala penghargaan, kecenderungan manusia percaya, hormat dan hina di hadapan yang berduit.
Kepatuhan seseorang, keramahan dan keikhlasan. Teruji ketika persoalan materi menjadi kurikulum sejati.
Ini bukan lagi fenomena atas nama modern, klasik atau apalah istilah lainnya. Kejujuran, kebersamaan, kerabat, keluarga semua karena ujungnya adalah doe‘. Saling sikapallakki.
Dulu kita diajari siri’-siri’ (malu/pamali), ternyata siri‘ itu kini berganti struk. Malu kalau minim saldo. Perih kalau kalah pamer. Pacce dan malu hilang. Yang tinggal transaksi.
Pucuk dicinta uang pun melayang, terasa melayang disanjung, di tengah peradaban manusia dirundung. Sumpah bagai sampah yang kini telah menjarah, menjelajah dan mendera sesama.
Peradaban macam apa ini? Danu tersulut. Vi menenangkan.
”Kita dipaksa mengarang sedih, untuk mengubah, menyembah kalau perlu meski Tuhan kita sama”.
Sebenarnya tidak rumit. Vi menyambut.
Jika mampu menahan, memilih untuk tidak menjadi pecundang yang kemudian dikandang kembali demi kepentingan.
Memang sulit mengendalikan diri. Meditasi, samadi, atau mandi sembilan cukup menjadi mengobati secara jiwa, batin bahkan katanya cara spirit dan ritual yang menjadi benteng pertahanan.
Tetapi masih ada yang jebol? Danu menyundul. Itu biasa. Bagi yang terbiasa. Sambil membuat reaksi dengan rekayasa. Terlihat apik, tapi berlapik “cerdik”.
Manusiawi. Tetapi masih sanksi untuk meninggalkan duniawi. Itu mulai tampak seperti serdadu mengarak pasukan bawa senapang. Turun menyerbu. Ada yang ikut, ada yang takut. Ada yang bertahan dalam iedealismenya tetapi tidak ada doe’na.
Tawa kembali lepas keduanya.
Anak-anak/generasi kita menonton. Mereka belajar dan mengadopsi bahwa yang paling keras suaranya dan berjubel keilmuan bukan paling benar, tapi yang paling punya kepentingan demi kelengkapan pengakuan dan ujungnya “Ka doe’“.
Kita terlalu asyik. Dan bermain dan dipermainkan dadu-dadu yang siap diadu, sementara di sana mereka menyusup perlahan, sementara kita membunuh peradaban perlahan kita tidak sadari, tanpa menguburnya.
Vi nyeletuk lagi seperti biasa. Bukan doe’-nya yang jahat. Yang jahat adalah kita yang kadang lupa Tuhan walau semalam berwirid, tasbih, rakaat malam yang bunyinya bagai gamelang. Padahal ibadah bukan untuk didengar apalagi diperlihatkan.
Kusambar handuk pagi ini, segera mandi. Dengan kopi pagi sisa setengah jalan. Biar menyegarkan segera pemahamanku yang konyol. Agar melupakan kabar satu orang mendermakan konsistensi dan esensi hidupnya demi doe’ dan identitas.
Celoteh-coleh di hulu dan hilir, kampung dan lmbung tertampung hendak, berlompatan saling mengumpat dan ada ngumpet. Hari ini berapa isi dompet?
Kesenjangan semakin tampak di depan hidung. Sementara hanya celoteh di mimbar dan khutbah yang isinya adalah cermarah ancaman dosa, surga dan neraka lagi, bukan amanah untuk turun menyeka air mata, jelaga kesenjangannya, trauma kehidupan. Dinamika pelik yang semakin mencekik.
Bukan hanya memekik dengan pidato sambutan teoritik yang manis untuk kesejahteraan, kemaslahan dan kenyamanan terjadi ketimpangan sosial.
Negara mana? Teriak Danu lagi.
Di depan mic sebuah pertemuan. Hanya mencatat keluh. Diagnosa lalu basa-basi, tanpa mengusap dan membasuh kemanusiaan yang kini semakin terdera krisis sosial, ekonomi, dan kepercayaan.
Kali ini aku mulai paham. Bagaiman cara menilai yang amanah, atau aku mulai mengerti dalam memilih dan memilah agama yang mana! Vi kaget kali ini lompatan itu terlalu jauh menurut Vi. Danu tersenyum lebar.
Kopi pagi sisa setengah jalan itu, tiba-tiba terasa lebih pahit dari khotbah tadi.
Aku mendengar suara mahluk terluka dari kejauhan syair nadanya nyaring menyumbat telinga yang mencemari hakikat dan riwayat. Pekat, masih kuat dan betah “Ka doe’“.
Lintasan imajinasiku makin diajak liar sampai tak percaya, dianggap keliru. Sampai memilih diksi yang mana. Maju mundur kena. Di tengah kumpulan-kumpulan manusia yang masih memakai lencana dan pamer atribut, demi mahkota, membangun habitat, tabiat dan wangsit.
Oke, kita tambah sekali lagi. Vi menawarkan satu narasi lagi, tambahannya bukan untuk kita sok menjadi lebih suci. Tetapi saling menguatkan dan mengingatkan.
Di luar, doe’ masih betah. Ia duduk di warung kopi, di pelataran masjid, di daftar hadir rapat, di grup keluarga yang tiba-tiba sepi kalau yang tidak punya doe’ yang bicara. Ia tidak perlu berteriak, cukup berbisik: siapa kamu kalau tidak punya saya?
Dan aku dengan rambut masih basah dan kopi setengah jalan yang sudah dingin, hanya bisa menjawab pelan: aku masih Danu. Yang masih belajar, bahwa manusia diantara persimpangan peradaban, harus butuh bulus, dan modus biar mulus demi pulus.
Danu. Berapa isi dompet dan atau saldomu hari ini? Danu ngeles cari alasan, dari berapa kali ia berani tetap jujur maju mundur kena. Tanpa doe‘ kamu akan tersingkir.
Vi mencegat bongkahan pikiran Danu yang siap kembali meloncat di atas tebing. Bukan di mimbar, bukan di depan mic. Bukan di pertemuan seremoni. Tapi di atas huma nurani yang terpecah belah kelasnya, sudra dan durja, dipetakan kesenjangannya.
Ahimsa dalam ajaran kemanusiaan telah binasa. Rekayasa budaya, peradaban, agama telah menempuh jalan mulus, laris manis terjual.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply